
FLASHBACK ON
"Selamat siang, Ayah." Sapa Alvin.
"Selamat siang juga, anakku." Kata Yoga. Yoga memberikan kotak pizza yang bawa untuk Alvin. "Jangan murung seperti itu! Maaf, ayah baru bisa datang." Lanjut Yoga.
Alvin menggeleng. "Ayah kan sibuk, ada Yudha juga yang harus ayah jaga. Aku tidak apa-apa, Ayah." Senyum Alvin.
Yoga berjongkok lalu memengusap kepala Alvin. Anaknya ini memang sangat pengertian. "Kau anak yang baik. Terima kasih sudah memahami posisi ayah. Ini pasti sangat sulit untukmu."
Alvin menggeleng. Baginya, ayahnya itu sudah sangat keren. "Ayah mau main kartu Uno denganku?"
"Kartu Uno?" Gumam Yoga.
"Hn. Waktu kita bertemu dengan Yudha, Yudha mengajariku cara bermain kartu Uno. Dia bahkan memberikanku kartu Uno miliknya. Ayah, ayo kita bermain bersama!" Ajak Alvin.
"Baiklah, ayo kita bermain bersama!"
Dua laki-laki ayah-anak ini pun bermain kartu Uno. Alvin berapa kali mencoba, tapi tetap saja kalah dari sang ayah. Ia sampai membuat muka cemberut karena kesulitan mengalahkan sang ayah.
"Dengar, kau itu masih baru dalam permainan ini. Jadi kau harus lebih giat lagi belajar agar bisa mengalahkan ayah dan Yudha!" Kata Yoga.
Apa sang ayah sedang berusaha membesarkan hatinya? Apa ini memang sikap yang harus dilakukan semua orang tua terhadap anaknya? Tang Alvin pahami ayahnya hanya sedang berusaha bersikap bijak.
Ayolah, meski masi anak kecil sekalipun, tapi pemikirannya cukup dewasa.
"Apa Yudha pandai bermain Uno karena diajari oleh ayah?" Tanya Alvin. Ia ingat jika Yudha itu sangat mahir dalam bermain katu Uno.
"Ya. Ayah yang mengajarinya."
"..." Alvin menundukkan kepalanya.
Yoga langsung sadar dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Ia tak seharusnya mengucapkannya dengan nada santai seperti ini. Ini terdengar tak adil untuk Alvin.
Apa Alvin kecewa dengan jawaban yang ia lontarkan?
"Maafkan ayah, Vin. Bukan berarti ayah hanya ingin mengajari Yudha saja. Ayah juga ingin mengajarimu juga." Oke, Yoga kini juga kesulitan bagaimana cara terbaik untuk membuat seorang anak kecil mengerti akan posisinya.
Hidup tanpa didampingi oleh sang ayah dalam setiap harinya pasti membuat Alvin merasa minder dengan Yudha. Sebenarnya sah-sah saja sih jika ia berteriak dan protes kepada Yoga jika dirinya tidak diperlakukan secara adil sebagai anak. Bagaimanapun dirinya itu adalah anak yang membutuhkankan kasih sayang daru seorang ayah juga.
Alvi paham. Anak seusianya ini seharusnya memiliki sisi egois yang tinggi. Hanya saja, entah menurun dari siapa dan belajar darimana, Alvin lebih suka menahan diri akan semua keinginannya.
Membuat Yoga semakin merasa bersalah. Andai dulu ia tak membuat kesalahan, mungkin semua tidak akan seperti ini. Ia tak perlu menyakiti anak kecil yang terimbas hanya karena dosa orang tuanya.
"Setiap ayah datang kemari, ayah mau kan terus mengajariku main kartu Uno?" Tanya Alvin.
Alvin selalu di luar ekspektasinya. Yoga harus bersyukur kepada Tuhan karena sudah dianugerahi putra seperti Alvin.
Yoga tersenyum. "Ya, tentu saja! Tentu saja ayah akan mengajarimu main kartu Uno jika kau meminta ayah untuk mengjarimu! Aku itu anak ayah, kau berhak mengutarakan pendapatmu. Ayah pasti akan mendengarkannya."
"Terima kasih banyak, Ayah."
"Iya sama-sama."
"Jadi.. hmm, apa saat ini pun aku boleh mengutarakan pendapatku selain soal kartu Uno kepada ayah?" Tanya Alvin hati-hati.
Yoga mengernyitkan dahinya. Kenapa Alvin tiba-tiba bertanya seperti ini? Diringi perubahan nyata dari mimik wajah Alvin yang menurutnya itu nampak ketakutan.
Ketakutan?
Yoga kembali menatap Alvin. Apa ia hanya salah menilai? Ketakutan? Ayolah!
Memang apa yang membuat Alvin ketakutan? Rasanya ia sudah memberi tempat tinggal yang nyaman untuk Alvin.
"Sudah ayah bilang, kan? Kau boleh mengutarakan pendapatmu, keluh kesahmu, apa pun itu kepada ayah. Ayah akan mendengarkannya. Kau memiliki hak akan hal itu dan ayah memiliki kewajiban untuk membahasnya denganmu. Jadi, katakan saja apa yang saat ini sedang mengganggu pikiranmu!"
Perkataan Yoga yang selalu bijak membuat Alvin merasa nyaman berbicara dengan sang ayah.
"Ano... Itu, sewaktu aku bermain di taman kompleks, sepertinya ada orang yang mengawasiku, Ayah. Lalu, orang itu juga sepertinya mengikutiku. Aku bercerita pada ibu, tapi ibu tidak mempercayainya. Aku takut, Ayah! Aku takut sekali. Aku tak mau pergi ke taman itu lagi!" Cerita Alvin.
Yoga memeluk Alvin untuk membuat Alvin tenang. "Ayah percaya padamu. Ayah akan melindungimu apa pun yang terjadi!"
Rupanya Alvin mengalami hal ini juga.
Yoga sudah mencari tahu soal hal ini. Sebelum ini ia sempat bertengkar dengan Mikan soal orang misterius yang menemui Kurenai. Awalnya ia tak percaya pada Mikan, tapi melihat Mikan yang memilih pergi menenangkan diri dari rumah, ia pun berinisiatif untuk menyelidikinya, dan benar apa yang Mikan katakan, benar ada orang misterius yang mengintai Kurenai dan Alvin.
"Benarkah?" Tanya Alvin.
"Hn. Benar. Kau jangan khawatir! Meski ayah tidak ada di sampingmu setiap hari, tapi ayah pasti akan melindungimu."
Alvin tersenyum dan mereka kembali berpelukkan. Rasanya sangat bahagia ketika ada yang mempercayai.
.
.
.
__ADS_1
Setelah memastikan Alvin tidur siang, Yoga pun makan siang bersama Kurenai. Bukan makan siang yang sesuai waktu. Ini sudah menjelang sore. Setengah tiga. Bagaimana cara menyebutnya?
Oke. Itu tidak penting.
Yang terpenting untuk saat ini yaitu membahas soal orang misterius yang menganggu Kurenai dan Alvin di tengah acara makan siang bersama mereka.
"Bagaimana? Apakah karinya rasanya enak?" Tanya Kurenai.
"Ini lezat sekali. Kau sungguh membuatnya sendiri?" Kata Yoga.
Kurenai mengangguk. "Iya, dengan menggunakan roux kari jadi. Hehe."
Tidak seperti kari Thailand atau India, kari ala Jepang biasanya dibuat menggunakan roux kari.
Roux kari adalah campuran tepung, lemak dan minyak, campuran rempah-rempah, bumbu, dll. yang dipanaskan secara menyeluruh, kemudian didinginkan hingga padat, dan dijual oleh berbagai perusahaan makanan di Jepang.
Roux kari mengandung aroma lezat yang tercipta dari tepung terigu yang ditumis di wajan serta aroma rempah yang dipanaskan dalam suhu yang sesuai sehingga tercipta aroma yang kaya cita rasa yang bisa menciptakan aroma yang harmonis serta kekentalan saus yang sesuai.
Roux adalah istilah memasak dari bahasa Prancis yang mengacu pada campuran tepung yang ditumis dengan lemak dan/atau minyak, dan digunakan untuk mengentalkan sup.
"Ini adalah ciri khas kari Jepang." Kata Yoga. Saat ini sudah banyak tersedia bumbu jadi di minimarket. Masak apapun menjadi lebih mudah dan bisa dikatakan anti gagal.
Namun, Yoga menghargai setiap usaha sekecil apapun itu. Bukan masalah menggunakan bumbu jadi atau apa, tapi proses hingga menjadi sajian kari lezat di piring itu bernilai. Bagaimana sayuran ini terpotong, tercuci bersih, dan termasak sempurna, itu membutuhkan perjuangan. Yoga menyukai estetikanya.
"Habiskanlah karimu, setelah itu, mari kita bicara! Ada hal yang ingin aku sampaikan denganmu." Kata Kurenai.
"Ya. Aku juga memiliki hal yang ingin aku bahas denganmu."
.
.
.
Usai makan bersama, Yoga dan Kurenai duduk berjejer di sofa panjang ruang tamu. Ada dua cangkir kopi yang menemani mereka berdua.
"Yoga-san.." Panggil Kurenai.
"Ya?"
"Kalau aku memintamu untuk melindungiku dengan Alvin, apa kau akan melakukannya?" Tanya Kurenai.
"Tentu aku akan melakukannya."
"Meski harus meninggalkan Mikan-san dan Yudha sekalipun?"
"Aku akan melindungi Alvin karena dia anakku. Aku akan melindungimu karena kau adalah ibu dari anakku. Begitupun dengan Mikan dan Yoga. Aku akan melindungi mereka juga sama seperti aku melindungi kalian. Namun, tanpa harus meninggalkan mereka." Kata Yoga tegas.
"Mereka kembali!" Kata Kurenai tiba-tiba.
"?"
"Mereka kembali, Yoga-san!"
"Mereka? Kembali? Sia mereka, Kurenai?"
"Yakuza yang dulu menyekapku. Mereka kembali. Orang yang menghancurkan hidupku dan menjadikanku budak sex datang kembali menemuiku." Jelas Kurenai. Ia pun menangis ketakutan.
"..." Rupanya apa yang ingin ia bahas dengan Kurenai pun saling berhubungan. Orang misterius yang mengikuti itu pasti ada hubungannya dengan kelompok yakuza yang dulu terlibay dengan Kurenai di masa lalu.
"Menerorku setiap waktu. Bahkan Alvin yang tak tahu apa-apa harus terkena imbasnya. Aku terpaksa berbohong pada Alvin agar dia tidak terlalu kepikiran soal orang yang mengawasinya. Melihatnya ketakutan seperti itu membuatku sangat khawatir." Lanjut Kurenai.
"Apa orang itu menemuimu secara langsung?" Tanya Yoga.
Kurenai mengangguk. "Ya. Dan dia juga mengancamku kalau aku tak kembali padanya, maka dia tidak akan segan membunuh orang-orang di sekitarku. Dia ingin membunuh Alvin. Dia memberiku kesempatan dalam waktu seminggu ini. Jika aku tak bersedia kembali pada bulan purnama bulan Agustus ini, maka... maka.. dia akan mengirim kepalamu. Lalu gilanya.. dia juga membahas soal Mikan-san dan Yudha."
Yoga mencolos. Ia tahu betapa gilanya kehidupan dunia bawah di bawah naungan Yakuza itu seperti apa. Bunuh-membunuh adalah hal yang lumrah bagi mereka.
Tak disangka jika merekapun mengincar nyawanya dan nyawa istri beserta anaknya. Ini tak bisa dibiarkan!
"Aku harus bagaimana, Yoga-san? Aku tak ingin kembali ke dunia gelap. Namun aku juga tidak ingin kehilangan Alvin, kau, dan juga Mikan-san beserta Yudha. Mereka tak tahu apa-apa soal masalahku. Namun mereka harus terseret gara-gara diriku. Tolong aku, Yoga-san! Aku mohon, tolonglah aku!" Tangis Kurenai.
"Aku tak bisa membawamu dan Alvin masuk ke keluarga Kazehaya untuk mendapat perlindungan. Kau sudah mengerti penyebabnya."
"Ayo kita bersembunyi!"
"Bersembunyi?"
"Iya, ayo kita tinggalkan Tokyo untuk beberapa saat sampai semuanya membaik!"
"Mereka tidak semudah itu melepaskan mangsa hanya karena kita bersembunyi. Mereka tidaklah sebodoh itu!"
"Lalu, apa kau memiliki ide yang lebih relevan, Yoga-san?"
Yoga memijat kepalanya. Tiba-tiba saja rasanya menjadi sangat pusing.
"Intinya, kalau kita bersama, kita akan tetap mati, kan?" Tanya Yoga.
__ADS_1
"Ya. Seperti itu. Kita akan mati jika dia tahu aku tak kembali padanya." Jawab Kurenai.
"..."
Kurenai menghapus air matanya. "Jika ini sangat berat untukmu, ya sudah, aku mengerti. Aku akan menyerahkan diri pada mereka. Tolong jaga Alvin untukku!"
"Hah? Hoe! Jangan lakukan itu! Alvin masih sangat membutuhkanmu! Dia akan bersedih akan hal ini!"
"Lalu aku bisa apa, Yoga-san? Ini lebih baik daripada aku kehilanganmu, Alvin, Mikan-san, dan juga Yudha. Semua sumber masalah itu dari diriku. Lebih baik aku saja yang berkorban. Lagian aku ini apa? Aku sama sekali tak berarti untukmu."
"Bicara apa kau ini, hah? Kau itu ibunya Alvin! Ibu dari anakku!"
"..." Ada angin sejuk ketika Yoga mengatakan hal ini. Apakah itu artinya jika dirinya itu berharga di mata Yoga? Jadi, apakah itu artinya juga ia dapat meminta sesuatu yang lebih?
"Tenanglah! Aku ini sedang memikirkan cara untuk menyelamatkan kita semua." Kata Yoga.
"Ada satu cara yang bisa kita lakukan, Yoga-san."
"Apa itu?"
"Kau tinggalkan Mikan-san dan Yudha. Meski ini berat, tapi coba pikirkanlah! Hanya ini yang bisa kau lakukan untuk melindungi kami semua. Ketika kau keluar dari kediaman Kazehaya, keselamatan Mikan-san dan Yudha sudah terjamin oleh Tuan Besar Wijaya. Ayahmu pasti akan melindungi mati-matian keturunan Kazehaya. Sementara kau bersamaku dan Alvin, kita bisa berjuang bersama untuk saling melindungi."
"..." Masuk akal juga ide dari Kurenai. Ia tak bisa melindungi Kurenai dan Alvin sebagai penyandang marga Kazehaya. Ia hanya bisa melindungi mereka sebagai Yoga tanpa embel-embel kekuasaan Kazehaya.
"Namun, kemungkinan kita mati itu besar adanya. Jauh dari Tokyo tentu akan membuatmu lemah. Jika kita mati, bagaimana? Bisakah Alvin selamat?" Tambah Kurenai.
"Apapun yang terjadi, kita pasti bisa melindungi Alvin! Jika kita mati, Alvin harus selamat!" Kata Yoga.
Kurenai menyeringai di dalam hati. Yoga rupanya terbawa arus dari rencananya.
"Jika Alvin selamat, apa yang akan kita lakukan padanya? Dia masih kecil, dia belum bisa bertahan di dunia yang kejam ini! Dia pasti akan menjadi incaran orang itu selanjutnya. Akan sangat sulit bertahan baginya setelah kematian kita." Kata Kurenai.
"Jika kita mati, Alvin akan aku titipkan pada Mikan. Dia akan dengan senang hati menerima Alvin."
"Kau yakin? Kau tahu bagaimana hubungan kita, kan? Aku tak bisa membiarkan Alvin diasuh olehnya begitu saja! Aku tak ingin Alvin menderita setelah kematian kita. Yoga-san, bisakah kau menjamin kehidupan Alvin di masa depan?"
"..." Apa yang ingin Kurenai sampaikan?
"Aku ingin setelah kematian kita, Alvin bisa hidup berkecukupan. Makan dengan baik, tidur dengan nyenyak, pakaian yang bagus,dan memiliki rumah yang nyaman. Maafkan aku Yoga-san, aku tahu ini tidak sopan, tapi ini adalah wujud kekhawatiran seorang ibu kepada anaknya ketika di ambang kematian." Jelas Kurenai.
Yoga mengerti kekhawatiran Kurenai. Sebagai ayah, ia juga tak ingin meninggalkan Alvin maupun Yudha dalam keadaan penub kekhawatiran. Ia akan menjamin kedua putra-putranya itu. Sebisa yang ia mampu. Mungkin ini tak akan adil, tapi ia akan berusaha menjamin keduanya.
"Aku akan menjamin Alvin layaknya aku menjamin masa depan Yudha. Kau jangan khawatir!" Kata Yoga.
"Jadi, kau bersedia memilih kami?" Tanya Kurenai.
"Ya. Kita akan keluar dari Tokyo. Aku akan meninggalkan Mikan dan Yudha untuk melindungimu dan Alvin. Kau benar, ayahku pasti akan melakukan apapun untuk melindungi Mikan dan Yudha sementara aku memilih kalian. Keselamatan kita tidak terjamin, tapi aku akan berusaha membuat Alvin selamat. Ketika kita berdua ditakdirkan mati, kau tak perlu khawatir soal masa depan Alvin. Aku sendiri yang akan menjamin kehidupannya." Kata Yoga menyimpulkan semua hasil pembicaraan ini.
Kurenai memeluk Yoga. "Yoga-san, arigato gozaimasu. Honto ni arigato. Aku bisa mati dengan tenang jika begini."
"Kita akan berusaha selamat.." Yoga memiliki rencananya sendiri karena ia tak berniat untuk mati. Ia ingin kembali pada orang yang dicintainya, Mikan.
"Hnn. Kita juga akan berusaha agar selamat." Kurenai kembali menyeringai karena menurutnya semua sejalan dengan apa yang ia rencanakan.
"Tentulah Alvin tak akan mati. Siapa yang mau membunuh Alvin? Siapa yang berani membunuh keturunan Matsuoka Han yang psikopat itu? Haha, untung aku berhasil mengelebuhinya jika Alvin itu adalah keturunannya. Dia tidak akan berani menyentuh Alvin meski seujung rambut sekalipun... Memang benar ya? Jika aku ingin bertahan hidup di dunia yang kejam ini, maka aku hanya harus memiliki kekuasaan. Aku pun juga harus licik. Ini adalah langkah awalku untuk menapaki masa depanku... Maafkan aku Yoga-san, aku harus melakukan ini agar aku bisa terus bersamamu. Aku ini sangat mencintaimu, tapi kau melihatku hanya sebagai ibunya Alvin... Setelah aku, Alvin, dan Yoga-san keluar dari Tokyo, Yoga-san pasti akan menggunakan semua kekuasaannya untuk melindungi kami. Background keluarga Kazehaya itu sangat kuat didukung tahta Emperor Group yang disandangnya pun akan menggetarkan semua orang. Lagi pula, aku yakin, tua bangka Wijaya-sama juga tidak akan tinggal diam karena anaknya itu memilihku dan Alvin... Sementara aku bersantai, aku akan menikmati pertarungan antara Tuan Han dan Wijaya-sama. Kalau kedua-duanya mati, itu akan semakin seru. Kekuasaan yang aku inginkan akan semakin mudah diraih. Mikan dan Yudha bukanlah apa-apa tanpa Wijaya-sama." Batin Kurenai.
.
.
.
Sayangnya Kurenai itu terlalu naif, terlalu percaya diri akan rencananya. Semua tak ada yang sempurna. Yoga sendiri memiliki rencananya. Ia memang memilih meninggalkan Mikan dan Yudha, tapi ia memiliki janji pranikah dengan Mikan. Kekuasaan yang Kurenai dambakan masih abu-abu. Ia tak tahu apa yang Yoga tinggalkan untuk Alvin. Ia tak tahu apa yang Yoga jaminkan untuk masa depan Alvin.
Bukan Tuan Han atau Kazehaya Wijaya yang mati, tapi malah Yoga sendiri yang harus dikorbankan.
Akibat kematian dari Yoga, masa depan cerah yang ada di dalam angan juga semakin samar. Semakin tidak pasti. Apa lagi ketika pada akhirnya ia malah dibuang jauh ke London oleh Kazehaya Wijaya. Semua menjadi tak terduga.
Ketika Kurenai ingin menyerah pada keadaan, Tuan Han kembali masuk ke dalam kehidupannya dan menawarkan ide yang brilian. Ingin mencoba menguasai Emperor Group adalah tawaran menggoda yang tak bisa ia lewatkan.
Bermodal kebohongan soal status Alvin sebagai anak Tuan Han, Kurenai memberanikan diri untuk menyusun rencana besar sekali lagi.
FLASHBACK OFF
Flashback daris sudut pandang umum telah usai. Mulai chapter depan akan fokus ke cerita utama ya. Alot banget emang. Namun kisah ini masih akan terus berlanjut samapi semua karma-karma yang terjadi dan mengikat semua para pemegang kisah dalam takdir Tuhan ini terbalas. Semua tak semudah membuka telapak tangan. Perlu perjuangan ekstra.
Bagi Melody yang berjuang dalam menggapai cita-cita hidupnya demi bahagia hidup bersama Kazehaya Yudha.
Bagi Yudha yang berjuang demi cintanya dengan Melody dan wujud baktinya untuk orang tuanya.
Bagi Alvin yang berjuang karena nasib yang tak bersahat dengannya, nadib yang selalu mengalahkannya meski ia sudah menjadi orang baik sekali pun.
Bagi Mikan yang berjuang agar karma masa lalunya berhenti tak berlanjut menimpa generasi penerusnya.
Bagi Kurenai yang ingin hidup sesuai dengan kkeinginannya, hidup yang harus ia raih setelah mengalami masa lalu yang mengerikan
Lingkar takdir ini mengikat orang-orang di sekitar mereka yang membuatnya semakin complicated. Sangat melelahkan dan ingin segera menyudahinya. Dengan caranya masing-masing, dengan versi akhir yang diidamkan masing-masing pula.
__ADS_1