
Kasus tuduhan percobaan pembunuhan Yudha masih saja menghiasi headline news media Jepang. Polisi Jepang sedang melakukan penyelidikan. Bahkan pihak Kazehaya, atas kendali Aron juga melakukan penyelidikan dengan melibatkan beberapa detektive ternama seperti Yagami Light dan L.Lawlieth. 😎
Ini jelas bukan salah Yudha, hanya karena mobil Yudha yang Yura pakai kecelakaan, secara tidak langsung Yudhapun dituduh terlibat.
Karena kesibukkan yang begitu padat, kakek Wijaya menyerahkan semuanya pada orang kepercayaannya, Aron. Bukan berarti kakek Wijaya tidak peduli pada cucu kesayangannya ini, hanya saja, sisi petualangannnya mengganggap jika ini adalah bagian dari percaturan hidup yang sedang Yudha mainkan.
Kakek Wijaya akui, memang, karena ulah Yudha akhir-akhir ini, ada gerakkan fluktuatif saham Emperor di pasar saham. Kebanyakan mengalami penurunan signifikan.
Kakek Wijaya tahu betul apa resiko yang ditimbulkan dari ulah Yudha itu. Tentu saja para pemegang saham mulai geram dengan sikap Yudha. Yudha adalah kandidat calon penerus Emperor Group, jika membuat masalah yang bisa merugikan perusahaan, maka sudah pasti para pemegang saham itu akan mempertimbangkan kemampuan Yudha kembali.
Apa lagi untuk saat ini, calon penerus Emperor Group tidak hanya Yudha, tapi Alvinpun memiliki peluang yang sama.
Bedanya, sang kakak tidak mengambil kuliah basic bisnis layaknya Yudha, tapi kesehatan. Ya, Alvin adalah lulusan terbaik fakultas kedokteran Kazehaya University.
________________________________________
(Bentar, aku lupa nama kampus mereka. Seingatku masih bagian Emperor Group, jadi aku rasa Kazehaya University. Jika salah, aku mohon maaf sekali ya. 😅)
________________________________________
Meski basic Alvin adalah dokter, tapi banyak yang yakin jika darah Kazehaya yang melegenda itu diwarisi juga oleh Alvin yang notabene adalah anak pertama Kazehaya Yoga.
Melihat perkembangan rumah sakit yang dipegang Alvin saat ini mengalami kemajuan yang cukup pesat, Alvinpun mulai mendapatkan nama di para kolega Emperor Group dan tentu juga para pemegang saham. Ketahuilah, tak hanya menjadi dokter magang, tapi Alvin adalah kepala rumah sakit buatan Yudha itu.
Alvin tidak menampik jika rumah sakit itu adalah hasil kerja keras Yudha. Rumah sakit itu diatasnamakan dirinya oleh Yudha. Semua memang perjuangan Yudha.
Alvin tidak tahu apa yang sudah Yudha lakukan sehingga bisa membuat sang kakek menyetujui keinginan Yudha. Membuatnya diakui keluarga besar Kazehaya dan mendapatkan tempat di Emperor Group.
Semua memang bagaikan mimpi, ia tak menyangka jika akan diakui oleh sang kakek yang-menurutnya jelas begitu membencinya.
Mungkin kata membenci itu terlalu berlebihan, tapi yang jelas, kakeknya itu tidak begitu menyukainya, terutama ibunya. Bagi Alvin, kakeknya itu tidak menyukai perbedaan kasta, layaknya ibunya yang dari golongan orang biasa, tapi setelah ia melihat Melody bisa masuk kedalam keluarga Kazehaya dan menikah dengan cucu kesayangan kakeknya itu, membuatnya sejenak berfikir.
Apa anggapannya pada sang kakek itu salah?
__ADS_1
Alvin memang tak pernah hidup lama dengan sang kakek, apa karena itu ia menjadi tak bisa memahami bagaimana kakeknya itu berfikir?
Meski ia merasa jika kakeknya tidak menyukainya, tapi ada dorongan hati kecilnya yang mempercayai jika sang kakek adalah orang yang baik. Ya, orang yang baik.
Entahlah, padahal ia tahu bagaimana menderitanya sang ibu, Kurenai, karena ulah sang kakek.
Alvin ingat, awal ia masuk ke dalam mansion Kazehaya yang super megah itu, sang kakek memang sering mengabaikannya, sudah biasa, seperti sebelumnya. Namun, lama kelamaan, hanya dengan kesabaran untuk menyapa, kecuekan sang kakek yang super itu perlahan membuka jalan untuknya.
Meski hanya sebuah senyuman tipis, tapi ia merasa sangat bahagia.
Baru-baru ini, sang kakek bahkan membantunya membuat proposal kerja sama dengan perusahaan farmasi terbesar di Jepang.
Sang kakek membantunya dengan begitu sabarnya. Mengajarinya bagaimana cara mendapatkan kepercayaan dari klien hingga membuat proposalnya itu diterima klien. Terjalinlah kerjasama yang begitu menguntungkan untuk rumah sakit dan tentu juga Emperor Group.
Mungkin memang sang kakek itu hanya peduli akan hal yang menguntungkan perusahaan, tapi bukan itu saja. Bukan masalah menguntungkan atau tidaknya. Yang jelas, sang kakek mau meluangkan waktu untuk membantunya membuat proposal adalah yang terpenting. Itu sangat berharga dan membuat bahagia.
Apalagi saat ia memberitahu sang kakek jika proposalnya diterima, sang kakek menepuk pundaknya dan tersenyum. Mungkin ini memang biasa, tapi bahagia bagi Alvin itu hal yang sangat sederhana.
Ia bahkan ingin menangis jika mengingatnya.
.
.
.
Pagi ini Yudha sedang berada di ruang makan. Ruang makan nampak sepi. Semua penghuni utama sibuk dengan urusannya masing-masing. Kakek dan Neneknya menghadiri undangan reuni teman SMA di Saporo. Alvin sudah ke rumah sakit sejak pagi buta. Ibunya sendiri, tadi sudah makan duluan karena tidak tahan lapar mengingat pagi ini dirinya bangun kesiangan.
Sementara Melody, ia sedang menginap di rumah Mia. Ia ingat, malam usai dari pemakaman, Melody mengiriminya pesan karena ingin menginap di tempat Mia dengan alasan mengerjakan makalah usulan PKL. Ia menyetujuinya.
Sebenarnya, Yudha mengikuti Melody dan Alvin malam itu. Ia tahu kemana saja mereka berdua sehabis dari pemakaman. Ia tahu mereka mampir makan ramen di kedai pinggir jalan. Ia tahu mereka kampir ke minimarket dan menikmati sup kacang merah kalengan di depan minimarket. Iapun tahu jika Alvin mengantar Melody sampai ke rumah Mia.
Yudha sudah memastikannya sendiri.
__ADS_1
Melody sungguh menginap di rumah Mia. Nyatanya sebelumnya, Melody juga sempat membahas jika dipusingkan mengenai cara membuat usulan itu. Melody bahkan meminta dirinya untuk membantu.
"Dia bilang kesulitan menyusun usulan PKL-nya, kenapa tidak jadi meminta tolong padaku?"
Yudha menatap makanan lezat di hadapannya. Menata kosong tanpa selera. Bahkan jus tomat favoritnya saja tidak ia cicipi.
"Shuhei, ada kabar tentang Melody?" Tanya Yudha.
Shuhei berdiri di samping Yudha. Ia sedari tadi mengamati tingkah Tuan Mudanya itu.
"Tidak ada, Tuan Muda." Jawab Shuhei.
"Ah. Begitu ya?"
"Ya, Tuan Muda."
Ada rasa kecewa di sana. Di dalam hatinya. Ini sudah hari ke dua Melody tidak pulang. Melody bahkan juga tidak mengiriminya pesan ataupun sekedar menelponnya.
Apa Melody masih marah padanya?
Yudha merenungi perkataannya siang itu di depan rumah sakit, ia tahu ia sudah keterlaluan. Itu sebabnya ia ingin memberikan waktu untuk Melody menenangkan diri. Mungkin saja setelah ini, Melody bisa lebih baik perasaannya.
"Dua hari masih kurang ya untukmu menenangkan diri? Apa kau sudah sarapan pagi? Kau makan dengan apa?"
Shuhei menggelengkan kepalanya. Tuan Muda sekaligus sahabatnya itu banyak tidak paham akan suatu hal. Banyak tidak peka, termasuk terhadap perasaannya sendiri.
"Tuan, bagaimana kalau kita menjemput Nona Melody?" Tawar Shuhei.
Yudha tertarik dengan ide itu. Melody sangat senang jika ia menjemputnya. Tapi itu dulu, sebelum masalah dua hari yang lalu. Jika saat ini ia menjemput Melody, yang ada Melody akan semakin marah padanya dan menganggapnya terlalu memaksakan kehendak.
"Biarkan saja! Biarkan dia melakukan sesukanya!" Kata Yudha. "Aku tidak selera makan, ayo ke kantor saja!"
Yudha bangkit dan meninggalkan ruang makan.
__ADS_1
Shuhei hanya bisa nyengir ria. Yudha tidak pandai menunjukkan emosi.
"Tuan Muda, jika orang lain mendengar perkataan Anda tadi akan salah paham. Anda peduli dengan istri Anda, tapi Anda bilang biarkan Nona melakukan sesukanya. Tak tahukah Anda jika banyak yang akan mengartikan jika Anda itu seolah masa bodoh dengan istri Anda?"