MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Okinawa 1: Mabuk


__ADS_3

OKINAWA


Liburan ke Okinawa dan tinjauan bisnis kerjasama antara Yudha dan Nao akhirnya tiba.


Pulau Okinawa (沖縄本島 Okinawa-hontō, atau 沖縄島 Okinawa-jima) adalah pulau terbesar di Kepulauan Okinawa sekaligus di Kepulauan Ryukyu, Jepang. Kota Naha ibu kota Prefektur Okinawa berada di Pulau Okinawa. Pulau ini luasnya 1.201,03 km2 dan jaraknya kira-kira 640 km sebelah selatan pulau-pulau utama Jepang. Okinawa adalah tempat kelahiran olahraga bela diri karate. (wiki)


Dan kota yang dituju oleh Yudha dkk adalah Naha.


Naha (那覇市 Naha-shi, bahasa Okinawa: Nāfa) adalah ibu kota Prefektur Okinawa, Jepang. Pada 1 Oktober 2015, kota ini memiliki populasi 319,435 dan kepadatan penduduk 8066 orang per km². Total wilayah kota adalah 39.6 km². (wiki)



Kota dengan sejuta keindahan alamnya. Naha juga merupakan tujuan wisata populer di Jepang. Di perbukitan bagian sebelah barat kota terdapat Istana Shuri yang merupakan sebuah gusuku (sebutan untuk istana-istana di Kepulauan Ryukyu). Di bagian utara kota yang dibangun kembali sebagai pusat kota Naha yang baru terdapat toko bebas bea DFS Galleria Okinawa yang luas.


Namun, kunjungan ke Naha, Okinawa kali ini bukan untuk mengunjungi istana-iatana atau tempat bersejarah di Naha, tapi untuk meninjau resort proyek kerja sama Yudha dengan Nao.


Kerja, kerja, dan kerja!


Ya tentu saja akan diimbangi liburan di pantai laut Okinawa yang keindahannya sudah melegenda itu.


Lagian yang bekerja kan Yudha dan Nao, yang lain bebas kerja. Mereka akan memanfaatkan moment itu sebaik mungkin untuk merilekskan diri dari penatnya beban hidup yang lama ditanggung. Nyatanya, hidup memang perlu liburan. Perlu piknik agar pikiran tetap fresh dan tubuh membaik.


.


.


.


"Yudha, gomen, aku baru pertama naik pesawat, tak aku sangka aku akan mabuk." Kata Melody. Ia benar-benar harus meminta maaf pada Yudha karena membuat Yudha mengurusinya saat mabuk di dalam pesawat.


Itu sangat merepotkan dan pasti juga sangat menjijikkan.


"Lain kali sebaiknya kau mengkomsumsi obat anti mabuk sebelum berpergian jauh." Kata Yudha. Ia tidak marah, ia hanya khawatir.


"Iya, aku mengerti. Maaf, aku benar-benar minta maaf, Yudha."


Melody terlihat buruk. Wajahnya pucat pasi membuat Yudha tidak tega. Sebenarnya kesal juga karena Melody muntah sampai mengenai bajunya.


"Sudah, tak apa-apa. Kau langsung saja ke hotel bersama Mia! Aku akan menyambut kepala kontruksi dulu bersama Shuhei. Ayumi dan yang lain sudah sampai duluan." Kata Yudha.


"Baiklah." Melody terlihat masih sangat lemas. Ia bahkan dipapah Mia saat memasuki mobil jemputan.


"Melody tunggu!" Kata Yudha.


Melody berbalik, Yudha menghampirinya. "Ada apa?"


"Pakai ini!" Yudha memakaian jaketnya pada Melody.


"A..arigatou."


"Hn."


"A..aku akan ke hotel."


"Hn. Jaga dirimu!"

__ADS_1


"I-Iya."


Mereka berpamitan tapi masih berpandangan.


"Ehem. Cie." Sela Mia yang refleks membuat Melody dan Yudha memalingkan wajahnya.


Mereka terlihat sangat manis di mata Mia. Mia bahkan memamerkan senyum bahagia untuk sahabat tercintanya itu.


"Untung Yudha bersikap biasa tentang kecupan bibir waktu itu, haaah, ada apa denganku sih? Kenapa aku jadi hilang kendali seperti ini? menyebalkan." Batin Melody.


Mobilpun melaju ke hotel.


Sesampainya di hotel, Mia dan Melody menuju kamar yang sudah Yudha pesan tempo hari. Kamar hotel yang langsung menghadap ke pantai.


"Biarkan saja bebek, nanti aku bisa membereskannya." Kata Melody saat melihat Mia merapikan pakaian dari dalam koper.


"Membantumu sedikit tak masalah buatku, Jenong!" Mia membantu merapikan pakaian yang Melody bawa.


"Iya..Iya. Makasih banyak sudah dibantu."


"Ngomong-ngomong, Yudha cukup perhatian denganmu ya?"


"Perhatian?"


"Meski wajahnya terlihat kesal saat mengurusimu yang mabuk, tapi nyatanya ia tetap sabar mengurusimu. Dia bahkan tak menerima bantuan dari Shuhei-san. Kau tadi benar-benar terlihat sangat menjijikan, Jenong. Untung saja tadi itu jet pribadi. Bagaimana jika pesawat komersil? Wah, kau pasti membuat Yudha malu."


"Kurasa aku beruntung hari ini karena jet pribadi Yudha."


"Untung suamimu kaya ya. Hahaha."


"Oh ya, jadi siapa saja yang ikut liburan gratis Yudha? Gomen, kemarin aku ada urusan di salon Ibuku jadi tak bisa ikut kumpul di cafenya Alvin-senpai."


"Hm, ada Nao-kun, Ayumi-chan, Neil-san, Sai-san, Alvin-senpai, dan juga Amamiya-san."


"He, si model terkenal ikut rupanya."


"Kenapa, Bebek? Nada bicaramu sinis sekali?"


"Hanya tidak suka saja dengan wanita itu. Dia terlihat berbahaya."


"Dia bukan hewan buas yang akan menerkamku, Bek."


"Aku hanya mengkhawatirkanmu."


"Dia hanya manusia biasa sama seperti kita, bebek! Jangan parno dan aneh-aneh deh!"


"Aku tahu, tapi setidaknya kau perlu waspada."


"Iya, iya, aku mengerti, Mia cerewet."


.


.


.

__ADS_1


"Yudha-kun, kau sudah datang?" Sapa Yura saat bertemu Yudha di lobi Hotel.


"Hn."


"Dimana Shuhei? Biasanya kau selalu bersamanya."


"Dia pergi ke suatu tempat."


"Hm, Seperti itu ya. Bagaimana jika kita makan siang bersama di restoran hotel? Aku dengar ada menu gurita di sana. Ayo kita mencobanya?"


"Makan siang masih 1 jam lagi, Yura. Aku juga belum menemui Melody yang sedikit kurang sehat."


"Ah, Begitu ya?"


"Hn. Jaa.."


"Jaa.." Yura menatap sedih punggung Yudha yang meninggalkannya. "Seperti ini lagi. Sampai kapan kau akan mengabaikanku, Yudha? Ini sudah berbulan-bulan kau seperti ini. bertindak seolah menjadi orang asing. Tak pernah mengabariku meski itu hanya ucapan hai lewat pesan singkat. Melody lagi. Lagi-lagi Melody… wanita itu benar-benar menjadi dinding pemisah antara aku dan Yudha saja. Haruskah aku membuat perhitungan?" Batin Yura.


.


.


.


Kamar inap Melody & Yudha..


"Sudah lebih baik?" Tanya Yudha.


"Hm, sudah jauh lebih baik meski masih agak pusing." Jawab Melody.


"Aku tak menyangka jika wanita dengan tenaga gorilla sepertimu bisa tepar seperti ini."


OK, Melody mulai kesal. "Yudha-sama, aku sedang tidak mood meladenimu."


"Menyenangkan sekali melihatmu tak berdaya seperti ini, tapi membosankan juga tak ada yang meladeni debatku."


"Aku akan menghajarmu setelah sembuh!"


"Aku akan menunggu!"


Kruyukkkk~~


Yudha menahan tawa. Tadi itu sangat lucu.


Melody memang agak malu, tapi Yudha sudah tahu banyak akan keburukkannya. Pertama kali bertemu saja Melody sudah berani merampok Yudha untuk mentraktir banyak makanan parahnya lagi ia juga sendawa keras di depan Yudha. Mungkin ada yang lain juga seperti tidur agresif? Ngiler? Ngupil mungkin?


"Aku lapar."


"Aku sudah menyuruh Shuhei memesan makanan, mungkin sebentar lagi pelayan hotel akan menghantarkannya."


"Arigatou, Yudha."


"Iya."


Yudha menolak ajakan makan siang bersama Yura hanya untuk makan bersama Melody!

__ADS_1


Kemajuan?


__ADS_2