
Rasa kesal luar biasa begitu nampak nyata bagaimana aliran darah menjadi sangat mendidih bagaikan lava gunung yang siap menyembur ke langit. Begitu bergemuruh, berkecamuk ingin segera diluapkan. Jika Melody tidak menahan tangan Yudha, ia sangat yakin jika ponselnya kali ini akan mendapatkan nisan tanpa batu prasasti.
"Kau kenapa sih? Marah sih marah, tapi tidak perlu merusak benda segala!" Kata Melody yang ikutan kesal karena tingkah Yudha.
"Aku yang membeli ponsel itu, aku juga bisa mengantinya nanti!" Kata Yudha.
"Meski ponsel ini kau yang membeli, tapi kan sudah menjadi milikku! Aku tidak ikhlas ponsel kesayanganku kau lukai!"
"Aku bisa membelikan ponsel lagi untukmu sekalian sama pabriknya!"
"Ishh.."
Yudha itu sedang bermain uang? Pamer kekayaan? Pamer kekuasaan? Tentu saja sebagai istri dari suami berpenghasilan lebih dari sepuluh milyar perbulan ia akan percaya jika suaminya itu mampu membeli ponsel baru sekalian dengan pabriknya. Namun, apa suaminya itu tidak berpikir jika barang yang dibeli dalam jumlah yang banyak menjadi tidak istimewa lagi?
Maksudnya, ponsel yang hampir saja Yudha banting itu adalah ponsel pemberian Yudha kepada Melody usai mereka mengalami masalah. Ponsel itu memiliki cerita tersendiri. Ponsel itupun menjadi sangat berarti bagi Melody.
Lalu, dengan seenaknya saja Yudha ingin merusak ponsel itu dan menggantinya dengan yang baru?
Apa Yudha tidak paham dengan makna barang berharga dengan tidak?
Apa Yudha tak bisa membedakan barang dengan harga dan barang dengan nilai atau value?
"Ponsel ini memiliki nilai yang sangat tinggi. Begitu mahal hingga tak bisa disandingkan dengan ponsel yang lain. Apa lagi digantikan! Kau itu marah kenapa sih, Yudh?" Tanya Melody.
"Aku ingin menghancurkan selingkuhanmu! Aku akan membunuhnya! Aku harus membuat perhitungan!" Jawab Yudha.
Melody cengo.
Selingkuhannya? Selingkuhan kata Yudha? Dirinya memiliki selingkuhan? Di saat hamil seperti ini?
Punya waktu luang sekali hidupnya!
"Bicaralah yang jelas, Yudh! Jangan asal bicara! Selingkuhan apaan coba? Aku? Selingkuh darimu?" Melody sungguh tak mengerti.
"Iya. Kau selingkuh dariku. Katakan siapa laki-laki itu?" Tanya Yudha. Mata kelam itu begitu tajam menusuk.
"Laki-laki yang mana? Kenapa kau menuduh tanpa dasar sih?" Melody jelas tidak terima dengan tuduhan tanpa dasar yang Yudha layangkan kepadanya.
"Baru saja ada laki-laki menelponmu malam-malam larut seperti ini. Jika bukan aku yang mengangkatnya, kau pasti tetap akan menyembunyikan hubungan gelapmu dengannya, kan? Ayo ngaku!"
"Kau mengangkat telpon di ponselku?" Tanya Melody.
"..." Yudha baru menyadari sesuatu.
"Kau tak izin dulu padaku?" Melody kembali bertanya.
"..." Ini memang kesalahannya. Ia tak bisa mengendalikan diri ketika nomor baru terlihat memanggil nomor telepon milik Melody.
Hei, ini naluri lelaki sebagai seorang suami!
"Itu sangat tidak sopan! Bagaimana kau bisa pegang-pegang ponselku tanpa minta izin terlebih dahulu? Tidakkah kau merasa bersalah?
Bagi orang Jepang, privasi adalah hal yang sangat dijunjung tinggi. Mereka sangat menjaga norma sopan santun dimanapun mereka berada, terutama di tempat umum. Mereka saling menjaga privasi orang lain. Ini kenapa sangat jarang ditemukan orang berisik di tempat umum karena akan dianggap mengganggu orang lain. Mereka akan berbicara sepelan mungkin dan tentu saja akan menghindari mengangkat telepon jika sedang ada di kerumunan banyak orang, misal seperti sedang berada di dalam kereta.
"Ya maaf, tapi aku kan kesal, ada yang telpon malam-malam tanpa nama kontak. Karena penasaran akupun mengangkatnya. Ternyata laki-laki yang menelponmu. Siapa yang tidak marah coba? Aku kan suamimu." Kata Yudha. Ia memilih mengakui kesalahannya.
Apa yang sudah ia lakukan memang tidaklah sopan.
"Meski dia laki-laki, harusnya kau tidak mengecapnya sebagai selingkuhanku! Jika di situ tidak mencul nama kontak, kemungkinan besar aku ini juga tak mengenalnya! Jangan marah-marah tidak jelas sebelum mendengar klarifikasi dari versiku!" Melody menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Jika dia bukan selingkuhanmu, lalu dia siapa? Dia tahu lagu Bintang Kecil!" Kata Yudha.
Tahu lagu Bintang Kecil?
Melody melebarkan kedua matanya.
Siapakah laki-laki itu? Kenapa bisa mengetahui lagu Bintang Kecil? Kenapa menelponnya malam-malam larut seperti ini?
Aneh.
Menurut Melody, tak banyak orang yang tahu jika ia sangat menyukai lagu Bintang Kecil ini. Lagu yang memiliki banyak kenangan dengan sang mendiang ayah. Alvin tahu soal itu, tapi jika itu Alvin, sudah pasti Yudha akan dengan sangat mudah mengenalinya, kan?
Namun ini tidak.
Yudha sama sekali tidak mengenalinya. Yudha mengenali suara laki-laki itu sebagai selingkuhannya. Meski tak masuk akal, tapi dirinya mencoba paham.
Yudha kesal karena ada laki-laki lain yang menghubunginya?
Yudha kesal karena ada laki-laki lain menghubunginya malam-malam?
__ADS_1
Yudha kesal karena ada laki-laki lain selain diri Yudha yang tahu mengenai lagu Bintang Kecil?
Ah itu..
Serasa melayang ke udara..
Ini memang sangat Yudha. Yudha yang sangat ia kenali.
Yudha yang cemburuan akut tingkat maha dewa level sepuluh!
"Dasar tukang cemburu." Kata Melody.
"Aku tidak cemburu!" Sanggah Yudha.
"Tidak cemburu? Yaelah, jelas sekali kau ini sedang cemburu, Mr. Kazehaya!"
"Aku tidak cemburu, Mrs. Kazehaya!"
"Masih menyanggah? Mas Yudha bojoku sing paling ganteng, sudah berapa lama kau mengenalku sih? Hampir setahun! Setelah apa yang terjadi di antara kita dalam kurun waktu itu, kau pikir aku akan selingkuh dengan mudahnya? Hei, aku ini mengandung anakmu! Aku tak memiliki waktu untuk melirik laki-laki lain sementara kau selalu menghujami jiwa dan ragaku dengan sengatan cintamu yang super maha dahsyat itu!" Kata Melody melebay.
Ia memang harus melebay agar Yudha memahaminya. Cara berpikir Yudha itu selalu di luar nalar ketika sedang cemburu. Dari pada masalah semakin runyam, lebih baik ia menanganinya dengan pola pikir yang sama dengan Yudha. Ia harus berpikir di luar nalar juga.
"Tapi kan dia laki-laki..." Kata Yudha yang masih saja belum yakin.
Melody mendekat ke Yudha. Ia lalu memeluk Yudha. "Kau merasakan detak jantungku?" Tanya Melody.
Deguban jantung Melody terasa di permukaan kulitnya. Yudha tahu jika saat Melody sedang tidak tenang.
"Ya aku merasakannya." Jawab Yudha.
"Aku sedang sangat takut padamu, Yudh. Kau marah-marah seperti itu sangat menakutiku. Kita memiliki masalah yang jauh lebih besar. Kakek koma karena kecelakaan yang direkasa. Kakek mengalami percobaan pembunuhan. Paman Aron menghilang. Kau perang dingin dengan Alvin-senpai. Aku hamil. Ibu dan nenek sedang sedih. Dan masih banyak lagi hal-hal yang terjadi akhir-akhir ini. Menurutmu, apa aku memiliki waktu untuk selingkuh?" Kata Melody yang masih memeluk Yudha.
Melody berkata benar. Semua tutur katanya bisa diterima oleh nalarnya Yudha. Melody memang tak mungkin melakukan perselingkuhan di saat yang seperti ini.
Karena dirinya terlalu mencintai Melody, maka ia pun menjadi terlalu sulit untuk mengendalikan rasa cemburunya.
Yudha membalas pelukkan dari Melody. "Maaf, aku hanya tak bisa mengendalikan diriku jika ada laki-laki lain yang mendekatimu." Kata Yudha jujur.
"Suamiku memang yang terbaik. Meski rasa cemburu membuatnya bodoh, tapi aku tahu jika dia sangat menyayangiku. Yudha oh Yudha, i will always love you, forever. Jangan khawatir, meskipun banyak laki-laki yang datang menggodaku, meski itu anggota BTS sekalipun, aku tetap tidak akan pernah tergoda. Kau sudah cukup bagiku. Aku sudah merasa bahagia sampai ke titik teratasku." Batin Melody senang.
Melody hanya harus memahami bagaimana suaminya yang sedang cemburu. Meski sangat merepotkan, tapi Yudha cukup baik karena tidak main tangan terhadapnya.
"Kau pasti ketakutan melihatku tak terkendali seperti tadi. Aku harusnya sadar, kau selingkuh dengan laki-laki lain selain Alvin memang tidak akan mungkin."
"Apa Alvin masih dalam pengecualianmu, Yudh? Kau tahu itu dengan pasti. Aku tidak akan mungkin selingkuh dengan kakak iparku sendiri!"
Dengan cara apa lagi harus membuat Yudha percaya padanya jika ia tidak akan pernah membalas perasaan Alvin? Ia tak memiliki pemikiran untuk selingkuh dari Yudha. Tidak ada. Pemikiran seperti itu tidak ada di dalam benaknya.
"Tapi kesempatan itu masih terus ada karena Alvin masih sangat mencintaimu." Kata Yudha.
"Aku tahu ini jahat. Meski dia sangat mencintaiku, jika aku tak pernah buka hati untuknya, maka kesempatan itu tidak akan pernah terealisasikan. Kisah imajinatifmu tentang aku dan Alvin tidak akan pernah terjadi!"
"Aku perlu bukti."
Melody melepas pelukkannya pada Yudha. Bukti apa lagi sih untuk meyakinkan sosok seorang Kazehaya Yudha?
Melody melepas kancing baju hamilnya. Setelah itu, ia mengkat baju hamilnya. Sebelum melewati lehernya, tangan Yudha menghentikan lengannya.
"Apa yang sedang kau lakukan, hah?" Tanya Yudha.
"Tidurlah denganku, aku pastikan jika aku hanya akan melihatmu! Laki-laki lain hanyalah sosok yang tak akan pernah aku cintai." Jawab Melody.
Yudha merapikan kembali baju hamil Melody. Ia juga mengancingkan kancing baju hamil Melody yang terlepas.
Yudha mencium bibir Melody. Ia lalu beralih mencium kening Melody. "Maaf karena tidak mempercayaimu." Ucap Yudha.
Melody meneteskan air mata. "Tidak dipercayai oleh suami yang sangat aku cintai itu menyakitkan, Yudh."
Yudha menghapus air mata Melody sebelum akhirnya ia memilih bersimpuh di hadapan Melody. Ia juga memegang kedua tangan Melody.
Dengan tatapan menengadahnya, ia merasa bersalah karena sudah membuat Melody menangis.
"Gomenasai, Melody. Honto ni gomenasai. Aku akui, aku memang tak pandai mengendalikan diri jika menyangkut dirimu. Apalagi perasaan Alvin terhadapmu. Aku, aku, aku.. ah.. hm, ce-cemburu berat." Kata Yudha merah padam karena menahan malu.
Dasar Mr. Tsundere!
Honto ni gomenasai: Benar-benar minta maaf.
Mengakui cemburu apa sebegitu beratnya ya, Yudh? Kenapa tidak jujur saja sedari awal sih? Harus kucing-kucingan dulu. Membuat suasana tidak nyaman saja.
__ADS_1
"Sekarang, apa kau bisa mempercayaiku?" Tanya Melody.
"Hn. Aku percaya padamu. Namun aku tidak janji jika suatu hari nanti aku akan seperti ini lagi. Aku tidak janji jika aku tidak akan cemburu lagi."
"Bangunlah!" Melody sedikit menarik tangan Yudha agar Yudha tidak terlalu lama bersimpuh.
"..." Yudha bangun dan berdiri di hadapan Melody.
"Aku tidak mempermasalahkan orang yang sedang cemburu. Aku sendiri jika sedang cemburu juga marah-marah tidak jelas, kan?"
Yudha juga tahu bagaimana cara Melody cemburu. Apa lagi jika menyangkut soal Yura, ia harus menderita batin karena Melody menolak tidur dengannya.
"Hn."
"Yang membuatku takut itu bukan bagaimana caramu cemburu, tapi kau yang tak mempercayaiku. Tolong Yudh, mengenai Alvin-senpai, jangan memojokkanku seperti itu! Aku tidak akan menyanggah kisah lamaku dengan dia. Namun, kisahku dengannya sudah lama usai. Tidak akan ada cerita cinta lama bersemi kembali antara aku dengan dirinya." Lanjut Melody.
Yudha tertegun. Sepertinya ia memang hanya sedang berlebihan menanggapi sesuatu.
"Jika suatu saat aku jatuh miskin tak tak memiliki apa-apa lagi, apa kau tidak akan meninggalkanku?" Tanya Yudha.
"Aku tanya padamu, Yudh. Menurutmu kau melihatku ini bagaimana? Apa aku mencintaimu karena harta? Ya, maksudku dulu aku memang menerimamu karena butuh uang untuk melunasi hutang. Tapi perasaanku padamu itu tak ternilai dengan nominal uang maupun harta." Jawab Melody.
"Jika bukan dengan nominal uang maupun harta, lalu bagaimana kau mengindetikannya?" Yudha masih saja penasaran soal gaya cinta Melody.
"Setara jiwa dan raga."
Yudha langsung tersenyum. Melody juga ikutan tersenyum. Butuh kesabaran untuk meredam emosionalnya perasaan Yudha yang naik turun seperti roller coster.
"Percayalah, Mel! Aku tidak akan membiarkanmu hidup dalam kesusahan finansial. Meski saat ini aku sedang berada di dalam posisi yang tidak menguntungkan, tapi aku akan bertahan demi dirimu, anak-anak kita, ibu-ibu kita, nenek dan kakek." Kata Yudha.
"Apa itu sebuah janji?" Tanya Melody.
"Katakan saja seperti itu!" Jawab Yudha.
"Aku akan menjadi sayapmu, kakimu, dan tanganmu, Yudh."
"Jangan!"
"Kenapa?"
"Kau adalah jantungku. Kau bukan pembantuku."
"Tapi aku ingin lebih bisa kau andalkan."
"Jantung adalah hidup dan matiku, Mel. Kau sudah sangat bisa aku andalkan."
"Padahal itu juga memiliki makna sebagai kelemahanmu, kan? Jika aku mati, kau akan mati. Aku tak mau mengalami takdir yang miris. Aku maunya bahagia terus selama-lamanya."
"Kau terlalu egois pada Tuhan."
"Tuhan akan mendengar doa ibu hamil yang menderita karena perutnya ditendang janinnya."
"Mereka bergerak semakin aktif. Kau baik-baik saja?" Tanya Yudha khawatir. Ia lalu mengelus perut Melody.
"Kadang sakit. Tapi tidak apa-apa. Dengan begitu, aku jadi tahu ada kehidupan lain di dalam tubuhku."
"Katakan padaku jika kau merasa kehamilanmu mulai membuatmu mengalami hal-hal seperti ini. Jika sakit, katakan sakit!"
"Aku menikmatinya, Yudh. Jangan khawatir berlebihan!"
"Aku hanya ingin kita berbagi rasa, senpanjang usia."
"Tapi aku tak ingin merasa cinta berkhianat."
"Mel, itu bukan lagu!"
"Hehe."
"Kau ini. Masih saja bercanda."
"Hei, Yudh.."
"Ya?"
"Kau tidak penasaran tentang siapa yang menelponku dan bernyanyi Bintang Kecil? Tidakkah itu aneh? Kau tak bisa mengenali suaranya?"
Bingo.
Melody mengingatkan ingatannya. Ini adalah masalah awal yang membuatnya kesal setengah mati dan uring-uringan tidak jelas. Tanpa basa-basi, Yudhapun mengambil ponsel di saku celananya.
__ADS_1
"Shuhei, lacak orang terakhir yang menelpon nomor Melody!" Perintah Yudha.