
Guys, aku minta maaf adegan chapter sebelumnya terpotong sebenernya, niat sih, soalnya terlalu panjang kalau harus dilanjutin. Alhasil, aku jadiin dua part, dan ya, aku harus kembali ingetin pada kalian semua.
Aku sudah pernah bilang kan, jika judul chapter yang aku kasih rate 21+ itu tidak muncul. Aku tak paham kenapa, apa mungkin emang ceritaku termasuk normal atau bagaimana. Yang jelas, karena aku berusaha bijak untuk melidungi pembaca novel ini yang masih di bawah umur, maka chapter-chapter yang kiranya kurang sononoh aku kasih lamabang bibir (💋). Jadi saat kalian lihat lambang itu, tolong pertimbangkan baik-baik ya terutama yang masih di bawah umur.
Oh iya, buat kalian yang baca chapter ini pas ngepasin sedang puasa, tolong baca sehabis buka puasa saja ya. Meski tulisanku masih wajar, tapi aku tidak mau ganggu puasa kalian. Tolong dipahami. Kalian mengerti untuk memutuskan hal ini. Aku tahu kalian juga pembaca yang bijak. 🤗.
Jangan pelit like, komen, ma sharenya ya.. Itu penyemangatku loh.. 😉
Thanks so much sebelumnya, matur nuwun yo gaesss..
_______________________________________
“...”
Melody masih menunggu suara jawaban dari Yudha. Sedetik, dua detik, tiga detik, dan semenit sudah berlalu.
Apakah waktu semenit itu lama?
Sangat, apa lagi jika menunggunya. Itu akan sangat lama. Ada rasa tak sabaran muncuat ke permukaan.
“Benarkan? Aku sudah tahu kau akan kesulitan menjawabnya. Aku sadar kok, aku ini orang baru dalam hidupmu. Aku tak bisa dibandingkan dengannya. Aku sudah kalah sebelum bertanding dengannya... Mungkin kau tetap bersamaku hanya karena aku mengandung anakmu. Kau merasa bersalah karena sudah menghamiliku, makanya kau berusaha tanggung jawab. Aku bisa memahamimu, Tuan.”
Kata Melody.
Melody merasa sebaiknya ia harus berpikir logis saja tentang posisinya saat ini.
“Bicara apa kau ini, hah? Bukankah kau bersedia percaya padaku?”
Tanya Yudha.
Yudha mencengkram keras kedua bahu kurus Melody. Sementara Melody memalingkan wajahnya.
“Aku ingin percaya padamu, Yudha. Tapi sekarang menjadi sangat sulit." Kata Melody.
"Sulit yang seperti apa, Mel? Bukankah kau mencintaiku?"
"Soal aku bilang mencintaimu, itu benar. Aku memang mencintaimu, aku tak tahu sejak kapan dan seberapa dalam. Sungguh, aku berusaha keras untuk percaya padamu, hanya saja, hubunganmu dengan Amamiya-san terus saja berputar-putar di kepalaku. Aku tak tahan dengan semua itu.” Melody mulai menangis lagi.
Yura lagi, Yura lagi.
Yudha juga merasa jenuh karena hidupnya dijejali pemilik nama itu. Terasa sangat bebal setiap harinya.
“Berapa kali harusku bilang padamu, Melody?Perasaanku pada Yura sudah lama berakhir. Apapun yang aku lakukan padanya itu tidak seperti yang kau lihat. Wanita yang kucintai sudah ada di depanku saat ini, kenapa kau justru memaksaku mengingat masa laluku dengan Yura?”
Kata Yudha.
Wanita yang Yudha cintai sudah ada di depan Yudha saat ini?
Melody menatap Yudha. “Yu-Yudha? Kau..”
“Ya, aku juga mencintaimu, bukan Amamiya Yura!”
Kata Yudha mantap.
“...”
“Kau ingin aku mengulanginya?”
“Katakan sekali lagi Yudha!”
“Aku mencintaimu, Kazehaya Melody!”
😭
Melody menangis keras. Yudha tambah bingung. Kenapa justru Melody semakin menangis? Bukankah ia membalas perasaan Melody? Harusnya Melody bahagia, kan? Apa ini tangis bahagia? Kata orang, jika terlalu bahagia, bisa bercampur dengan air mata. Ah wanita memang sulit dimengerti.
Yudha lalu memeluk Melody. Ia mencium kening Melody untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Aku hanya bilang mencintaimu juga, kenapa malah menangis? Kau ingin aku diam saja agar kau berhenti menangis?" Tanya Yudha.
Melody menggeleng di pelukkannya. "Biarkan seperti ini! Aku ingin merasakan getaran di hatimu. Aku takut kau sedang membohongiku" Pinta Melody.
Mohongi Melody? Kok nyesek di dada ya? Yudha tak berbohong mengenai perasaannya pada Melody. Pengakuan cintanya itu atas dasar apa yang ia rasakan. Atas dasar ketulusan hatinya.
Namun Yudha juga cukup paham, pertengkarannya dengan Melody pasti juga berimbas pada tingkat kepercayaan Melody terhadap dirinya.
"Hn, lakukan sesukamu!" Kata Yudha.
"Arigato.."
"Hn."
"..."
"..."
"Yudh?" Panggil Melody pelan.
"Ya?"
"Kau tahu? Jantungmu berdetak sangat kencang."
"Ya, jantung berdetak tak menentu jika bersamamu. Sejak dulu sebelum kita menikah, jantungku selalu seperti ini."
Melody memerah. Ia senang, tapi tidak mau ketahuan senang. Apa lagi oleh Yudha. Ia harus menutupinya. "Itu bukan karena diriku! Tapi karena kau itu masih hidup! Makhluk hidup tetap akn berdetak jantungnya! Kata Melody lantang.
Yudha sudah tahu kok, Melody jika sedang kesal itu menggemaskan. Apa lagi sedang malu seperti ini, berasa ingin memakannya saja. Sangat manis dan membuat betah.
Bahagia, kesal, menangis, dan malu, paduan emosi yang saling bertabrakan. Yudha akan memeluk Melody selama yang Melody mau.
“Merasa lebih baik?” Tanya Yudha setelah ia tak lagi mendengar tangisan Melody.
Melody mengangguk. “Terima kasih.”
Melody berusaha menghapus jejak air matanya. Yudha ikut membantunya. “Iya. Aku tahu kau tidak diam saja. Kau pasti sedang bekerja sangat keras.” Kata Melody.
Rupanya Melody menyadari perubahan fisik Yudha. Mata suaminya begitu terlihat lelah, ada lingkaran hitam di sana. Belum lagi, tubuh Yudha juga mungurus. Itu membuatnya miris.
Yudha memandang perut Melody.
Di sana ada kehidupan baru akibat ulahnya pada Melody. Ia menghadirkan kehidupan baru itu dengan rasa cinta yang besar. Dengan rasa rindu yang besar. Kehidupan baru itu bukanlah kesalahan dari pernikahan paksa tanpa didasari oleh cinta.
“Ano Melody..”
“Hm?”
Yudha memalingkan wajahnya. “Bo.. bolehkah aku memegang perutmu? Selama kau hamil, aku belum pernah melakukan hal ini. Aku ingin menyapa anak kita.” Ia memerah.
Lucunya, ia sampai gugup saat menyampaikan keinginannya ini.
Benar juga, selama Melody hamil, Yudha tak pernah menyentuh secara langsung perut membesarnya. Untu sesaat ia merasa begitu iba pada Yudha.
Sepertinya Yudha cukup frustasi dengan fakta ini.
"Kemarikan tanganmu, Yudh!"
"..." Yudha memberikan tangannya pada Melody.
Melody meraih tangan kiri Yudha menuju perutnya yang sudah lumayan membesar. Yudha bisa merasakan kehangatan memancar di telapak tangannya. Menyentuh batinnya. Menarik senyuman tulusnya. Ia bahagia, sangat bahagia. Di dalam sana, sedang berjuang hidup, anaknya dengan Melody.
“Bolehkah aku melakukan ini setiap hari?”
Tanya Yudha yang tengah begitu merasa sangat bahagia.
__ADS_1
“Hm, tentu saja. Kau kan papanya.”
Yudha mencium bibir Melody. “Arigato.”
"Kau menciumku lagi. Hari ini sudah tiga kali ciuman di bibir."
"Benarkah?"
"Satu ciuman pertengkaran, dua yang tadi, dan tiga baru saja."
"Kau tak menyukai berciuman denganku?"
Melody menggelengkan kepalanya. "Kau tahu Yudh, rasanya seperti candu."
Yudha tersenyum bangga. Pada dasarnya, ia juga merasakan hal yang sama. Berciuman dengan Melody itu membuat sensai tersendiri. Semakin membuat ketagihan dan sulit untuk berhenti. Ingin melakukannya lagi dan lagi.
Dan akhirnya mereka kembali saling berciuman. Menyalurkan kasih sayang yang amat besar. Menyalurkan segala perasaan yang selama ini tak tersampaikan, tak terucapkan.
Mereka saling mencintai. Mereka saling menyayangi. Mereka saling melengkapi. Mereka saling memaafkan jiwa yang terluka. Berdamai dengan masa lalu. Masa lalu adalah kenangan, meski tak diinginkan, hanya saja, manusia tidak bisa berdiri hari ini tanpa adanya kisah masa lalu.
“Melody.. aku...”
Suasana memanas meski terselimut salju nan tebal. Ciuman barusan membangkitkan gairah diri yang begitu egois. Gairah yang begitu menuntut dan ingin dituruti.
“Lanjutkan!”
“Tapi kau sedang hamil..”
“Tak apa jika kau berhati-hati.”
“Hn. Hentikan aku jika aku berlebihan atau terlalu kasar!”
"Iya, aku akan mengatakannya. Akan akan lebih jujur lagi padamu. Kuharap kau juga akan melakukan hal yang sama padaku."
"Aku akan mengatakan semua yang kurasa padamu. Aku tak ingin bertengkar lagi. Bertengkar denganmu itu sangat menyiksaku."
Mereka saling tersenyum. Mengulangi adegan ciuman yang ke tahap yang lebih berani. Ada pondasi cinta di sana. Tahap ini sangatlah berbeda. Saling percaya melebihi apapun.
.
.
.
Badai salju bersaksi, cinta baru mulai bersemi.
.
.
.
“Aku mencintaimu, Yudha-kun.”
.
.
.
“Aku lebih mencintaimu, Melody.”
.
.
.
__ADS_1
Dan badai gelora asmara yang memanas beradu dengan badai salju yang membahana. #preeet hahahhha