
Melody tak boleh tersipu hanya karena seorang laki-laki tampan sedang menyatakan cinta kepadanya. Ah, bukan cinta, bukan pernyataan cinta. Yang ia dengar dari Saga adalah pernyataan suka.
Oke. Suka.
Suka dalam versi perasaan manusia itu memiliki banyak tingkatan. Ada suka sekedar suka, suka sekali, dan ada pula suka sampai ke level cinta. Jadi tingkatan yang mana rasa suka yang diucapkan oleh Saga kepada dirinya?
Biar dirinya tebak, waktu pertemuan dengan Saga, ini adalah kali pertama, kan? Ia yakin seyakin-yakinnya jika saat ini adalah waktu pertama kalinya ia bertemu dengan Saga. Sebelum-sebelumnya ia tidak pernah bertemu dengan Saga. Jadi tak pernah bertukar pikiran untuk mengobrol juga.
Lalu, Saga berkata jika laki-laki tampan ini menyukainya? Ini maksudnya Saga memiliki ketertarikkan kepada dirinya? Ayolah, masak iya? Cih, sial, mata kelam milik Saga itu bisa ia baca.
Keinginan untuk memiliki dirinya tertulis dan tergambar jelas di sana!
Saga sungguh menyukainya! Saga sungguh ingin memilikinya.
Apa dirinya terlalu percaya diri? Apa ia tak salah menilai? Maksudnya, dirinya saat ini sudah menikah. Hamil lagi. Dari fisik saja sudah tidak menarik sama sekali. Pasti ada yang salah dengan otak Saga kalau sampai benar-benar menyikai wanita yang sudah menikah lagi hamil besar seperti dirinya.
"Anda manis sekali tutur bicaranya." Kata Melody.
"Ini bukan dari mulut saya, Kazehaya-san. Mulut saya ini hanya mewakili apa yang hati saya rasakan. Melihat Anda untuk yang pertama kali, membuat saya merasakan hal tak biasa di dalam hati saya." Kata Saga.
"Oh, ayolah! Aku ini wanita yang sudah menikah. Aku pun juga sedang hamil besar. Jangan menggoda wanita bersuami dan calon ibu ini!" Kata Melody ramah.
Saga tertawa pelan. Melody pintar membalas percakapan yang ia buat. Biasanya wanita akan memujanya karena ketampanan dan harta yang ia miliki. Mereka bahkan akan rela buka paha demi dirinya. Seperti tidak mempermasalahkan jika dirinya memperlakukan mereka seperti sampah. Seperti barang habis pakai yang bisa ia ganti setiap saat.
Berbeda dengan Melody, wanita ini sangat mempesona. Jual mahal tapi memang itulah mekanisme pertahanan diri dengan tetap mepertahankan harga dirinya. Penuh percaya diri dan dignity. Kekeh dengan pendirian dan tak mudah digoda. Setia sudah jelas nampak jelas dari setiap kata yang Melody gunakan untuk menolaknya. Tidak ada kode dan celah sedikit pun baginya untuk masuk lebih dalam lagi. Cukup sampai di omongan saja. Melody pandai menanggapinya.
Namun inilah justru yang membuatnya teetarik pada sosok seorang Melody. Semakin ditolak, semakin ia penasaran dan ingin memiliki Melody. Semakin pula ia ingin menggodanya dengan kata-kata yang manis.
Sungguh, Melody itu adalah wanita yang sangat berharga. Setia pada satu laki-laki itu sangat luar biasa dimana wanita yang kebanyakan ia temui rela gonta-ganti pasangan hanya demi uang dan tahta. Bahkan ia ingat, beberapa kali ia tidur dengan artis dan model hanya untuk membantu mereka terkenal. Gila bukan?
"Mengejar wanita yang sudah menikah itu jauh lebih menarik ketimbang mengejar wanita single." Kata Saga.
"Kenapa memangnya?" Menurut Melody, ini adalah pemikiran yang aneh. Bagaimana bisa laki-laki ini lebih tertarik mengejar wanita yang sudah menikah seperti dirinya? Apakah Saga ingin menjadi perebinor? Perebut bini orang? Melody tak habis pikir.
Ada ya kisah seperti ini? Pasti ada lah, faktanya saat ini ia sedang mengalaminya. Serius atau tidak, tapi Saga membuatnya tidak nyaman.
"Ada tantangannya. Tantangannya lebih sulit dimana aku harus berusaha sangat keras untuk merebut hatimu dari suamimu. Aku yakin, kau itu sangat mencintaimu suamimu."
"Oh, tentu saja aku sangat mencintai suamiku. Suamiku adalah segalanya dalam hidupku." Melody tak ingin membiarkan Saga berbuat lebih dalam lagi yang akhirnya akan merepotkannya di masa depan nanti.
"Baguslah kalau kau sangat mencintai suamimu, itu malah membuatku semakin tertarik kepadamu. Laki-laki di dunia ini itu sangat banyak, bagaimana bisa kau setia pada satu orang laki-laki? Di dunia ini, yang lebih tampan dan lebih kaya dari Yudha pasti ada, kan?"
Oke, ini berlebihan. Ini sudah melewati batas kesabaran Melody. Bagaimana bisa Saga berkata seperti itu? Apa yang dinilai Saga terhadap dirinya? Apa Saga pikir ia adalah orang yang mudah jatuh cinta dengan laki-laki lain? Murahan? Ketahuilah, baginya, laki-laki tertampan di dunia ini adalah Kazehaya Yudha, suaminya!
"Bagiku, Yudha itu laki-laki paling tampan di mataku!" Kata Melody tegas. Namun setelah itu ia tersenyum.
"Cinta memang membuat berpikir seperti itu! Oke, aku memahaminya." Saga menyudahi dansanya dengan Melody. Ia lalu menatap melody lekat-lekat.
Sumpah, wanita di depannya ini semakin menarik dan semakin menarik setiap kali ia mengedipkan kedua matanya.
"Aku sangat tertarik padamu! Sampai jumpa lagi, Melody-chan!" Kata Saga. Ia berlalu meninggalkan Melody yang cengo karena ucapannya.
-chan?
"Eh?"
.
.
.
MELODY'S POV
Akhirnya aku bisa lepas dari Saga-san. Laki-laki itu memang tidak berbuat kurang ajar kepadaku, tapi tetap saja. Kepribadiannya yang terlalu jujur kepadaku membuatku tak nyaman.
Kalau Yudha yang mesumi aku sih tidak apa-apa. Aku ikhlas-ikhlas saja disentuh olehnya.
Saga-san menyukaiku ya?
Jika aku jomblo, maka ini akan menjadi kata-kata yang sangat manis dan bisa membuatku terbang. Untung saja aku sudah menikah dan memiliki Yudha. Saat itu aku tahu dimana posisiku yang tapat untuk menempatkan diriku sendiri.
Lagi pula, aku sangat mencintai suamiku. Tentu saja aku tak akan jatuh hati pada yang lain. Apa lagi dalam situasi yang seperti ini.
Hah. Melelahkan.
Yudha benar, lebih baik aku jadi ibu rumah tangga saja di rumah urus diri dan suami. Di tempat seperti ini, aku sama sekali tidak cocok.
Mereka datang mengerumuniku, menyapaku, menyambutku dengan penuh senyuman. Sulit membedakan mana kawan mana lawan.
Tak aku sangka, situasi Emperor Group sangat mengerikan. Orang-orang yang bekerja di Emperor Group kebanyakan bermuka dua.
Aku tak tahu bagaimana Yudha dan kakek melalui semua ini. Aku tak tahu bagaimana cara mereka mereka menghadapi mereka semua.
Lalu...
Bagaimana dengan Alvin?
Secara fisik, aku sadar jika Alvin semakin kurus daru sebelumnya. Apa Alvin kesulitan? Apa Alvin mendapat banyak tekanan?
__ADS_1
Itu sudah pasti, hanya saja, Alvin yang aku kenal tak akan pernah pantang menyerah. Dia sudah melalui hari-hari yang sangat berat sebelum ini.
Alvin mungkin memang sudah berubah, tapi aku akan tetap melihatnya sebagai senior dan kakak ipar yang aku hormati. Separah apa pun masalah dia dengan Yudha atau seberapa besar perasaannya kepadaku, aku tetap akan berdiri pada pendirianku.
.
.
.
Kakiku sangat pegal. Lelah juga meski aku memakai flat shoose. Kata Aron-san, aku dilarang makan dan minum apapun yang disediakan di pesta ini. Apa lagi ada yang menawariku, aku tak boleh menerimanya. Dan sinah aku, di balkon aula pesta menunggu Aron-san mengambilkan minuman untukku.
Aku sendiri.
Tidak takut diculik?
Ayolah, balkon tempat aku berdiri berbatasan langsung dengan aula pesta yang mana di sana banyak orang. Akan sangat sulit untuk melakukan penculikkan. Kecuali kalau seisi aula pesta itu adalah rekan yang bekerja sama untuk menculikku, maka akan lain cerita.
Itu tidak mungkin sih.
Aku menatap ke arah langit. Aku memejamkan kedua mataku.
Yudha pasti nampak jelas.
Aku tahu, aku ini hanya sedang merindukannya. Baiklah, kirim doa selamat untuknya! Dengan begini, aku akan menjadi lebih baik!
Nao dan Neil-san bilang, mereka sedang menyisiri wilayah Kyoto. Kyoto memang luas, tapi aku yakin, mereka akan segera menemukan Yudha.
Aku harap semua berjalan dengan lancar!
END OF MELODY'S POV
.
.
.
Alvin mendekati Melody yang sedang berdiri menikmati malam di balkon.
Keindahan alam di dunia sungguh menajubkan. Apalagi keindahan malam yang sangat luar biasa. Bulan begitu menyinar dengan terang, pemandangan langit yang sangak cantik, dan langit bertabur bintang adalah karunia tersendiri dari yang Maha Kuasa. Keindahan yang menajubkan pada malam hari tentu akan membuat petualangan hari semua menjadi sangat tak terlupakan.
Alvin melihat sang pujaan hati begitu menikmati indahnya langit malam. Sendirian dalam kediaman. Wajah ayunya tak lekang oleh waktu. Semakin dewasa, semakin nampak cantik. Perut membesarnya tidak merusak keindahan tubuh Melody, yang ada aura keibuan yang damai memancar dari sana.
Wajar saja jika dirinya sama sekali belum bisa melupakan wanita ini. Senyumannya saja selalu membayangi harinya.
Menyadari Alvin yang mendekat, Melody lantas beranjak ingin pergi. Namun Alvin menahannya.
"Jadi kau mengikuti sampai di sini? Aku tahu, pandanganmu selalu tertuju padaku terhitung sejak aku memasuki aula pesta." Kata Melody. Ia menyilangkan kedua tangannya.
Jika ingin membuat Alvin menyerah, ia harus tega.
"Aku menghawatirkanmu, makanya aku tak bisa melepaskan pandanganku darimu." Kata Alvin.
Melody tertawa ringan. "Mengapa kau begitu paranoid, Alvin? Aku ini baik-baik saja dan sehat-sehat saja meski aku yakin, kau sudah tahu jika suamiku menghilang sekitar empat hari yang lalu."
Alvin menenangkan dirinya. Ia tak ingin termakan provokasi Melody. Sejak awal kemunculannya Melody, Melody selalu menggunakan mulutnya hanya untuk mencoba membuat dirinya tersinggung. Sebegitu bencinya Melody pada dirinya sampai-sampai harus berkata dingin seperti ini?
"Apa yang kau lakukan di sini? Kau tahu betapa bahayanya tempat ini, hah? Kenapa kau malah datang?" Tanya Alvin khawatir.
Melody memahami kekhawatiran Alvin terhadapnya, tapi ini adalah bagian dari rencananya. Ia tak mau hanya diam saja tanpa melakukan sesuatu.
"Aku datang ke sini karena memenuhi undangan atas Yudha. Aku hanya datang untuk mewakilinya. Aku sedang melihat langit malam, lalu kau datang dan marah-marah. Aku disini sebagai tamu bukan wadah pelampiasan amarahmu. Apa aku tidak berhak datang ke pesta ini? Begini-begini, aku juga seorang Kazehaya, adik iparmu!" Ujar Melody membuat alasan.
Alvin kesulitan menang jika harus berdebat dengan Melody. Ia akan selalu kalah, tidak, lebih tepatnya mengalah. Ia tak mau Melody kesulitan apa lagi karena ulahnya. Ya walau ia akui jika yang terjadi saat ini apa pun yang dirinya lakukan memang hanya akan menyulitkan Melody. Apa lagi soal perasaannya.
"Kau nampak lelah, aku akan mengantarkanmu ke kamar untuk istirahat. Kau bisa memilih kamar mana yang kau inginkan." Alvin tak memberikan Melody kesempatan untuk berkeliaran ke mana-mana di acara pesta ini.
Entah apa yang Tuan Han rencanakan karena mengundang Melody, yang jelas Alvin tahu jika Tuan Han tak punya itikad baik. Apa lagi Saga. Kakak bohongannya itu tiba-tiba saja tertarik pada Melody.
"Aku hanya mau pergi dengan Aron-san! Aku tidak mau dengan yang lain, apa lagi denganmu." Kata Meldoy.
"Apa yang paman Aron lakukan sih? Kenapa dia malah meninggalkanmu sendirian di sini? Apa dia tidak tahu betapa bahayanya tempat ini?" Gumam Alvin yang tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
Melody melangkah pergi, ia tak mau berlama-lama dengan Alvin.
"Jangan pergi, tetaplah di sini agar aku tenang!" Pinta Alvin.
"Kau tenang, tapi aku tidak tenang kalau kau ada di dekatku!"
Lagi, hatinya teriris akan kata-kata yang keluar dari mulut Melody.
"Sebegitu bencinya kau padaku ya? Sudah aku bilang, aku tak memaksamu untuk menerima perasaanku! Aku hanya ingin kau tahu saja, tak lebih." Kata Alvin.
"Kau memang tidak memaksaku, tapi kau mengungkapkan perasaanmu di saat tidak tepat. Jika kau menyayangiku, harusnya kau tak usah mengungkapkan perasaanmu kepadaku! Kau sudah tahu jika aku ini sangat mencintai suamiku. Kenapa kau tetap mengungkapkannya? Dan lagi, SUAMIKU ITU ADIKMU!"
"Aku akan memaafkanmu meski kau melukai hatiku sangat dalam, Mel." Senyum miris Alvin.
"Aku tak menyangka kau itu masih tetap baik kepadaku meski aku sudah kasar kepadamu. Kau bahkan bisa tersenyum ramah." Sindir Melody terang-terangan.
__ADS_1
"Aku ini akan selalu baik kepadamu!" Kata Alvin.
"Kau pandai berkata manis."
"Tapi selalu tak memepan kepadamu."
"Kini ka bahkan suka berbicara lebih."
"Aku tak bosan meladenimu bicara karena kita jarang jumpa."
"Tukang memanfaatkan keadaan!"
"Aku hanya membaca peluang."
Tak lama setelah itu, Aron datang dan membawa air mineral botolan untuk Melody. Dalam hati Alvin merasa lega karena berhasil menahan Melody agar tidak kelayapan kemana-mana di acara pesta ini. Meski harus beradu argumen setidaknya ia bisa memastikan sendiri keselamatan Melody.
"Paman Aron, tolong bujuklah Melody ke kamar untuk istirahat!" Pinta Alvin.
Aron tahu niat baik Alvin. Meski saat ini Alvin yang berkuasa atas Emperor Group menggantikan Kazehaya Wijaya, ayah angkatnya, namun ia tahu jika Alvin itu masih memiliki hati nurani. Setidaknya walaupun hanya kepada Melody.
Melody yang memang sudah sangat lelah, tak mau banyak cingcong. Sudah ada Aron, ia tak perlu khawatir lagi meski Alvin ikut mengantar ke kamar hotel untuk istirahat.
.
.
.
Setengah jam kemudian...
Kamar istirahat Melody.
"Ada apa, Aron-san? Siapa yang datang?" Tanya Melody yang kini duduk di kursi yang ada di kamar inapnya.
Saat ia sedang makan malam, seseorang datang bertamu dan Aron yang menemui tamu itu.
"Salah satu cleanning service hotel ini." Jawab Aron. "Dia bilang ada yang menitipkan paket untuk Anda." Tambahnya.
"Paket?" Gumam Melody.
Aron menyerahkan paket itu pada Melody. Sebuah kotak cantik dengan corak warna indah. Ada pita di atasya.
Melody mengamati kotak paket itu. Ia mengocoknya pelan dan ia mendengar suara yang dihasilkan oleh isi paket itu.
"Wah berbunyi. Benda apa ini? Bunyinya aneh. Ini juga ringan. Apa isinya? Aku jadi penasaran." Kata Melody.
"Biar saya bantu membukannya." Kata Aron.
Melody menggeleng. "Aku membuka sendiri tak mengapa, Aron-san."
"Baiklah..."
Melody pun membuka kotak paket itu. Tak susah karena itu hanya perlu membuka tutupnya tanpa harus merobek kertas kado layaknya kado hadiah pada umumnya.
Melody shok ketika melihat apa yang ada di dalam kotak paket itu. Ia mencolos dan seketika itu ia menjatuhkan kotak kado itu. Membuat isinya keluar dan dapat dilihat oleh Aron.
Melody mual dan muntah-muntah.
"Potongan tangan siapa ini?" Kata Aron. Ia lalu menolong Melody. Ia mengambil tisu dan memberikannya kepada Melody. "Nona, Anda baik-baik saja?"
Melody menutup mulutnya yang baru saja muntah-muntah di tempat. Perutnya menjadi tak nyaman.
Melody hanya mengamati Aron yang ingin mengambil potongan tangan itu dengan tisu. Namun, ada yang menarik di matanya, ia pun menghenyikan Aron.
"Aron-san, aku ingin melihat tangan itu! Sesuatu sangat aku kenali." Kata Melody.
"Anda yakin Anda kuat? Anda baru saja muntah-muntah, Melody-sama." Tanya Aron.
"Ya." Melody nampak serius.
"Baiklah." Aron pun memperlihatkan potongan tangan itu kepada Melody.
Melody langsung meneteskan air matanya.
"Melody-sama?"
"Di jari manisya, itu cincin pernikahanku dengan Yudha." Tangis Melody.
Ketakutan adalah suatu tanggapan emositerhadap ancaman. Takut adalah suatu mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respons terhadap suatu stimulus tertentu, seperti rasa sakit atau ancaman bahaya.
Melody mengerti betapa takutnya ia saat ini. Bagaimana ia bida mendapatkan benda semengerikan ini?
Apakah ini prank?
Apakah ini ancaman?
Apakah ini hanya lelucon tidak penting yang dilakukan oleh orang iseng seperti video-video yang ia tonton di yutub?
Cincin.
__ADS_1
Cincin pernikahannya dengan Yudha ada di jati manis tangan yang tepotong itu.
Tubuhnya terasa melemas.