MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Marahan


__ADS_3

Depan Rumah Sakit Kazehaya International..


“MELODY!" Panggil Yudha.


Yudha meraih tangan Melody, tapi Melody menghempaskannya dengan kasar. Melody justru berjalan cepat menuju pintu gerbang rumah sakit.


"MELODY, MATTE! MATTE KUDASAI!” Yudha mencoba kembali meraih tangan Melody.


Namun lagi, Melody mencoba menghempaskannya.


Yudha kembali meraih tangan itu dan menggenggamnya sangat kecang. Membuat pergelangan tangan Melody memerah.


Matte+kudasai: Tolong tunggu sebentar.


“Lepas!” Bentak Melody.


"Jangan meninggikan suaramu padaku, aku tidak suka!" Kata Yudha.


"Lepas!" Melody tidak mengindahkan perkataan Yudha.


Yudha kesal karena Melody tidak menurut padanya. Ia semakin mencengkram kecang pergelangan tangan Melody.


“Kudengar kau bersikap tidak sopan pada Yura? Apa itu benar?” Tanya Yudha.


Menahannya agar tidak pergi hanya untuk menanyakan soal Yura? Sungguh, Melody merasa kecewa akan hal itu.


“Iya, itu benar!” Jawab Melody. Ia menantang balik suaminya. Nyatanya ia memang pergi buru-buru dari kamar Yura.


“Bukankah tadi aku sudah menyuruhmu untuk mengakrabkan diri dengannya? Bukankah kau menyetujuinya? Ada apa denganmu?"


"..."


"Dia lagi sakit, Melody! Bisakah kau sedikit saja mengendalikan emosimu? Yura menangis karena kesulitan menghadapimu. Kau membuat hatinya terluka dengan sikapmu itu!”


Sebelum menjenguk Yura, Melody dan Yudha sempat bersua di lobi rumah sakit. Mereka berbincang sebentar dan termasuk Yudha meminta Melody untuk mengakrabkan diri dengan Yura.


Lalu apa ini? Yura menangis karena Melody?


"Cewek cengeng!" Sinis Melody.


"MELODY!" Bentak Yudha.


Melody mencolos.


Ok. Baru. Saja. Yudha. Membentak. Dirinya.


Ia ingin menangis, tapi ia menahannya.


“Aku enggan membuat keributan di gerbang rumah sakit, Yudha! Aku mau pulang!” Kata Melody.


Melody menghempaskan kasar tangan Yudha. Jauh lebih kasar dari yang tadi. Ia menghentikan taksi dan langsung masuk ke dalamnya. Membuat Yudha hanya bisa terbengong melihatnya.


"MELODY!"


.


.


.


Dalam taxi..


Air mata yang tadi ia tahan akhirnya terjatuh juga.


Melody berulang kali menghapus air matanya. Air matanya terus saja mengalir. Meghapus sekali, terbasahi lagi.


Kenapa rasanya begitu menyakitkan?


Ia akui ia memang tak sopan karena pergi meninggalkan Yura begitu saja. Padahal mereka sedang berbincang.


Memang salah ya?


Kenapa Yudha begitu menyalahkan dirinya? Oh, apa memang kesopanan itu begitu sangat sangat dijunjung tinggi bagi keluarga konglongmerat sampai-sampai harus mengabaikan perasaan.


Yang Melody ketahui, ia hanya tidak tahan mendengar kisah yang Yura ceritakan kepadanya. Ia lantas pergi. Ia sudah pamit sebelumnya. Apa itu termasuk tidak sopan dalam takaran keluarga konglongmerat?


Sepertinya..


Dan Yura menangis? Drama apa lagi itu?


Ahh, ia bahkan melupakan janjinya untuk pulang bersama Alvin.


“Yudha no baka.” Melody menghapus air matanya.

__ADS_1


Yudha no baka: Yudha bodoh.


“Nona, mau kemana?” Tanya paman sopir taxi.


“Pemakaman umum Tokyo, paman.”


“Baiklah, Nona.”


.


.


.


"Brengsek!" Geram Yudha.


Ia mengamati tanganya yang baru saja dihempaskan Melody dengan kasar. Ada rasa tidak suka di dalam hatinya atas perlakuan Melody terhadapnya, dan itu menyesakkan.


"Aku hanya ingin memastikan kebenarannya dari sudut pandangmu mengenai Yura yang menangis. Tapi kau malah seperti itu."


Yudha mengacak-acak rambut ravennya.


"Sial, dia sedang sakit lagi. Apa dia akan baik-baik saja?"


.


.


.


Pemakaman Umum Tokyo, jam 8.00 malam..


Alvin melihat Melody sedang duduk di beton pembatas kuburan. Ia mengamati sebentar wanita yang begitu disayanginya itu. Semakin hari, mata indah itu semakin meredup, semakin sendu sehingga kehilangan sinar bahagianya.


Pemandangan yang menyakiti hatinya. Alvin tidak menyukai itu. Penuh senyuman ceria adalah yang paling sesuai untuk Melody.


Alvin berjalan mendekati Melody. Sesungguhnya, hari ini ia merasa sudah sangat lelah. Kakinya terasa berat untuk melangkah. Namun, ia tidak bisa membiarkan Melody bersedih. Hatinya tak mengizinkannya. Ia tak rela.


“Sudah kuduga kau ada di sini.” Kata Alvin.


“Senpai?” Melody tidak menyangka jika Alvin menyusulnya sampai di pemakaman ayahnya.


Alvin lalu menyempatkan diri untuk memanjatkan doa di makam ayah Melody. Alvin menakupkan kedua tangannya dan memejamkan kedua matanya.


Melody tak bisa mengabaikan bagaimana kebaikan Alvin terhadapnya. Alvin sangat baik pengertian, selalu ada, dan menyayanginya. Bukankah ia beruntung?


Namun, Melody itu adalah sosok yang tahu diri. Dia tahu bagaimana batasannya. Dia memang menyukai Alvin dan pernah menjalin hubungan dengan Alvin di masa lalu. Tapi, dia sadar sekarang sudah berbeda.


Perasaannya pada Alvin itu lebih ke cinta adik kepada sang kakak. Lagipula, ia sudah menikah. Meski pernikahan bisnis sekalipun ia akan mencoba bertanggung jawab akan kehidupan barunya.


Ia ingin tetap bersama Alvin, meski Alvin adalah mantan kekasihnya, ia ingin menganggap Alvin sebagai keluarganya. Egoiskah ia?


Ia ingin bersama Alvin, tapi ia berusaha menjaga perasaannya. Yang lalu sudah usai. Egoiskah ia?


“Sudah malam begini kau belum juga pulang, kalau aku tak menjemputmu, kau mau pulang jalan kaki? Kau ini aneh Melody, sudah tahu takut kegelapan, kenapa nekat ke pemakaman malam-malam begini, hah? Bagaimana kalau ada hantu?” Kata Alvin.


Melody tahu jika Alvin itu sangat menghawatirnkannya. Suaranya terdengar begitu khawatir.


“Aku mengobrol dengan ayah, aku tak sadar jika hari mulai gelap. Dan tentu saja aku takut hantu!”


Alvin menatap sendu Melody. Mantan kekasihnya ini memang belum bisa sepenuhnya merelakan kepergian ayahnya. Jika sedang bersedih, Melody pasti akan kabur ke makam ayahnya. Entah itu mengobrol atau hanya sekedar duduk di samping makam sang ayah.


“Sebaiknya kita pulang..” Alvin mencoba menggandeng tangan Melody.


Gemetaran. Sudah ia duga jika Melody merasa ketakutan.


Melody menghentikan langkahnya. “Aku sudah berbicara dengan Mia, aku akan menginap di rumahnya.”


“Kau ingin kabur lagi?” Sesungguhnya Alvin tadi melihat pertengkaran Melody dengan Yudha.


Klik. Benar, itu salah satu alasannya. “Aku ingin melanjutkan makalah ajuan PKL-ku dengan Mia.”


“Hmm, yang di Miyagi Perfecture itu?”


“Iya..”


“Apa tidak terlalu jauh? Pinggiran kota ya..”


“Tidak apa-apa, ingin suasana baru saja, Senpai.”


“Terserah kau sajalah, yang penting kau mengerjakannya dengan baik.”


“Iya..”

__ADS_1


“Jika butuh bantuan, aku akan membantumu.”


“Iya, terima kasih senpai.”


Kok kesal ya?


Alvin melepaskan gandengan tangannya pada Melody. Ia lalu memegang kedua bahu Melody dan menatap intens mata Melody.


"Bisa tidak kau menanggapi segala omonganku dengan selain kata 'ya'? Kau biasanya menolak bantuanku, Melody!" Kata Alvin.


"Tapi kan membuat usulan PKL itu sulit. Saat Senpai menawariku bantuan, tentu saja dengan senang hati akan menerimanya!"


Ini Melody ngeselin atau memang polos sih? Alvin merasa jika kadang ia tak mengerti Melody.


"Iya juga sih. Tapi, biasanya kau tak seperti ini." Alvin malah kebingungan sendiri.


Melody menatap Alvin. "Senpai, apa kau marah?" Tanya Melody.


"Tidak.."


"Bohong!"


"Tidak marah, Mel.."


"Tapi suara Senpai terdengar kesal tadi."


Alvin menghela nafas. "Hah, iya-iya, aku kesal tadi!"


Melody melebarkan matanya. "Nande?"


Nande: Kenapa.


Alvin memijat keningnya. Melody bisa juga polos berlebihan. "Aku kesal karena kau tidak seperti biasanya! Kau biasanya selalu kuat, ceria, dan pantang menyerah dengan apapun yang terjadi padamu. Namun kini kau lebih suka bermurung ria!"


"Ah itu? Senpai, anu, itu.. aku.." Melody kesulitan menjawabnya. Ia memalingkan wajahnya.


Mana mungkin ia menceritakan rasa kesalnya pada Alvin, kan? Apalagi itu tentang Yudha, suaminya.


“Kita ini... saudara.. ipar, Melody. Tidak perlu ragu-ragu.”


Rada sulit diucapkan, tapi Alvin ingin berusaha yang terbaik tanpa membuat Melody kesulitan.


Melody paham bagaimana nada suara Alvin yang terdengar begitu berat di telinganya. Pertanyaan lama kembali muncul, Alvin masih memiliki perasaan terhadapnya itu tidak benar, kan?


“Iya iya.. dasar cerewet!”


Melody menggembungkan pipinya. Itu sangat manis.


"Tuh kan, kau lebih cocok seperti ini!" Alvin memakaikan mantel miliknya pada Melody. Ia tidak bisa membiarkan angin malam musim gugur memperparah kondisi Melody yang sedang kurang sehat itu.


"..." Melody terdiam dengan segala perlakuan Alvin terhadapnya.


Alvin lalu menyilangkan kedua tangannya di dada. "Inilah Melody yang sesungguhnya! Melody yang kuat, ceria, dan pantang menyerah."


Melody mendecih lalu tersenyum mendengar penuturan Alvin. Mantan kekasihnya itu memang paling mengerti akan dirinya.


"Alvin-senpai memang yang paling keren!" Kata Melody.


"Hah, iya-iya, aku tahu aku ini keren."


"Idih, Senpai narsis."


"Biar."


"..."


"..."


"Haha."


"Haha."


😁


"Sudah berhenti tertawa! Perutku sakit!"


"Kau yang mulai! Ayo Mel, kita harus pulang. Sudah malam. Kau belum makan, kan?"


"Baiklah, aku juga sudah sangat lapar."


Dan mereka berjalan bersama menuju mobil Alvin sambil bergandengan tangan. Mereka langsung meninggalkan pemakaman umum itu.


Tidak begitu curiga saat ada sebuah taxi terpakir di parkiran pemakaman umum. Itu adalah taxi yang ditumpangi Yudha. Rupanya, Yudha memasang GPS di ponsel Melody. Ia berniat menjemput Melody untuk pulang, tapi rupanya keduluan Alvin.

__ADS_1


“Ho, adik kelas dan seniornya rupanya.” Gumamnya dengan ekspresi sulit diartikan.


__ADS_2