
"Setelah aku berbicara kepada Amamiya-san, hati ke hati, perasaanku menjadi jadi lebih baik. Aku yakin, Amamiya-san juga merasakan hal yang sama. Memilih untuk berdamai dengan masa lalu ya? Ya, memang buat apa aku membencinya lebih lama lagi? Yudha mencintaiku. Yudha sudah memilihku. Apa yang bisa aku dapat dari Amamiya-san untuk membuatnya menderita? Tidak ada! Aku bodoh jika aku memilih untuk membencinya di masa depan, nyatanya Amamiya-san tidak mencintai Yudha seperti yang aku pikirkan. Dari yang aku tafsir, Amamiya-san hanya 'takut' jika sahabat masa kecilnya diambil olehku. Mengingat masa kecil Amamiya-san yang menyedihkan, wajar saja jika dia merasa seperti itu... Namun kini bisa dikatakan sudah berakhir, aku dan Amamiya-san akan memulai lembaran yang baru dengan menutup kisah lama yang menyakitkan. Pondasi yang dibangun mungkin tidaklah kuat, tapi diawali dengan hal baik adalah harapan yang baik pula. Aku harap, untuk ke depannya, kebahagiaan akan selalu menyertaiku dan juga Amamiya-san. Tuhan, ini keputusan yang benar, kan?" Batin Melody.
.
.
.
"Melody dan aku memulai langkah yang baru dalam kehidupan kami esok hari. Terima kasih sudah membuka pintu maaf untukku, tidak, maksudku, terima kasih sudah memaafkanku... Aku merasa sangat lega. Semoga malam ini aku bisa tidur nyenyak tanpa mimpi buruk lagi. Karakter jahat yang aku perankan menghianati hatiku. Tak sejalan dengan pemikiranku. Benar juga, menjadi orang baik memang pilihan yang terbaik. Hidupku akan tenang dan damai. Aku sudah tak ingin menjadi orang jahat yang pada akhirnya justru merusak hidupku. Aku tak mau. Aku tak akan pernah terjerumus ke dalam keegoisan diri... Melody, Yudha, aku berdoa untuk kebahagiaan kalian. Selalu dan selamanya. Percayalah pada kekuatan cinta kalian berdua karena ke depan, semua jauh lebih sulit dari sekedar menyelesaikan kesalahpahaman yang aku buat... Kau tahu Yudh, Mel... Ibunya Alvin, Nyonya Kurenai itu adalah ular. Dia bisa menghisap darahmu sampai habis. Jika dia tak menyukai darahmu, maka kau hanya perlu tergoda dengan jerat indahnya dan mati perlahan dengan racun bisa miliknya. Hati-hatilah, wanita ular itu sangat berbahaya! Walau aku merasa terkadang, dia sangat menyedihkan." Batin Yura.
.
.
.
"Boleh aku menyimpan nomormu? Maaf, aku hanya ingin mengenal dirimu." Kata Yura.
Melody mengangguk dan mereka berdua bertukar nomor telepon.
"Terima kasih banyak, Melody-san."
"Sama-sama, Amamiya-san." Kata Melody.
Mereka berbicara ringan. Melody masih enggan kembali ke pesta karena bosan karena harus senyum sana-sini untuk menemani Yudha menyambut para tamunya.
__ADS_1
"Aku tidak melihat ibunya Yudha dan nenek, apa mereka pulang lebih awal?" Tanya Yura.
"Ya mereka pulang lebih awal. Harus menjaga kakek dan Aron-san. Nenek juga sedang kurang sehat." Jawab Melody.
"Hmm, masalah memang sedang menimpa keluarga Kazehaya dan itu bertubi-tubi. Aku membaca beritanya di media dan mendapatkan cerita langsung dari ayahku. Aku harap kau bisa selalu di samping Yudha karena dia tidak sekuat kebanyakan orang melihatnya." Kata Yura.
"Kau benar, setelah setahun bersamanya, aku mempelajari banyak hal tenyang dirinya. Laki-laki yang senang menjadikan dirinya tameng pelindung. Laki-laki yang memilih menciptakan kebahagiaan orang lain. Laki-laki yang tidak paham apa yag sebenarnya diinginkannya. Seperti itulah Yudha. Baka desu ne, ano otoko..." Kata Melody. Ia tersenyum saat menceritakan betapa bodohnya Yudha itu. "Tak hanya bodoh, tapi ia rela menderita demi orang lain. Ah, bodohnya bertambah malahan."
Baka desu ne, ano otoko: Bodoh ya, laki-laki itu.
"Kau memahami dirinya dengan baik rupanya. Syukurlah kau adalah orang yang berdiri di sampingnya. Itu adalah yang terbaik. Aku berdoa untuk kebahagiaanmu dan Yudha, Melody-san." Kata Yura tulus.
"Arigato gozaimasu, Amamiya-san. Aku harap Tuhan selalu membuatmu bahagia juga." Kata Melody. "Nah Amamiya-san, saat ini, apa yang kau lakukan? Maaf, maksudku se-setalah kau keluar dari dunia entertainment." Lanjut Melody hati-hati.
"Hmm, memang apa yang kau harapkan dari orang yang sudah dibenci mayoritas orang di negara ini? Satu, dua, tiga bulan pertama, orang menatapku dengan tatapan yang menjijikkan. Aku seperti tak diizinkan menghirup di negara ini." Yura memulai menceritakan kisah menyedihkannya setelah ketahuan berbohong pada publik soal kondisinya usai kecelakaan.
"Karena aku merasa tak lagi memiliki tempat di tanah ini, maka aku memilih untuk mengakhiri hidupku. Aku merasa dunia sudah mengkhianatiku. Aku merasa dunia sudah meninggalkanku. Mati adalah pilihan terbaik waktu itu. Dan ya, aku mencoba bunuh dirinya. Namun, Tuhan sepertinya tak akan membiarkan diriku mati dengan mudahnya, saat aku siuman, Yudha ada di dekatku. Saat itu pula, aku merasa jika aku tak benar-benar ditinggalkan." Lanjut Yura.
"Yudha itu hanya orang yang kelewat baik. Ya walau ngeselin juga kalau ingat waktu itu. Namun jika saat itu dia lebih terbuka padaku, mungkin kesalah pahaman itu tidak berlarut-larut." Batin Melody.
"Karena Yudha adalah orang yang tidak meninggalkanku saat aku dikhianati kebanyakkan orang di negara ini, maka keegoisanku bertambah. Aku malah semakin menjadi-jadi memanfaatkan kelemahanku agar Yudha tidak meninggalkanku." Sambung Yura.
"..." Melody ingat, saat batas sabarnya habis, ia memilih memberontak pada Yudha dan nekat PKL meninggalkan Yudha.
"Dan lagi, Tuhan tak tinggal diam. Harusnya aku belajar ketika Tuhan memberikan kesempatan padaku. Aku malah menyia-nyiakannya. Pada akhirnya, aku mendapatkan teguran yang kedua. Yudha datang dan memutus semua hubungan persahabatan denganku. Ini ketakutanku yang amat besar dan terjadi. Aku mengancamnya untuk bunuh diri lagi, tapi dia tidak peduli. Seperti, 'kalau kau ingin mati, mati saja! Aku tak peduli.' " Lanjut Yura.
__ADS_1
"Yud-Yudha berkata seperti itu?" Melody tak menyangka jika Yudha bisa berucap seperti itu. Yudha tidak cerita ini kepadanya.
"Iya, dia bilang terserah saja jika aku ingin mati. Haha, aku memang menyebalkan. Lama-lama dia pasti tidak akan tahan juga karena aku ini memang merepotkan. Setelah Yudha pergi, Sai-kun datang dan menamparku sangat keras." Kata Yura.
"Sai-san? Menamparmu? Orang itu? Yang seperti.. maaf.. mayat hidup." Kaget Melody.
"Ya, mayat hidup itu melakukannya dan memintaku untuk sadar. Untuk tidak mengganggu hubunganmu dengan Yudha hanya karena keegoisanku. Seperti pengakuanku yang tadi, aku tidak pernah mencintai Yudha. Aku tidak pernah memiliki perasaan asmara pada Yudha. Aku hanya tak ingin dia pergi dariku setelah kehadiranmu. Orang yang aku cintai selama ini hanyalah Miura Sai meski sampai saat inipun, dia belum juga memberikan cintanya kepadaku." Kata Yura. Ia tersenyum miris.
Yudha sudah bilang hal ini pada Melody. Melody tahu siapa sosok yang Yura cintai. Ketakitan akan ditinggal sendirian itu bisa membuat seperti ini juga rupanya. Menyedihkan memang.
"Amamiya-san, gamabrimasho!" Kata Melody. "Fighting!"
Yura tersenyum. "Arigato gozaimasu."
"Lalu, bagaimana kau bertahan dari pandangan buruk orang-orang di negara ini?" Tanya Melody penasaran.
"Aku tinggal di Italy, mengikuti ajakkan Sai-kun. Walau tidak tinggal serumah, tapi aku cukup dekat dengannya. Di Italy tidak ada yang mengenaliku, aku hidup normal dan membuka usaha toko bunga." Jawab Yura.
"Toko bunga? Kau menyukai bunga?"
"Ya, aku sangat menyukainya, aku menghabiskan banyak waktu untuk menanam bunga. Itu sangat menyenangkan. Aku seperti merasa hidup lagi."
"Syukurlah jika kau saat ini bisa menjalani hidup yang baik. Aku ikut senang."
Semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk berubah. Masa lalu yang buruk atau bahkan menjadi orang jahat, tak masalah. Tuhan tidak akan membeda-bedakan hambanya. Semua manusia di hadapan Tuhan itu sama, yang membedakan hanyalah amal ibadahnya.
__ADS_1
Orang jahat pun bisa menjadi lebih mulia apa bila di sisa hidupnya ia abdikan diri untuk menyembah dengan benar Tuhan-nya. Kesalahan Yura itu masih tergolong kecil, jika Tuhan saja Maha Pemaaf, maka ia tidak boleh kan melangkai kodrat manusia? Tentulah ia juga akan memerikan maaf itu pada Yura.
Yang buruk dibalas kebaikan. Yang baik dibalas kebaikan pula. Yang menanam baik, makan akan memetik hasil yang baik pula.