
Kediaman Kazehaya...
Mikan kembali ke kediaman Kazehaya. Sebuah mansion mewah bergaya campuran Jepang tradisional dan Eropa era renaisan.
Sudah lama ia tak pulang ke mansion mewah ini terhitung semenjak kakek Wijaya, mertuanya, masuk ke rumah sakit. Demi alasan keamanan juga ia dan keluarga inti Kazehaya harus tinggal di lantai 16 Kazehya Internatipnal Hospital.
"Mikan-sama, okaerishinasai.." Sapa para maid keluarga Kazehaya.
"Ya, okaeri.." Jawab Mikan. Ia tersenyum ramah kepada mereka. Meski ada perbedaan kedudukan kasta, namun Mikan bukanlah orang yang menggaris tajami perbedaan itu.
Mikan disambut hangat oleh para pelayan mansion mewah ini setiap kali berganti ruangan. Pasalnya mansion Kazehaya itu memiliki sedikitnya 120 pekerja untuk menjaga dan mengurusi mansion Kazehaya yang sangat besar, megah, dan mewah itu.
Kondisi mansion tetap sama, tidak ada yang barubah, semua seperti terakhir ia meninggalkannya. Perabot masih ada pada tempatnya. Hanya tanaman yang berubah karena siklus biologis pergantian daun dan bunga.
"Meski ini adalah rumah mertuaku, tapi semenjak menikah aku sudah tinggal di sini, ini sudah seperti rumah sendiri. Sudah berapa lama aku tinggal di sini? Dua puluh dua tahun lebih. Ah, bahkan sudah dua puluh tiga tahun. Sudah selama itu. Semenjak memutuskan untuk tinggal di rumah sakit karena menjaga ayah mertua dan demi keselamatan diri, aku jadi merindukan rumah ini... Susananya, baunya, catnya, pemandangannya, aku sungguh merindukan setiap sudut dari rumah ini. Rumah yang mewah dengan banyak kenangan."
Kini Mikan masuk ke dalam kamarnya. Kamarnya yang sama dengan kamar yang ia gunakan sewaktu malam pernikahan dulu. Ya, ini adalah kamarnya dengan Kazehaya Yoga, suami sahnya, ayah dari anaknya, Yudha.
Mikan menyalakan lampu kamar. Seketika itu ruangan menjadi terang. Semua menjadi mudah untuk dilihat.
"Kau tahu, Yoga-san? Aku selalu merasa jika kau berkeliaran di kamar ini. Kau suka sekali duduk di sana sambil minum kopi."
Mikan memperhatikan kursi antik dari kayu bercorak naga dan bunga sakura.
"Kau akan menghabiskan hari liburmu untuk membaca koran bisnis dan pergerakan saham. Yudha juga sering melakukan hal yang sama. Jika aku tak jeli melihatnya, aku kira Yudha itu adalah dirimu. Kalian memang sangat mirip secara perawakkan."
Mikan lalu menatap ke arah jendela kamarnya. Gorden warna pastel dengan double-lan transparan itu masih tertutup. Ia pun membukanya. Menggeser pelan ke arah kanan dan ke kiri.
Mikan lalu berdiri di dekat jendela dan berpegangan pada besinya.
"Kita berdua sering berdiri di sini sambil memandang hujan saat turun hujan, memandang salju saat turun salju, memandang langit saat langit cerah, dan memandang bunga sakura saat pohon sakura di depan sana berbunga."
Hanya sebuah jendela, tapi bagi Mikan, kenangan yang ia buat dengan Yoga di dekat jendela ini sangat berati untuknya.
__ADS_1
Mikan menyempatkan waktu untuk memandang ke arah luar jendela. Saat ini masih musim semi, bunga sakura masih ada meski tak sebanyak bulan lalu.
"Jika sebulan yang lalu aku berdiri di sini, mungkin suasananya akan berbeda."
Mikan menggigit bibir bawahnya. Ia tak ingin meratapi kesedihannya yang selama ini ia rasakan.
Mengenang sosok seorang Kazehaya Yoga adalah hal yang indah sekaligus menyakitkan di saat yang sama.
Puas menikmati bunga sakura, Mikan lalu berjalan menuju ranjang berukuran king size miliknya.
Ranjang yang pernah ia tiduri bersama dengan Yoga.
"Ranjang yang sudah lama menyepi tanpa dirimu. Aku menghabiskan sisa-sisa hidupku sendiri di ranjang ini. Yudha bahkan tidak tidur di sini karena sejak kecil sudah memiliki kamarnya sendiri. Aturan rumah ini sangatlah ketat. Ne Yoga-san, apa dulu kau juga mendapat didikan yang keras dari ayahmu?"
Mikan duduk di ranjang itu. Sangat nyaman, kelas hotel berbintang lima. Ia meraba perlahan ranjang itu. Meresapi setiap kenangan yang dulu pernah tercipta.
Ia lalu mengambil bantal dari ranjang itu dan memeluknya perlahan.
"Yoga-san... aku merindukanmu. Hiks.."
Merindukan Yoga.
Mengingat Yoga.
Mengenang Yoga.
"Aku ingin melupakanmu. Aku tak ingin melupakanmu. Aku sakit karenamu. Aku bahagia karenamu. Aku menangis karenamu. Aku tertawa karenamu. Aku membencimu. Aku mencintaimu."
Perasaan Mikan pada Yoga itu sangat rumit. Antara iya dan bukan tidak. Ya, serba kontrakdiksi. Ia ingin, tapi ia tak ingin, tapi inginnya bisa lebih kuat. Membingungkan? Mikan sendiri tak begitu mengeryi kenapa ia bisa memiliki perasaan seperti ini pada ayahnya Yudha itu.
"Kau jahat, tapi aku menyayangimu."
Mikan meletakkan bantal yang ia peluk. Ia menghapus air matanya. Kemudian ia mengambil sebuah foto yang ada di meja dekat ranjangnya. Foto dengan frame terbuat dari kuningan berlapis emas itu masih terawat di dekat lampu tidur kamar.
__ADS_1
Foto Kazehaya Yoga.
Di dalam foto itu, foto berukuran 5R, Yoga tersenyum dengan memakai jas berwarna hitam. Dalaman putih dan dasi berwarna biru dongker. Sedikit aksen strip warna putih tipis. Foto setengah badan yang mewakili betapa tampannya ayahnya Yudha itu.
Mikan mengusap foto wajah Yoga, ia kembali menangis. Air matanya membasahi foto itu. Ia mengusap untuk membersihkan air matanya dari sana.
"Kenapa kau memilih bersamanya malam itu? Ne, Yoga-san... Kenapa kau malah pergi malam itu? Bukankah kau berjanji akan bersamamu dan anak kita? Kau mengecewakanku untuk yang kesekian kalinya."
Mikan menatap foto itu. Masih dengan pandangan sendu.
"Kalau kau mati, kenapa kau tak mengajak mereka berdua sekalian? Jika mereka tidak ada, semua tidak akan menjadi serumit ini. Yudha menjalani hidup yang tak mudah gara-gara keegoisanmu!"
Masa lalu memang lebih banyak menyakitkannya.
"Maaf, tak seharusnya aku berbicara seperti ini. Mereka adalah bagian dari dirimu. Aku tak pantas berbicara kasar. Kau tahu, aku pun menyayangi Alvin meski saat melihatnya, luka di hatiku semakin terbuka lebar. Dia mirip denganmu. Seperti melihatmu hidup di dalam dirinya. Kekuatan gen memang luar biasa."
Mikan memeluk foto itu dengan sangat erat. Ia lalu menatap tajam setelahnya.
"Anakku terlalu baik pada dunia ini. Pada Kurenai, pada Alvin, dan pada mereka yang menjahatinya. Anakku tidaklah sama denganmu. Dia lebih pintar, dia lebih peka pada perasaan, dan yang jelas, dia lebih tulus dalam mencintai. Dia hanya melihat satu orang wanita dan siap menjaganya sampai mati. Aku sangat bersyukur akan hal itu."
Mikan menggenggam keras frame foto itu. Tak ingin membantingnya ataupun mematahkan frame kuningan berlapis emasnya, hanya ingin sedikit meluapkan emosi yang ada.
"Emperor Group adalah milik Yudha! Anakku adalah pewaris sah tahta Emperor Group. Untuk kali ini saja, aku tak akan membiarkan mereka besar kepala. Maaf Yoga-san, aku tak akan menurutimu untuk bersikap baik dengan mereka. Aku menyayangi Alvin, tapi dalam dunia bisnis, Alvin adalah musuh. Yudha akan kembali ke Emperor Group! Aku akan memastikannya!"
Mikan lalu meletakkan kasar foto mendiang Yoga.
"Mereka semua sudah keterlaluan. Berani-beraninya menculik menantu kesayanganku yang sedang mengandung cucu-cucuku! Jika mereka terlibat, maka tiada ampun bagi mereka! Aku sendiri yang akan membuat kuburan untuk mereka!"
.
.
.
__ADS_1
Thanks buat yang udah selalu mengikuti kisah ini ya. Maaf kagak bisa membuat cerita singkat. Hehehe.