MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Okinawa 5: Janji


__ADS_3

Yura berlari menuju kamarnya. Menutup kasar pintu kamarnya dan secara cepat merebahkan dirinya ke ranjang. Ia memukul-mukul bantalnya dan berulang kali mengucapkan kata 'baka'. Ia menangis sejadinya.


Rasanya otaknya ingin pecah saja. Begitu menyesakkan, begitu memuakkan, dan juga begitu menyakitkan. Ia tak menyangka jika akan mendapatkan rasa sakit seperti ini dari sahabat kecilnya itu.


.


.


.


YURA'S POV


DADAKU SANGAT SAKIT!


Terasa begitu sesak ketika kau mengucapkan kata seperti itu padaku, Yudh..


Kenapa kata-kata sangat kasar itu bisa keluar dari mulutmu?


Kenapa kau tega mengucapkannya bahkan tanpa menatapku dengan benar?


Kau anggap aku ini apa, HAH?


Bukankah kita selalu bersama sejak dulu? Sejak saat kita kecil? Kita tumbuh bersama dan selalu bersama.


Lalu apa ini?


Kenapa kau seperti ini?


Kau tega, Yudh.


Tega..


Apa aku berbuat salah terhadapmu sehingga kau memilih menjauhiku? Aku sudah minta maaf soal pernikahan itu. Kenapa kau masih saja menjauhiku? Aku sudah membuatmu merasa kesulitan, tapi kumohon jangan hindari aku!


Jangan hindari aku seperti ini!


Jangan jauhi aku seperti ini!


Aku tidak bisa kau perlakukan seperti ini, Yudh! Tidak bisa!


TIDAK BISA!

__ADS_1


.


.


.


Setelah kau menikah dengan gadis tak dikenal itu, kau tidak pernah memberiku kabar, bahkan semua panggilan telepon darikupun kau abaikan, belum lagi puluhan pesan yang aku kirim ke nomormu.


Kau abaikan semuanya.


Saat aku bertanya alasan kepadamu, kau bersikap sangat dingin dan terkesan mengacuhkanku.Tak hanya terkesan, kau terang-terangan memagari diri dan menjauhiku.


Aku tidak bisa menerimanya. Ini terlalu berlebihan, Yudha!


Bukankah kita akan selalu bersama? Seperti janji kita dulu?


Kan?


Kau sudah berjanji kepadaku, sudah semestinya kau menepatinya seperti yang sudah-sudah…! Aku akan memastikan kau selalu menepati janjimu! Aku tidak peduli meski kau sudah menikah sekalipun.


Janji adalah janji.


Janji adalah hutang.


.


END OF YURA'S POV


.


.


.


Yudha menatap alun ombak yang sama. Ombak itu menggulung lalu hilang. Angin berhembus menerpa kulitnya. Terus dan terus seperti itu. Pola yang sama di mata Yudha.


Yang berbeda, ada burung camar yang berterbangan ke sana kemari dengan cepatnya. Kadang turun meluncur ke bawah dan mendapatkan mangsa. Apa itu ikan?


Ya, Yudha yakin kawanan burung-burung camar itu sedang berburu ikan.


Melihat ke arah sekitar, banyak para pelancong atau pengunjung pantai yang terlihat sedang menikmati pantai dengan banyak perasaan.

__ADS_1


Di depan sana, pengunjung itu sedang berenang dan bermain air atau pasir. Itu artinya mereka serius liburan untuk menghilangkan penat, rasa lelah kerja, dan ingin bersama orang yang disayangi, seperti keluarga. Lihatlah kebersamaan mereka! Tawa mereka! Itu sudah cukup untuk mewakilinya.


Ok, lihat ke arah lain. Mata Yudha melihat ke sisi barisan yang searah dengannya. Duduk terdiam sama seperti yang ia lakukan. Pengunjung di sana hanya menatap lurus ke depan. Tanpa ekspresi tanpa gerakkan seperti patung di pinggir pantai.


"Apa yang sedang dia pikirkan?" Gumam Yudha.


Sendiri di pantai. Merenung?


Lalu kenapa ia harus penasaran?


Yudha kembali mengedarkan pandangannya ke jangkauan yang lebih luas. Dilihatnya istrinya, Melody sedang bergandengan dengan Mia dan Ayumi main di pinggir air pantai. Ingin mendekat, tapi ketika ombak datang, mereka bertiga malah lari menghindar. Itu aneh, tapi lucu juga. Seulas senyum tipis tertarik dari sudut bibir Yudha.


"Dasar aneh!"


Yudha sadar, pantai adalah tempat dimana banyak perasaan terkumpul di sana. Ada tawa, canda, kebersamaan, bahagia, luka, derita, bahkan kecewa.


Yudha melihat ada pengunjung yang memandang pantai sambil menangis. Putus? Ditinggalkan? Dilukai? Dikecewakan? Janji yang tak ditepati?


Pantai memang penuh misteri. Kenapa pantai sanggup menampung banyak rasa? Kenapa pantai bisa menarik begitu banyak jenis emosi?


Yudha tak paham itu.


Tapi tunggu..


Tadi apa?


Janji yang tak ditepati?


Ekspresi Yudha langsung berubah.


.


.


.


"Kau kenapa, Yudh? Kau seperti memendam rasa yang tak bisa aku tafsirkan." Gumam Melody yang menyempatkan berbalik untuk melihat suaminya. Ia bahkan mencengkram keras genggaman tangannya pada Mia dan Ayumi.


Membuat Mia dan Ayumi kaget.


"Melody, ada apa?"

__ADS_1


"Kau lelah?"


"Ti..tidak.."


__ADS_2