MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Kisah di Bawah Salju 3


__ADS_3

Detik waktu terus berganti. Namun jarum jam akan kembali ke tempat semula. Melakukan banyak pengulangan tanpa bosan. Hanya habis baterai yang bisa menghentikannya. Bagaimana dengan rusak? Terserah, silahkan ditambahi daftar penyebab jam mati di baris ke dua.


Yudha yang belum ngantuk, ia hanya bisa menghela nafasnya. Ia belum merasa lega dengan benaknya. Ia belum berdamai dengan suasana hatinya. Ia memandang ke arah Melody yang membelakanginya. Ia tahu jika Melody saat ini belum tidur. Ia bahkan bisa merasakan jika Melody juga canggung dengan dirinya.


Yudha ingin memegang bahu Melody, tapi ia hentikan sebelum menyentuhnya. Ia ingat bagaimana kasarnya ia pada Melody akhir-akhir ini. Apa lagi soal tadi siang.


“Melody..”


“Hm?”


Mereka berbicara tanpa saling menatap lawan bicaranya.


“Apa kandunganmu baik-baik saja?”


“Iya, baik-baik saja.” Jawab Melody datar.


“Syukurlah. Kalau begitu, selamat tidur..”


“Ya.”


Melody masih marah dengannya. Hah. Begini ya rasanya dicuekin istri batinya ingin ikutan kesal. Tapi ia kembali mencoba bersabar.


“Melody...”


Apa lagi sih? Melody mulai kesal karena ingin segera tidur. Badanya sudah remuk karena lelah yang tak terkira.


“Hm?”


Gumamnya.


“Kau... masih marah?”


Malah tanya?


Yudha bodoh bin tidak peka. Sementara Melody kesal binti nahan emosi binti ingin memukul Yudha.


“Menurutmu?”


Tanya Melody.


“Sepertinya..”


“...”


“...”


“...”


“Soal tadi siang, aku.. aku minta maaf karena sudah berkata kasar padamu.” Kata Yudha akhirnya.


Melody meneteskan air mata. Ia merasa heran, kenapa semenjak hamil ia mudah sekali menangis? Kata maaf dari Yudha mengenai pertengkaran tadi siang menggoyang hatinya.


“Ano ne Yudha, setelah apa yang kau lakukan padaku, lalu kau bilang meragukan kehamilanku itu sangat keterlaluan! Apapun yang kau lakukan padaku adalah yang pertama dalam hidupku, kenapa tega sekali kau berucap seperti itu? Hatiku bahkan lebih sakit dari melihatmu dengan Amiya-san.”

__ADS_1


Jelas Melody.


“Maaf..” Gumam Yudha.


Benar, apapun yang ia lakukan pada Melody adalah pertama kalinya bagi Melody, bahkan buat dirinya sekalipun. Ciuman itu, sentuhan itu, semuanya. Bukan berati ia meragukan kehamilan Melody, sungguh, ia tahu jika dirinyalah yang menghamili Melody. Kata kasarnya tadi siang hanya karena ia tak bisa mengendalikan diri dan emosinya.


Melody merasa jika saat ini ia ingin mendiskusikan masalah tadi siang. Mumpung ia dan Yudha sedang bersama. Meski ia tak tahu ini akan selesai atau tidak, tapi ia tetap ingin mencobanya.


Memiliki masalah yang belum terselesaikan itu membuat engap di dada dan Melody enggan merasakannya. Tak hanya engap di dada, hatinya juga menjadi sangat sakit. Apalagi ia harus tinggal seatap dengan orang yang menjadi sumber rasa sakitnya.


“Tak ada maksud menyembunyikan masa laluku dengan Alvin-senpai. Tapi situasi membuatku sulit berucap. Aku tak menyangka jika kau memiliki hubungan rumit dengannya. Mengertilah, akupun memiliki posisi yang sulit untuk masalah ini, begitupun dengan senpai.” Jelas Melody.


Akhirnya Melody mencoba membuka diri. Ia ingin bercerita apapun pada Yudha.


Termasuk mengenai Alvin, sang mantan kekasih.


Yudha tidak bodoh, ia juga memahami posisi Melody. Yudha juga tahu jika Alvin tak mungkin berkata soal hubungan masa lalu Alvin dengan Melody sejak awalnya.


Semua memang memiliki posisi yang sulit. Tapi fakta terungkap setelah sekian lama, membuat perasasnnya kacau. Yudha merasa ada yang berat di dadanya.


“Mengetahui jika kau adalah mantan kekasihnya membuatku sangat kesal. Dari sekian banyak laki-laki di dunia ini, kenapa harus dia? Aku menjadi banyak berpikir dan itu sangat mengganggu. Kau sudah ‘diapakan’ saja sama dia?”


Tanya Yudha.


😡


Urat kesal Melody muncul. Bukankah suasana sudah membaik, tapi kenapa kata-kata Yudha masih menyebalkan sih? Tidak bisakah Yudha berkata baik padanya?


Tidak mungkin karena di luar badai salju tengah berlangsung dan itu sangat dingin, maka Yudha mencoba membuatnya kesal agar hatinya memanas?


“Cih, harusnya kau paham betul bagaimana sifat Alvin-senpai itu seperti apa. Dia sangat menghormatiku. Kami berpacaran dengan cara yang sehat dan bahagia. Tidak seperti dirimu!”


Kesal Melody.


Sehat dan bahagia, kini giliran Yudha yang kesal. Maksudnya apa coba? Melody sedang membandingkan hubungan dengannya vs dengan Alvin?


Lalu memangnya ia salah meminta jatah hubungan suami-istri pada Melody? Ya memang harus memaksa sih karena Melody menolaknya waktu itu.


Seorang Kazehaya Yudha tidak suka ditolak apa lagi ketika sangat menginginkannya!


Haruskah ia marah mengenai kata-kata Melody yang baru saja terdengar telinganya?


Tidak, ia akan mengendalikan ego. Ia ingin mencoba cara ini. Selalu keras kepala dan egois membuat Melody marah dan ngotot ke Miyagi sendirian. Ia tak mau itu terjadi lagi. Melody terjebak badai itu sangat berbahaya! Jika itu sampai terjadi lagi, ia takut tidak akan bisa menyelamatkannya lagi.


“Iya, iya.. Apa aku selalu jahat di matamu?”


“Itu kau sadar!”


“Kau..”


“Benar, kan? Bagaimana bisa kau meragukan kehamilanku padahal sudah jelas-jelas ini anakmu! Hitung saja lama waktunya! Aku hamil saat kau menyentuhku di rumah ibu!”


Yudha juga sudahtahu hal ini. Ia tak perlu melakukan tes DNA juga.

__ADS_1


“Aku sudah minta maaf..”


Kata Yudha.


“Aku sempat ingin berpisah denganmu karena kau meragukan kehamilanku.”


Kata Melody.


“Jangan pernah lakukan itu! Aku tidak akan pernah menyetujuinya!”


“Jika kau tak menyetujuinya, setidaknya bersikaplah tegas pada diriku dan juga Amamiya-san! Aku ini wanita, Yudha! Aku istrimu! Aku mengandung anakmu! Aku tahu kau berteman sejak kecil dengannya, aku mencoba paham jika kau perhatian dengannya. Tapi, tapi semakin lama kau bersamanya, aku tak bisa.. Dadaku terasa sangat sesak, aku kesal, aku, aku.. aku hampa. 😢.”


Mendengar isakan tangis Melody, Yudha lalu menggerakkan badannya mendekati Melody. Tubuh Melody gemetar. Yudha, mengusap perlahan untuk menenangkan Melody yang masih memunggunginya.


“Meskipun aku merasakan sakit di dadaku, tapi aku bisa apa? Kau mencintainya, aku sudah tahu sejak awal sebelum kita menikah. Kau meninggalkannya demi perjodohan denganku. Di sini, akulah orang jahatnya.” Lanjut Melody. Ia menangis tersedu-sedu.


Apa sudah waktunya ia buka suara? Yudha merasa jika ia sudah banyak membuat Melody kesakitan.


“Aku memiliki perasaan pada Yura, itu benar adanya..”


Melody melebarkan matanya, ia lalu memejamkan mata perlahan karena dadanya terasa semakin sesak. Seketika itu air matanya semakin deras mengalir.


“Tapi itu dulu, sekarang sudah berbeda.” Lanjut Yudha.


“...”


“Aku menaruh perhatian lebih pada Yura karena aku berjanji akan menjaganya. Dia sudah tidak memiliki ibu, aku merasa tanggung jawab akan dirinya. Soal perasaan yang kau maksud, tidak seperti itu. Perasaan itu sudah tidak ada. Nemang seharusnya tidak ada.”


Suara Yudha terdengar perih. Melody tahu, Yura dulu menolak perasaan Yudha. Itu artinya, dulu Yura tidak memiliki perasaan romantis pada Yudha. Cinta yang tak terbalas. Itu pasti sangat sakit. Ia juga merasakan pengalaman itu.


“Meski begitu, haruskah sampai segitunya kau menghawatirkannya? Kau bahkan sampai terkena isu yang tidak baik, belum lagi soal kecelakaaan itu. Kau menjadi tahanan kota, dan apa yang kau lakukan saat ini? Kau bahkan keluar kota, kau bisa dipenjara saat kembali nanti.”


“Apa aku harus diam saja saat mengetahui kau dan anak kita dalam bahaya? Aku mencoba bersikap baik, Melody.”


“Kalau kau niat mencoba bersikap baik padaku, JAUHI AMAMIYA-SAN!”


“Kenapa kau meninggikan suaramu? Kau membencinya? Dia temanku, Melody.”


“Aku tidak membencinya, aku HANYA TIDAK SUKA DIA MENEMPEL PADAMU SEPERTI ULAT GENIT MENYEBALKAN!!”


Yudha melebarkan matanya? Apa yang baru saja ia dengar? Ulat genit menyebalkan?


“Kau.. cemburu?”


Tebak Yudha.


“IYA AKU CEMBURU! KARENA AKU MENCINTAIMU, MAKANYA AKU CEMBURU!”


?


"Eh?"


"Ah?"

__ADS_1


😖😖


__ADS_2