
"Alvin-sama, Yudha-sama melakukan pergerakkan." Informan Alvin memberitahu hal ini pada Alvin lewat panggilan telepon.
Sudah Alvin duga. "Apa dia bergerak ke arah Chiba?" Tanyanya untuk memastikan dugaanya.
"Ya Alvin-sama, mobil milik Yudha-sana berjalan mengarah ke Chiba." Jawab sang informan.
"Buntuti dia, jangan biarkan dia sampai ke tempat aku menyembunyikan Melody!" Kata Alvin.
"Baik, Alvin-sama."
Alvin lalu memukul keras meja kerjanya. Ia kemudian melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya.
"Ano-baka.." Alvin memijit kepalanya. Pusing sekali dan sangat pelik. "Dia hanya membuat semua semakin bertambah rumit! Sial, kenapa aku harus disibukkan dengan urusan proyek di Kyoto sih?" Lanjutnya.
Ano-baka: Si bodoh itu.
Tiba-tiba ruang kerjanya kedatangan tamu dan itu adalah ibunya, Kurenai.
"Ibu? Ada keperluan apa ibu ke sini?" Tanya Alvin.
"Loh, Vin? Kenapa kau berbicara seperti itu? Apa salah jika ibu mengunjungi putranya sendiri karena rindu?" Tanya Kurenai yang tak menyukai nada bicara Alvin. Itu seperti tidak mengharapkan kedatangannya.
"Bukan seperti itu, Ibu! Aku hanya sedang sangat sibuk! Maafkan, aku!" Kata Alvin.
Kurenai menggeleng. "Maafkan ibu yang justru malah mengganggumu seperti ini. Ada hal yang ingin ibu bicarakan denganmu."
Alvin merasa jika sang ibu akan membicarakan sesuatu hal yang penting padanya. Wajah dan nada suara sang ibu terasa berbeda. Seperti sangat serius.
"Ibu ingin membicarakan hal apa?" Tanya Alvin tanpa basa-basi setelah sesaat meminta sang ibu untuk duduk di sofa tamu yang ada di dalam ruang kerjanya.
"Tuan Kang dan Tuan Park sudah kembali. Mereka mungkin akan balas dendam karena dibuat masuk penjara." Kata Kurenai.
"Balas dendam sama siapa, Ibu?" Tanya Alvin.
"Tentulah sama Yudha. Bukankah Yudha yang menyebabkan mereka masuk penjara? Tuan Han sampai repot untuk mengeluarkan mereka berdua." Jawab Kurenai.
"Ibu tidak tahu jika yang membuat mereka seperti itu adalah aku. Aku memberikan salinan Bribe Paper pada wartawan yang sangat dendam dengan Emperor Group untuk membongkar penyogokkan yang mereka berdua lakukan. Aku tahu Yudha juga pasti melakukan penyeledikan, hanya saja aku yang mendahuluinya. Namun ini bukanlah ulah Yudha." Batin Alvin.
"Vin?"
__ADS_1
"..."
"Loh? Kenapa malah bengong sih? Tuan Kang dan Tuan Park sudah kembali. Dukungan fraksi kita akan kembali kuat. Mereka masih memiliki pengaruh cukup besar di Emperor Group. Kau harus terus mengamankan posisimu sebagai Emperor Group!" Kata Kurenai antusias.
"Ibu, apa ibu paham soal komunikasi dalam internal perusahaan?" Tanya Alvin.
"..." Kurenai terdiam. Ia paham, tapi belum bisa menjelaskan karena pertanyaan Alvin bersifat general. Ia perlu pertanyaan yang lebih spesifik lagi.
"Yang terjadi di Emperor Group saat ini adalah karena berkembangnya mentalitas silo di antara para karyawan terutama setiap masing-masing departemen. Hal itu karena adanya perbedaan fraksi antara pro kakek, oposisi kakek, dan fraksi mereka yang netral." Lanjut Alvin.
Mentalitas silo menurut kamus bisnis merupakan sebuah kecenderungan mental ketika beberapa departemen atau sektor tertentu tidak bersedia atau cenderung tertutup untuk berbagi informasi dengan departemen lain di perusahaan yang sama.
"Hal ini berdampak buruk bagi perusahaan karena lintas komunikasinya terganggu. Bukan hanya itu, nilai-nilai moral di dalam perusahaan juga bisa berkurang, dan berpotensi mematikan produktivitas karyawan dan bisnis secara umum. Dampaknya sangat berbahaya untuk masa depan Emperor Group!" Jelas Alvin.
"Apa yang bahaya, Sayang? Kau itu hanya perlu dukungan dari orang-orang yang masih berada di bawah pengaruh Tuan Kang dan Tuan Park maka posisimu akan aman untuk ke depannya. Ibu percaya pada kemampuanmu dalam memimpin Emperor Group ini. Kau adalah anaknya Yoga-san, kau mewarisi kejeniusannya." Kata Kurenai.
"Ibu benar-benar tak memahami mentalitas silo sepertinya. Ini bukan masalah siapa dan siapa yang mendukung atau berada di belakang kita, Ibu. Ini soal Emperor Group ke depannya! Jika mentalitas silo dibiarkan, tujuan utama Emperor Group tidak akan tercapai!" Kata Alvin.
Alvin pun memberikan contoh mentalitas silo kepada ibunya.
Di dalam perusahaan, tentu ada berbagai departemen dan memiliki tugasnya masing-masing untuk membangun bersama perusahaan tersebut. Perusahaan itu bisa dikatakan terdampak silo apabila antar departemennya enggan berbagi informasi. Bahkan, ada departemen yang benar-benar menutup diri karena mereka berpikir: bukan urusan departemen A; bukan tanggung jawab departmen B; buat apa kasih tahu informasi ini, biarkan saja departemen C yang cari tahu sendiri. Dan itulah yang terjadi pada Emperor Group saat ini.
Dunia melihat jika Emperor Group itu sangat solid, namun beberapa tahun kebelakang tidaklah seperti itu. Melemahnya dominasi kakek Wijaya membuat Emperor Group terbagi dalam beberapa fraksi. Ini pun juga bagian dari rencananya Tuan Han. Ia berhasil masuk dan menyusup ke Emperor Group untuk meruntuhkan Emperor Group dari dalam.
Yudha ingin membangun perusahaan yang komunikasi antar karyawannya baik dan sehat untuk keuntungan bersama.
Itu juga adalah mimpi yang coba Alvin wujudkan. Selama ia menduduki kursi nomor satu Emperor Group, ia sudah memantapkan diri untuk bertanggung jawab dengan tahta yang ia emban. Terlepas bagaimana cara ia duduk di snggasana itu, tapi ini adalah soal harga dirinya. Ia ingin memilimi Emperor Group dengan gaya kepemimpinannya.
Salah satu cara untuk menghilangkan budaya Emperor Group adalah dengan peran penting dari pimpinan. Alvin ingin lebih ada keterbukaan di setiap departemen yang mana ada alur komunikasi yang baik dan saling berbagi informasi demi kelancaran bisnis Emperor Group ke depannya.
Jika masih ada orang-orang setipe Tuan Kang dan Tuan Park di Emperor Group, maka sudah dipastikan jika mentalitas silo akan semakin membudaya di Emperor Group yang malah akan merugikan Emperor Group.
"Emperor Group tidak membutuhkan orang-orang seperti mereka! Dan maaf saja jika aku tak menyetujui meski kedatangan ibu saat ini adalah untuk meminta mereka berdua masuk lagi ke ranah bisnis Emperor Group. Mereka berani korupsi dan menyogok di Emperor Group, di dalam kesempatan laun, mereka bisa melakukaanya lagi." Kata Alvin.
"Bagaimana ini? Anakku ini keras kepalanya luar biasa. Dia tipe yang kekeuh pada ucapannya. Jika aku tak bisa memasukkan kembali Tuang Kang dan Tuan Park ke Emperor Group, maka Tuan Han bisa saja memusuhi Alvin... Tidak, itu tidak boleh terjadi! Sebelum posisi Alvin di Emperor Group benar-benar aman, Tuan Han harus menjadi sekutu Alvin. Tuan Han itudominasinya sangat kuat. Akan bunuh diri jika berani menjadi oposisinya." Batin Kurenai.
Kurenai memiliki rencana untuk melawan balik Tuan Han dengan cara memanfaatkan dominasi Tuan Han. Kemanakah rasa takut yang ia rasakan terhadap Tuan Han? Kemanakah rasa trauma yang disebabkan oleh Tuan Han? Jujur saja seiring waktu berjalan, ia berusaha mengobatinya dengan cara berdamai dengan masa lalunya. Apa berhasil? Tentulah tidak. Namun, dorongan diri untuk melawan balik itu ada.
Kurenai itu cerdas, dia bisa berbuat licik juga. Seperti, ayo manfaatkan Tuan Han yang berseteru dengan keluarga Kazehaya dan biarkan mereka saling bunuh lalu menyisakan dirinya di panggung pertandingan!
__ADS_1
Bukankah itu ide yang menarik? Apa lagi saat ini ia memiliki Uchiyama Azumane yang ia nikahi tiga tahun yang lalu. Azumane memiliki basis kekuatan yang kuat dengan yakuza Macan Selatannya, belum lagi Uchiyama Corp milik Azumane, Kurenai hanya perlu membuat Azumane percaya terhadapnya saja.
"Meski membuat mereka masuk ke dalam Emperor Group itu tidak mungkin, setidaknya kau jangan menunjukkan sikap difensif dengan mereka. Mereka itu bagian suksesor kita yang membuatmu bisa menjadi CEO Emperor Group! Kita harus mengurangi musuh dalam hal ini, terurama orang-orangnya Tuan Han." Kata Kurenai.
Tuan Han lagi.
Membuat Alvin ingin mengorek sesuatu dari sang ibu. "Ibu, apa hubungannya ibu dengan Tuan Han? Sepertinya ibu sangat patuh sekali dengannya? Ibu mengenal Tuan Han sejak lama?" Tanya Alvin.
Sejenak dada Kurenai membatu. Datang juga pertanyaan seperti ini terhadapnya. Bahkan dari sang anak sendiri yang bertanya.
"Pertanyaanmu seperti seorang polisi yang mengintrogasi tersangka. Alvin, ibu tidak suka kau bertanya seperti itu pada ibu!" Kata Kurenai.
"Aku tidak mengerti apa yang sedang ibu bicarakan, apa saat ini ibu sedang berusaha menghindari pertanyaanku memgenai sosok seoeang Tuan Han ah, maksudku... Master." Kata Alvin menenkankan kata Master.
Kurenai langsung mencolos. Bagaimana bisa Alvin mengetahui soal cara memanggil yang ia tujukan kepada Tuan Han? Bukankah selama ini pertemuannya dengan Tuan Han tidak diketahui Alvin? Kecuali ada satu cara yang mendekati masuk akal, Alvin tak sengaja melihat dan mendengar dirinya berbincang dengan Tuan Han.
"Ma-Master adalah kenalan lama ibu, Vin. Beliau yang membantu kita bisa kembali ke Jepang dan tinggal di Jepang." Jawab Kurenai. Ini tidak salah, tapi ia tak ingin menceritakan semuanya pada Alvin.
Alvin tahu jika sang ibu tak mungkin menceritakan secara detail dan menyeluruh. Ia tahu jika sepertinya ada kisah panjang antara ibunya dengan Tuan Han yang dipanggil ibunya sebagi Master. Alvin ingat ketika ia masih SMP, waktu pertama kali sang Master berkunjung ke kediamannya di Inggris, sang ibu nampak sangat ketakutan, tak berdaya di hadapan Tuan Han. Alvin bisa merasakan hal itu gemetarnya badan sang ibu ketika memeluknya agar tak melihat rupa Tuan Han.
Hubungan ibunya dengan Tuan Han pastilah tidak sesederhana itu. Master? Sebuah sebutan yang ditunjukkan kepada orang dengan pangkat yang lebih tinggi dari pangkat si pemanggil. Bisa karena profesi, keahlian, atau bahkan tingkatan kasta. Lalu pertanyaannya, di posisi manakah ibunya kali ini kepada Tuan Han?
Alvin kembali mengingat, ia menggunakan otaknya untuk berpikir. Ia tahu bagaimana masa lalu ibunya. Menjadi wanita penghibur adalah masa lalu kelam sang ibu yang sama sekali tak pernah diceritakan oleh sang ibu. Jika benar sesuai dengan dugaannya, maka kemungkinan besar adalah sang ibu itu budaknya Tuan Han. Ia harus mengucap berkali-kali untuk sudah menyebut ibunya sendiri sekasar ini, namun, hanya ini yang mampu ia simpulkan dengan kemasuk akalan yang bisa ia tangkap.
"Aku pikir kita bisa ke Jepang karena kakek sudag tak mempermasalahkan kita asal ibu patuh tidak keluar jalur apa yang tak disukai oleh kakek atau tidak, ini karena ayah Azumane. Rupanya karena Tuan Han ya? Hmm, seorang yang memililiki posisi tinggi di Emperor Group, seseorang yang kelihitan sangat santai, tapi memiliki otoritas besar karena orang-orang di belakang dia itu adalah oposisi kakek. Orang yang sangat kuat tapi law profil jika di Emperor Group meski nyatanya dia itu adalah Guardiannya kota Kyoto. Ah, orang menyebutnya sebagai Oyabun. Aku rasa ibu juga mengetahui hal ini." Kata Alvin panjang lebar.
"A-Alvin, sudah sejauh mana yang kau ketahui? Kenapa kau bisa tahu sebanyak ini?" Kaget Kurenai.
Alvin menatap ibunya. "Ibu, aku sudah bukan anak kecil lagi yang bisanya hanya diam dan menerima saja ketika aku diperlakukan tidak adil. Kenapa kakek sangat membenciku? Kenapa Yudha berjuang keras demi diriku? Kenapa Melody meninggalkanku? Kenapa ibu diasingkan ke Inggris? Kenapa Tuan Han memililki hubungan dengan ibu mengingat ibu adalah orang biasa sedangkan Tuan Han itu orang yang memiliki posisi rumit? ... Aku mencari tahu semuanya! Aku tak bisa hanya diam saja, aku tak mau menjadi orang bodoh yang bisanya hanya mengerjakan apa yang disuruh seperti layaknya sebuah boneka tangan. Aku tak mau bergerak sesuai keinginan ibu maupun orang lain! ... Apa yang ingin aku capai, apa yang ingin aku raih, biar tangan ini saja yang menggapainya! Biar kaki dan tubuh ini saja yang berjuang!"
"..." Anaknya sudah bukan Alvin yang sangat menurut padanya. Apakah benar jika siapapun yang duduk di singgasana tertinggi Emperor Group akan berubah secara mental karena tekanan dunia bisnis akan kekuasaan itu sangat luar biasa? Apakah anaknya saat ini sedang di masa itu?
Sayangnya sang ibu tidak tahu jika Alvin merasa kursi singgasana tertinggi yang ia tempati itu adalah singgasana yang sangat menjijikkan.
"Aku harap ibu tidak bermain kotor dan rakus akan kekuasaan. Saat ini adalah posisi yang sudah lebih dari cukup untuk seukuran kita. Jika ibu memiliki hubungan yang rumit dengan Tuan Han, hentikan saja! Ibu tidak akan sanggup mengimbangi permainan dia. Orang bilang Kyoto Guardian? Itu omong kosong! Mereka adalah organisasi yakuza raksasa dengan berkamuflase dengan keindahan kota Kyoto. Mereka itu seperti bunga Poopy, indah namun beracun... Ayah Azumane adalah yakuza Macan Selatan, sebaiknya ibu tidak menyeretnya ke dalam hubungan ibu dengan Tuan Han dan Kyoto Guardian. Ibu tahu kan bagaimana jadinya jika dua kelompok yakuza bertemu? Darah adalah lautan yang nampak di depan mata... Ayah Azumane mungkin terlihat baik kepada kita, tapi yakuza tetaplah yakuza. Keuntungan adalah tujuan mereka." Lanjut Alvin.
Kata-kata dari Alvin menghantam keras Kurenai. Anaknya tahu lebih banyak yang ia tahu. Anaknya bahkan juga berani menasihatinya kali ini. Apakah tidak bisa mendapatkan cinta bisa membuat manusia menjadi seperti ini?
Ia ingat, alasan Alvin minta dijadikan raja adalah karena ingin mendapatkan Melody. Namun anehnya, setelah menjadi raja, Alvin terlihat tidak begitu agresif untuk mendapatkan Melody. Itu yang ia harapkan, kenapa harus dengan Melody? Wanita hamil istri Yudha dari kalangan orang biasa. Sebagai ibu tentulah ia ingin anaknya mendapatkan istri yang jauh lebih baik dari seorang Melody.
__ADS_1
Ketika Alvin tidak benar-benar mengejar Melody, Kurenai merasa senang karena ia pikir jika Alvin tidak tertarik lagi pada Melody dan lebih memilih menikmati tahta yang ia raih sekarang. Namun salah, Alvin justru memiliki pemikiran luas hingga mampu mengetahui apa yang seharusnya tak Alvin ketahui.
"Alvin apakah anakku ini akan mengambil perannya sendiri? Tidak! Itu tidak boleh! Ia tidak boleh mengonfrontasi Tuan Han secara langsung! Dia akan mati! Bukan! Bukan itu rencanaku! Aku dan Alvin haruslah jadi orang yang tertawa di akhir cerita!"