MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Demi Melody


__ADS_3

Alvin sedang berkutat dengan tumpukan file yang menggunung di meja kerjanya. File pekerjaan urusan bisnis kantor dan juga tesis dari para pasiennya. Ia sudah dua hari tidak tidur. Mata lelahnya adalah buktinya.


Parahnya, ia sampai beberapa kali mimisan.


Alvin mengambil tisu dari wadahnya. Ia menggunakan tisu itu untuk membersihkan darah di hidungnya. Merah pekat. Warna itu menodai putihnya kertas tisu. Ia meremass asal tisu yang baru ia gunakan untuk membersihkan darah itu dan membuangnya ke bak sampah yang ada di samping meja kerjanya.


Alvin kembali melanjutkan pekerjaanya. Satu per satu tumpukkan file-file itu menipis seiring jarum jam yang bergulir dari angka dua belas beberapa kali.


"Akhirnya selesai juga. Butuh waktu lebih lama dari yang aku bayangkan." Kata Alvin.


Alvin lalu meregangkan otot-ototnya yang terasa sangat kaku. Ia bangun dari kursi duduknya. Pantatnya terasa amat panas. Begitupun dengan punggungnya. Sudah begitu, terasa sangat pegal di sekitar pinggangnya.


"Aku adalah seorang dokter tapi gaya hidup akhir-akhir ini sama sekali tidak memberikan contoh yang baik selayaknya seorang dokter pada umumnya. Makan tidak teratur dan bekerja tidak kenal waktu. Aku melihat ke arah jam tanganku, sudah pukul setengah tiga pagi. Sepertinya aku memang tidak akan bisa tidur lagi. Jam setengah tujuh pagi, aku memiliki jadwal oprasi."


Alvin berjalan ke arah almari yang ada di ruangan kerjanya. Sebuah almari yang terbuat dari bahan besi dan kaca. Iapun mengambil suplemen kesehatan yang ia letakkan di dalam almari itu.


"Aku sedang mengejar segala impianku, aku tidak boleh tumbang sebelum semuanya tercapai. Aku harus tetao sehat. Aku harus tetap kuat. Demi hidupku dan wanita yang amat sangat aku cintai."


Alvin membuka wadah suplemen kesehatan itu. Ia mengambil beberapa butiran pil dan memakannya. Harusnya menggunakan air, tapi ia tak menggunakannya. Terlalu ribet dan harus mengambil air dari dispenser. Itu merepotkan.


Sial, rasanya pahit.


"Kau bersabarlah, Mel! Aku pasti akan menciptakan dunia terindah hanya untukmu. Butuh waktu memang, tapi aku tak akan lelah berjuang. Kau tak perlu bergerak, cukuplah diam dan tataplah aku dari jauh. Tak harus kau mengerti, tak perlu juga kau pahami. Aku mencintaimu dengan caraku."


Alvin memandangi foto yang ada di dalam almari kaca. Foto yang bersebelahan dengan wadah suplemen kesehatan yang ia minum. Foto itu juga adalah merupakan foto kelulusannya jaman sekolah menengah atas dulu. Di dalam foto itu, ia merangkul pundak Melody dan Melody melakukan pose chees dengan kedua tangannya. Senyuman yang ikhlas mengembang di kedua bibir.


"Jika ingat hari itu, rasa lelahku hilang seketika. Apa ini berlebihan? Melody memanglah obat yang paling mujarab untukku."


Melody membawakan sebuket bunga dan boneka teddy bear yang memakai baju toga. Hadiah manis dari Melody yang masih ia simpan rapi sampai saat ini.


Masih tersimpan rapi sampai saat ini?


Ya, masih tersimpan rapi. Termasuk buket bunganya.


Tidak busuk ataupun nampak rusak. Masih ada wujudnya dan keindahan bunganya masih ada. Masih bisa dinikmati.


Rupanya Alvin mengawetkan buket bunga dari Melody menggunakan teknik oshibana. Alhasil bunga hidup itu masih ada wujudnya sampai hari ini meski sudah empat tahun lebih berlalu.


________________________________________


Oshibana adalah seni merangkai atau menghias dengan bunga atau dedaunan yang dikeringkan dengan cara ditekan. Oshibana berasal dari bahasa Jepang 'oshi' artinya ditekan dan 'bana' artinya bunga. Agak mirip dengan herbarium yang murni pengeringan bunga atau tumbuhan kering dan berwarna kecoklatan, dalam penerapannya oshibana bisa menghasilkan bunga kering yang masih berwarna aslinya. (wiki)



________________________________________


"Melody, tetaplah menjadi obatku. Maka, aku tak akan membiarkan senyumanmu melayu di antara orang-orang licik itu. Suatu saat kau pasti akan mengerti akan semua usaha dan tindakanku ini, Mel. Aku melakukan semua ini untuk kebaikkanmu." Pungkas Alvin.


Alvin mengelus wajah Melody yang ada di dalam foto itu. Ia memang harus menjadi monster untuk ikut andil dalam perang perebutan tahta Emperor Group.


.


.


.


Ibunya Alvin, Kurenai datang menemui Alvin. Ia datang sambil membawa kotak bento yang berisi makanan kesukaan Alvin.


Bento atau o-bentō adalah istilah bahasa Jepang untuk makanan bekal berupa nasi berikut lauk-pauk dalam kemasan praktis yang bisa dibawa-bawa dan dimakan di tempat lain. Seperti halnya nasi bungkus, bentō bisa dimakan sebagai makan siang, makan malam, atau bekal piknik. 

__ADS_1


Alvin jarang pulang ke rumah Kazehaya atau bahkan ke rumah miliknya untuk sekedar menjenguk. Sebagai seorang ibu, tentulah Kurenai merasa sangat khawatir. Anak semata wayangnya dengan Kazehaya Yoga ini terlalu bekerja keras. Terlalu memforsir diri melebihi batas kemampuan fisiknya.



"Makanlah, Vin!" Kata Kurenai. Ia baru saja selesai menjabarkan makanan dari dalam kotak bento yang ia bawa.


"Sangat lengkap makanannya, Bu. Apa ibu juga tidak tidur hanya demi membuatkan makanan ini untukku?" Tanya Alvin.


Kurenai tersenyum. "Sesekali tidak apa-apa, kan?"


"Jangan berbohong padaku, Bu! Jika ibu sedang sendirian, ibu akan terjaga sepanjang malam hanya karena mengingat ayah."


"Kau ini.. Ayahmu itu memiliki tempat tersendiri di dalam hati ibu. Ibu hanya bisa mengenangnya."


Alvin menatap lembut ibunya. "Jika ibu seperti itu terus, aku jadi merasa kasihan dengan ayah Azumane."


"Ayah tirimu itu sangat mengerti ibu, kau tidak perlu menghawatirkannya." Kurenai mengambilkan supit dan memberikannya kepada Alvin.


Alvin menerima supit pemberian sang ibu. "Arigato gozaimasu, kaa-san.."


"Hm, sudah Vin, cepatlah makan!" Kata Kurenai.


Alvinpun memakan makanan yang dibawa oleh ibunya. Makanan buatan tangan sang ibu yang rela tidak tidur demi dirinya. Sudah bersedia memasak malam-malam, ibunya juga rela datang mengantarkan makanan dengan sendirian ke rumah sakit, kantornya saat ini.


Alvin merasa jika ibunya itu adalah sosok yang luar biasa. Sosok yang tak tergantikan oleh apapun di dunia ini. Ia merasa sangat beruntung sudah dilahirkan dari rahim ibunya. Untuk itu ia tak pernah lupa bersyukur pada Tuhan dengan apa yang sudah ia dapatkan saat ini.


"Bagaimana?" Tanya Kurenai penasaran.


"Hn. Ini sangat enak, Bu. Ibu ingin mencobanya?" Tanya Alvin. Ia menyodorkan sesupit lauk pada sang ibu.


"Harusnya ibu yang melakukannya, bukan terbalik seperti ini."


Kurenai tersenyum. "Anakku ini bermulut manis rupanya."


Kurenai lalu memakan suapan makanan dari Alvin. Meski makanan itu adalah buatannya sendiri, tapi ia cukup bangga karena kemampuan memasaknya.


Usai makan, mereka berdua berbincang-bincang.


"Ibu bangga padamu, Nak. Ide panti asuhan itu luar biasa. Mereka yang terlantar menjadi punya tempat untuk berlindung. Jadi ingat jaman dulu dimana kita bahkan tidak tahu harus kemana." Kata Kurenai.


Benar. Dulu sewaktu Kurenai melahirkan Alvin, ia harus mengalami masa-masa yang sangat sulit. Ia kesulitan membayar biaya rumah sakit. Alvin yang terlahir premature. Alvin tertahan di rumah sakit. Bahkan setelah bisa menebus pembiayaan biaya rumah sakit Alvin, ia kehabisan uang dan harus berjuang keras untuk mendapatkan tempat tinggal. Ia menumpang sana sini di tempat teman-temannya.


"Sudahlah, Bu. Yang penting sekarang semua sudah membaik." Kata Alvin.


"Kau benar."


"Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menggapai segala impianku, Bu. Aku akan bekerja keras agar semua tercapai."


"Masih salah satunya demi wanita yang sudah menikah itu?" Tanya Kurenai.


"..." Alvin terdiam.


"Alvin, sudah berapa kali ibu minta padamu, dia istri Yudha! Dia sudah mengandung anak Yudha! Jauhi dia!" Kata Kurenai menasihati.


Ini sudah kesekian kalinya. Alvin masih saja terus memikirkan Melody. Alvin tidak bisa melupakan perasaannya pada Melody.


"Jika bukan karena dia, aku tidak akan pernah mengikuti permainan ibu! Mengertilah, Bu! Ini juga berat untukku. Aku sangat mencintainya. Karena aku sangat mencintainya, maka aku kesulitan mengendalikan perasaan dan tindakanku."


Kurenai memijat keningnya. Anaknya ini sudah dibutakan oleh cinta. "Ibu tidak tahu lagi bagaimana harus menasihatimu, Vin."

__ADS_1


"Ibu yang harus tahu bagaimana orang yang sedang jatuh cinta. Ibu pernah mengalaminya juga, kan? Dimana ibu juga kesulitan mengendalikan diri saat jatuh cinta pada ayah. Akupun sama dengan ibu. Melody itu memiliki tempat tersendiri."


Alvin benar. Perasaannya pada Yoga juga membutakannya. Ia rela melakukan apa saja agar ia bisa bersama dengan Yoga. Hingga akhirnya, buah cintanya pada Yoga terlahir ke dunia ini. Menjadi penyemangatnya dalam hidupnya yang berat.


"Jangan sampai kau tumbang sebelum menang, Vin! Kalahkan semua orang yang menghalangimu. Yudha atau bahkan kakekmu sendiri. Kalahkan mereka semua! Libas mereka jangan sampai ada yang tersisa!"


Alvin tak menyukai nada kebencian yang keluar dari mulut ibunya. Ia menjadi merasa asing dengan sang ibu. Namun ia mencoba paham, masa lalu yang begitu kejam berperan penting dalam membentuk karakter ibunya saat ini.


"Aku akan menyingkirkan mereka semua yang menghalangi mimpiku!" Kata Alvin mantap.


Kurenai tersenyum bangga pada Alvin. Meski kasar, tapi pada akhirnya Alvin bersedia ikut bermain dalam perebutan kekuasaan Emperor Group bersama dengannya. Artinya, Alvin bersedia balas dendam mengikuti jejaknya.


"Bagus anakku sayang. Ini yang ibu mau. Dengan begini, kau akan semakin mudah mendapatkan segala hak yang seharusnya menjadi milikmu. Ibu akan selalu mendukungmu. Untuk urusan Melody, ibu bisa menyingkirkannya di akhir nanti." Batin Kurenai.


.


.


.


"Maafkan aku, Melody. Aku memang harus mengambil langkah ini.." Batin Alvin.


________________________________________


Ambil setting Jepang tapi jarang bahas Jepang ya? Ya sudah, aku selipin dikit-dikit biar rada nyambung sama tempatnya. 😉 Sekalian nambah pengetahuan itung-itunglah.


Bonus:


"Sayang, Author melupakan kita lagi! Dua chapter berturut-turut!" Gerutu Melody.


"Masalah makin pelik, Mel. Dia nanti pusing sendiri. Suka-sukalah." Kata Yudha.


"Kenapa kau membiarkannya sih? Kau tidak khawatir pamor kita sebagai pasangan paling greget hilang?"


"Tidak akan hilang, paling meredup. Tidak usah khawatir, aku bisa mengembalikannya dengan cepat."


"Masak? Dengan cara apa?"


"Adegan mesum denganmu!" 😎


"YUDHA!! Malu tahu." 😖


"Tapi mau, kan?"


"Hehe, iya mau." 😁


________________________________________


Tak henti-hentinya untuk ucapin banyak terima kasih karena masih terus setia mengikuti novel ini. Aku sangat bahagia, meski hanya sebuah like ataupun komenan, itu bernilai magis dimana ada rasa semangat muncul di dalam sana.


Oh iya, aku rekomendasiin untuk baca novelku yang lain. Judulnya ERROR: Iblis in Love. Super dark romance. Ini cerita dewasa, cukup gelap, jadi yang di bawah umur, pleaseee.. munduro alon-alon ya. 😎



Summary: Kiara Fellicia mengalami mimpi buruk di dalam hidupnya. Ia harus menanggung lara karena kehilangan kedua orang tuanya dan perusahaan bangkrut, lalu ketika ada Tuan Muda tampan bernama Alvaro Ray yang bersedia menolongnya, ia malah dilecehkan dengan cara yang keji.


Tertarik untuk tahu bagaimana kisah kelanjuttannya? Silahkan kunjingi karyaku ya! Atau bisa klik akunku dan search di menu karya. Bisa juga type di kolom pencaraian ERROR: Iblis in Love.


Sending so much love and have a nice day. Love you guys! 😘

__ADS_1


__ADS_2