MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Tidak Takut


__ADS_3

Time skip..


“Kau yakin akan seperti ini terus, Jenong? Sudah lima hari loh. Kita bahkan sudah kembali dari Miyagi." Kata Mia.


"..." Melody masih asik mengunyah permen karetnya.


"Kau datang ke rumahku malam-malam, ngajak lembur makalah PKL di Miyagi. Paginya kita mendapatkan izin dari dosen, next day-nya kita langsung go ke Miyagi, mendatangi perusahaan yang akan jadi tempat PKL kita."


"..."


"Di Miyagi kita menginap karena terlalu malam untuk kembali ke Tokyo. Sesampainya di Tokyo, kau bahkan enggan kembali ke rumah suamimu, kau tidak khawatir jika bibi Mikan mencercamu dengan banyak pertanyaan?” Tanya Mia.


"..."


"Malam diam saja? Hei, aku sedang berbicara padamu! Jenong Jelek!"


Melody memang sudah menikah, tapi keras kepalanya itu jauh lebih keras dari batu. Hanya kesabaran yang bisa ia gunakan untuk menghadapi sahabatnya ini.


“Dari kemarin kau cerwet sekali sih, Bebek? Yang penting aku sudah izin sama ibu, dan ibu mengizinkan. Ibu bilang malah suruh rekreasi sekalian untuk menghilangkan penat karena kasus percobaan pembunuhan Yudha. Ibu bilang aku ini terlihat stress, jadi sebaiknya mencari suasana baru.. Nah looh, Ibu Mikan memang pengertian banget, kan?”


“Dan kau sama sekali tidak mengabari suamimu? Aku sudah bilang berkali-kali padamu, nyonya Kazehaya! Kau itu wanita yang sudah menikah, jangan berlebihan seperti ini deh!”


Mia memang sensitif jika menyangkut pernikahannya. Melody sadar, sahabatnya ini hanya sedang khawatir. Ia juga tak ingin membuat Mia khawatir karena dirinya, hanya saja, kali ini sungguh waktunya sangat tidak pas.


Bagaimana bisa ia mengabari suaminya, sementara suaminya itu entah menghawatirkan dirinya atau tidak. Sudah berkali-kali ia mencoba mencari list email atau pesan, dan juga panggilan masuk, tidak ada nama Yudha di riwayat log ponselnya. Atau memang, Yudha tidak menghawatirkannya?


Lagian, orang cuek seperti Yudha pasti tidak akan memusingkan kemana ia pergi dan sedang apa. Melody merasa sadar diri, ia hanyalah sosok istri bisnis Yudha.


“Yudha pasti sudah tahu kemana aku pergi, jadi buat apa menghawatirkan aku. Jika ia tak tahu, ibu Mikan pasti memberitahukan kemana aku pergi. Dia juga pasti akan tanya pada Ayane-nee. Dia memiliki banyak pekerjaan yang jauh lebih penting daripada mengurusiku!"


"Tapi kan tidak begitu juga, Mel.."

__ADS_1


"Lagipula, ada Amamiya-san yang harus ia urus. Itu kan tanggung jawab Yudha juga. Lagian, salah Yudha juga kenapa ia meminjamkan mobil pada Amamiya-san. Mana pagi-pagi lagi. Ngapain coba pagi-pagi pinjam mobil? Jika sudah begini, resiko memang harus ia tanggung.”


Mia langsung tertawa ngakak mendengar penuturan Melody yang terdengar .. cute? Cara ngomel Melody itu bukan menjurus ke arah negatif, rupanya Melody ngedumel, menggerutu akan protes hatinya atas tindakan Yudha.


“Bilang saja cemburu, Nyonya Kazehaya!”


Eh, mukanya memerah. “Tidak.. tidak untuk orang itu!”


Mia tak percaya. “Hmmm, masak?"


"..."


"Kau tahu, tak hanya tuan Yudha yang kau abaikan, tapi sepertinya kau juga tak membalas pesan Alvin-senpai ya? Dia ngomel padaku karena kau tak kunjung juga mengambil hasil pemeriksaanmu di rumah sakit. Dia bukan doktermu, dia bukan walimu, makanya tidak bisa sembarangan mengambil hasil check upmu.”


Benar juga, ia menjalani tes kesehatan lengkap sebelum ia ke Miyagi, ternyata ia lupa mengambilnya.


“Sudahlah, lagipula aku sudah sehat. Ini sudah November, bulan Desember nanti kita mulai PKL, aku sudah tak sabar menantinya. Aku ingin segera menjalani PKL!”


Melody terlalu banyak melampiaskan perasaannya ke berbagai hal yang menurutnya bukan gaya Melody. Ia ingat, saat di Miyagi kemarin, usai mengunjungi tempat PKL, Melody mengajaknya naik roller coaster dua kali, sampai muntah-muntah dibuatnya, padahal Mia berani bersumpah jika Melody itu sangat membenci wahana main ekstrem seperti roller coaster.


Belum lagi, Melody mengajaknya shoping, milih-milih barang belanja yang jelas itu bukan gaya Melody. Mia ingat, Melody itu banyak nolak jika ia ajak ke mall. Melody itu suka berhemat, tapi siang itu, Melody menghabiskan cukup banyak uang untuk membeli banyak barang-barang.


Yang membuatnya heboh lagi, saat ini, ia bahkan sedang melakukan perawatan tubuh bersama Melody di salon ibunya!


Melody tidak bisa menyembunyikan kesepiannya dengan baik dan Mia paham itu.


“Potong sebahu!” Kata Melody.


“Tidak Melody! Kau gila ya? Kau itu berjuang keras untuk memanjangkan rambutmu dan sekarang kau ingin memotongnya dengan begitu pendeknya? Tidak! Aku tidak ikhlas!” Kata Mia yang sedang melakukan hairspa.


“Brisik deh, rambut-rambutku juga.”

__ADS_1


(Di sini, Melody aku bikin rambut panjang. Seingatku itu kok.)


“Aku tahu kau banyak masalah, tapi tidak perlu sampai seperti ini, Melody!”


Mia tahu jika Melody sangat menyayangi rambut panjangnya. Melody pernah bilang jika ayahnya sangat menyukai rambutnya yang panjang. Jika hanya karena Yudha bisa membuat Melody nekat seperti ini, Mia tidak bisa tinggal diam. Melody pasti akan memburuk. Melody pasti akan melakukan tindakan yang aneh-aneh.


“Aku tahu ini sangat disayangkan, tapi aku hanya butuh suasana baru, Mia. Aku tahu kau menghawatirkanku, gomen aku selalu seperti ini. Tapi aku yakin dengan keputusanku.”


Melody menatap mantap Mia. Ia lalu menunjukkan undangan pesta ulang tahun Yura.


“Kau akan datang di acara itu?” Tanya Mia yang terlihat khawatir.


“Tentu saja, dia adalah sahabat Yudha, jika aku tidak datang, apa kata publik? Ditambah masalah yang sedang kami hadapi, lebih baik aku menghadapinya.”


“Andai saja aku memiliki undangannya, aku pasti akan menemanimu. Aku khawatir denganmu, jujur saja, rubah itu terlihat licik.”


“Jangan menilai orang dari penampilannya, Mia..”


Ya, maunya memang seperti itu, tapi jika ingat bagaimna kata-kata Yura kepadanya saat di rumah sakit, rasanya ia kesal juga, walau sebenarnya itu adalah fakta yang ada. Ia memang sosok merpati asing yang hadir dan membuat masalah untuk kehidupan bahagia sepasang merpati dalam kisah Yura.


“Kau tahu, aku pasti akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu!”


“Arigato, Mia Bebek Chantik.”


“Giliran begini, kau baru memuji, huh..”


“Hahahah, maaf, maaf.”


Melody serius dengan keputusannya untuk memangkas rambut panjangnya. Ia memotongnya dan menyisakan sampai sedikit di bawah bahu. Mia benar-benar tak mengizinkannya memangkas terlalu pendek.


Sungguh tak menyangka, rambut pendek terlihat begitu cocok dengannya. Tak menyesal juga ia memotong rambutnya yang sesungguhnya adalah keputusan frustasinya saja. Ia ingin berubah, dan baginya dengan memotong rambut adalah awal yang bagus untuknya. Semoga ini adalah untaian doa terbaik untuk kedepannya.

__ADS_1


"Lihat saja, aku akan datang ke pesta ulang tahunmu! Aku tidak takut untuk menghadapi dirimu!" Batin Melody sambil menatap dirinya yang baru di depan cermin salon.


__ADS_2