
Belakang kediaman Kazehaya..
Melody memainkan ponselnya yang rupanya Yudha kembalikan semalam. Sejujurnya ia tak menyangka jika Yudha akan mengembalikan ponselnya. Ia bahkan sudah mengikhlaskannya. Semenjak Yudha menyita ponselnya, ia menjadi terbiasa tanpa ponsel.
Ia mengabari Mia jika hari ini ia akan datang ke Miyagi.
"Kau sungguh akan datang hari ini?" Tanya Mia.
"Hn. Aku sudah membaik."
"Apa yang terjadi sih, Mel? Kau tahu betapa gilanya aku dua minggu tak bisa menghubungimu? Aku tanya Alvin-senpai, tapi dia tidak menjawabnya dengan jelas. Dia bilang kau sakit, tidak mungkin kalau hanya sakit aku sampai tak bisa mendengar kabarmu."
Melody terkekeh. Sahabatnya pasti uring-uringan karena menghawatirkannya.
"Malah tertawa. Itu tidak lucu!"
"Maaf, lalu kenapa kau tak coba bertanya pada Yudha? Kau kan memiliki nomornya."
Mia bergidik ngeri. "Bertanya sama Yudha itu seram, Mel!"
"Haha, benar, dia memang menyeramkan."
"Kau.. Kau tidak bertengkar lagi dengannya, kan?"
"..." Melody terdiam.
"Jangan bilang yang waktu itu belum baikkan?"
"Emm."
"Demi apa, aku ingin memukul Yudha dengan tongkat kasti!"
"Kau berani?"
"*K*alau ada yang menyakitimu, aku akan membuang takutku!"
Melody tertawa sambil menangis. Mia adalah sahabat terbaiknya. "Mia, terima kasih banyak."
"Kau tahu, aku ada di pihakmu! Cepatlah ke sini, ibu hamil menderita itu tidak baik!"
"Iya."
"Aku menunggumu!"
"Hn. Bye, matta ne."
"Jaa matta.."
Matta ne/ Jaa matta: Sampai nanti.
Melody mengakhiri komunikasinya dengan Mia. Setelah berbicara dengan Mia, ia menjadi sangat lega. Paling baik memang mencoba sharing masalah pada orang yang paling dipercaya.
“Melody, kau tidak apa-apa?” Tanya Alvin yang rupanya pulang dari RS karena mengambil tesis pasiennya yang tertinggal.
Itu alasan lain sebebarnya. Alasan utamanya, ia hanya begitu khawatir dengan kesehatan Melody mengingat, tadi ia tak sengaja mencuri dengar pertengkaran Melody, Yudha, dan Yura di lorong rumah sakit.
“Aku baik-baik saja, Senpai. Oh iya, kau sudah makan?” Tanya Melody. Ia tidak ingin membuat Alvin khawatir dengannya.
“Sudah tadi di katin rumah sakit.” Jawab Alvin. “Maaf, tadi aku tak sengaja mendengar obrolanmu dengan Mia, kau sungguh ingin ke Miyagi hari ini?”
“Iya, aku harus cepat.”
“Yudha yang akan mengantarmu?”
“Hmm, sepertinya tidak mungkin. Nanti temannya marah, aku bisa naik kreta atau bus. Tapi, dengan Shuhei-san sepertinya lebih memungkinkan. Aku tak mau berurusan dengan singa menyebalkan itu.”
“Bolehkah aku yang mengantarmu? Sendirian itu berbahaya, apa lagi kau sedang hamil. Di tambah sedang turun salju.”
Tawar Alvin.
“Haha, apanya yang sendirian, aku ini selalu bertiga dengan anak-anakku.”
__ADS_1
“Haha. Benar juga.”
Kenapa ia jadi kikuk begini? Alvin juga tak mengerti. Yang ia tahu, Melody sedang mengandung anaknya Yudha. Yang mana, janin-janin mungil itu akan menjadi keponakannya di masa depan.
“Jadi, apa kau setuju jika aku yang mengantarmu ke Miyagi?”
Tanya Alvin.
"..."
“Aku tidak mengizinkan seseorang mengantar Melody ke Miyagi!” Kata Yudha yng tiba-tiba menyela pembicaraan mereka.
Melody bangkit dari duduknya. “Senpai, terima kasih atas tawarannya, aku bisa ke Miyagi sendiri, Senpai kan memiliki banyak pasien yang membutuhkan tenagamu. Aku akan baik-baik saja. Sampai jumpa bulan depan!” Kata Melody.
"Sampai jumpa. Hati-hati di jalan!" Kata Alvin.
"Iya, aku akan berhati-hati!"
Melody pergi menuju kamarnya dan mengabaikan Yudha.
Sepeninggal Melody, kini berdirilah dua orang laki-laki seayah yang saling melempar tatapan tajam.
“Terima kasih sudah menghawatirkan istriku, tapi aku masih bisa mengurusinya sendiri.” Kata Yudha dingin.
“Jika kau becus mengurusinya harusnya dia bisa lebih bahagia dari saat dia bersamaku dulu!” Kata Alvin, ia bahkan meninggikan suaranya.
Dulu?
Bersama Alvin dulu?
Melody dan Alvin?
Dulu?
Punya hubungan macam apa mereka berdua?
“Apa maksudmu, hah?” Tanya Yudha.
“Kau tidak tahu seberapa berharganya senyumannya, kau bilang bisa mengurusinya? Yang benar saja, Yudha! Kau tidak tahu apa-apa soal dirinya!”
“Aku sangat tahu soal dirinya, hubungan kami sangat indah sampai sebelum kau datang!” Kata Alvin.
Alvin 'menabrakkan diri' ke bahu kanan Yudha, lalu meninggalkan Yudha untuk kembali ke rumah sakit. Tak lupa ia juga mengirim pesan pada Melody untuk tetap menjaga diri dan jangan stress. Ia juga menyuruh Melody jangan pergi ke Miyagi dulu.
"Apa yang tak aku ketahui dari hubungan mereka di masa lalu?" Yuda mengepalkan tangannya.
Yudha yang kesal karena baru pertama kalinya berdebat serius dengan Alvin langsung menuju kamar untuk mencari Melody.
Banyak unek-unek di kepalanya yang membuatnya berasa pusing. Hubungan Melody dan Alvin di masa lalu. Seperti apakah itu? Kenapa hanya memikirkannya saja membuatnya sangat kesal? Marah? Emosinya juga meledak-ledak?
BRAAAKKK.
“Bisa tidak pelan-pelan saat membuka pintu? Kupingku sakit!” kata Melody kesal karena kaget setengah mati mendengar suara gebrakan pintu dari Yudha.
Yudha itu terlalu sering membuat jantungnya mencolos tak karuan.
“Kau mengenal Alvin selain sebagai senior di masa lalu?”
“...”
“Kalian berteman baik?”
“...”
“Kalian memiliki hubungan yang lebih jauh dari itu?”
“...”
“Apa Alvin pernah menjalin hubungan denganmu?”
“...”
__ADS_1
“...”
“...”
“JAWAB MELODY!”
"Apaan sih? Tak perlu teriak-teriak! Kau mengganggu ketenanganku!"
"JANGAN MENGALIHKAN PEMBICARAAN!"
"..."
"APA ALVIN DULU KEKASIHMU?"
"..." Apa ini saatnya harus membongkar cerita lama pada Yudha?
"JAWAB! JANGAN PURA-PURA TULI! JAWAB, MEL!" Yudha menjadi tidak sabaran. Ia ingin tahu kebenarannya dari mulut Melody.
“IYA, ALVIN-SENPAI ADALAH MANTAN KEKASIHKU! MASALAH BUATMU?”
Pengakuan Melody dengan lantang.
Ia ikutan emosional karena Yudha berbicara keras padanya.
“KENAPA KAU TAK BILANG SEBELUMNYA?”
“MEMANG PENTING BUATMU?”
“MELODY!”
“APA?”
“KAU MERAHASIAKAN INI DARIKU?”
Merahasiakannya?
Tidak!
“KAU SENDIRI TIDAK TANYA, ITU SALAHMU!!”
“...”
Benar juga, Yudha awalnya memang tidak tertarik sama sekali soal kehidupan pribadi Melody. Tapi ia sungguh tak menyangka jika Melody memiliki hubungan spesial dengan Alvin yang notabene adalah kakaknya sendiri.
Melody dan Yudha pernah berpacaran di masa lalu. Melody saat ini adalah istrinya dan Alvin adalah kakak seayahnya.
Istri dan kakak ipar pernah menjalin kisah asmara?
“Aku tidak mengerti dirimu, Yudha. Kenapa kau begitu marah mendengar fakta ini? Bukan kah kau juga memiliki kehidupan pribadi yang tak ingin kau bagi denganku?”
Kata Melody. "Aku bahkan tidak tanya bagaimana hubunganmu dengan si model gagal gila itu!" Lanjutnya.
Masa bodoh dengat adat kesopanan itu. Melody sudah lelah.
“DENGAR MELODY, MULAI HARI INI AKU TIDAK MENGIZINKANMU BERBICARA DENGAN ALVIN!”
Yudha maunya apa sih?
“HAH? ALASAN TIDAK MASUK AKAL APA LAGI YANG AKAN KAU GUNAKAN UNTUK MEMENJARAKAN HAKKU? TUAN KAZEHAYA! ANDA MEMANG SUAMI SAH SAYA TAPI SAYA PEMILIK MUTLAK KEHIDUPAN SAYA!” Bahasa tersopan Melody ia jadikan senjata pamungkas.
Memang sebaiknya menjadi sopan, lihatlah, Yudha bisa terdiam membisu seperti patung setelah mendengar penuturannya!
Melody mengambil tas bajunya dan meninggalkan Yudha. Ia menuju parkiran mobil.
Yudha mengikutinya dari belakang berusaha untuk menghentikan langkah Melody.
"MELODY, BERHENTI!"
________________________________________
Maaf kalau ada yang tak nyaman dengan huruf balok. Percayalah, aku hanya berharap kalian bisa merasakan feel amarah dan emosionalnya.
__ADS_1
Kapan mereka bahagia masih jadi hot topik novel ini. 😎 Ada proses untuk ke sana. Sabar ya. Aku tidak mau tiba-tiba langsung baikkan karena aku butuh progress pendewasaan dari setiap karakter. Dan tentu saja untuk menjawab alasan-alasan, misteri-misteri yang belum keungkap juga.
Masa indah itu ada, aku sedang memikirkan bumbu kisah yang sangat manis. Like, komen, share, and vote ya. I love you guys, kaluan hebat 😍😍