MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Hati Yang Terluka 1


__ADS_3

Cinta apakah itu cinta?


Pernah mendengar pertanyaan ini? Ah, atau mungkin pernah didengar dalam lantunan sebuah lagu?


Cinta apakah itu cinta?


Bertanya tanpa sengaja


Cinta, berkorban jiwa


Indah harum bermakna


He-he-hee


Ha-ha-haa


Mmm-mm-mm


Ooh, itukah cinta?


Cinta, oh cinta suci


Janganlah kau nodai


Merintis diri sendiri


Menangis di ruang sunyi


Perasaan yang tanpa kabar


Takkan tahu kapan dia datang


Mulianya hati jernihkan pikiran


Siapkan iman kepada Tuhan


Bila kau rindu pikiranmu terganggu


Bila kau dapah siaplah 'tuk berkorban


Cinta yang suci dunia 'kan abadi


Bila terkhianat ingatlah diri


Cinta yang suci dunia 'kan abadi


Bila terkhianat ingatlah diri


Seperti itulah kira-kira lirik dari sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Ipank dengan judul Apkah Itu Cinta. Melodi lagu yang catchy dan mudah diingat, diimbangi lirik yang dalam yang menceritakan sebuah arti dari kata cinta.


Cinta ya?


Apa memang seperti itu?


Sama seperti yang didiskribsikan dalam lagu itu? Bahkan perlu menyiapkan iman kepada Tuhan. Ah, intinya cinta memang menggoda iman.


Cinta, apa itu cinta?


Cinta itu memiliki banyak arti, terserah orang bagaimana mau menilainya. Ada buta, saling melengkapi, membuat bahagia, sakit bahkan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Cinta memang seperti itu.


Lain halnya dengan benci, namun dibedakan garis tipis dengan cinta. Terkadang laki-laki benci dengan salah satu perempuan. Akan mendapat karma—yakni merasakan rasa cinta pada perempuan tersebut. Kekuatan kedua kata itu sangat mengerikan untuk manusia yang memiliki emosi dan perasaan.


Tidak ada yang disalahkan, baik manusia itu membenci ataupun mencintai. Hanya saja akal dan pikiran meluruskan bagaimana sikap bilamana kedua kata itu dialami oleh manusia. Itu disebut kedewasaan dalam bersikap akan yang terbaik untuk diri sendiri maupun orang lain.


Karena manusia hidup antara warna hitam dan putih.


Tidak juga, faktanya ada jutaan warna di dunia ini. Ada banyak pilihan warna yang bisa dipilih. Tak hanya hitam dan putih, tapi ada merah, kuning, biru, hijau, dan ungu. Ada juga warna saleem dan tosca, warna soft dari hasil pertemuan warna primer dan warna sekunder.


Sama halnya pada laki-laki yang memiliki bakat sebagai dokter ini. Kazehaya Alvin. Dirinya memiliki wajah yang awet muda, paras tampan hingga memikat banyak wanita. Banyak yang mencoba mendekatinya. Entah karena tertarik akan paras tampannya atau karena harta yang dimilikinya. Ah, laki-laki tampan dan kaya memang modal besar untuk memikat wanita dan Alvin memiliki semuanya.


Namun...


Laki-laki pemilik senyuman meneduhkan ini hanya mencintai satu perempuan, Melody—dan yang ia cintai telah dimiliki orang lain. Statusnya bukan hanya sebagai kekasih, akan tetapi telah menjadi istri sah dari laki-laki yang seharusnya tak pantas Melody nikahi. Yudha adalah adik seayahnya.


Bagaimana bisa Melody yang merupakan mantan kekasihnya malah menikah dengan Yudha yang merupakan adiknya?


Padahal, selama ini dirinya sudah berusaha sangat keras untuk membuat Melody bahagia. Namun Melody tidak memilihnya. Melody tetap memilih Yudha tak peduli sebesar apa pun pengorbanannya.


Dirinyalah yang menghibur dan banyak memberikan kasih sayang pada wanita itu hingga kembali ceria dan tersenyum kembali. Ia sangat menginginkan wanita itu menjadi milikinya. Namun, sangat disayangkan karena wanita mengandung seorang anak, anak yang mereka bilang hasil cinta mereka.


Akan tetapi perasaan cinta murninya menjadi tambah besar dan ingin melindungi lebih. Alvin mengungkapkan dan menunjukkan rasa cintanya pasa Melody. Namun sayang, sangat disayangkan. Kenyataan tidak memihak laki-laki itu, karena seiring Melody tersebut mengandung anak dari Yudha yang ingin dibencinya—bersamaan pula rasa mencinta tumbuh besae di hati calon ibu itu.


Apakah tidak ada kesempatan untuk memiliki seutuhnya? Tidak ada cara lainkah?


Apa lagi tadi, saat di parkiran mobil ketika sang pujaan hati mengatai cintanya itu sangat menjijikkan.


Alvin tak pernah merasa sehancur ini.


Ia tak masalah berapa pun Melody akan menolak perasaanya, tapi, ketika cinta tulus yang ia berikan dianggap menjijikkan, tidak kah itu sangat menyakitkan? Tidakkah itu membuat frustasi dan sakit yang tak terkira?


"Melody, kenapa? Kenapa kau mengatakan hal sekejam itu pada orang yang sangat menyayangimu? Pada orang yang sangat mencintaimu."


Malam ini sudah pukul satu malam, ponselnya beberapa kali berbunyi. Dilihatnya nama Daisuke di layar ponselnya. Sekretarisnya pasti sangat menghawatirkannya. Ada puluhan sms juga masuk. Namun Alvin tak berniat untuk sekedar membacanya. Ia masih ingin sendiri, berteman dengan tembakau dan minuman keras yang bar sediakan.


"Satu gelas lagi!"


"Anda bisa mabuk, Tuan." Kata pelayan bar.


"Pernah mendengar jika minum akan mengurangi rasa sakitmu? Aku hanya ingin sakit di dada ini menghilang!" Kata Alvin. Ia bahkan memukul-mukul dadanya. "Rasanya sangat sesak!"


Pelayan bar merasa iba, apakah ini sakit karena cinta? Baru putus? Ditolak? Diduakan? Banyak duga-dugaan di dalam otaknya. Ia pun menuangkan kembali minuman kepada pengunjung bar miliknya.

__ADS_1


Teguk demi teguk. Gelas demi gelas. Bahkan koni sudah botol demi botol. Membuat kesadaran Alvin mulai melemah.


"Ketika malam semakin panjang seolah tak mau pagi menyapa. Kapan luka ini akan berakhir? Sakit sekali, Mel! Sakit!"


.


.


.


Mia memukul stir mobilnya berkali-kali. Ia menyusuri dinginnya kota Tokyo yang menyepi.


"Senpai yang bodoh itu kemana sih? Sial! Aku harus mengonfirmasi apa yang aku lihat waktu itu padanya! Bagaimana bisa dia menjadi otak penculikkan Yudha? Ini bohong, kan? ... Alvin-senpai, sebaiknya kau tak membohongiku!" Kata Mia.


Mia yang curiga pada sikap Alvin yang menurutnya tak biasa, diam-diam mengikuti Alvin ke Kyoto. Entah bagaimana caranya atau tidak tahu mengapa, ia bisa selamat tanpa ketahuan mengikuti semua kegiatan Alvin di Kyoto. Dalam pengintaiannya terhadap Alvin, ia menemukan fakta-fakta mengejutkan. Salah satunya jika Alvin tahu Yudha ada dimana.


Melody terus menangis saat menelponnya karena Yudha menghilang. Hal ini membuatnya berasumsi jika Alvin terlibat dalam hilangnya Yudha.


Apa Mia tahu dimana lokasi Yudha disebunyikan? Jawabannya tentu saja ia tahu. Bagaimana ia tahu padahal Yudha disembunyikan dalam sebuah ruangan?


Ah, kebetulan atau apa. Mia menyusup pada tukang bersih-bersih panggilan untuk membersihkan kediaman itu yang waktu itu salah satu pekerjanya tiba-tiba kecelakaan jadi tidak bisa membantu. Mengaku tak punya uang untuk kembali ke Tokyo, ia pun mau kerja part time dengan gaji berapapun. Merasa kekurangan pegawai, bos tukang bersih-bersih panggilan itu pun menerimanya. Inilah cara ia masuk ke rumah tradisional super besar yang banyak penjaga itu.


Tuhan sangat menolongnya saat itu.


"Alvin-senpai kau dimana sih? Sangat susah menemuimu akhir-akhir ini." Gumam Mia.


Ia mendatangi Emperor Group, tapi tak bertemu Alvin. I menghubungi Alvin lwat telepon, sms, e-mail, juga tak ada yang dibalas. Biasanya ia dan Alvin akan makan siang bersama, tapi dua pekan ke belakang sangat jarang, bahkan sudah seminggu tak pernah lagi. Saat ia mendatangi hotel tempat pesta hasil curi dengar pun ia tak bisa masuk karena tidak memiliki undangannya.


Mia memutuskan untuk menunggu Alvin di parkiran mobil milik Alvin agar bisa bertemu dengan laki-laki yang disukainya sejak lama ini. Karena hal ini pula, ia melihat dengan kepalanya sendiri bagaimana Alvin ditampar keras oleh Melody. Suara teriakan Melody juga bisa ia dengar.


"Kini Melody saja sudah tahu jika kau ini adalah dalang dibalik penculikkan Yudha. Apa yang akan kau lakukan, Alvin-senpai? Kau mrnyakiti hatinya dengan ulah bodohmu itu! Jika sudah begini, kau akan sulit mendapatkan maaf darinya! Mungkin malah tak termaafkan!"


Setelah insiden penamparan itu, Mia melihat Alvin kembali ke gedung hotel dan dua jam tak ada Alvin kembali kelura, masuk mobil, dan tancap gas dengan cepatnya.


Lalu di sinilah Mia, mencoba mengikuti Alvin namun kehilangan jejak karena betapa cepatnya Alvin mengendarai mobilnya.


"Alvin-senpai.."


Akhirnya Mia melihat mobil milik Alvin parkir di salah satu bar. Ia pun belok dan mampir ke bar itu. Ini sudah setengah jam dari kehilangan jejak Alvin.


Di dalam bar, Mia melihat Alvin sedang minum dan merokok. Ia tak berniat menghentikan apa yang sedang Alvin lakukan. Ia tahu saat ini Alvin pasti sedang sangat buruk. Mendapatkan tatapan kebencian yang amat besar dari Melody pasti menghancurkan hati Alvin. Ia pun memilih untuk duduk tak jauh dari Alvin dan sedikit ikut minum.


Mengawasi Alvin yang ingin sendiri.


"Cinta yang tak terbalas." Gumamnya.


.


.


.


Sungguh ku menyayang mu.


Dengan sepenuh hatiku.


Walau kau tak menyayang ku.


Walau kau tak mencintaiku.


Hargai perasaan ku.


Mungkin kau tak akan pernah membalas perasaanku dan cintaku.


Cinta ini tak terbalas olehmu.


Tak akan pernah terbalas.


Jangan kau rendahkan aku.


Hargailah selalu.


Takkan pernah terindah


Takkan pernah terabaikan kau hancurkan diriku


Kini pun kau tlah pergi


Menjauhi diriku untuk selama-lamanya


Takkan pernah terindah


Takkan pernah terabaikan


Kau hancurkan diriku


Walau kau tak pernah mengerti


Akan arti cinta ini di hatiku


Rasa ini yang tertinggal


Selamanya memberikan luka pada hatiku


Jangan kau biarkan diriku menderita selalu


Alvin lagi-lagi menenggak minuman berakhohol miliknya.


"Meski rasanya sangat menyakitkan, tapi aku tetap mencintaimu, Mel! Sangat mencintaimu. Sampai gila, sampai tidak tahu harus bagaimana." Kata Alvin. Ia memandangi foto Melody berkuran 4x6 yang selalu ia bawa di dalam saku kemejanya.


Alvin terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah. Ia lalu mengusap bibirnya. Ia sadar sudah berlebihan dalam minum minuman yang tak seharusnya pemuja kesehatan seperti dirinya lakukan.

__ADS_1


Tak tahan melihat Alvin yang sangat menyedihkan, Mia pun datang mendekat dan merebut gelas minuman yang ingin Alvin minum.


"Hentikan! Yamette kudasai!" Kata Mia tegas.


"..." Alvin menoleh ke arah gadis yang mengganggu acara minumnya.


"Kau mau sampai kapan seperti ini? Minum lagi? Senpai, kau ingin mati?"


"..."


"Kau sampai muntah darah! Kau akan mati jika terus minum!"


"Pulanglah, ini bukan urusanmu!"


"Senpai! Ini bukan urusanku, tapi aku tak bisa membiarkanmu menghancurkan hidupmu seperti ini!"


Wanita ayu yang pernah merupakan adik kelas Alvin sewaktu sekolah menengah ini melihat kondisi seniornya sangat memprihatinkan. Mia memutar bola matanya memperhatikan setiap inchi wajah milik Alvin.


Wajah sendu yang penuh luka. Seperti kucing yang dicampakkan.


Ini gara-gara wanita bernama Kazehaya Melody!


Kasarkah ia menyebut seperti ini? Tentu saja kasar, pasalnya Melody punya hak untuk menerima atau tidak perasaan Alvin dan Melody memilih untuk menolak.


Yang salah di sini bagaimana diri tidak bisa berpikir logis dengan apa yang disebut oleh nasib.


Alvin telah terbutakan oleh cinta. Alvin tidak bisa memahami kalau wanita yang ia cintai sudah menikah dan akan segera memiliki anak. Sudah terlampau jauh, kakaknya untuk mencapainya.


Melody sang pujaan hati pun sudah jatuh hati pada suaminya.


Melody bukan Melody yang dulu yang bebas tanpa pemilik. Alvin tak lagi bis berjuang seperti dulu lagi.


Namun Alvin terus saja ngeyel meski akhirnya terluka akibat ulahnya sendiri. Sifat keras kepalanya Alvin ini menjadi hambatan untuk berhenti mengejar wanita itu.


Mia sudah tahu sejak lama kalau Melody—wanita yang dicintai Alvin ini telah memiliki rasa yang sama dengan suaminya. Melody dan Yudha saling mencintai satu dengan yang lainnya. Cinta mereka sangat besar. Sulit tergoyahkan.


Mia menggelengkan kepalanya. Sudah tak ada harapan untuk Alvin. Mohon untuk menyerah saja sebelum lukanya menjadi lubang yang sangat besar dan tak tersembuhkan.


"Alvin-senpai! Kau mendengarku?"


Mata sayu milik Alvin menatap sahabat dekat Melody, Mia, dengan tatapan dingin dan seakan mengusirnya pergi dari hadapannya.


Peka terhadap tatapan Alvin itu, bukan malah membuat Mia menjauh dan pulang, ia malah mendekati Alvin.


"Apa maumu, Mia?"


Tanya Alvin


Mia tersenyum meremehkan. "Menginginkanmu mati."


Jawab Mia.


"Kau tak akan pernah serius dengan menginginkanku mati. Katakan apa maumu, Mia?"


"Kalau menginginkan kau berhenti mengharapkan Melody. Bagaimana menurutmu?" Kata Mia.


Alvin menatap berlawanan dengan Mia. "Aku tidak bisa berhenti… sebelum ia menjadi milikku."


Plaaak..


Satu tamparan di sisi kanan wajah Alvin membuat laki-laki itu melebarkan matanya. Seketika mata hazel menatap tajam pada adik bungsunya tersebut. "Maumu apa; hah?" desisnya marah.


Hari ini ia dua kali ditampar oleh wanita. Tamparan Mia memang tak sesakit tamparan dari Melody, tapi tetap saja, kan? Kenapa Mia harus menampar dirinya?


"Berhenti mengejar Melody, Senpai!"


Pinta Mia lamtang


"Siapa kau? Apa hakmu melarangku untuk berhenti! Aku mau mencintai Melody selama yang aku mau itu terserah diriku dan tak ada hubungannya denganmu!"


Kata Alvin.


"Aku ini.. temanmu!" Mia tak berani mengatakan jika dirinya adalah orang yang sangat mencintai Alvin. Saat ini sedang tidak tepat waktunya untuk mengatakan perasaan yang sehenarnya. "Aku menginginkan kau kembali seperti dulu! Seperti kau mengenal Melody dan aku layaknya teman yang saling berbagi canda dan tawa. Tak ada perasaan yang dalam romantis yang mengibah bagaimana cara pandang kita... Aku mohon, Senpai! Kembalilah seperti dulu lagi! Jangan bersikap bodoh seperti ini!" Satu tarikan napas emosi yang dikeluarkan oleh seorang Mia.


Mata sensu Alvin terbelalak ketika foto yang ia dipegang, direbut oleh Mia. Kemudian Mia merobek foto Melody itu dan membuanya ke lantai hingga berserakan di bawah potongan fotonya.


"Apa yang kau lakukan pada foto milikku, Mia? Kenapa kau menyobeknya? Itu foto Melody-wanita yang sangat aku cintai!"


Alvin mara tak terima akan perlakukan Mia terhadapnya.


Mia kembali memberikan tatapan dingin pada Alvin. "Aku tahu kalau cinta itu menyakitkan. Maka itu, relakan cintamu itu pada orang lain!"


"Tidak! Kau tidak berhak melarangku untuk berhenti!"


"Mau aku tampar wajahmu berapa kali lagi agar bisa membuatmu sadar, hah?"


Alvin berdecih. "Kalau aku merelakannya. Maka laki-laki brengsek itu akan tertawa bahagia melihat kekalahanku." Ia tertawa miris.


"Alvin-senpai! Orang yang kau ketahui brengsek itu adalah adikmu sendiri! Kau meragukan cinta adikmu pada Melody? Jauh sebelum kau mengenal Melody, kau sudah mengerti dan memahami bagaimana Yudha itu. Kau sangat mengenali Yudha. Dia selalu uring-uringan ketika jauh dari Melody. Mau tahu kenapa adikmu ini seperti itu?" Mia memegang kedua pundak Alvi hingga mata mereka berhadapan.


"..." Alvin diam menatap Mia.


"Karena adikmu tulus mencintai Melody! Cintanya pada Melody itu murni dan didukung kehendak Tuhan. Jadi jangan seenaknya menilai Yudha itu brengsek. Manusia itu berubah. Yudha dan Melody mengalami fase pendewasaan dalam hidup mereka hingga sampai ke tahap ini... Lalu kau kapan? Kapan kau akan berubah? Apa kau berniat stuck di tempat? Kalau kau tidak berubah—berarti kau bukan lagi manusia! Kau mengerikan, Senpai! Kau seperti monster yang dibutakan oleh cintamu yang begitu egois!"


Kata Mia.


Lalu Mia melepaskan pegangannya pada pundak Alvin. Ia menjauh dan beranjak meninggalkan Alvin dengan kondisi sang pujaan hati yang labil akan cinta.


"Hanya kau… Hanya karena itu kau Senpai, aku tega mengatakan semua kata kasar ini. Aku ingin menyadarkanmu akan kenyataan yang tak memihakmu. Aku sudah lelah melihatmu kehilangan jati dirimu karena membuta dalam mencintai Melody.


Aku tahu ini berat, tapo terimalah dan hadapilah kenyataan ini! Cinta tak terbalas itu sama menyakitkannya dengan cinta bertepuk sebelah tagan. Namun, cinta itu bukan sesuatu hal yang bisa dikekang oleh ego. Saat ego menguasaimu, saat itu cinta pergi darimu." Batin Mia. Ia memegangi dadanya yang sakit. Nasibnya mencintai Alvin juga tak berakhir bahagia.

__ADS_1


Tak berlangsung lama suara gaduh terdengar di telinganya. Mia berbalik dan matanya melihat Alvin yang pingsan.


"Alvin-senpai?"


__ADS_2