MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Sepi


__ADS_3

YURA'S POV


Sudah beberapa minggu aku berada di negara asing, negara yang sangat jauh dari asalku tinggal, Prancis. Mengejar mimpi sedari kecilku. Menjadi model professional.


Rasanya sangat menyenangkan memiliki kesempatan emas seperti saat ini. Bisa berkumpul, bertemu dengan banyak orang dengan minat di bidang yang sama. Bertemu banyak model professional lainnya, designer ternama, fotografer handal, para penata rambut terkenal, penata rias make up terkenal. Sungguh, ini pengalaman luar biasa untukku.


Aku tidak akan pernah melupakan pengalaman yang sangat berharga ini.


Terima kasih Tuhan, aku menjadi salah satu dari mereka. Aku bisa berdiri bersanding dengan mereka. Impianku, mungkinkah aku bisa menyebutnya jika ini semua sudah terwujud?


Belum..


Terlalu awal aku mengklaimnya, aku ini masih belum ada apa-apanya. Aku harus tetap terus brusaha lebih keras lagi.


Semua keputusanku untuk sampai sejauh ini, semua pengorbananku, usahaku. Aku tak ingin menyesalinya. Semua demi impianku. karirku di dunia modeling.


Menyesalinya?


Kata yang terdengar cukup sensitive di telingaku akhir-akhi ini.


Kenapa?


Nandesuka?


Nandesuka: Kenapa


Aku senang aku sampai sejauh ini. Aku senang aku selangkah lebih mendekati impianku.


Aku senang memiliki banyak pengalaman baru dan belajar menjadi lebih baik sedikit demi sedikit.


Tapi kenapa?


Kenapa rasanya mulai hampa?


Ada perasaan hampa yg menyeruak.


Ada perasaat yang mengoyak dadaku. Rasanya sangat pengap.


Perasaan hampa itu mencampuri rasa bahagiaku. Meski hanya setitik rasa, tapi lumayan mempengaruhi juga. Membuatku kehilangan fokus meski hanya sejenak. Aku bahkan mungulang sesi pose pemotretan trakhirku di Paris beberapa kali.


Ada apa?


Ada apa ini?


Ada apa denganku?


Mungkinkah ini ada hubungannya dengan dia?


Yudha-kun?


Apa karena dia?

__ADS_1


Apakah karena Yudha?


Dia memang tak mengabariku, tak mengirim pesan kepadaku. Ya, memang dasarnya dia jarang bermain Hp meski memilikinya. Tapi, dia tak pernah melupakan bertanya kabar padaku.


Dia tidak pernah melewatkan hal itu. Sesibuk apapun dirinya, ia pasti meluangkan waktu untuk sekedar bertanya kabar padaku.


Sudah sebulan lebih sejak ia memutuskan untuk menikahi gadis biasa itu. Dia sama sekali tak mengabariku. Aku ini teman dekatnya kan?


Kan?


Ne?


Aku ini masih teman dekatnya!


Meski sudah menikah, harusnya dia tetap mengabariku! Memangnya dia anggap aku ini apa baginya? Kita sudah lama berteman.


Sudah sejak kecil!


Apakah dia sesibuk itu? Sangat sibuk hingga tidak sempat mengirimiku kabar?


Apa yang biasanya orang lakukan setelah menggelar upacara pernikahan?


Honeymoon?


Apa yang pasangan pengantin baru lakukan saat sedang honeymoon? Candlelight dinner? Checking di hotel? Having good time di pantai? Menikmati sunset?


Atau…


Apa itu?


Kenapa aku merasa sangat kesal dengan hal itu?


Ini benar-benar menyebalkan.


Tambah menyebalkan karena rupanya sekaranag aku menjadi kepikiran.


Ah.. aku ingin segera pulang ke Jepang. Aku merasa mulai tidak betah di sini. Aku ingin membali. Aku ingin menemuinya.


END OF YURA'S POV



Yura menatap sendu pemandangan kota Paris malam ini. Kota romantis dengan sejuta kisah di dalamnya. Kota yang menawarkan sandaran berbagai rasa. Kota yang menampung luka dan bahagia.


"Kota Paris masih sama. Sama seperti kemarin saat pertama kali aku datang ke sini. Masih tetap indah dan menawan. Lampu kota mempercantik pemandangan malam. Membuat hati enggan melupakannya. Kota yang romantis, sama seperti kata orang-orang. Namun, aku merasa sangat sepi."


.


.


.

__ADS_1


"Uchiyama-san, Anda ingin makan sesuatu?" Tanya seorang pelayan cafe yang bekerja di cafe milik Alvin.


"Bisa bungkusin segelas jus jambu biji?" Tanya Alvin.


"Iya bisa, Uchiyama-san." Jawab pelayan cafe.


Tak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya jus jambu yang Alvin minta selesai dibuatkan. Alvin menerima segelas plastik jus jambu itu. Iapun ke luar dari cafe dan berjalan menuju parkiran mobil.


Sebuah mobil porche warna hitam terpakir indah di parkiran cafe miliknya. Alvin memandang mobilnya sebentar. Ada kenangan indah di sana. Tentu saja kenangan dengan Melody.


Siapa lagi?


Dulu, sewaktu ia baru membeli mobil sport itu, ia meminta Melody untuk menemainya keliling Tokyo. Ada canda dan tawa di dalam mobil itu. Tidak ada luka dan duka. Semua kenangan yang terlukis di sana adalah kenangan yang bahagia.


Menghabiskan waktu seharian dengan Melody adalah saat-saat indah di dalam hidup Alvin.


ALVIN'S POV


Apa kau tahu, Mel?


Saat-saat indah yang kulalui bersamamu. Melukiskan sejuta kisah cinta di dalam lubuk hatiku. Kau memberiku segala keindahan dalam cinta. Membuatku terbuai nafas cinta yang kau hembuskan. Aku merasa jauh lebih dari sekedar hidup. Sampai mati pun aku takkan bisa melupakanmu. Meski aku tahu, rasa cintamu padaku itu semu.


Kau tak benar-benar mencintaiku.


Namun, kau selalu berusaha menyenangkan hatiku. Meski cinta pura-pura, tapi kasih dan sayangmu begitu tulus. Aku tak bisa mengabaikan fakta itu.


Melody..


Lagu baru yang kau tulis saat ini sangat jauh dari jangkauanku. Aku bahkan tak kau masukkan dalam melodi lagu barumu. Aku bisa apa, kan? Nyatanya, aku cukup mengerti jika kita ini sudah tak memiliki ikatan apa-apa selain sebagai pasangan sahabat.


Kau akan melanjutkan lagumu dengan Yudha. Orang asing yang memilikimu saat ini.


Ada luk di dalam hatiku. Ada lara menganga di sana. Terasa amat perih dan membuatku tak berdaya.


Karena aku tak bisa menampik perasaanku padamu yang masih sangat dalam.


Harus aku akui, aku masih sayang dirimu. Aku masih cinta dirimu. Kau harus tahu, Mel, hanya pada dirimu. Hanya pada dirimu perasaan ini di luar kendaliku.


Aku ini sangat egois. Meski sudah paham posisi kita saat ini. Namun aku masih berharap pada bunga sakura yang sedang bermekaran, aku masih berharap pada langit malam kota Tokyo yang sangat indah, aku masih berharap pada bintang di langit yang kalah dengan cahaya lampu kota, aku masih berharap pada belas kasih Tuhan Yang Maha Esa, aku ingin kau menerima perasaanku.


Terimalah hatiku ini.


Terimalah akan cintaku ini.


END OF ALVIN'S POV


"Maaf, maafkan aku. Harusnya aku tak pantas memiliki keinginan seperti ini. Melody menikah dengan Yudha, saudaraku yang sangat aku sayangi. Meski cintaku ini tak sampai padanya, asal dia bahagia, bukankah itu sudah lebih dari cukup? Walau aku tahu, yang kurasa saat ini sungguh menggila. Sakit tak tertahankan dan penuh nestapa. Aku berdoa untuk segala kebahagiaanmu, Mel.."


Alvin memutuskan untuk berjalan kaki mengelilingi kota Tokyo. Sesekali ia menyedot jus jambu biji kesukaan Melody.


__ADS_1


Pemandangan malam kota Tokyo selalu indah. Ap lagi di musim semi seperti ini. Lampu kota menemanj hati yang sepi.


__ADS_2