
"Alvin-sama, ada seseorang yang menculik Yudha-sama." Kata salah seorang Informan Alvin.
"Menculik Yudha?" Gumam Alvin.
"Ya. Sepertinya itu ulah yakuza Fajar Keemasan." Kata sang Informan.
"Ah, mereka ya.." Alvin kembali bergumam. "Terima kasih atas informasinya. Kau lanjut intai mereka!" Pinta Alvin.
"Baik, Alvin-sama. Permisi." Kata Informan.
"Ya."
Alvin berjalan menuju kamar inap kakek Wijaya untuk menemui sang nenek. Ia baru saja berbicara dengan Informan yang ia bayar di tempat yang tak jauh dari kamar inap kakek Wijaya.
Tak perlu masuk ke dalam kamar inap, kebetulan sang nenek sedang ada di luar, yang Alvin lihat sepertinya sang nenek baru saja melakukan sebuah panggilan.
"Nenek!" Panggil Alvin.
Nenek Chiyo memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia melihat Alvin yang datang tergesah-gesah. "Alvin?"
"Nenek, Yudha.." Alvin kesulitan mengatur nafas karena ia baru saja berjalan cukup cepat dan hampir berlari.
"Atur nafasmu dulu!" Pinta Nenek Chiyo.
Alvin mengatur nafasnya sesuai perintah nenek Chiyo. Dadanya memang terasa sangat tidak nyaman.
__ADS_1
"Ada apa, Vin? Sesuatu telah terjadi?" Tanya Nenek Chiyo.
"Yudha diculik!" Jawab Alvin.
Nenek Chiyo memegang kedua pundak cucu sulungnya ini. Ia lalu mengusap peluh di kening Alvin. Ia merasa jika keringat Alvin begitu dingin di tangannya.
"Kau berkeringat dingin? Kau menghawatirkan adikmu?" Tanya Nenek Chiyo.
"..." Alvin terdiam.
Nenek Chiyo tersenyum. "Nenek yang meminta pamanmu untuk menculik Yudha karena dia gegabah bermain-main di teritori milik Uchiyama." Kata Nenek Chiyo.
Alvin menghela nafas. "Ah, begitukah?"
"Ya."
"Kau menghawatirkannya juga?" Tanya Nenek Chiyo.
"..." Alvin kembali terdiam.
"Sedari tadi dia belum ke sini. Dia masih berada di kamarnya. Aku belum bercerita apapun pada Mikan maupun Melody." Jelas Nenek Chiyo.
"..." Alvin tidak tahu harus menanggapi bagaimana mengenai penuturan sang nenek. Ia hanya begitu terburu-buru saat mendengar kabar mengenai penculikkan Yudha.
Banyak hal yang ingin ia sampaikan. Rasanya seperti itu di otak dan hatinya. Namun semua tertahan di lehernya. Semua terbendung di sana tak mau keluar. Rasanya menjadi sangat mengganjal karena ia menjadi terlihat sangat bodoh karena seolah tubuhnya bergerak sendiri di luar kendalinya.
__ADS_1
Melihat Alvin yang seperti itu, nenek Chiyo memeluk cucunya itu. Ia mengelus pelan punggung Alvin. Tubuh Alvin jauh lebih kurus dari yang terakhir saat ia memeluk Alvin dulu.
"Kau hanya sedang menghawatirkan Yudha dan Melody. Jauh di dalam dasar hatimu, kau sangat mencintai dan menyayangi mereka. Nenek tidak akan terlalu ikut campur akan perasaanmu saat ini. Nenek yakin jika suatu saat kau sendiri yang akan memahaminya bagaimana cara memaknai perasaanmu sendiri. Kau tahu, Vin? Kau itu jauh lebih dewasa daripada Yudha. Kau bisa berpikir lebih baik dari Yudha. Kau bisa mengendalikan diri jauh lebih baik dari Yudha juga... Bebanmu sebagai anak di luar nikah keluarga Kazehaya sangat mempengaruhi karaktermu. Kau mencintai ibumu dan juga keluarga yang sangat dibenci oleh ibumu. Kau akan hancur jika berdiri di antara keduanya... Kau harus memilih, Vin! Harus! Jangan kau coba memaksakan kehendakmu untuk melakukan hal yang sama secara berduaan. Kau tahu pasti itu, itu hanya akan merusak tubuhmu... Lihatlah dirimu saat ini! Sangat kurus! Bagi seorang nenek seperti diriku, rasanya sangat miris melihat keadaan cucunya yang seperti ini... Nenek ingin tahu, apa ibumu memperhatikan dirimu sampai sedetail ini?" Batin Nenek Chiyo.
.
.
.
Melody balik badan. Ia tak jadi melanjutkan langkahnya menuju kamar inap kakek Wijaya. Ya, ia melihat Alvin sedang berpelukkan dengan nenek mertuanya.
"Aku tidak mengerti dengan apa yang baru saja aku lihat. Nenek dan Alvin saling berpelukkan? Ya tidak masalah sih, mereka adalah cucu dengan neneknya... Aku menyandarkan punggungku di tembok rumah sakit... Apa yang aku lihat tadi adalah kerapuhan. Ya kerapuhan. Aku yakin dengan cara mata kepalaku melihat. Meskipun Alvin kurang memiliki hubungan yang baik dengan keluarga Kazehaya, tapi Alvin dan nenek tidaklah, kasarnya membenci satu sama lain. Pada dasarnya memang nenek sangat sayang pada Alvin. Neneklah orang yang sangat bahagia ketika Alvin bisa masuk ke mansion Kazehaya... Apa sih yang hendak aku ingin katakan? Kenapa aku bingung sendiri? Bukankah aku harusnya bersyukur, keluarga ini tidaklah retak separah yang aku pikirkan? Itu artinya, aku hanya berpikir jika Alvin tidaklah keluar terlalu jauh dari batasnya... Aku selalu percaya jika Alvin adalah orang yang sangat baik. Sangat baik sampai rela menyakiti dirinya sendiri demi orang lain. Itulah sosok dari Alvin yang aku kenal... Namun jika Alvin sekarang seperti ini, terlalu berlebihan kah jika aku menganggapnya jika saat ini Alvin hanya sedang memaksakan diri menjadi sosok yang tak disukainya? Ahh, sial, otakku berputar-putar tak karuan. Aku pusing!" Batin Melody yang sangat kesal hari ini.
Melody mengacak-acak rambutnya.
"Alvin saja sudah membuat kepalaku cenat-cenut, ini lagi si Yudha. Dia kemana saja sih? Dari kemarin tidak memberiku kabar sama sekali. Sepenting itukah urusannya di Kyoto dari pada diriku dengan si kembar? Oke, aku hanya akan mencoba memaksa pikiranku untuk menerima fakta jika saat ini ponselnya Yudha sedang rusak dan Yudha tidak bisa menelponku. Ia lupa beli ponsel baru meski selalu bawa uang banyak kemanapun! Iya, itu, aku harus mempercayai ide gagasan seperti ini agar emosiku stabil! Si kembar luar biasa aktif ketika pikiranku tidak tenang." Lanjut Batin Melody.
Melody mengelus perutnya. Sungguh, saat inipun anak-anaknya sedang menendang-nendang di dalam perutnya. Sakit. Itu sangat sakit. Ini bukanlah pertama kalinya. Ini sudah berkali-kali. Namun Melody bisa melewatinya dengan baik. Ia sudah banyak belajar cara menjadi seorang ibu. Jika hanya ditendang atau para janinnya bergerak, itu bukanlah masalah karena tak butuh waktu yang lama nanti ia akan merasakan seribu sakit di dunia saat melahirkan.
"Aku ingin memelukmu, Yudh.."
Melody mewek. Sudah lima bulan menginjak bulan ke enam kehamilannya, tapi emosinya sering kali masih sulit ia kendalikan. Apalagi saat merindukan Yudha. Entah kenapa semua menjadi sangat sulit. Ia tak bisa mengatur air matanya. Ia akan menangis dengan mudahnya. Meski sekesal apapun saat ini pada Yudha, tapi ia akan terisak-isak sambil memanggil nama suaminya itu.
Melody memang sangat membutuhkan Yudha. Bukan hanya karena dirinya sedang mengandung saat ini. Ini bukanlah masalah itu. Rasa butuhnya pada Yudha tak hanya untuk sekarang ini, tapi juga di masa depan. Sebagai orang yang sangat mencintai Yudha, ia merasaka jika dirinya tak akan bisa hidup tanpa Yudha di sisinya.
__ADS_1
________________________________________
Aku akan up dengan chapter lebih pendek, biar mudah dipahami. Hehehe. Efek levelku turun katanya jumlah pembaca menurun. Aku juga tidak paham, padahal kataku malah jauh lebih banyak pembacanya. Ah sudahlah, aku tak bisa berbuat banyak. Aku hanya akan update untuk kisah-kisah Melmel dengan Mas Yudha. So, if you like this story, please nyempetin buat like ya. Gratis kok. Enggak bayar biar popularitasnya naik lagi. 😊 Arigato minna-tachi.