MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Pesta 10: Sapaan Dua Pemimpin


__ADS_3

Pesta masih berlansung. Semakin malam, semakin ramai karena tamu besar mulai datang silih berganti.


Memakai tuxedo putih dasi merah, Uchiyama Azumane datang bersama sang istri yang sangat cantik beraura mawar merah, Uchiyama Kurenai. Dengan balutan gaun V line cukup terbuka, menambah kesan kecantikannya yang tak lekang oleh usia. Gaun merah maroon yang membuat mata yang melihatnya terpana untuk beberapa saat.


"Aku kira ibu dan ayah Azumane tidak datang." Kata Alvin.


Kurenai merapikan jas milik putranya. "Bicara apa kau ini, Sayang? Tentulah kami akan datang. Ini adalah hari yang penting bagi adikmu itu. Akan tidak sopan jika kami tidak datang, kan? Kita harus menunjukkan hubungan yang baik dengan Yudha dan keluarganya meski dunia tahu jika dua cucu keluarga Emperor Group itu sedang berseteru." Kata Kurenai.


Kenapa harus berpura-pura sok baik? Demi imej perusahaan tentunya. Dunia melihat sesuatu itu dari cover depannya yang utama. Mengenaskan bukan? Ya inilah dunia dimana semua bisa terkena sihir tipu daya.


"Alvin..." Panggil Azumane.


"Ya, Ayah Azumane?"


"Kau melihat pamanmu? Orion." Tanya Azumane.


"Sama sekali belum melihatnya semenjak aku masuk ke dalam aula pesta ini. Apa perlu aku mencarinya?" Jawab Alvin.


"Wah.. wah.. wah.. Pemegang saham 5% Emperor Group yang baru sudah datang rupanya." Kata Orion yang tiba-tiba datang dari arah samping. "Kau mencariku?" Lanjutnya.

__ADS_1


"Sepertinya kau hutang penjelasan untuk apa yang terjadi di wilayah Kyoto beberapa saat yang lalu, wahai pemimpin Yakuza Fajar Keemasan!" Kata Azumane.


"Ahh, aku tak sengaja masuk ke dalam sarangnya Macan Selatan. Maaf untuk ketidak-sengajaan kami. Matahari pagi memang selalu menerangi bumi Jepang untuk yang pertama kalinya." Orion membalas ucapan Azumane.


"Jepang memang negeri matahari terbit. Namun bukan berarti kau bisa menerapkan julukkan itu ke dalam persaingan yakuza yang kita pimpin. Fajar Keemasan tetaplah penguasa utara Jepang dan Macan Selatan akan tetap berada di Jepang selatan. Itu adalah perjanjian kita sejak dulu! Hormati saja semua yang sudah ada agar hidupmu damai sampai di pemakamanmu!" Kata Azumane sarkastik.


"Jika kata-kata peringatan itu keluar langsung dari mulut pemimpinnya memang beda feelnya. Lebih bisa masuk ke tulang dan membuat bulu kuduk berdiri. Haruskah aku bersembunyi di dalam selimutku?" Orion lebih suka bercanda.


"Di depan sok pengecut, tapi diam-diam bermain di wilayahku. Sangat kau sekali, Orion. Ah.. jadi ingat masa lalu. Kau tidak melupakannya, kan? Waktu itu.. saat bulan purnama bersinar dengan sangat cantiknya." Azumane mengintimidasi.


"Tragedi Bulan Purnama Berdarah itu ya..." Gumam Orion.


Alvin menyadari ada yang lain dari ibunya. Kenapa sampai sebegitunya? Apakah saat ini sang ibu sedang ketakutan? Bukankah percakapan ayah tirinya dan sang paman itu cukup wajar karena momen langka dua pimpinan yakuza penguasa bumi Jepang ini sedang berjumpa? Ini bukan saat yang biasa memang. Sangat jarang bisa menyaksikan moment seperti ini. Jika ini di lapangan? Entah berapa jiwa yang akan mati karena saling adu kekuatan.


Mati?


Setiap harinya, lebih dari satu anggota yakuza pasti ada yang mati. Entah karena adu kekuatan dengan musuh atau mati karena bunuh diri. Kadang juga dibunuh sesama anggotanya sendiri karena berusaha keluar dari perkumpulan yakuza. Jika sudah menjadi anggota memang sulit untuk keluar.


"Bulan yang indah, bulat sempurna, begitu terang. Namun sayang, sangat disayangkan, darah yang mengucur malam itu sangatlah banyak." Azumane masih tak bosan untuk mengintimidasi.

__ADS_1


"Darah yang banyak? Sayang sekali Tuan Macan Selatan, darah itu tak cukup untuk mengecat bulan menjadi merah seutuhnya." Kata Orion.


Kurenai semakin erat mencengkram tangan Alvin. Alvin tahu sang ibu tak menyukai pembicaraan seperti ini. Ia harus menyudai omongan ayah tiri dan pamannya ini.


"Apa yang sedang kalian bahas itu tidaklah penting! Masa lalu sudah berlalu. Kita hidup hari ini, besok, lusa, dan untuk masa yang akan datang." Sela Alvin.


Mendengar Alvin angkat bicara justru membuat Azumane dan Orion tertawa.


"Kau anak yang lugu dan polos, Vin! Ayah menyayangimu meski tak ada ikatan darah di antara kita!" Kata Azumane.


"Keponakanku sebaiknya kau hiduplah seperti itu! Hidup untuk masa depanmu tanpa harus memikirkan apa yang terjadi di masa lalu. Karena saat kau terlalu terbayang dengan masa lalu, maka kau akan sulit berkembang. Kau mungkin juga akan takut untuk melangkah ke depan nantinya, kan Kurenai-san?" Kata Orion. Ia menatap Kurenai yang sedang nampak tegang di samping Alvin.


Alvin membalas menggenggam tangan ibunya. Ia yakin ada sesuatu yang terjadi antara ibunya, ayah tirinya, dan pamannya di masa lalu yang berhubungan dengan kisah Bulan Purnama Berdarah.


"Ya-ya.." Bahkan Kurenai sampai gagap hanya sekedar untuk menjawab perkataan dari Orion.


"Apa yang terjadi di masa lalu? Apakah semua kisah di masa lalu sudah cukup dengan kematian ayah? Apakah ada hal lain yang tersembunyi dari kisah masa lalu itu? Kisah yang tak aku ketahui sampai saat ini. Aku sudah tahu masa lalu ibu sebagai wanita penghibur dan aku menerima masa lalu ibu dengan kelapangan dadaku. Kau tahu, sebagai anak, aku tak bisa memilih siapa orang tuaku. Aku tak bisa memilih dengan siapa aku harus dilahirkan... Yang selama ini aku lakukan hanyalah memilih untuk cukup tahu saja tanpa ada niat untuk bertanya lebih pada ibu. Aku takut ini melukai hatinya. Masa lalunya pasti tak ingin dia ingat. Sebagai anak, aku mencoba menghormati keinginan ibuku. Aku juga ingin menjaga perasaannya agar tak berlarut-larut dalam kesedihan. Matanya sangat sembab ketika ia mengingat tentang ayah dan masa lalunya. Aku tidak tega melihatnya seperti itu. Namun, dua orang dewasa yang usianya sepantara dengan ayah ini seolah memancing diriku untu mengorek apa yang terjadi di masa lalu... Tragedi Bulan Purnama Berdarah ya? Apa itu ada hubungannya dengan masa lalu ibu? Apa ayah juga terlibat di dalamnya? Tunggu... Kapan ayah meninggal? Dimana ayah meninggal? Bagaimana cara ayah meninggal? Apa yang sudah aku lewatkan? Kenapa aku tak tahu apa-apa? Hei, apa aku sudah cukup puas hanya dengan mengetahui jika ayahku meninggal karena kecelakaan belasan tahun silam?" Alvin mulai bergelok dengan batinnya.


Perasaan ini memaksanya untuk berpikir dan berpikir lebih jauh lagi. Semua pasti tidak sesederhana yang ia kira. Masa lalu memanglah masa lalu. Namun jika masa lalu menyisakan tanda tanya besar, maka berat rasanya jika belum juga mendapatkan jawaban. Sungguh tak nyaman rasanya. Seperti ada yang mengganjal. Membuat sesak.

__ADS_1


Alvin menatap ibunya. "Ibu, apa yang kau sembunyikan dariku? Apa kau tak berniat menceritakannya kepadaku? Apa itu sungguh membuatmu tak nyaman? Membuatmu sedih? Ataukah justru membuatmu... takut? Ah, tak mungkin kau takut jika masa lalu itu bukan suatu kesalahan, kan? Wahai ibu, jika aku mencari tahu sendiri apa yang terjadi di masa lalu, apa aku akan menemukan jawabannya? Jika aku menemukan jawabannya, apa aku akan merasakan hal yang sama seperti yang ibu rasakan saat ini? ... Tragedi Bulan Purnama Berdarah ya?" Alvin kembali bergelut dengan kemelut pikirannya yang dipenuhi tanda tanya besar.


__ADS_2