
Kantor kerja Yudha di kediaman Kazehaya..
Yudha memiliki kantor pribadi di rumahnya. Kantor yang biasa ia pakai untuk mengerjakan urusan pekerjaan jika ia tak bisa pergi ke Emperor Group.
Design sederhana dan elegan masilah favoritnya Yudha.
Yudha duduk di kursi kerjanya yang empuk dan bisa berputar tiga ratus enam puluh derajat. Ia sedang mengamati kado mencurigakan yang tiga sahabatnya berikan kepadanya.
Bungkusnya pink. Sudah jelas jika Nao, Sai, dan Neil ini sedang bermain-main dengannya. Apa lagi ini? Motif lope-lope? Nao, Sai, dan Neil memang pantai menguji batas kesabarannya.
"Kado apaan sih? Mencurigakan tapi aku ingin tahu apa isinya. Aku cukup penasaran. Sial, bungkus pinknya sudah bisa membuatku tak tahan ingin segera merobeknya."
Yudha langsung saja merobek bungkus kado warna pink itu. Tanpa pikir panjang. Setelah ia berhasil menyingkirkan kertas kadonya yang bermotif lope-lope itu, iapun melihat kardus coklat di sana.
Dengan santai ia membuka kotak kado dari kardus coklat itu.
Ini dari Nao, Sai, dan Neil . Jangan berharap lebih! Mereka itu manusia-manusia super resek."
Yudha menyingkirkan plastik yang melapisi isi kado miliknya. Ia langsung melotot tak terkira ketika mendapati isi kado dari Nao, Sai, dan Neil .
Dengan kasar Yudha meletakkannya. "Panduan Hubungan Intim Pasutri, Kamasutra XXX, The XXX, Make a Love... Bocah-bocah laknat! Bagaimana bisa mereka memberiku kado buku menjijikkan seperti ini?"
Yudha tak menyangka jika akan menerima buku dewasa dengan gambar tanpa disensor itu lengkap dengan penjelasannya.
Sangat kesal.
Namun rupanya di bawah buku-buku dewasa itu, masih ada kado lainnya. Yudhapun kembali mengambilnya. Isi kado yang sangat bermacam-macam itu membuatnya speechless. Buku-buku dewasa panduan hubungan intim itu memang menjijikkan, tapi ini tak jauh berbeda.
"Borgol? Mereka menginginkanku main borgol-borgolan dengan Melody?"
Yudha menyingkirkan sepasang borgol dengan lubang kunci lope-lope.
"Hah? Alat bantu s3x? Buat apa coba? Aku ini masih muda dan lebih dari sekedar kuat!"
Yudha ingin segera membakar barang-barang yang menurutnya nyeleneh itu.
"Lalu apa ini? Obat perangsang? Obat kuat? Cih, aku tak membutuhkannya!"
Yudha melihat tulisan iklan di kemasannya seperti 'kuat dan tahan lama', 'bisa nambah 5-7 cm'. Tidak masuk akal!
Dan akhirnya hanya tinggal satu benda dari keseluruhan isi kado dari Nao, Sai, dan Neil. Sebuah kemasan seperti permen.
Kemasan yang unik. Tapi ia cukup pintar untuk membacanya, dan ia harus melotot untuk ke sekian kalinya.
__ADS_1
"******? Apa-apaan lagi ini? Hah, kenapa harus memakai benda seperti ini saat melakukan hubungan intim? Tidak bisa hamil dong nantinya. Bukankah sebaiknya tanpa penghalang, jatuhnya akan lebih puas?"
Yudha kembali mendesah kesal untuk yang ke sekian kalinya. Nao, Sai, dan Neil benar-benat berhasil membuaynya kesal. Pada akhirnya ia hanya memasukkan kembali benda-benda kafo dari Nao, Sai, dan Neil ke dalam kardusnya. Menutupnya asal dan memasukkannya ke dalam kabinet kosong di pojok ruangan. Lain kali pasti ia akan membuangnya!
"Jangan sampai Melody melihatnya!"
.
.
.
MELODY'S POV
Makan malam baru saja usai. Sudah pukul tujuh lewat lima belas menit rupanya. Hari ini cukup melelahkan. Kakiku bahkan masih terasa sakit. Bengkak saat memakai high heels saat menikah saja masih terasa. Belum sembuh tapi sudah harus belajar dansa tadi siang.
Yudha, apa dia itu tidak memiliki rasa lelah sama sekali?
Menjadi orang kaya dengan banyak pelayan yang melayani memang rasanya apa-apa terlihat mudah. Tinggal suruh, ada saja yang akan melakukan perintah itu.
Lain dengan diriku yang aslinya bukan dari kalangan berada. Aku terbiasa melakukan semua hal dengan sendirian, lalu aku dinikahi oleh orang kaya, tiba-tiba apa-apa ada yang membantu, rasanya tenangaku sama sekali tidak berguna.
Aku ingin memasak, para pelayan menyuruhku bersantai karena mereka akan memasak apapun yang aku inginkan. Aku ingin membantu membereskan meja makan, mereka juga tidak memperbolehkanku.
Haah, tidakkah aku merasa jika aku menjadi orang yang pemalas?
Bagaimana aku bisa menjadi istri yang baik?
Ah, istri ya?
Agak malu juga dengan statusku saat ini. Sungguh, aku benar-benar merasa sangat malu. Aku ini sudah menikah ya?
Iya, sudah.
Apa sih yang sebaiknya dilakukan oleh seorang istri jika semua pekerjaan rumah sudah ada yang menghandle?
Melayani suami dengan baik?
Ah, aku tidak bisa menjaminnya. Lagian, aku dan Yudha itu cocok apanya coba? Yang ada kami itu selalu berdebat hal-hal kecil yang dibesar-besarkan.
Sebentar, aku agak bingung dengan kata melayani itu.. Kenapa ibu tidak menjelaskannya lebih jauh sih? Maksudnya melayani itu mengambilkan barang-berang yang suami minta? Menuruti perkataan suami? Atau me-melayani di-di a-atas ran-jang?
WUAAA, TIDAK-TIDAK!
__ADS_1
Mikir apa kau ini, Melody, sadarlah!
Itu wajar karena aku maupun Yudha itu sudah dewasa, apalagi kami juga sudah menikah.. Tapi itu tidak akan terjadi, bukankah melakukan 'itu' sebaiknya dilandasi atas dasar cinta?
Haah, aku tidak tahu.
Kenapa aku jadi berpikiran aneh seperti ini.
Huushh huuushh, ayo singkirkan pikiran-pikiran seperti itu!
Jika ada yang mengetahuinya, aku pasti akan malu sekali.
Jika Yudha mengetahuinya, aku pasti akan ditindasnya habis-habisan!
Sudah, lebih baik aku membuka kado-kado ini saja, mumpung Yudha sedang tidak ada di kamar. Hehe
END OF MELODY'S POV
.
.
.
Melody melepas pita yang menghiasi kotak kado itu. Ia juga melepaskan kertas pembungkus kotak kado itu. Mengamatinya perlahan.
Dengan semangat penuh penasaran, Melody membuka isi kado itu. Ia terdiam. Tanda tanya besar muncul di benaknya.
"Kado apaan ini? Kain?" Gumam Melody. Ia lantas mengambil dan mengangkat segundukan kain yang ada di dalam kotak kado itu.
Melody melebarkan segundukkan kain itu untuk memastikan apa sebenarnya kain itu. Matanya langsung melotot selebar-lebarnya, mulutnya menganga, aura di belakangnya serasa hitam kelabu.
"Lingerie?" Kata Melody saat mendapati kain yang ada di dalam kado itu rupanya sebuah lingerie/ pakaian tidur yang sangat tipis dan transparan.
Sudah begitu warnanya hitam dan terlihat sangat seksi.
"MIIIAAAAA! Apa-apaan bocah itu? Dia pikir aku ini apa? Kenapa memberiku hadiah yang seperti ini?"
Melody kembali memperhatikan lingerie itu.
"Jika aku memakainya, apa yang akan terjadi? Apa yang akan terjadi jika Yudha melihat pakaian seperti ini? Aku harus menyembunyikannya! Aku tidak mau ia mengira aku ini wanita murahan! Jangan sampai ternoda harga diriku apalagi di depannya!"
Melody mengeratkan gengganggaman tangannya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia memantapkan pikirannya! Semangat pantang menyerah demi harga dirinya!
__ADS_1
"Kau sedang apa, Melody?" Tanya Yudha yang tanpa Melody sadari sudah berdiri bersandar di daun pintu kamar mereka.
Melody langsung membatu.