
Masih di balkon hotel, Melody dan Yura membahas banyak hal. Sepertinya energi mereka sama, mereka dapat dengan mudah membaur dan bercengkrama. Kecanggunan itu tentulah masih ada. Namun, entah bagaimana suasana menjadi lebih baik, lebih positif, lebih mudah diikuti.
Hanya dengan sedikit menurunkan ego dan berbicara tanpa menarik otot, bisa tercipta suasana yang nyaman seperti ini. Suasana yang jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Kenali dulu baru menilai, apa ini konsep yang tepat untuk menilai saat seperti ini? Bisa jadi
Yura mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Ia lalu memberikannya kepada Melody.
“Ini?” Kaget Melody ketika ia menerima sebuah benda kotak di genggaman tangannya.
“Ya, itu adalah ponsel milikmu yang hilang sewaktu liburan di Okinawa musim panas tahun lalu.” Kata Yura.
“Ke-kenapa ada di tanganmu, Amamiya-san?” Tanya Melody. Ia mengamati ponsel berwarna putih itu. Itu memang milikknya.
“Jika aku bilang, aku tidak mencurinya, apa kau akan percaya kepadaku?” Tanya Yura.
Melody menatap Yura. Ada sorot kejujuran di sana. “Ya, aku akan mempercayaimu.” Jawab Melody.
Yura tersenyum. “Kau bahkan jauh lebih baik daripada Yudha karena Yudha menuduhku mencurinya.”
“Jika kau tak mencurinya, lalu apa yang sebenarnya terjadi? Kau ingin menceritakannya kepadaku? Aku sungguh tak ingin ada kesalah pahaman lagi di antara kita, Amamiya-san.” Kata Melody.
“Kau ingat sewaktu kita ke festival musim panas? Bazar siang itu..” Tanya Yura.
“Ya aku mengingatnya. Kita pergi bersama waktu itu. Ada Mia dan Ayumi juga.” Tentulah Melody mengingatnya. Hari dimana ia tersesat dan ketakutan setengah mati.
Beruntung ada Alvin yang menolongnya. Jika Alvin tidak menemukannya malam itu, entahlah, ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya.
“Di sana banyak stand penjual asesoris. Kita melihat barang-barang di sana. Kau selalu memegang ponselmu karena tas kecilmu tak terlalu muat untuk ponsel seukuran 6 inchi milikmu itu. Itu yang aku lihat awalnya. Kau ingat ketika kau ingin pergi ke stand pembuatan gelang?” Kata Yura.
“Ya, aku mengingatnya. Aku pergi ke sana untuk membuat gelang dari benang kuil.”
“Mungkin saat itulah kau lupa meninggalkan ponselmu. Saat aku sudah pergi, seorang penjual gantungan kunci memanggilku dan memintaku untuk memberikan ponsel ini kepadamu. Penjual gantungan kunci itu melihat kita bersama, jadi dia pikir, aku dan dirimu saling mengenal. Akupun menerima ponselmu dan membawanya. Ketika aku ingin memberikannya kepadamu, kau sudah tidak ada. Karena kupikir Ayumi dan Mia mengikutimu, makanya aku memutuskan untuk kembaIi kke hotel saja.” Jelas Yura.
“Ayumi dan Mia aku suruh pulang duluan karena membuat gelang itu akan butuh waktu yang lama. Aku harus belajar menganyam dahulu pada penjualnya. Aku tak enak jika mereka harus menungguku.” Kata Melody.
“Ternyata Ayumi dan Mia tidak kembali bersamamu. Aku ditelpon Yudha malam-malam. Suaranya terdengar sangat khawatir karena kau tak kunjung jua kembali. Aku pikir, itu sangat menyenangkan bisa membuat Yudha seperti itu. Akupun memilih sedikit lama menyimpan ponselmu. Aku ingin tahu sejauh mana Yudha peduli terhadapmu.”
“Ahh.. aku tak tahu bagaimana harus menyikapinya. Gomenasai.” Melody menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Namun, Yudha itu sangat peduli terhadapmu. Berulang kali aku mencoba untuk mendapatkan segala perhatiannya, tapi dia tetap mencarimu. Bahkan saat di festival kembang api musim panaspun, meski aku berhasil membuat kalian marahan, Yudha memang bersamaku malam itu, tapi dia selalu melihatmu. Melihatmu yang tertawa riang dengan Alvin. Aku melihat tatapan kesalnya.” Lanjut jelas Yura.
__ADS_1
“Ja-jadi Yudha melihatku di festival kembang api itu? Jadi Yudha mencariku juga? Aku pikir dia tak masuk akal melarangku melihat festival kembang api itu. Ahh, seperti itu ya..” Kata Melody. Ia tersenyum senang. Yudha memang mencintainya sejak awal.
Jika mereka saling terbuka, saling bicara, pastilah malam festival itu lebih indah dari sekedar melihat kembang api.
Eh, bukannya sangat indah ya?
Itu malam pertama ia bercinta dengan Yudha!
Itu adalah malam dimana ia sah lahir dan batin menjadi istri Yudha!
Itu malam dimana ia melepas keperawanannya kepada Yudha!
Itu malam paling bersejarah dalam hidupnya dan juga dalam pernikahannya dengan Yudha.
Malam yang tak akan pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya.
Malam yang manis dan juga menyakitkan.
“Maaf, maaf karena aku kalian menjadi sering bertengkar.” Kata Yura.
“Aku sudah memaafkanmu, Amamiya-san. Terima kasih sudah merawat ponselku!” Kata Melody. Ia tersenyum bahagia.
“A-amamiya-san?” Melody melebarkan kedua matanya karena ini pertama kalinya ia mendengar sosok seorang Yura yang terkesan anggun bisa berteriak seperti ini.
“Aku bersyukur bisa berbicara seperti ini kepadamu, Melody-san. Rasanya aku menjadi lebih bisa bernafas lega. Rupanya meski sudah rusak, tapi masih bisa diperbaiki. Aku mempercayai hal itu saat ini. Aku sendiri yang menjadi testimoninya.” Kata Yura.
“Setiap pendosa, masih memiliki jatah syurga untuknya. Tuhan itu akan selalu memaafkan hambanya yang memohon pengampunan. Tidak peduli siapa itu. Termasuk dirimu.” Kata Melody.
“Untuk yang kesekian kalinya, aku ucapkan banyak terima kasih, Melody-san. Meski kau setahun lebih muda dariku, tapi aku lebih paham apa yang sebaiknya dilakukan, apa yang sebaiknya tidak dilakukan. Kau jauh lebih dewasa. Umur memang tak bisa merepresentasikan tingkat kedewasaan seseorang.” Kata Yura.
“Aku mencapai titik ini juga karena aku banyak belajar dari semua hal yang terjadi di dalam hidupku. Menikah dengan Yudha menuntutku untuk bersikap lebih dewasa dari usiaku. Tak mudah untuk menikah mudah. Apalagi karena dijodohkan. Namun, aku dan Yudha menganggap jika pernikahan yang kami jalani adalah pernikahan yang sakral. Untuk itu, kami memilih tidak main-main. Jika ada masalah, dibicarakan bersama, lalu dicari jalan keluarnya juga bersama. Kami rasa, itulah langkah yang bijak. Kami rasa, itulah cara kami menjadi lebih dewasa.” Jelas Melody.
“Hari ini aku belajar banyak hal darimu. Yudha pasti bangga memilikimu.”
“Yudha itu banyak ngeselinnya. Sering menggodaku seenak jidatnya.”
“Bukankah itu romantis? Dia yang terkenal sangat kaku bisa seperti itu loh..”
“Lah, memang sih, jauh beda dengannya saat pertama kali bertemu. Yang jelas, dia laki-laki yang baik hati.”
__ADS_1
“Benar, kan?”
“Ya..”
.
.
.
“Astaga, aku sudah ketakutan setengah mati jika Yura berniat mendorong Melody dari balkon. Ternyata tidak. Huftt, syukurlah...” Ucap Ayumi dari samping Mia. Ia bahkan sampai memengan pundak Mia.
Mia kaget setengah mati karena tiba-tiba ada yang berbicara dan memegang bahunya. “A-Ayumi? Sejak kapan kau ada di situ?” Tanya Mia.
“Sejak kapan? Sejak tadilah, bareng sama dirimu.” Jawab Ayumi santai.
“Hah? Kau mengikuti sejak tadi? Kenapa aku tak menyadarinya?”
“Lah? Awalnya aku khawatir soal Yura yang izin tiba-tiba ke toilet. Aku paham sama wanita itu. Aku tahu dia ingin melakukan sesuatu. Ditambah kau juga tiba-tiba ingin meninggalkan pesta. Aku jadi penasaran, kan? Ya sudah, aku ikuti saja dirimu dan taraa... berakhir di sini menguping pembicaraan Melody dan Yura.” Jelas Ayumi.
Mia mangap. Kenapa ia tidak menyadarinya? Apa Ayumi ini memiliki kekuatan senyap ala militer? “Setidaknya bilang kalau kau ada di dekatku! Pembicaraan mereka itu sangat lama! Aku ketar-ketir sendirian!”
“Seru soalnya melihatmu bertingkah aneh karena perang dengan pemikiranmu.” Cengir Ayumi tanpa dosa.
“Kau ini...”
“Hehe...”
"Syukurlah, aku merasa senang karena Yura tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Jaj. Aku jadi bisa bernafas lega."
"Kau benar. Jika Yura sampai membuat masalah, maka suasana akan semakin runyam mengingat masalah yang menimpa Melody dan Yudha itu sudah sangat banyak sekali."
"Hei, kita ini ada untuk membantu mereka, kan?"
"Ah, kau benar juga. Apapun masalah yang mereka hadapi saat ini, aku tak akan pernah meninggalkan mereka. Sebisa apapun yang bisa aku lakukan, aku akan melakukannya untuk mereka."
Mereka saling menepuk pundak. Persahabatan yang tak akan hilang meski banyak masalah yang menerjang.
"Mari jangan pernah meninggalkan mereka!"
__ADS_1
"Iya."