MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Sweet Kiss


__ADS_3

Melody sudah tak memiliki banyak tenaga lagi untuk berdebat dengan Yudha. Ia sudah pasrah dengan kelelahan ini.


“Aku sudah memikirkannya, Yudha..”


“...”


?


?


?


“Ayo kita bercerai!”


.


.


.


Yudha terdiam mendengar penuturan istrinya yang tengah berbadan dua itu.


Bercerai ya?


Menurut kamus bahasa yang ia baca, bercerai adalah berakhirnya suatu pernikahan. Saat kedua pasangan tak ingin melanjutkan kehidupan pernikahannya, mereka bisa meminta pemerintah untuk dipisahkan.


Intinya adalah berpisah dari ikatan pernikahan yang sudah terjalin!


Yudha. Dapat. Memahaminya. Dengan. Sangat. Jelas. Dan. Gamblang.


Otak jeniusnya memang tak bisa ditawar lagi.


Karena Yudha jenius, maka otaknya kembali loading.


Melody meminta cerai darinya. Melody sedang mengandung. Mengandung anaknya. Jika bercerai sekarang, bagaimana nasib anaknya? Nasib Melody setelahnya juga akan seperti apa?


Apa mereka berdua bisa hidup dengan baik tanpanya? Lalu, siapa yang akan menemani Melody lahiran nanti? Bukankah biasanya si ayah bayi harus menemaninya? Bagaimana dengan bayinya? Susu formulanya? Popok bayinya? Siapa yang harus mengantarnya untuk imunisasi? Siapa dokternya?


Bagaimana dengan mainan bebek kuning yang dipencet bisa berbunyi itu?


Yudha kembali memikirkan kemungkinan lainnya.


Lalu, jika jadi bercerai sungguhan..


Bagaimana ia harus menjalani hari-harinya tanpa anak dan istrinya? Apa itu susah? Apa itu mudah? Apa ia akan kesepian?


Apakah kakek akan memarahinya? Ah itu sih tentu saja, ibunya dan sang nenek pasti juga akan memarahinya habis-habisan. Ia tidak yakin, satu hari dapat kuliah dari ibunya itu cukup. Ibunya itu kalau sudah ngomel, maka akan lupa waktu.


Itu sangat seram.


Dulu, saat ia jatuh dari sepeda aja, Ibunya ngomel sampe 3 jam. Dan parahnya, ia hanya bisa duduk terdiam sambil menundukkan kepala. Ia bahkan sampai tidak bisa ke kamar kecil.


Dan masih banyak lagi kemungkinan lainnya.


Intinya, jika ia bercerai dengan Melody. Bukankah itu akan sangat merepotkan?


Iya merepotkan.


Sangat malah.


Lebih merepotkan dari pada ngurusin protes klien yang keras kepala.


.


.


.


Ship, itu hasil akhir pemikiran otak jenius Yudha yang super itu. XD 😅


“Istirahatlah, kau masih lemah!” Yudha hanya membenarkan selimut tidur Melody.


“Jangan mengalihkan pembicaraan!” Melody membenarkan posisi tidurannya dengan menatap Yudha.

__ADS_1


“...”


“AKU INGIN KITA BERCERAI!” Melody berkata mantap di depan Yudha.


Yudha berhenti membenarkan selimut Melody. Ia lalu membalas menatap tajam Melody. Sangat tajam, jauh lebih tajam dari tatapan mata Melody. Ia berusaha mengunci Melody kedalam kelamnya mata onyxnya. Memaksa wanitanya itu untuk terpenjara dalam tatapannya. Ia lalu memajukan wajahnya sedikit demi sedikit. Memangkas ruang antara ia dengan Melody.


Melody sedikit goyah ketika mengetahui jarak yang semakin dekat dengan Yudha. Ia mengedipkan matanya. Ia merasa terintimidasi Yudha yang terus saja memangkas jarak di antaranya. Terus, terus, dan terus semakin dekat.


Melody bahkan bisa merasakan hembusan nafas hangat Yudha di depan wajahnya. Ini sudah sering ia rasakan ketika ia begitu dekat dengan suaminya.. rasanya.. seperti.. kangen?


“Ke-kenapa dengannya? Apa yang hendak ia lakukan? Kenapa dia malah semakin memajukkan wajahnya? Aku hanya meminta bercerai darinya, kenapa dia malah tidak menjawabnya?"


Yudha menatap wajah Melody yang masih pucat itu. Ia semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Melody.


"Duhh... semakin dekat saja wajahnya. Loh, apa Yudha setampan ini ya? Memang tampan sih, tapi apa hari ini dia ini bertambah tampan? Poni rambutnya acak-acakan. Matanya sayu. Kurang tidur pasti itu... Matanya tajam, tajam seperti silet, aku kadang takut untuk menatapnya. Sangat dingin dan gelap... Hidungnya, masih always mancung, dia tidak oplas, kan? Tidak, apaan sih?"


"..." Yudha semakin dekat. Sedikit demi sedikit, semakin terpangkas jarak dirinya dengan Melody.


"Lalu... bi-birnya... glupp.. aku menelan ludahku. Tunggu... bukankah ini... se-seperti yang wa-waktu itu?... Kiss? Ki-kiss?.. Yudha a-akan melaku-kukannya padaku? Sa-saat ini? Heeee... nani kore?”


Nani kore: Apaan ini?


Melody yang semakin gugup langsung memejamkan matanya. Ia mencoba menjauh tapi tidak bisa. Yudha terus saja mencoba mendekatinya. Semakin dekat dan tak terelakkan lagi.


“Saat aku menyuruhmu istirahat, kau harus istirahat! Aku belum makan sejak kemarin, dan itu membuatku sangat lapar!” Kata Yudha di telinga Melody.


?


?


?


Melody membuka matanya cepat. “He? La-lapar?”


Kruuuyuuuuk...


Benar Melody mendengar suara perut Yudha. Ia lalu mendorong pelan bahu Yudha dan melihat ke arah perut Yudha. Padahal ia sudah mengandaikan apa yang akan terjadi dengannya, tapi ternyata Yudha hanya ingin mengatakan jika Yudha sedang lapar. Jadi ciumannya batal ya? Tidak jadi? Bukankah tadi pose pas untuk berciuman?


Huwah, apa-apaan ia ini?


Ah panas.


Apa yang kau harapkan sih, nyonya Kazehaya?


“...” Yudha menatapnya biasa.


Melody bingung. “Ano ne, Yudha.. aku ingin kita berce..uuuupppp”


.


.


.


Dan... Yudha sungguh menciumnya.


.


.


.


Yudha melepaskan ciuman itu. Ia menatap mata Melody yang membesar karena terkejut. Jika ini adegan film, maka ia akan mengambil arwah Melody yang melayang diudara. Memasukkannya kembali ke dalam raga Melody. XD.


Yudha memegang bahu Melody. “Aku tidak suka dibantah dan kau sudah terlalu banyak membantahku akhir-akhir ini. Tapi tenang saja, aku memaafkanmu. Istirahatlah! Aku tidak mau bayi itu ikutan sakit karenamu!” Kata Yudha sambil melihat ke arah perut Melody.


Melody mengikuti arah penghlihatannya. "?"


Kemudian Yudha bangkit lalu mengacak-acak pelan rambut Melody. “Aku ke kantin dulu, jika butuh apa-apa, panggil saja Shuhei! Jaa..”


Yudha meninggalkan Melody yang bengong karena bingung.


Bayi?

__ADS_1


Ikutan sakit?


Karena dirimu?—ahh, maksudnya dirinya. Karena dirinya? Melody kembali menatap perutnya?


Bayi?


Ia lalu memegangi perutnya.


Lagi... Bayi?


Di dalam perutnya?


Ada bayi?


?


?


?


BAYI?


Matanya kembali membulat. Jauh lebih bulat dari tadi.


Jika di dalam perutnya ada bayi, itu artinya... ia tengah mengandung?


Ha-hamil?


HAMIL?


Bagaimana bisa? Bagaimana dengan tanda-tandanya? Muntah? Mual? Sepertinya tidak. Ia coba mengingat kembali. Ahh, masuk angin itu. Awalnya ia duga seperti itu.


Tidak mungkin!


Hamil?


Anak siapa? Bukankah orang yang menyentuhnya hanya orang itu saja? Ya.. ya memang hanya orang itu saja. Tapi masak bisa? Bukankah baru beberapa kali. Ma-maksudnya, ya.. ya itu.. anu.. di saat seperti ini?


Batin Melody bergemuruh. Sungguhkah ia sedang hamil?


Anak Yudha?


“HEEEEE?” Teriak Melody cukup keras.


.


.


.


Di luar kamar inap Melody..


“Hmm, dia sudah baikan rupanya..” Gumam Yudha. Ia sudah menduganya jika Melody akan sangat terkejut.


Shuhei juga cukup kaget karena teriakan Melody yang terdengar dari luar kamar inap. “Yudha-sama, Nona Melody..”


“Dia baik-baik saja. Aku ke kantin dulu, maaf Shuhei, tolong jaga dia!”


“Baik, Yudha-sama.”


Yudha menepuk bahu Shuhei. Tanda jika ia sangat mengandalkan sahabat sekaligus bodyguardnya itu. Setelah itu, ia lekas menuju ke kantin rumah sakit.


Shuhei menatap punggung tuan mudanya yang menjauh. Menghilang di kejauhan batas matanya memandang. Ada hal yang melegakan di hatinya, sebagai sahabat yang sudah sejak dulu berada di samping Yudha, baru kali ini ia melihat Tuan Mudanya itu.. tersenyum.


Bukan berati Yudha tidak pernah tersenyum, hanya saja, kali ini, senyum yang Yudha tunjukkan itu berbeda. Jauh lebih ikhlas dan terlihat... bahagia?


Entah apa ia salah mengartikan atau bagaimana, yang jelas ia ikut bahagia karenanya. Semoga ini pertanda baik.


Haruskah ia melaporkan kejadian ini pada Tuan Besar?


Rasanya tidak perlu, toh Tuan Besarnya itu akan segera datang.


________________________________________

__ADS_1


Maafkan kalo chapter kali ini cukup gaje. 😂 Oh iya, dukung aku juga ya di ERROR: Iblis in Love. Buat yg suka dark romance 😉😉


__ADS_2