
"Kau kedinginan, Mel?" Tanya Yudha.
Yudha merasakan tangan Melody bergetar cukup hebat. Ia menatap istrinya yang sedang mengandung anaknya itu. Wajahnya yang putih semakin memucat. Bibir merona Melody bahkan membiru. Pakaian yang ia kenakan jauh lebih tipis dari pakaian Melody. Rupanya itu tak cukup untuk membuat hangat tubuh Melody.
"Iya. Ini sangat dingin, Yudh." Jawab Melody. Ia berusaha semampunya menguatkan pegangannya pada tangan Yudha.
Yudha langsung memeluk Melody. Ia merasakan tubuh Melody yang menggigil. Ia juga merasakan ada sekat di antara mereka. Kehamilan Melody. Ia tidak bisa mengeratkan pelukkannya secara berlebihan.
"Yudha, masih jauh ya kedai ramennya?"
"Lima ratusan meter lagi." Jawab Yudha.
"Aku akan baik-baik saja." Melody mencoba melepaskan diri dari pelukkan Yudha. "Ayo kita lanjutkan perjalanan kita!" Ajaknya.
Yudha melepas mantelnya dan memakaikannya pada Melody. Melody berusaha menolak lagi, tapi ia tetap memaksanya. Pada akhirnya, Melody hanya bisa pasrah. Yudha tersenyum lega.
Melody merasa jika tubuhnya menghangat karena tambahan pakaian milik Yudha.
"Apa kau akan baik-baik saja? Apa kau tidak akan kedinginan?" Tanya Melody khawatir.
"Jika hanya lima ratus meter aku masih bisa menahannya." Jawab Yudha. "Ayo.."
"Hn. Baiklah. Ayo.."
Mereka melanjutkan perjalanan. Yudha masih setia menggandeng tangan Melody.
Melody sedikit mengekor di belakangnya. Langkah kecilnya tak akan bisa sama dengan langkah Yudha yang lebih panjang meski ia tahu, Yudha sudah melambatkan tempo langkahnya.
Melody menatap tautan tangannya dengan Yudha yang bergandengan itu. Ia menatap penuh arti. Jika boleh egois, ia tidak ingin melepaskannya. Ia ingin tetap seperti ini. Dingin tidak masalah, badaipun juga tak masalah. Tolong, biarkanlah dirinya menikmati kebersamaannya dengan suami yang sangat ia cintai.
"Andai kau tidak melepaskan genggamanmu padaku sejak awal, kita mungkin tidak akan mengalami masalah seperti ini. Kita tidak akan bertengkar. Kita akan selalu tertawa bersama seperti yang sudah-sudah..."
Langkah demi langkah membawa mereka semakin dekat dengan kedai ramen yang dimaksud oleh Yudha. Kedai ramen itu sudah kelihatan di depan mata.
"Kita sudah dekat. Kau melihat kedai itu, kan?" Tanya Yudha. Ia menunjuk ke arah kedai ramen yang terdapat asap mengepul dari cerobong asapnya.
😢
Yudha melebarkan matanya. Ia kaget tak menyangka. Melody menangis? Sejak kapan?
"Loh? Kau kenapa? Kenapa menangis?" Tanya Yudha.
Melody menggeleng. "..."
"Kau takut? Kau terluka? Kakimu baik-baik saja?" Mungkin saja Melody kakinya sakit.
Namun salah, Melody kembali menggeleng.
"..." Melody masih menangis.
"Jika tidak ada apa-apa, kenapa kau menangis?" Tanya Yudha lagi.
"Aku juga tak mengerti kenapa aku menangis!" Air mata Melody terus saja mengalir tanpa izin darinya.
Yudha melepaskan tautan tangannya. Ia mendekati Melody dan menghapus air mata Melody dengan tangannya yang super dingin.
__ADS_1
"Semua akan baik-baik saja! Kau hanya lelah.." Dengan sigap Yudha lalu menggendong Melody ala bridal style.
"Yudha turunkan aku!" Pinta Melody yang tak mengira jika Yudha akan tiba-tiba membopongnya seperti ini.
"Jangan bergerak! Nanti jatuh! Itu bahaya untuk ibu hamil seperti dirimu!" Kata Yudha.
Melodu terdiam. Jika sudah disangkut-pautkan dengan anak-anaknya memang lain cerita. Ia tidak bisa membantahnya. Iapun memilih untuk menerima perlakuan dari Yudha.
Seperti de javu. Diamana Melody kembali digendong oleh Yudha. Saat di Okinawa dan saat di Miyagi. Hanya beda gaya gendongan.
"Aku tidak akan menggendongmu balik!" Kata Melody.
"Aku tidak akan minta balas budi darimu!" Kata Yudha.
Melody mencengkram kemeja Yudha. Ia menenggelamkan kepalanya di dada bidang Yudha. Ia kembali menangis.
Yudha sendiri hanya membiarkan Melody yang menangis. Yang ia inginkan, segera sampai di kedai ramen dan Melody serta anaknya selamat.
.
.
.
Sesampainya di kedai ramen, mereka berdua disambut hangat oleh pemilik kedai, Takaoka.
Ada pengunjung lain yang rupanya mengalami hal yang sama dengan Yudha dan Melody. Terjebk badai.
Setelah selesai makan ramen dan menghangatkan badan, mereka berdua memutuskan untuk menginap.
Takaoka hanya tersenyum. “Iya, dua minggu yang lalu saya mendapat surat peringatan penggusuran dari Emperor Group tentang tempat ini.”
Melody terkejut. Ia tahu ada luka di balik senyuman itu dan tunggu.. Emperor Group? Bukankah itu milik keluarga Kazehaya?
“A-aw..” Erang Melody. Yudha menghentikan dirinya bicara.
“Apakah paman tidak memiliki dokumen pendukung yang bisa menguatkan kepemilikan paman?” Tanya Yudha.
Takaoka menggeleng. “Meskipun saya memiliki sertifikat resmi dari pemerintahpun, apa bisa orang kecil seperti saya melawan perusahaan besar seperti Emperor Group? Lagipula, mereka akan merombak tempat ini. Mungkin saja mega proyek mereka bisa membangun tempat ini menjadi lebih maju lagi.”
Yudha dan Melody sejenk terdiam.
“Bagaimana dengan penduduk yang lain?” Tanya Yudha.
“Mereka sebagian berencana akan melakukan demo untuk menyelamatkan hak mereka. Pembelian tanah yang dilakukan oleh Emperor Group tidak sesuai harga yang disepakati penduduk. Mereka membeli jauh lebih murah dari harga pasar.”
Jawab Takaoka.
“Ba-bagaimana bisa?” Kaget Melody.
“Kami sedang berupaya untuk negoisasi kembali, jika tidak berhasil, entahlah bagaimana nasib kami nanti. Kami senang ada perusahaan yang mau mengembangkan tempat ini, tapi setidaknya mereka juga memikirkan nasib orang-orang yang menempati tempat ini juga." Lanjut Takaoka.
Melody dan Yudha terdiam. Banyak hal yang mencurigakan. Yudha paham apa itu.
"Nah ini kunci kamarnya, silahkan beristirahat! Saya permisi.”
__ADS_1
Kata Takaoka.
.
.
.
Setelah Takaoka pergi, Yudha dan Melody masuk ke kamar mereka. Yudha menyalahkan pemanas ruangan yang ada di kamar itu. Melody melepas mantelnya.
“Yudha, kenapa kau diam saja melihat nasib para penduduk tempat ini? Apakah dari dulu Emperor Group selalu seperti ini?” Tanya Melody sembari merapikan mantelnya.
Sungguh, ia sangat kesal.
“Tidak, aku dan kakek tidak akan melakukan hal ini. Kakek itu berprinsip untuk menciptakan kebahgiaan atas apa yang ia bangun.” Jawab Yudha.
“Lalu ada apa dengan tempat ini? Bukankah ini tempat sangat indah? Ada mata air panas alami lagi. Sayang sekali jika dilakukan penggusuran.”
“Kau bermasalah dengan kondisi alam tempat ini atau hak penduduk yang tak sesuai?”
“Dua-duanya, jika itu aku, aku tak akan melakukan penggusuran. Aku lebih suka wilayah ini tetap asri seperti sekarang ini. Jika ingin dibangun, lebih baik wisata alam saja. Aku benci jika tempat yang indah ini menjadi gunung beton dan tempat belanja! Lalu, sebaiknya berilah harga yang pantas bagi semua penduduk yang tinggal di sini!”
“Proyek ini tidak jatuh ke tanganku, tapi dimenangkan oleh Paman Kang dan didukung penuh oleh paman Park. Aku akan berbuat sesuatu dengan masalah ini.”
“Iya, kau harus melakukannya!”
“Aku ganti pakaian dulu. Kau beristirahatlah!” Yudha pergi ke kamar mandi.
.
.
.
Setelah selelsai merapikan mantel dan tempat tidurnya, Melody lalu duduk di ranjang penginapan. Mengusap perutnya perlahan. Ia khawatir setengah mati dengan kandungannya. Sempat kedingin cukup lama dan di bawa jalan cukup jauh.
“Jangan khawatir sayang, mama akan menjagamu!”
Kata Melody.
“Eh..” Tak sengaja Yudha melihat dan mendengar saat Melody sedang berbicara dengan janinnya.
Melody langsung memerah, ia lalu mengambil selimut untuk menutupi kandungannya. Yudha hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Canggung.
Kenapa selalu seperti ini?
Padahal tadi bisa nyaman dan nyambung saat membicarakan masalah penggusuran tempat ini.
“Su.sudah selesai ganti pakaiannya?” Tanya Melody.
“Hn.” Yudha beranjak menuju sisi ranjang yang lain untuk membaringkan badannya yang sudah sangat lelah.
Melody yang duduk di ranjang sisi satunya juga melakukan hal yang sama, ia juga membaringkan tubuhnya di ranjang. Ia miring ke sisi berlawanan dengan Yudha. Seperti yang biasa mereka lakukan. Melody bahkan menarik selimutnya sampai ke setengah pipinya.
__ADS_1
Mereka berdua tidur di ujung ranjang mereka, menyisakan ruang yang cukup lebar di antara mereka.