MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Bukti


__ADS_3

Pesta dimulai..


Semua orang memandang ke satu arah. Arah ujung kolam renang. Di sana, di pinggir kolam renang, Yura baru saja meniup lilin 22-nya. Semua orang riuh bertepuk tangan. Yura memanjatkan doa untuk keberuntungan di usianya yang baru.


“Setelah Sai-kun dan yang lain tidak bisa datang, kau juga akan menghianatiku dengan tidak mau memberikan kado yang aku inginkan?” Tanya Yura.


“Aku tidak bisa melakukannya Yura, terlalu banyak wartawan.” Jawab Yudha.


“Bagaimana dengan saat kita berdua, hanya kita berdua, bisakah kau melakukannya?”


Yura berharap banyak akan hal ini.


“Aku... aku tetap tidak bisa, Yura. Maaf.”


“Bukankah kau mencintaiku, Yudha-kun?”


“Meski begitu, aku tetap tidak bisa melakukannya.” Yura terlihat kecewa. “Gomen.”


Lanjut Yudha.


“Saat akhirnya kau bisa hadir di pesta ulang tahunku setelah sempat kupikir bahwa ulang tahunku kali ini adalah ulang tahun terakhirku denganmu, kau akan melakukan apapun demi diriku seperti yang dulu kau lakukan. Namun, untuk orang terancam lumpuh dan cidera tangan yang meminta, kau enggan mewujudkannya.”


Yura menunduk sedih.


“Yura, aku sudah menikah. Dan ciuman atau kecupan yang bukan dengan istrinya, itu tidak etis. Lagipula, aku sedang berusaha melindungi karir artismu. Bukankah sebentar lagi film terbarumu rilis di bioskop?”


Yudha berkata apa adanya. Sesuai dengan logika otaknya.


“Kau terlalu baik Yudha-kun.”


“...”


“Setidaknya pelukkan sebagai teman, boleh kan?”


Tanya Yura.


Yudha merunduk mensejajarkan diri dengan Yura yang duduk di kursi roda. Yura lalu memeluk Yudha. Memelukknya dengan sangat erat. Yura bahkan terlihat begitu bahagia setelah berpelukkan dengan Yudha. Apalagi Yudha memberinya sebuket mawar indah warna warni. Ia yang meminta sih, ia sungguh menyukai mawar.


“Terima kasih banyak, Yudha..”


Di sisi lain, Melody terlihat begitu kesal karenanya. Ia lalu meninggalkan acara pesta itu menuju ke tempat yang lebih sepi. Ia ingin pulang, tapi ia tak bisa berkutik, serba bingung.


Yudha melihat kemana arah Melody pergi. Ia berpamitan dengan Yura untuk mengejar Melody. Yura dengan mudah mengizinkannya.


“Bersenang-senanglah dengan Yudha-kun, Melody-san! Nikmati kejutan dariku. Jangan langsung pulang ya! Kejutan masih ada. Ini semua spesial untukmu..” Batin Yura.


Yura lalu melanjutkan acara pestanya dengan menyapa para artis, model, dan rekan kerjanya yang datang ke acara pesta ulang tahunnya.


.


.


.


Taman yang sepi tak jauh dari tempat pesta.


Yudha berhasil mengikuti Melody. Ia ingin berbicara banyak dengan istrinya itu. Setelah tidak nurut, sekarang Melody berusaha menghindar. Itu membuatnya sangat frustasi.


“Kita diundang sebagai wakil Kazehaya, setidaknya kau harus berada di sisiku!” Kata Yudha.


Jika tidak sedang marahan, Melody ingin memukul Yudha karena berulang kali membuatnya kaget dengan berbicara tiba-tiba.


“Kita datang sendiri-sendiri, kau tak punya hak untuk menyuruhku berada di sisimu! Pikirkan saja Amamiya-san yang pura-pura cacat itu karena ulahmu!”


“Dia tidak cacat, Melody! Dia akan segera bisa berjalan dan berhenti mengatainya pura-pura!”


Yudha bersikeras membela Yura.


“Oh benar, dia akan segera berjalan karena memang dia tidak ada masalah dengan kakinya! Dia akan segera sembuh karena mencium pipimu!”


Keluar juga apa yang membuatnya tak betah berlama-lama di pesta.

__ADS_1


Yudha menarik sebelah alisnya bingung. “Mencium pipi?”


“Pelukkan tadi.”


“Dia hanya berbisik.”


“Uso!”


“Uso janai!”


“Kau bohong, Yudha!”


“Sudah kubilang aku tak bohong!”


“Aku tidak percaya padamu!”


“Percayalah padaku, Melody!”


“Bagaimana aku bisa percaya padamu kalau kau sendiri tidak mempercayaiku?” Tanya Melody. Ia meneteskan air matanya.


😢


Yudha terhenyak. Ia membuat Melody menangis lagi. “Susah jika tidak ada bukti.”


“Aku akan membuktikannya!” Kata Melody lantang.


Melody meraih tangan Yudha dan ‘menggeretnya’ menuju kolam renang tempat pesta.


Namun, saat ia mencoba mendekati Yura, gerombolan wartawan menghadang langkah. Mereka menghujami dengan banyak pertanyaan yang membuat Melody kaget bukan main. Bahkan Yudhapun juga tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


“Melody-san, apa benar Anda tidak menyukai Amamiya Yura?”


“Apa benar, mobil yang dipakai Yura adalah mobil yang sama Andai pakai ke mall sehari sebelumnya?”


“Yura dan Yudha sudah bersahabat lama, apakah Anda tidak menyukai kedekatan mereka?”


“Bagaiamana perasaan Anda dengan opini yang beredar di media? Bukankah hampir semua media menyudutkan Anda?”


“Melody-san, apakah...”


“Melody-san, benarkah..”


“Melody-san...”


“Melody-san...”


Jeprat jepret kamera, kilau cahaya video shooter dan suara para wartawan saling beradu, bercampur jadi satu membuat pusing kepala semakin pusing.


Yudha menyadari jika itu menambah beban pada Melody. Melody meremas tangannya dengan sangat erat.


Suara-suara dan cahaya silau itu begitu mengganggu. Semakin lama, semakin memecah konsentrasi. Ruwet. Ricuh. Amburadul.


Sudah tidak tahan lagi.


________________________________________


Amburagul emesuyu bareway barway.. Ini Author tiba2 nanyi lagu Titaium kagak jelas banget. 😎


________________________________________


“DIAAAAAMMMMM!”


Suara keras Melody membungkam hening manusia pemburu berita. Semua kamera berhenti memotret. Hanya video shooter saja yang berjalan.


Melody melepaskan genggamannya pada Yudha.


“Yudha, kau ingin bukti, kan?”


Tanya Melody.


“...”

__ADS_1


Yudha hanya mengamati tingkah Melody.


“Aku akan membuktikannya padamu!”


Melody berjalan menuju singgasana Yura. Yura, Yudha, dan yang lain menatap apa yang akan Melody perbuat.


Yura hanya terdiam saat Melody sudah berada di belakang kursi rodanya.


“Amamiya-san, gomen..” Kata Melody.


Melody lalu mendorong kursi roda Yura dan menceburkannya kedalam kolam renang.


Semua orang terpana tak menduga dengan apa yang baru saja Melody lakukan. Kaget dan tercengang. Bagaimana bisa? Apa maksudnya ini?


“Melody, kau sudah gila, hah? Dia sedang sakit!” Bentak Yudha.


“Ya, aku sudah gila!” Melody terlihat kecewa karena Yudha menceburkan diri ke kolam untuk menolong Yura.


Namun..


Namun..


Semua pasang mata yang menghadiri pesta ulang tahun Yura menjadi saksi. Menjadi saksi bagaimana orang yang diketahui menderita luka parah, terancam lumpuh, tidak bisa berjalan itu tiba-tiba BERENANG MENYELAMATKAN DIRI DARI DALAM KOLAM RENANG YANG MENDINGIN!


“Yu-Yura?” Gumam Yudha tak percaya.


Yudha melihat Yura berenang menuju batas pinggir kolam. Sementara itu itu, Yura hanya menatapnya sendu.


Wartawan heboh sendiri.


“BERITA BESAR!!”


Mereka mengambil banyak foto dan video. Seperti tidak kenal ampun pada korban yang sudah tak berdaya.


“KALIAN LIHAT? Aku tahu kalian adalah pemburu berita, tapi cobalah menulis berita yang sesuai FAKTA! Kalian tidak tahu apa-apa, JANGAN ASAL MENCAMPURI URUSAN ORANG LAIN! KALIAN BUKAN PENYIDIK POLISI, KENAPA MENGHAKIMIKU SEBAGAI TERSANGKA? TAHU APA KALIAN, HAH? Aku memang tak begitu kenal dengan Amamiya-san, yang aku tahu dia adalah teman dekat Yudha! Dan aku, aku tak cukup berani untuk menghabisi nyawa orang lain!” Kata Melody lantang.


Melody lantas pergi meninggalkan tempat pesta itu. Tidak ada satu wartawanpun yang berani mengejar Melody. Mungkin para wartawan itu merasa bersalah karena sudah terlalu dalam mencampuri urusan orang lain. Apalagi hanya demi berita opini yang belum tentu jelas kebenarannya.


.


.


.


Di saat suasana sudah sepi, jauh dari tempat pesta, Melody menghapus air matanya. Mati-matian ia berusaha menahannya saat ia berbicara cukup keras tadi.


"Dasar bodoh kalian! Yudha juga bodoh! Bodoh! Bodoh!"


Melody lalu melepas high heelsnya, kakinya sudah sangat pegal. Ia tidak ingin terjatuh atau kesleo seperti yang sudah-sudah. Dengan tanpa alas kaki, ia melangkah menuju tempat parkir mobil.


Bruuuughhh...


“Seperti nostalgia, untung bukan tiang yang kau tabrak.”


“Senpai?”


Alvin berdiri dengan gagahnya di hadapnya. Kenapa selalu Alvin yang ia temui saat hatinya sedang merasa buruk?


“Hoe-hoe, kenapa kau menangis, Melody?” Tanya Alvin.


Alvin melihat jejak sungai kecil di kedua pipi Melody. Bahkan Melody terlihat cukup berantakan. Make up dan bajunya tak rapi. Ada cipratan air di dress Melody.


“Aku.. ingin.. pul-lang!”


Bruggh..


Melody pingsan di pelukkan Alvin.


"Melody? Astaga.."


Alvin yang panik langsung membopong Melody menuju mobilnya. Ia sempat bertemu dengan Ayane dan tanpa pikir panjang, merekapun membawa Melody ke rumah Sakit keluarga Kazehaya.

__ADS_1


__ADS_2