MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Wisuda 2


__ADS_3

Selangkah, dua langkah, semakin cepat dan semakin cepat saja. Tiiing. Suara dentingan alunan melodi piano terdengar merdu. Bersua dengan hembusan angin musim gugur yang membeku. Menempel, memeluk, dan mendekap hangatnya kalbu.


Awan menampak di atas langit itu, mataharipun bersembunyi malu. Pepohonan, tananam, mobil, bangunan, semua membisu. Biarkan waktu ini terwakili lagu. Bersama, berdua, berteman dengan rindu.


Yudha menggandeng Melody semakin menjauh dari Alvin dan Yura. Menggandeng dengan sangat eratnya. Enggan melepaskan. Mereka bahkan berlari. Agak aneh memang jika harus dibayangkan.


Yudha memakai baju toga lengkap dan membawa map kelulusan, menggadeng Melody yang memakai gaun pendek dan membawa tas berisi bunga. Ayolah, orang-orang yang berada di lapangan parkir hanya bisa melongo ria melihat pasangan ‘alay’ ini. Dalam hati, ‘yaelah, couple jaman now’.


Tidak peduli.


Tidak peduli!


Tidak peduli dengan mereka semua!


Yudha dan Melody tidak peduli apapun pendapat orang-orang itu saat melihat adegan romantis dramatis mereka. Oh bukan, salah sangka itu! Sesungguhnya, mereka berdua bahkan tidak menyadari kehadiran orang-orang di sekitar mereka. Terlalu terbawa suasana membuat mereka merasa jika saat ini dunia hanya milik mereka berdua.


Maklum, mungkin lagu ‘Kuch Kuch Hotta Hai’ saat mereka berlari bergandengan tangan adalah backsoundnya. Hoho, Yudha bilang itu bukan gaya musiknya. Ada rekomendasi?


Dan di sinilah mereka berdua, di belakang salah satu gedung kampus langkah kaki mereka membawa.


Sangat sepi. Jauh sekali jika dibandingkan dengan keadaan yang ada di gedung wisuda. Di belakang gedung kampus tidak ada satu orangpun. Semua orang lebih banya di area gedung wisuda.


Meski di belakang gedung kampus, namun tempat ini tetaplah masih indah karena dialih fungsikan sebagai taman. Ada beberapa jenis tanaman bunga dan pepohonan. Meski semua sudah rontok daunnya sih. Maklum, musim gugur.


Yudha melepaskan genggamannya dari tangan Melody. Ia lalu jongkok karena cukup lelah. Ia menunduk dan terliat sedang berusaha mengatur nafasnya. Sementara Melody hanya berdiri melihat suaminya yang kelelahan itu.


Yudha kembang-kempis mengatur nafas usai berlari bersama Melody. Jujur saja, aktivitasnya akhir-akhir ini kelewat sibuk. Ia hanya manusia biasa yang memiliki rasa lelah juga.


Jadi, hanya berlari kurang dari 10 menit sudah berhasil membuatnya kehilangan tenaga.


“Gomen Melody, tiba-tiba membawamu pergi padahal kau sedang mengobrol dengan kakakku.” Kata Yudha yang masih jongkok tanpa melihat ke arah Melody.


Sebenarnya Melody rada bingung dengan sikap Yudha yang tiba-tiba saja membawa dirinya pergi dengan cara menggandeng tangan lalu berlari alay dan tiba-tiba sudah ada di sini, di tempat yang sepi. Namun, Melody enggan dipusingkan dengan pikirannya. Ia ingin bersikap biasa saja.


“Tidak apa-apa. Hmm, apa saat ini aku bisa mengartikan jika kau ingin menagih ucapan selamat wisuda dariku? Hadiah? Bunga?” Melody bertanya dengan memamerkan wajah tersenyumnya.


Yudha mendongak dan melihat ke arah Melody. Melody tersenyum?


“Kau membawa semua itu?” Sejujurnya Yudha tidak begitu yakin akan semua itu. Wisuda mendapat kado? Ayolah.


“Hm, tentu saja. Lihatlah..” Melody menujukkan tasnya. Ia mengambil buket bunganya dan memberikannya kepada Yudha. Lalu tak lupa kotak hadiahnya juga.


Yudha menerima semua itu dari Melody. Ia mengamati bunga berbagai macam warna itu dan kotak kadonya. Semua itu untuknya? Dari Melody? Dari istrinya? Sungguhkah?


Itu adalah sungguhan. Yudha berpikir jika saat ini sebaiknya ia membuka suara pada Melody. Sebenarnya Melody sudah berbaik hati memberinya hadiah dan mau membuka suara kepadanya. Yudha harus memanfaatkan moments ini untuk sekedar memperbaiki hubungan mereka yang tiba-tiba diterpa kecanggungan dalam beberapa waktu terakhir ini.

__ADS_1


“Melody?”


“Ya?”


“Kau bisa menujukkan wajah tersenyummu padaku setelah apa yang sedang terjadi akhir-akhir ini?” Tanya Yudha.


Akhir-akhir ini yang terjadi adalah gosip skandal perselingkuhannya dengan Yura dan juga ia yang tiba-tiba menyentuh Melody di rumah ibunya Melody. Dua hal besar itu membuat jarak antara dirinya dengan Melody semakin besar.


“Memang aku harus bagaimana?”


Melody tanya balik.


Melody memang tak paham harus bagaimana mengambil sikap. Yang ia lakukan hanya diam dan tetap menunjukkan ketegarannya agar ibu dan keluarga besar Kazehaya tidak khawatir padanya.


“Maksudku, kau nampak baik-baik saja setelah mendengar isu perselingkuhanku di media. Kita bahkan tidak pernah membahasnya sedikitpun.”


Yudha ingin menyelesaikan ganjalan di hatinya.


Melody kembali menatap Yudha. Yudha akhirnya membuka suara, setelah cukup lama. Kesal juga sih, kenapa tidak sejak dulu Yudha membuka suaranya?


Melodypun lalu ikut jongkok menghadap ke Yudha. “Bukankah kau menyuruhku untuk percaya padamu, Yudha? Kau mengatakannya beberapa kali padaku. Saat beli ponsel barupun kau juga mengatakannya padaku.” Kata Melody.


Yudha ingat, ia memang pernah mengatakannya pada Melody. Ia menyuruh Melody untuk mempercayainya. “Dan kau langsung melakukannya begitu saja?”


"..."


"Aku bahkan kesulitan tidur karenanya. Kerepotan juga menjawab banyak pertanyaan dari orang luar. Daripada aku pusing karenannya, kurasa beberapa hari ini aku teringat dengan permintaanmu untuk mempercayaimu, maka akupun melakukannya."


"..."


"Benar juga, setelah aku memutuskan untuk mempercayaimu, akupun bisa tidur nyenyak.“ Jawab Melody mengakhiri penjelasannya.


Jawaban Melody terdengar sangat enteng. Ia bahkan tersenyum senang saat mengucapkan kata ‘tidur nyenyak.’


Yudha tidak paham!


“Ha? Hanya itu?” Sungguh, Melody jauh di luar nalarnya.


“Iya. Memang apa lagi?” Tanya polos Melody.


Yudha memijat keningnya. Semudah itu Melody mempercayainya?


“Apa Yudha memikirkan sesuatu?”


Tanya Melody karena Yudha terlihat kesulitan.

__ADS_1


“Aku bahkan sampai tidak bisa tidur karena memikirkannya, BAKA! Jika kau sudah mempercayaiku sejak beberapa hari yang lalu, lalu kenapa kau tetap diam saja setelah apa yang terjadi di rumah ibumu?”


Tuuuuuuuuttt..


😖


Pipi Melody langsung memanas. Ia bahkan membalikkan tubuhnya membelakangi Yudha. Ia menutup wajahnya.


“Hei jawab! Jangan berpaling dariku!” Yudha lalu memegang pundak kiri Melody.


"..."


“Saat aku menjemputmu dari rumah ibumu, kau diam saja. Saat di rumah, kau juga diam saja. Saat ibu dan nenek pulang, kau juga diam saja. Bahkan, saat kita tidur bersama di kamar kita, kau juga diam saja! Hampir dua minggu penuh kau mengabaikanku, Melody! Aku tak bisa tidur karena memikirkanmu! Padahal aku sudah menyiapkan diri, jika kau akan marah padaku karena perbuatanku waktu itu.”


Melody tak menyangka jika Yudha memikirkannya sampai seperti itu.


“Habisnya.. kau.. aku..”


“...”


“...”


“Jangan diam saja, Melody! Setidaknya, mengeluhlah padaku apa aku saat itu melakukannya dengan kasar. Apa itu sakit? Apa kau terluka?”


Yudha itu hanya sedang merasa sangat khawatir!


“Yudha cukup! Stop bertanya seperti itu! AKU SANGAT MALU, BAKA!"


Melody menenggelamkan wajahnya bertumpu pada kedua lututnya. Apapun, asal bisa menutupi rasa malunya.


Bayangkan saja, masa ia harus membahas hal seperti itu pada Yudha? Maksudnya, mereka kan sedang ada masalah. Lalu tiba-tiba terjadi hal di luar dugaan, kan sesuatu. Hal di luar dugaan itu sedikit.. rrrrrr.. se..sek..seksi untuk dibahas.


Yudha membalikkan tubuh Melody. Ia mencoba menyingkirkan takupan tangannya Melody, Melody berusaha menolak. Dengan sedikit paksaan, ia berhasil membuat Melody mengalah.


Yudha lalu mengangkat dagu Melody agar Melody menatapnya dengan benar. Astaga, wajah Melody sangat memerah. Melody sungguh-sungguh malu rupanya. Pasti kata-katanya terlalu kelewatan ya?


Mungkin saat ini ia harus memasukkannya ke dalam list jika cewek itu cukup sensitif jika harus membahas hal-hal berbau sex. Lain kali ia akan mengingatnya. Mungkin ia juga harus memilih kata-kata yang tepat saat ingin memicarakan topik seperti itu.


“Ayo kita berbicara banyak setelah ini!”


Kata Yudha.


Melodypun mengangguk menyetujuinya.


Ia ikut tersenyum saat melihat Yudha tersenyum kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2