
Back to home...
Selama di dalam pesawat pulang ke Tokyo, Melody dan Yudha tidak saling berbicara. Mereka berdua bergelut dengan pikirannya masing-masing. Meski mereka duduk berdampingan, tapi sepatah katapun tidak ada yang terucap di bibir.
Masih tidak tahu mau berbicara apa.
Hari ini tidak akan seperti hari biasanya. Banyak hal yang terjadi, bukan sesuatu hal yang mudah untuk bersikap layaknya tidak terjadi apa-apa.
Bagi kalangan lain mungkin itu adalah hal biasa, toh sudah menikah. Memiliki ikatan resmi sebagai pasangan suami-istri. Berhubungan intim adalah hal yang lumrah. Namun lain cerita bagi Melody dan Yudha. Kenyataannya tak sesederhana itu.
Hubungan mereka berdua rumit meski stempel hukum mengikat nama mereka.
Melody beberapa kali melirik ke arah samping, ke arah Yudha yang ada di sampingnya. Yudha terlihat tenggelam dalam lamunanya sendiri. Laki-laki yang sangat sulit Melody pahami itu tengah menatap pemandangan luar lewat jendela pesawat.
Melody bertanya dalam hati, apakah pemandangan itu begitu mempesona hingga Yudha menatapnya begitu lama tanpa sekalipun mengalihkannya? Atauapa mata Yudha sungguh-sungguh melihat pemandangan itu?
Mata itu terlihat tanpa arah pasti.
Memandang tapi tidak seperti memandang. Melihat tapi tak seperti melihat. Mata itu terasa kosong.
.
.
.
Saat ini, Yudha duduk tenang dengan gayanya!
Yudha diam saja sungguh berkharisma. Apa itu yang selalu anak-anak cewek bicarakan di kampus? Daya tarik seorang Kazehaya Yudha adalah saat diam pun keren dan cool? Pakaian apapun yang Yudha kenakan begitu cocok dan mendukung ketampanannya semakin tampan. Mendukung kerennya Yudha semakin keren.
Melody tak pernah menatap dengan benar sosok suaminya itu. Yang ia tahu, suaminya itu menyebalkan tapi juga sangat baik. Selalu memperlakukannya dengan baik dan mengajari banyak hal baru dalam hidupnya. Hanya sebatas itu. Tidak lebih dan tidak , memang kenyataannya seperti itu.
Apa saat ini waktunya ia melihat Yudha dengan benar? Menatap suaminya dengan benar?
Melihat suaminya seperti yang dilakukan oleh cewek-cewek kampusnya?
Jadi, bagaimana hendaknya ia menentukkan sikap untuk menilai suaminya itu?
Melody kembali menatap suaminya. Melirik Yudha yang duduk di sampingnya.
Yudha masih dalam posisi yang sama. Tetap menatap ke luar jendela. Duduk dengan menyilangkan kaki. Tangan kanannya digunakan untuk bersandar dan menyangga kepalnya.
Tampan.
Keren.
Dan cool.
__ADS_1
Yudha memang tampan, keren, dan cool. Ya, Melody mengakuinya. Seperti opini cewek-cewek yang ada di kampusnya.
Semua yang ada di Yudha itu tampan. Wajahnya, matanya, hidungnya, bibirnya, bahkan juga rahang tegasnya.
Yudha memakai kemeja putih lengan pendek tanpa dikancingkan dengan dalaman kaos putih polos.
Yudha memakai celana panjang. Lihatlah tubuh kurus dan atletis itu, bukankah itu sudah cukup untuk membuat banyak orang terkesima?
Lagi, Melody kembali melayangkan pertanyaan. Apa Yudha selalu terlihat tampan, keren, dan cool seperti ini?
Apa selama ini Melody tak pernah menyadarinya? Tak pernah menyadari betapa mempesonanya Yudha? Laki-laki idaman banyak wanita itu adalah suaminya.
Suami sahnya di atas hukum negara.
.
.
.
Melody sadar, sewaktu ia menikah dengan Yudha banyak anak cewek se kampus yang patah hati karena akhirnya sang pangeran kampus menikah.
Melody tak begitu memikirkannya. Saat itu, ia tak tahu apa itu arti dari sebuah pernikahan. Ia hanya tahu jika pernikahannya itu adalah hasil bisnis kepentingan keluarga. Sungguh, ia tak menyangka jika hal ini akan terjadi padanya.
Padanya dan pada Yudha. Ia tahu betul, ia maupun Yudha tak menginginkan hubungan seperti itu terjadi.
Apa yang Yudha pikirkan tentang dirinya setelah kejadian semalam?
Pertanyaan itu berputar-putar di otaknya. terus dan terus saja meminta jawaban. Jika bukan karena hal semalam, mungkin saat ini ia dan Yudha akan berdebat ria seperti biasanya. Mungkin tidak akan tercipta kecanggungan sebesar ini. Mungkin juga ia bisa mencak-mencak tidak jelas karena gurauan dari Yudha.
Namun, itu hanya mungkin.
Semua sudah tak lagi sama.
Semua sudah berbeda.
Di saat dua pasangan yang tak memiliki perasaan yang sama menikah saja sudah pasti mengalami banyak kesulitan. Perlu penyesuaian, perlu jaga sikap, perlu ekstra saling memahami. Apalagi sampai terjadi hubungan yang lebih jauh tanpa diinginkan.
Semua hanya karena nafsu yang menguasai. Menutup hati untuk berbicara. Bagaimana bisa nafsu itu dengan mudah menguasai? Melupakan sejenak hati yang sudah dimiliki orang lain.
Melody tahu betul siapa pemilik hati Yudha, yang jelas bukan dirinya dan ia justru melakukan hubungan intim dengan Yudha karena nafsu? Lagi, semua sudah terjadi.
Melody memejamkan matanya. Hati Yudha milik orang lain.
"Aku tak menyangka jika rasanya akan sangat menyakitkan."
Ia lalu meneteskan air mata.
__ADS_1
.
.
.
MELODI CINTA
.
.
.
Kazehaya Mansion...
Kepulangan Melody dan Yudha disambut oleh sang ibu dan nenek. Rupanya kakek Wijaya sudah berangkat ke kantor.
Yudha mendapatkan ceramah panjang karena tidak bisa menjaga Melody dengan baik. Maklum saja, Melody pulang dalam keadaan pincang dan memakai kursi roda. Bukan luka yang parah, Yudha hanya tidak mau Melody kesulitan berjalan, itu mengapa ia membelikan Melody kursi roda.
Usai berbincang dengan ibu Mikan dan nenek Chiyo, Yudha menggendong Melody ala bridal style ke dalam kamar mereka yang ada di lantai dua.
Saat Yudha menggendongnya, mereka masih tetap saling diam. Ibu Mikan dan nenek Chiyo hanya mengamatinya dari lantai bawah. Sebagai seorang ibu, Mikan merasa cukup khawatir melihat ke dua anaknya. Tapi, ia memutuskan untuk melihat dulu.
Ia memanglah wali dari keduanya, tapi keduanya sudah menikah, ia tak berhak asal campur tangan akan hubunhan pernikahan keduanya.
Sesampainya di kamar, Yudha menurunkan Melody di ranjang, ia lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Melody.
"Te-terima kasih." Kata Melody. Ini kata pertama yang dapat ia ucapkan semenjak kediaman mendera dirinya dengan Yudha.
"Hn." Kata Yudha.
Setelah sekian lama, hanya kata itu yang bisa terlontarkan. Itu lebih baik, Melody merasa tidak tahan jika harus berlama-lama diam penuh kecanggungan saat bersama Yudha.
Setelah memastikan Melody nyaman di tempat tidurnya, Yudha ke kamar mandi dan membasuh mukanya. Yudha lalu keluar dan melepas kemeja putihnya. Meletakkannya di keranjang batu kotor.
Melody hanya mengamati apa saja yang Yudha lakukan. Ia tak berniat mengganggu sedikitpun.
Setelah meletakkan kemejanya di keranjang baju kotor, Yudha mengambil kemeja baru warna biru dongker dari dalam almari. Kemudian ia memakai kemeja itu dan tak lupa dasi sebagai pasangannya.
Menarik jas hitamnya dari gantungan jas, lalu ia sampirkan di bahu.
"Aku akan ke kantor, kau istrirahat saja!"
Kata Yudha datar.
Melody hanya mengangguk. Ia menatap sendu punggung Yudha yang keluar dari kamarnya. Ia sungguh ingin berbicara serius dengan Yudha saat ini. Banyak hal di otaknya yang memaksa untuk dibicarakan dengan Yudha. Namun rupanya, Yudha seolah bersikap menghindarinya.
__ADS_1
"Gomen Yudha, karena semalam kau melukai hatimu sendiri."