
Entah bagaimana, intinya Tuan Han merekomendasikan pengadaan sebuah pesta besar di Emperor Group dengan mengundang para petinggi, kolega, dan para pemegang saham untuk merayakan keberhasilan Alvin dalam menjalin hubungan kerja sama dengan Kyoto Contruction.
Tuan Han seolah ingin berkata pada dunia jika CEO baru Emperor Group mampu menembus barikade ketatnya bisnis Kyoto meski baru sebentar menjabat. Ini akan semakin memperkuat posisi Alvin di Emperor Group sebagai CEO dengan akan banyak mendapatkan dukungan para petinggi Emperor Group.
Alvin sendiri merasa seperti terbawa arus. Terseret semakin dalam dan sulit untuk berenang keluar. Ia tak bisa menyanggah omongan Tuan Han untuk berkata jika pencapaiannya itu sama sekali tidak membanggakan karena didapatkan dengan sangat mudah tanpa usaha.
Ia tidak bekerja keras seperti halnya para pelaku bisnis. Hanya karena dirinya 'menumbalkan' Yudha, maka ia bisa masuk ke wilayah Kyoto yang selama ini belum pernah bisa Emperor Group jamah.
Menyedihkan bukan?
Untuk kesekian kalinya, ia merasa kalah pada Yudha padahal Yudha tidak melakukan apa-apa. Semua orang butuh Yudha demi kepentingannya masing-masing.
"Alvin-sama, Anda harus istirahat! Wajah Anda memucat. Anda sudah mencapai batas Anda." Kata Daisuke.
"Dari semua orang yang datang menyapaku di pesta ini, hanya kau yang menatapku dengan tatapan penuh kekhawariran. Bahkan ibuku sendiri tidak mengatakan apa-apa soal betapa lelahnya aku saat ini." Kata Alvin.
"Apa itu sebuah pujian?" Daisuke nampak bingung.
Alvin tersenyum. "Anggap saja seperti itu." Kata Alvin. "Oh iya, sesi tanya jawab dengan wartawan sudah selesai, kan?"
"Ya, Alvin-sama. Para wartawan itu sudah tak lagi ada di aula pesta ini."
"Baguslah. Rahangku sakit karena harus meringis kepada mereka semua."
Tuan Han sungguh serius ingin memantapkan posisinya saat ini. Sampai mengundang wartawan segala. Pencitraan yang ingin dubangun oleh Tuan Han nampaknya sukses besar dimana banyak yang berbondong-bondong menyalami dan mengucapkan selamat karena 'keberhasilan' yang berhasil diraihnya.
Alvin merasa semakin menyedihkan.
Ia ingin minum wine, tapi Daisuke melarangnya.
"Sedikit saja!" Kata Alvin.
Daisuke menahan gelas berisi wine yang Alvin pegang. "Anda dilarang mabuk! Acara masih berlanjut, Alvin-sama! Lagi pula Anda ini sedang..."
"Melody?" Gumam Alvin kaget.
Daisuke ikutan kaget karena Melody datang ke pesta yang dibuat oleh Tuan Han.
Dan benar saja, istri dari Yudha dan menantu keluarga Kazehaya ini berhasil mencuri pandangan semua tamu yang ada di aula pesta itu.
__ADS_1
Melody datang sambil menggandeng Aron. Gaun panjang cantik yang ia gunakan nampak elegan meski tak bisa menutupi perut hamilnya.
"Melody-sama.."
"Melody-san.."
"Kirei desu ne.."
"Aslinya sangat cantik."
"Wah, sudah hamil besar, sebentar lagi generasi baru keluarga Kasehaya akan lahir."
Melody hanya tersenyum manis untuk membalas tatapan kagum pada orang-orang itu. Ia juga sedikit melambaikan tangannya untuk menandakan jika dirinya nyaman dengan orang-orang itu meski ia tahu, banyak yang berpikir jika keluarga Kazehaya itu sulit di dekati. Intinya, mari ciptakan kesan yang baik!
"Melody-san, gaun Anda indah sekali. Di mana Anda membelinya?"
"Benar, itu sangat indah, saya jadi ingin tahu. Maukah Anda berbagi rahasianya?"
Melody dikerumuni gadis-gadis cantik yang ia yakini ikut ayahnya untuk mendapatkan perhatian dari si sulung keluarga Kazehaya, Kazehaya Alvin.
"Ah, ini sama sekali bukanlah rahasia. Saya memakai rancangan designer dari Hanazawa Boutique." Jawab Melody. Ya, ini adalah rancangan dan buatan ibunya Mia. Ibunya Mia yang dulu juga membuatkan gaun pengantinnya dengan Yudha termasuk WO.
Melody mengangguk.
"Wah, benar-benar berbakat. Bukankah itu snagat terkenal di Tokyo?"
Seprti itulah pembicaraan para wanita yang tak jauh dari pakaian san perawatan wajah. Melody tak terlalu suka topik pembicaraan seperti ini, tapi mau bagaimana lagi. Ia datang ke sini dengan membawa misi. Ia tak boleh merusak imejnya.
.
.
.
Alvin menatap Melody dari kejauhan. Saat ini ia sedang istirahat di ujung aula. Sama sekali tidak ada yang mendekatinya karena Daisuke melarangnya. Ini waktunya Alvin istirahat meski hanya sebentar.
Ketika menatap Melody, ia pasti akan kembali terbayang-bayang kisah masa lalu yang tak bisa ia bendung dengan segala upaya yang bisa ia lakukan.
“Kenapa bukan aku?”
__ADS_1
Pertanyaan itulah yang senantiasa ada dalam diri Alvin. Sejak dulu, ketika ia sadari gadis yang ia cintai ternyata mencintai adiknya sendiri, Yudha. Padahal itu sudah lama berlalu.
Ketika dirinya teringat saat dengan sabar dirinya terima keputusan Melody yang tiba-tiba bertunangan dan menikah dengan Yudha, di hari itu hatinya terluka.
Kenapa ia memilih tak menyatakan cinta lagi dan dilangkahi adiknya sendiri yang bahkan belum lama muncul dalam kehidupan Melody?
Tapi asalkan melihat orang yang kau cintai bahagia, kau pun akan merasa bahagia bukan?
Bohong.
Itu hanya kemunafikan!
Tidak.
Tidak sama sekali bahagia!
Pada sosok Kazehaya Yudha, Alvin itu menyimpan kebencian yang membuatnya sulit berpikir dengan jernih layaknya seorang Alvin.
Sampai suatu hari akhirnya ia pikir ia memiliki kesempatan lagi. Ketika waktu itu ia temukan Melody menangis gara-gara orang itu. Mengetahui kepedihannya, kesakitannya, apa yang sudah Melody alami dan rasakan semua karena orang itu semakin meyakinkannya kalau memang tak seorangpun pantas untuk Melody selain dirinya. Perlu berjuang demi menjaga kebersamaannya dengan Melody. Selalu atas tujuan yang sama, apapun akan ia lakukan semua itu demi Melody tersenyum dan bahagia.
“Kalau aku, aku tak akan menyakitinya. Kalau aku, aku tak akan membuatnya menangis. Kalau aku, aku tak akan meninggalkannya. Kalau aku, aku akan membalas cintanya lebih besar daripada yang ia berikan.” Batin Alvin kala itu.
Tapi memang seolah takdir tak mengikat mereka untuk memiliki hubungan khusus lebih dari itu. Cukup sebagai sahabat. Hanya sahabat. Alvin menyadarinya. Ia tahu meski setiap hari mereka bertemu, bercakap-cakap, saling berbagi, menghabiskan waktu bersama, tapi cuma itu.
Sekedar bicara, tertawa. Rasanya menyenangkan tapi tak ada kepuasan. Seolah hati Melody berada di tempat lain. Ya memang sudah di tempat yang lain. Meskipun jika Alvin ulurkan tangan, ia tak akan bisa menyentuhnya.
Dan kini, ketika ia temukan waktu yang tepat. Berpikir kesempatan itu ada. Sedikitnya ia yakin sudah bisa menyentuh hati gadis itu, ternyata tetap saja tak bisa dengan mudah ia dapatkan. Bahkan pada sosok asing yang tiba-tiba datang menyela mereka sekarang.
Saga Masamune. Ia muncul seperti Yudha dulu. Tahu-tahu karismanya sudah memikat gadis yang ia cintai. Meskipun Melody tak tegaskan hal itu, tapi raut ramah Melody saat menerima jabat tangan dari Saga membuatnya tak suka.
“Apa yang Saga rencanakan?” Batin Alvin berteriak, menanyakan hal yang sama.
Bugh..
“Sialan!” Desis Alvin sambil memukul meja. Tak ada yang sadar akan suara yang ia timbulkan. Suara alunan musik pengiring pesta lebih mendominasi.
Alvin merasa sangat kesal.
Kesal. Hatinya gusar. Khawatir. Tak menyangka akan jadi seperti ini. Padahal tadi sudah sempurna. Pesta yang diadakan oleh Emperor Group seolah mengokohkan posisinya. Namun, Melody datang tanpa sepengetahuannya. Bahkan saat ini sedang mengobrol asyik dengan Saga, kakak palsunya.
__ADS_1
“Apa-apa Melody itu? Kenapa dia bisa ada di pesta ini?”