MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Okinawa 24: Sebuah Ciuman


__ADS_3

Masih di onsen dan penginapan..


"Aku tidak ingin melakukannya dalam keadaan seperti ini!" Melody kembali menegaskannya.


Yudha menatap langit-langit kamar mereka. Apapun usaha mereka untuk menghindari efek obat perangsang itu, ujung-ujungnya akan diakhiri dengan pertanyaan, 'Mau melakukannya?'. Selalu seperti itu.


Ketahuilah, efek obat perasang itu semakin lama semakin menggila. Membuat sulit dikendalikan.


Yudha yang masih waras mencoba menggali otaknya semakin dalam agar masih bisa bertahan dan tak terkalahkan oleh efek dari obat perangsang itu.


"Kau benar. Kita tidak akan melakukannya. Mau lanjut bermain?" Tanya Yudha.


"Jidatku sudah membaik. Tapi masih sakit juga."


Kata Melody.


"Oh jadi kau sudah menyerah?"


Yudha meremehkan Melody.


"Belum! Ayo main A-B-C nama hewan?" Melody itu pantang menyerah.


Kesal juga jika Yudha selalu meremehkannya. Di dunia ini, orang yang sering meremehkan kemampuannya itu hanya Yudha, suaminya.


"Kau akan kalah lagi, Melody."


Belum mulai saja Yudha sudah meremehkannya. Itu memang gaya Yudha yang suka meremehkannya.


"Ini belum pernah kita mainkan, kau akan kalah! Aku ini expert waktu SMP. Jadi aku akan membalas jitakan jarimu. Kita ganti hukuman. JITAKAN TIGA KALI! Bukan lagi pukulan kecil dari jari tengah! Aku akan memastikan jika jitakanku itu sangat menyakitkan." Melody menunjukkan tangannya dengan kukunya yang agak panjang.


"Ah masak?"


Mereka bermain A-B-C nama-nama hewan. Mereka juga menambahkan jari-jari kaki agar mencapai jumlah jari yang banyak sehingga akan semakin lama bermain.


.


.


.


10 menit kemudian...


"Yudha, kau curang. I\=Ikan, F\=Fish. Lalu tadi kau juga bilang K\=kuda, H\=Horse. Masak kau seperti itu?" Gerutu Melody tidak terima. Iya protes karena jawaban Yudha itu memiliki arti yang sama.


"Curang dari mana? Itu masih nama hewan, kan?" Tanya Yudha.


"..." Melody hanya mengangguk. Ia juga ahh. Tapi kenapa seperti itu. Rasanya hanya gak bisa diterima saja.


"Baiklah, aku yang menang, Nona Expert." Yudha menyunggingkan senyumannya. "Kemarikan jidat-mu!" Yudha sangat tengil ketika memamerkan kemenangannya.


Sialnya, Melody tidak bisa mengelak lagi. Kenapa ia harus kalah terus dari Yudha sih? Tak bisakah Tuhan memberikan sekali saja nikmatnya menang dari Yudha? Ia pastikan akan sujud syukur setalahnya.


Melody langsung mendekatkan wajahnya ke Yudha. Ia lalu memejamkan matanya. Sudah pasti jitakan jari Yudha akan menambah sakit di jidatnya. Padahal tadi ia menyombongkan diri jika ia bisa mengalahkan Yudha, tapi nyatanya Yudha yang menang lagi.


Apa ia tidak bisa menang sekali saja saat melawan Yudha, heh? Kembali ia melayangkan pertanyaan seperti ini pada Tuhan.


Menerima hukuman lagi memang tak bisa di hindari.


Ngenes sekali nasibnya.


"Tiga kali jitakkan, kan Melody?" Tanya Yudha tengil.


"Huh. Jangan kasar-kasar!"


"Kalau aku menjitakmu sampai kau pingsan, efek obat perangsang ini akan lenyap."


"Jangan aneh-aneh deh! Jidatku ini sangat berharga!" Melody mencoba menjauh.


Yudha menariknya lagi agar mendekat. "Pengecut memang kemampuannya hanya melarikan diri, ya?"


Sial. Melody kembali mendekat. "Jangan kasar-kasar ya, Sayang!" Melody mulai memohon lagi. Kali ini ia menambahkan kata 'sayang' dengan nada suara yang manis.


Mata Melody terlalu indah di mata Yudha. "Iya, tidak akan kasar kok, Sa-yang.." Yudha tersenyum. Ia mengikuti panggilan 'sayang' Melody.

__ADS_1


Yudha mengangkat tangannya. Melakukan pose ingin menjitak Melody. Ia menyigapkan poni milik Melody untuk melihat jidat Melody.


Jidat itu terlihat memerah karena pukulan jari tengahnya tadi saat bermain batu-kertas-gunting. Kasihan juga. Pasti sangat sakit. Tapi namanya juga permainan, ada yang kalah, ada yang menang. Yang kalah harus terima akan hukumannya.


Itu sudah bagian dari kesepakatan.


Yudha tidak tahu harus kesal atau bersyukur akan 'keberuntungannya' melawan Melody. Kenapa Tuhan membuatnya selalu menang dan Melody selalu kalah? Ia yang sering beruntung atau Melody saja yang sering sial?


"Aku akan menjitak jidatmu, Mel.." Yudha meniup jari yang akan ia gunakan untuk menjitak jidat Melody.


Melody semakin menutup matanya, ia sudah siap untuk menerima jitakkan dari Yudha.


Samakin merapatkan mata.


Semakin menutup matanya.


Semakin membuat wajahnya lucu karena otot yang tertarik saat memejamkan matanya.


Wajahnya semakin memerah karena hawa panas dari efek obat dan suasana kamar yang tanpa AC.


Panas.


panas.


Panas dan semakin panas saja.


Ini sudah sekian detik terlewat. Cukup lama jika menghitung karena menunggu.


Kenapa Yudha tak kunjung menjitaknya? Bukankah tangan Yudha yang satunya sudah memegang poninya?


Tak tahan menunggu jitakan, Melody lalu membuka matanya. Ia mengintip perlahan. Di depannya saat ini terlihat wajah Yudha yang begitu sangat dekat. Wajah yang biasanya putih pucat itu terlihat memerah karena panas. Nafasnya kembang-kempis teratur.


Nafas hangat mereka berdua saling beradu. Menimbulkan sensasi aneh di wajah mereka masing-masing.


Melody hanya bisa terpaku saat Yudha menatapnya intens dengan jarak yang begitu sangat dekat ini. Mereka duduk berhadapan dengan tangan kiri Yudha berada di jidatnya, menyibakkan poni. Tangan kanannya membuat pose seolah siap menjitak jidat Melody.


Sementara Melody menggunakan kedua tangannya untuk menahan lengan Yudha. Ia berpegangan kencang karena takut akan sakitnya jitakan dari Yudha.


Sial, mereka berdua bisa merasakan sentuhan panas dari masing-masing tangan mereka yang menyentuh bagian tubuh mereka.


Kenapa mereka justru terjebak dalam situasi bungkam yang memanas ini?


Nafas tak teratur itu masih mendominasi. Tatapan sayu yang tak terelakkan seperti menghinoptis untuk bertahan di posisi yang sama.


Tidak ada suara yang keluar. Hanya alunan malam yang menyelimuti. Detikkan jam dinding menjadi alunan melodi yang memikat, berpadu dengan orkestra hewan malam yang bermelodi di luar kamar. Saling tatap penuh kebisuan.


Menimbulkan hasrat yang terpendam itu memaksa keluar.


Hasrat yang berulang kali ditahan, dihadang agar tak keluar itu terus menggedor-gedor pintu pertahanan. Semakin memaksa, pintu pertahanan yang awalnya sangat kuat itu mulai menimbulkan retakkan. Sedikit demi sedikit, tapi merapuh setelahnya.


Seperti sedang terhipnotis.


Seperti sedang kesakitan.


Menggoda untuk dituruti.


.


.


.


"Apa Melody selalu polos seperti ini?"


"Dalam jarak sedekat ini, Yudha terlihat sangat tampan."


.


.


.


Pikrian-pikiran lain mulai merasukki. Menggugah dan mengganggu hasrat yang mati-matian bertahan dalam batas kenormalannya. Memaksanya untuk dituruti. Dengan segala rayuan mautnya. Dengan segala godaan setannya. Hasrat terpendam itu harus terlaksana!

__ADS_1


Harus segera dilepaskan!


Apakah ini rasanya hasrat 'menginginkan'?


Seperti inikah jika tak dituruti?


Menyedihkan.


Menyesakkan.


Sekuat apapun berusaha bertahan, namun sungguh, rasa menginginkan ini terasa menyakitkan. Sangat menyiksa diri jika otak kembali berusaha menahannya.


Hasrat itu semakin kuat, memaksa untuk dituruti, memaksa untuk mengikuti alur yang diharapkan oleh hasrat itu.


Terus..


Terus..


Dan terus memaksa diri untuk menuruti.


Lagi..


Lagi..


Dan lagi, rasa itu lagi-lagi menginginkan lebih.


Lebih dari sekedar ini. Lebih dari sekedar gila.


.


.


.


Cukup!


Ini sudah sampai batasnya!


Tidak bisa!


Tidak bisa menahannya lagi!


Ini terlalu sulit dan menyakitkan!


.


.


.


Ini sungguh gila!


.


.


.


Dengan gerakan yang cepat Yudha langsung mencium bibir Melody. Tidak tahu harus bereaksi bagaimana, Melody menerima ciuman itu. Bukan rasa pasrah karena Yudha begitu mendominasinya. Ia merasa jika saat ini ia memang juga menginginkannya. Ingin lebih, lebih, dan lebih.


💏


Ia tidak mau mengakuinya.


Tapi ia tahu pasti.


Ia juga menginginkan Yudha.


.


.


.

__ADS_1


"Aku menginginkanmu!"


Dua hati sudah berkehendak.


__ADS_2