MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Chiba 8


__ADS_3

Kalo lelah bisa tidur kek orang pingsan. Dua hari ini bener-bener merepotkan. Ada gak yang punya badan untuk aktifitas sederhana saja tapi bisa lelahnya tidak wajar? Extrem gitu. Habis itu mau buka mata sulit, pasti tidur kek orang pingsan. Badan super lemes dan sulit buat jalan. Pernah nih minggu lalu, buat gerakin jari aja susah, tidak punya tenaga. Takut sih, tapi ya sudahlah...


.


.


.


MELODY'S POV


Baru saja Yudha menghilang dari pandangan mataku. Mobil yang ia kendarai melaju sangat cepat. Ada sekitar tiga mobil yang mengejarnya. Aku melihat ada di antara mereka yang melesatkan senjata api ke arah mobil Yudha.


Aku menangis sejadinya. Aku menangis keras, tapi aku membungkam mulutku sendiri agar suara tangisanku tertahan. Agar suara tangisanku tak didengar orang lain.


Tuhan, kenapa bisa seperti ini? Kenapa harus mengalami hal-hal seperti ini? Ini sangat mengerikan. Kenapa kematian itu selalu sangat dekat dengan Yudha? Suamiku itu orang baik yang rela menderita demi kebahagiaan orang lain. Kenapa masih saja orang-orang itu mengincarnya? Mengincar kematiannya? ... Tuhan, kau mendengar kan jeritan tangisan ibu hamil ini? Ibu hamil ini hanya ingin hidup damai dengan suaminya saja. Apakah itu sangat sulit untuk diraih?


Aku mencengkram erat tralis jendela motel tempat aku menginap. Tidak ada seorangpun yang bisa aku jadikan sandaran saat ini. Sendiri membuatku tak berdaya.


Yudha akan selamat, kan?


Yudha akan baik-baik saja, kan?


Yydha tidak akan mati, kan?


Padahal baru saja bertemu, tapi harus terpisah lagi. Padahal baru saja aku bisa merasakah kehadirannya di sisiku. Dekap tangannya, rengkuh tubuhnya, kecupan hangat darinya, semua masih terasa di sekujur tubuhku. Namun kenapa? Kenapa harus berpisah lagi?


Kembalikan moment-moment damaiku dengannya!


Yudha... hiks..


Yudha.. Yudha..


.


.


.


Kini aku duduk di lantai, bersandar pada ranjang yang belum lama ini aku gunakan tidur dengan Yudha.


Dingin.


Rasanya sangat dingin. Ditinggal pergi olehnya terasa sangat dingin.


Aku baru saja berusia 22 tahun, aku bahkan belum lulus kuliah. Masih skripsi, tapi mangkrak karena masalah yang menimpa ini. Aku menargetkan lulus September tahun ini andai kata Juni tidak terkejar. Juni besok kemungkinan aku sudah lahiran.


Ah, benar, lahiran ya?


Anak-Anakku dengan Yudha.


Aku tak menyangka jika aku akan memiliki anak dengannya dari pernikahan yang tiba-tiba ini. Kisahku dengannya sudah seperti komik-komik atau novel-novel yang aku baca. Ringkasannya seperti, menolong kakek-kakek sekarat lalu dijadikan cucu menantu. Lengkapnya lagi, keluarga kaya raya. Drama sekali memang, penuh kehalusinasian.

__ADS_1


Namun, itu yang aku alami.


Pernah membaca sebuah thread jika old money atau orang kaya benaran itu akan menjodohkan anak-anaknya dengan anak-anak dari teman koleganya yang memang memiliki basic keluarga yang sama. Sama-sama old money. Jadi, kesempatan untuk menikahi konglongmerat bagi wanita biasa itu sangat sulit.


Ya walau jodoh itu juga ketentuan dari Tuhan.


Intinya, aku bisa menikah dengan cucu konglongmerat seperti Yudha itu adalah keajaiban dari takdir Tuhan.


Ketika aku menikah dengan Yudha, aku tidak memiliki persiapan apapun. Jahatnya, yang aku pikirkan saat itu adalah bagaimana cara agar rumah peninggalan ayahku selamat dari jerat renternir.


Setelah menikah dengan Yudha, aku melakukan bimbingan belajar banyak hal tentang bagaimana kehidupan old money itu, terutama soal manner atau kesopanan. Old money sangat berbeda dengan orang kaya baru dimana tidak perlu pansos untuk dibilang kaya.


Yudha tidak perlu dunia tahu jika dirinya sangat kaya raya, dia biasa saja sudah diincar.


Tahu kan apa maksudnya diincar itu?


Ya, dimusnahkan.


Ah, aku menangis lagi, kan?


Posisi aku sama sekali tidak bisa komunikasi dengan Yudha. Aku tak tahu bagaimana keadaannya saat ini. Ini sudah sejam lebih berlalu aku dan dia berpisah dengan cara yang heroik. Bisanya hanya menangis, mewek, mau marah tapi sama siapa? Maunya hanya ingin dengan Yudha.


Sisi egoisku muncul lagi.


Aku menghapus air mataku.


Aku memang lemah tanpanya.


Jauh dari incaran pembunuhan, meminimalisir musuh, dendam, sengketa, atau apapun itu yang bisa membahayakan diri.


Hei Yudh, hidup sederhana seperti itu rasanya akan sangat indah bukan?


Namun itu hanya sebatas harapan saja. Tidak mungkin bagi Yudha yang terbiasa serba ada lalu harus menjalani kehidupan sederhana dalam waktu yang singkat. Sulit, itu pasti akan sangat sulit.


Aku sudah terbiasa, tapi Yudha asing dengan kehidupan sederhana. Lagi pula, ada orang tua yang perlu ia jaga dan perjuangkan.


Yudha sedang berjuang untuk melindungi keluarganya. Dengan kata lain, saat ini pun dia juga sedang berusaha melindungi diriku.


Yudha...


Jika aku bisa memutar waktu, maka aku akan memilih tetap tinggal bersama Alvin. Yudha menjadi tidak dalam bahaya seperti ini. Namun karena keegoisanku untuk bersama Yudha, akhirnya menjadi seperti ini.


Hikss..


Ini salahku! Ini adalah kebodohanku!


Aku harusnya bisa membaca kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dari segala apa yang aku putuskan. Bukan malah seenak jidat dan memaksakan kehendakku seperti ini.


Kini Yudha berpisah denganku, aku hanya bisa menangis dan tak bisa berbuat apa-apa. Aku sendirian penuh ketakutan menunggu jemputan dari Nakamura-san.


Sampai detik ini, aku masih aman, kamarku tidak didatangi orang mencurigakan. Jadi ada dua kemungkinan, pertama, mereka hanya mengincar Yudha. Kedua, mereka tidak tahu jika aku semobil dengan Yudha.

__ADS_1


Atau bisa jadi, mereka tahu aku bersama Yudha dan bersiap menungguku keluar motel dan membunuhku setelahnya.


Apakah itu yang terjadi?


Apapun itu, aku harus bertahan sampai aku tahu bagaimana kabar Yudha. Aku harus kuat!


Ingat Mel, suamimu bilang jika yang harus dilindungi itu tak hanya dirimu sendiri, tapi si kembar yang ada di perutmu juga!


Aku menyentuh perutku. Sudah sangat besar. Aku menyentuhnya seperti seolah-olah sedang memeluknya.


Aku melupakan satu hal yang sangat penting. Anak-anak yang aku kandung ini adalah wujud nyata dari Yudha generasi ke 2. Mereka adalah koneksi batinku dengan Yudha. Benar, aku tak boleh berlarut-larut dalam kesedihan ini! Aku harus bertahan!


Ingat, aku adalah heroine dalam kisahku. Aku adalah pemeran utama wanita. Aku tidak mau menjadi heroine yang lemah tak berdaya yang bisanya hanya menangis ketika masalah dan musibah datang.


Meski kehamilanku ini membatasi pergerakanku, tapi aku akan berdiri tegar sampai Yudha pulang. Aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Tahu ini memang tak mudah apa lagi untuk wanita hamil seperti diriku. Namun aku tidak akan kalah tanpa berjuang.


Sayang, aku akan mejunjukkan kepadamu jika aku, Kazehaya Melody adalah satu-satunya istri yang paling pantas untukmu!


END OF MELODY'S POV


.


.


.


Alvin's side...


Seorang bodyguard mendekati Alvin sambil membawakan sebuah ponsel.


"Alvin-sama, ada sebuah panggilan dari Kyoto." Katanya.


Alvin menerima ponsel itu. "Hallo..." Kata Alvin.


"Anda sudah memenuhi syarat yang kami ajukan, Alvin-sama. Jika adik Anda sudah ada di tangan kami, maka Emperor Group memiliki akses masuk ke Kyoto secepatnya. Kami akan menyambut baik kedatangan Anda di kota Kyoto."


Alvin menyeringai. "Aku sudah tidak sabar untuk ke sana." Kata Alvin sebelum mengakhiri panggilan telepon.


Alvin lalu tetawa setelahnya. Dirinya adalah seorang joker, ia menyukai humor yang menggelitik.


"Bagaimana keadaan Melody saat ini?" Tanya Alvin.


"Nona Melody terpantau aman. Seseorang sudah menjemputnya dari motel. Kami tidak paham siapa laki-laki itu, tapi kami yakin jika laki-laki itu adalah orangnya Yudha-sama."


Alvin manggut-manggut. "Awasi mereka dan pastikan mereka sampai di Tokyo aman!" Printah Alvin.


"Baik, Alvin-sama."


Alvin lalu meminum kopinya. Kopi pahit yang akhir-akhir ini menjadi temannya.

__ADS_1


"Jika ingin mencapai tujuan, maka harus ada yang dikorbankan, kan?" Gumamnya.


__ADS_2