MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Simbah Koma 18


__ADS_3

Kantor Emperor Group..


"Jika kau tak mau mengambil proyek ini, silahkan keluar dari Emperor Group! Aku hanya akan mempekerjakan orang-orang yang mau bekerja." Kata Alvin.


"Kau berlebihan, Vin! Aku tahu kau tak menyukaiku karena Melody! Bisakah kau mengesampingkan masalah pribadimu saat bekerja?" Kata Yudha.


Alvin tertawa. "Aku tak butuh saran darimu!"


Yudha menyambar file proyek yang ada di meja Alvin dan langsung keluar dari ruangan Alvin.


Alvin hanya duduk bersandari di kursi CEO bekas milik kakek Wijaya itu. Kepalanya terasa sangat nyut-nyutan. Ia sadar jika menjadi orang nomor satu di Emperor Group itu tidaklah mudah. Ia banyak mengalami tekanan sana-sini. Banyak orang yang mendekatinya agar bisa memiliki jabatan tinggi.


"Ini dunia yang menjijikkan. Dimana kelicikkan ada dimana-mana. Nah kakek, apa ini dunia yang kakek geluti hampir seumur hidup kakek? Apa ini dunia yang begitu diimpikan oleh banyak orang? Tahta panas ini seperti kutukkan. Siapapun yang duduk di sini maka harus siap mati kapan saja. Itu gaya yang kau ambil, Kek. Aku berbeda. Aku tak akan mati karena tahta ini. Aku akan mengamankan tahta ini sampai akhir hayatku. Aku tak butuh pujian dari siapapun. Aku hanya akan menyingkirkan semua yang menghalangiku." Batin Alvin.


Selama berkuasa, memang banyak perubahan yang terjadi di Emperor Group. Alvin melakukan pembersihan sana-sini. Dalam artian jika ia menyingkirkan orang-orang yang tak berguna di bawah kepemimpinannya. Sudah lebih dari lima puluh orang yang sudah ia pecat dalam seminggu kerjanya sebagai CEO Emperor Group.


Mengagumkan?


Alvin bisa membuat pergerakan saham Emperor Group terus naik dan bertahan di puncak dalam sepekan! Bahkan sebelum ia menjadi CEOpun, ia sudah beberapa kali melakukannya.


Luar biasa?


Ya. Sangat luar biasa.


"Tahta menjijikkan ini membuatku semakin muak. Namun aku sedikit menikmati bagaimana rasanya menjadi seorang raja. Mereka menunduk di hadapanku. Bahkan seorang Yudha yang egois dan keras kepala saja mau menuruti perintahku. Itu menggelikan. Ya walau dia melakukannya hanya karena dedikasinya pada pekerjaannya. Aku akui, dia memang luar biasa. Akupun mulai mendengar jika diriku ini lebih iblis dari kakek. Aku ini lebih diktator dari kakek. Haha. Itu sangat lucu. Memang sebelumnya kakek tak melakukannya? Untuk seorang seperti dia? Arienai!" Batin Balin.


Arienai: Tidak mungkin.


"Nah, sekarang Yudha sudah ke luar kota. Waktunya bermain-main. Hmm, aku harus mulai dari mana? Aku ingin menikmati setiap waktuku. Aku akan membuatnya sangat menyenangkan. Di kehidupan yang penuh trik dan intrik ini, aku hanya harus menjalaninya dengan tertawa, kan? Kenapa harus berpikir keras jika aku bisa bersantai ria untuk menghadapinya? Para orang bodoh itu, cinta pertamaku, fakta kebodohan yang mengubah segalanya. Haha, sial. Sudah berapa lama aku menertawakannya, hah?" Batin Alvin tertawa geli.


.


.


.


Cafe Sakura.


"Nyonya Kurenai, apa maksudnya ini, hah? Kenapa Anak Anda menjadi seperti ini?" Tanya Tuan Kang mulai naik pitam karena sedari tadi ia mengutarakan perntanyaan yang sama, tapi tak kunjung jua mendapatkan jawaban yang diinginkan.


"..." Kurenai terdiam.


"Ini baru seminggu dia duduk di tahta itu! Kenapa dia malah menyingkirkan orang-orang yang mendukungnya?" Tanya Tuan Park.


"Saya akan menasihati Alvin. Anda berdua tolong jangan menuduh Anak saya dahulu. Saya harus mendapatkan kejelasan dari anak saya." Jawab Kurenai akhirnya.


"Anda tahu kan jika berani bermain-main dengan kami? Anda mengerti kan konsekuensinya? Sangat mudah untuk menghancurkan Anda!" Ancam Tuan Kang.


"Ba-baik, saya memahaminya. Kalau begitu, saya pamit undur diri. Saya akan membicarakan ini dengan anak saya." Kata Kurenai akhirnya.


Kurenai berjalan cepat meninggalkan cafe Sakura. Ia menuju parkiran mobil. Setelah sampai, ia masuk ke dalam mobilnya. Ia membanting keras pintu mobil miliknya. Ia sangat kesal. Kemudian ia duduk di kursi kemudinya. Ia kembali melampiaskan rasa kesalnya dengan memukul stir mobil.


"Semua orang menjijikkan itu hanya memanfaatkanku dan Alvin. Aku sudah tahu sejak awalnya. Bahkan suamiku juga melakukan hal yang sama. Uchiyama Azumane! Orang itu sangat mengerikan. Namun aku bisa apa? Tanpa sokongan kekuatan dari mereka, aku tidak akan sampai ke titik ini. Aku sudah membuang segalanya agar bisa sampai ke tahap ini. Aku sudah menghianati diriku agar anakku menjadi raja Emperor Group. Semua sudah aku lakukan! Aku bahkan menanggalkan harga diriku. Semua demi masa jaya ini! Namun, semua memang tak akan semudah itu. Mereka membuat skenario rencana, aku juga harus mengimbanginya agar aku tak ikut arus mereka... Yoga-san, jika kau mendengarnya dari alam baka, bisakah kau membiarkan anakku yang menjadi raja? Aku ingin dia berkuasa dengan tenang tanpa ada gangguan dari pihak manapun... Ne Yoga-san, apakah kau masih marah mengenai masa lalu kita dulu? Gomen.. gomenasai, Yoga-san." Batin Kurenai.


Kurenai menangis di dalam mobil mewahnya. Ia merasa jika apa yang sedang terjadi dalam hidupnya ini terasa sangat berat. Banyak air mata yang ia keluarkan dalam hidupnya. Hidupnya memang tak mudah. Bukan hanya karena dominasi kakek Wijaya saja saat menunjukkan kekuasaannya, tapi sejak ia terlahir di dunia inipun, ia sudah menderita.


Lahir dari seorang ibu yang bekerja sebagai pekerja pemandu karaoke. Jika ditanya apakah Kurenai memiliki seoranga ayah, jawabannya tentu punya. Hanya saja, ia tidak tahu siapa ayahnya. Bahkan sang ibu saja juga tidak tahu siapa ayahnya.


Kurenai tidak begitu merasakan kasih sayang dari ibunya karena ibunya setengah-setengah dalam membesarkannya. Kadang disayang, tapi banyak disiksanya karena menganggap jika lahirnya Kurenai ke dunia adalah kesalahan terbesar dalam hidup hidup ibunya Kurenai.

__ADS_1


Sampai akhir hayat sang ibu, Kurenai tetap saja masih mendapatkan sumpah serapah dari ibunya. Fakta menulis jika ibunya Kurenai meninggal karena AIDS.


Bukan hal yang besar, itu sudah konsekuensinya karena pekerjaannya.


Saat sudah dewasa, Kurenai bukannya menjalani hidup yang layak, hidup yang jauh lebih baik, ia malah memilih jalan yang sama dengan sang ibu untuk bertahan hidup di kerasnya kehidupan kota Tokyo.


Tokyo itu tak seindah pemandangan malamnya.


Tokyo itu tak seindah lampu kotanya.


Tokyo itu tak seindah menara Sky Tree-nya.


Tokyo itu adalah neraka bagi mereka yang hidup dengan kemampuan ekonomi yang rendah.


Tokyo itu adalah neraka bagi mereka yang tak punya rumah.


Tokyo itu adalah neraka bagi mereka yang hidup sendiri.


Kurenai tak memiliki jalan lain untuk bertahan hidup. Ia sebatang kara sejak usia belia. Karena ia tak mau tinggal di panti asuhan, beberapa kali ia harus kabur dari kejaran polisi. Butuh dua tahun ia sembunyi-sembunyi di kelamnya kota Tokyo agar bisa hidup mandiri.


Di usia tujuh belas tahunnya, itu pertama kalinya ia bekerja di dunia yang gelap. Awalnya ia tak menyangka jika ia akan berakhir seperti sang ibu. Namun ia dijebak oleh orang yang menawari pekerjaan dengan iming-iming gaji besar. Atas dasar alasan uang untuk biaya hiduppun, akhirnya ia bersedia ikut kerja yang orang itu tawari.


Rupanya pekerjaan itu adalah pelayan bar bawah tanah dengan segala atribut kehidupan para pemuja setan. Alkohol, obat, dan sex.


Kurenaipun akhirnya jatuh ke dalam jerat kehidupan para pemuja setan itu. Semua terasa sangat nikmat, tapi ada penyesalan jika ia merenungkannya saat itu. Ia ingin menyudahinya, tapi terlalu takut jika menejer barnya itu membunuhnya. Menejer bar tempat ia bekerja adalah bukan orang sembarangan. Yang ia tahu jika sang menejer terlibat langsung dengan organisasi yakuza Jepang. Dengan predikat mengerikannya, ia tak kuasa jika harus berhadapan dengan para yakuza.


Kurenai cukup sadar diri dengan kemampuannya. Ia memang tak bisa apa-apa. Ia tak kuasa untuk melawannya.


Secercah cahaya datang ketika Kurenai bertemu dengan Yoga Kazehaya. Senyuman tipis nan dingin Yoga Kazehaya meluluhkannya. Ia merasa jika ada terpaan angin damai dalam hidupnya. Ia merasa hidupnya mendapatkan sinar di antara kegelapan yang menyelimutinya.


Itulah cinta pada pandangan pertamanya.


Apakah Kurenai pantas memilikinya? Tentu saja ia meyakinkan diri jika seorang yang menjijikkan seperti dirinya itu tidaklah pantas untuk menikmati rasanya jatuh cinta.


Ya, takdir membuatnya dan Yoga Kazehaya merajut cinta.


Cinta yang murni tentunya.


Yoga tahu tentang pekerjaannya sebagai pelayan bar dan wanita protistusi.


Yoga tahu kelamnya hidup yang sudah ia jalani.


Namun Yoga tak mempermasalahkannya. Yoga tak merubah rasa cintanya terhadap dirinya.


Yoga bahkan tak masalah menyentuhnya meski sudah tak terhitung berapa jumlah laki-laki yang sudah singgah di dalam tubuh indah nan ayunya.


For your info ya guys, di Jepang hubungan sex sebelum menikah itu dianggap lumrah. Ya bukan berarti bisa mewakili semua orang Jepang. Namun sepertinya ini bukanlah isue yang besar di sana untuk melakukan hubungan sex meski hanya dilabeli ikatan pacaran. Bahkan ada yang sudah tinggal berasama.


Di Jepang sendiri, jika sudah memasukki usia delapan belas tahun, mereka kebanyakan akan memilih tinggal pisah dari orang tuannya. Mereka memulai hidup mandiri di usia itu. Sekali lagi ini tidak semua, tapi kebanyakkan.


Jika kalian membaca ini, plesae jangan ikuti gaya hidup orang Jepang. Terutama sex bebasnya. Percayalah, itu hanya akan merugikanmu. Terutama kaum wanita. Resiko hamil duluan, penyakit menular berbahaya, dan tentulah dosa dari Tuhan. Ketika kalian sampai ke tahap dimana ingin melakukan sex bebas sebelum menikah, tolong ingatlah wajah ibu dan ayah kalian! Apa kalian tega untuk menyakiti mereka yang sudah membesarkan kalian?


"Yoga-san, maafkan aku! Andai dulu aku menurutimu. Andai dulu aku menepati janjiku. Andai dulu aku tak tergoda bujuk rayuannya. Andai aku tak menghianatimu.. Mungkin saja.. mungkin saja kau masih di sini.. kau masih bersamaku dan Alvin. Jika aku tahu akhirnya akan seperti ini, aku lebih memilih menjadi istri simpananmu. Meski aku mendapatkan cap hina dari masyarakat, itu lebih baik daripada aku kehilanganmu... Yoga-san.. maaf, maaf sudah menyeret anak kita ke dalam dunia yang kejam. Dunia yang selalu ingin kau tinggalkan." Batin Kurenai.


.


.


.

__ADS_1


Jam makan siang, Alvin dan Mia makan bersama untuk jangka waktu yang semakin sering mereka lakukan.


Mia baru saja meletakkan potongan daging sapi ke dalam mangkuk nasi milik Alvin dengan sumpitnya.


Alvin menoleh ke arah Mia. Kenapa Mia harus memberinya sepotong daging?


"Senpai, kau harus makan banyak agar berat badanmu naik! Kau tahu, kau sekarang ini sangat kurus!" Kata Mia.


"Aku sedang diet." Kata Alvin. Ia lalu tersenyum.


"Diet apaan sih, Senpai? Hei kau serius dengan ide itu? Kulihat kau sering sekali makan sayur dan buah saja saat kita makan bersama." Mia ingat betul makanan apa yang Alvin makan saat bersamannya.


"Kau melihat aku sedang memakannya, kan? Tentu saja aku ini sedang sangat serius." Alvin menunjukkan makanan yang ada di hadapannya.


"Kau tahu, Senpai? Hidup kita ini dua kali, matinya sekali. Kita di bumi ini hanya sekali, makanan seperti ini belum tentu akan kita temui di kehidupan kita yang selanjutnya. Jadi sebaiknya manfaatkan betul waktu yang tersisa. Jangan terlalu menekankan diet, makanan enak itu banyak. Mumpung masih hidup, cobalah untuk menikmati makanana ciptaan dari-Nya. Asal jangan berlebihan, maka tidak apa-apa, kan?" Jelas Mia.


Alvin tersenyum. Teman makan siangnya ini tahu saja cara membuat kata-kata yang membuat mood membaik.


"Kau pandai berkata-kata, ya? Baiklah aku akan memakannya." Kata Alvin. Ia memakan potongan daging sapi yang Mia berikan kepadanya.


"Oishi desu ne?" Tanya Mia.


"Hai, oishi desu." Jawab Alvin.


Rasa daging sapi itu memang sangat lezat. Menggoyang lidah yang lapar.


Oishi desu ne: Enak, kan?


Hai, oishi desu: Iya, enak.


Tak butuh waktu yang lama, merekapun selesai menghabiskan semua makanan yang mereka pesan. Mereka berdua selalu seperti ini, tidak menyisakan makanan yang mereka makan. Bukankah ini langkah bijak untuk menghormati para petani yang sudah bekerja keras untuk menanam bahan pokok makanan? Bukankah ini juga cara yang baik untuk menghargai mereka yang tak bisa makan di luar sana?


Mereka berdua memang berasal dari keluarga kaya yang tak pernah merasakan sulitnya mencari sesuap nasi, tapi mereka memiliki hati, mereka tidak akan membuang-buang makanan. Mereka akan memakan apapun yang mereka beli. Mereka tidak akan mencicipi atau membeli makanan yang kiranya mereka tidak sukai atau memang memiliki rasa yang menurut lidah mereka itu tidak enak. Hal ini untuk menghindari menyia-nyiakan makanan.


Jika kalian memiliki hati untuk menhargai kehidupan makhluk lain di dunia kalian, please jangan buang-buang makanan ya kalau beli makanan! Jangan jadikan biar kelihatan makannya sedikit di mata pacar! Itu melukai harga diri para petani! Itu jahat!


"Mia.." Panggil Alvin.


"Ya?"


"Ini sudah seminggu lebih aku menjabat CEO Emperor Group. Kau memberi selamat padaku atas tahta tertinggi ini. Aku selalu penasaran dengan hal ini. Ada hal yang ingin aku ketahui." Kata Alvin.


"Ada hal yang ingin kau ketahui? Apakah itu?" Tanya Mia penasaran.


"Aku merebut tahta ini dari Yudha. Yudha adalah istri Melody. Melody adalah temanmu. Tidak, maksudhku sahabat dekatmu. Apa kau tak merasa jika aku ini sangat jahat?" Tanya Alvin.


Mia mengambil jus jeruknya. Ia meminumnya sekali. "Bukan merebut, Senpai. Kau menang melawannnya. Saat kau bertarung dengannya, bukankah Yudha belum menjabat CEO Emperor Group?"


Benar juga yang Mia katakan. Yudha memang belum menjabat CEO Emperor Group. Berarti ia hanya sedang menang Melawan Yudha?


"Lagipula, aku harus bersikap bagaimana memangnya? Aku tahu Yudha adalah suami Melody, sahabat baikku. Namun aku cukup paham dunia bisnis, di dunia bisnis, pemegang saham tertinggi adalah yang berkuasa. Setidaknya menjadi pembuat keputusan. Karena pemilik saham tertinggi koma dan tak sadarkan diri, maka mau tidak mau memang harus ada penggantinya. Kakek Wijaya adalah CEO, karena dia koma ya memang harus ada yang menduduki posisinya saat ini. Andai dia bukan CEO, mungkin perebutan tahta Emperor Group tidak akan pernah terjadi. Apalagi lewat sidang istimewa ini." Jelas Mia.


Alvin memahami arah pembicaraan Mia. Itu memang pengertian dasar dari para pemegang saham dimana pemegang saham tertinggi adalah penentu kebijakkan. Ia bisa menunjuk orang lain menjadi CEO-nya atau mengisi jabatan itu sendiri. Sementara sang kakek, kakeknya memilih untuk merangkap keduanya. Pemegang saham tertinggi dan menjabat sebagai seorang CEO.


Mudahnya, selama masih ada pemegang saham tertinggi, lebih tinggi dari miliknya saat ini, maka posisi CEO Emperor Group yang disandangnya saat ini masihlah belum aman. Masih bisa diganti kapan saja jika pemegang saham tertinggi berkehendak.


Yang perlu ia lakukan adalah menambah sahamnya. Dengan cara apa? Tentulah membeli saham-saham Emperor Group. Bisakah ia melakukannya? Ya, bisa. Sedikit demi sedikit ia sedang melakukannya. Ia memebeli saham dari para pemegang saham Emperor Group yang menjual sahamnya.


Saham Emperor Group memiliki nilai jual yang tinggi, apakah para pemegang saham itu rela menjualnya? Jika otak jalan, harusnya tidak. Namun Alvin memaksa mereka agar menjual kepadanya.

__ADS_1


Tidakkah itu licik?


Alvin menyukai kata itu. Itu julukkan yang mantap untuknya.


__ADS_2