
Kamar Melody..
Dua pasangan pengantin ini sedang sibuk menata ulang kamar Melody, tidak, dulunya karena saat ini kamar Melody akan digunakan untuk kamar harian mereka.
Cukup alot menentukan kamar mana yang harus dipilih, tentu saja Yudha akan memilih kamarnya yang super elegan itu. Tapi Melody menangis guling-guling ingin tetap memakai kamarnya karena memiliki jendela yang jauh lebih besar dari kamar Yudha. Jika di kamar Yudha, maka sudah dipastikan ia akan kesulitan melihat bintang.
Sesungguhnya juga, Melody dan Yudha sama-sama tak ingin sekamar dulu, tapi sang kakek tak mengizinkannya. Sialnya lagi, sang kakek bahkan memberikan kuliah hampir dua jam, Yudha yang tak tahan langsung menyetujui saja untuk tidur sekamar dengan Melody seterusnya.
"Padahal pink bagus loh, Yudh.." Kata Melody.
"Warna pink asli kamarmu masih ada, ini hanya paduan saja, untung ada sekat, jadi tidak terlalu melawan warna." Kata Yudha.
"Kau benar, tak masalah kok, aku suka. Ini bagus."
Setelah selesai memandangi suasana baru kamar mereka, Melody dan Yudha menjadi terdiam.
Ada jeda cukup panjang di antara mereka ketika mereka sama-sama harus memandangi ranjang super indah itu. Berumbai-rumbai bak ranjangnya seorang putri raja.
Hadiah dari nenek Chiyo ternyata. Selera nebek Chiyo itu luar biasa. Melody tak bisa menalar hanya dengan kemampuan otak minimnya.
"Ada kartu ucapan dari nenek, kau bacalah! Aku akan mendengarnya." Kata Yudha mencoba buka suara.
Melody menangguk dan membuka kartu ucspan dari nenek Chiyo.
"Cucu-cucuku sayang, selamat sudah menjadi pengantin baru. Nenek sangat bahagia bisa menjadi saksi pernikahan kalian. Nenek hara kebahagiaan akan selalu menyertai kalian. Hiduplah dengan rukun dan saling percaya! Jika jalian sayang sama nenek yang sudah renta ini, tolong sebelum nenek berpulang menemu Tuhan, segera berikan pengalaman indah menimang cicit! Satu tak cukup, kalau bisa dua belas."
Melody cengo.
Yudha jpg alias membatu.
Isi kartu ucapan dari sang nenek itu benar-benar aneh. Astaga, sang nenek suka sekali bermain kata-kata rupanya.
"Apaan si nenek itu, dia mengancamku dan Melody untuk memberinya cicit dua belas." Batin Yudha. Ia lalu menatap Melody dari bawah sampai ke atas. "Memiliki dua belas anak dengan Melody? Apa Melody akan sanggup?"
Merasa risih karena sedari ditatap Yudha. Melodupun menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Awas saja kalau kau berani macam-macam!" Kata Melody was-was.
__ADS_1
Yudha menghela nafas panjang. "Sudah aku bilang, aku tak tertarik dengan dada ratamu!"
"Ihh, itu lagi sih. Sebel deh, itu hinaan, Yudh! Meski nampak rata, tapu bisa dipegang kok!"
Eh?
Damn, Melody keceplosan.
Mencoba membela diri tapi malah keceplosan.
Yudha tertawa ngakak. Ini lucu dan cukup berani, tapi ia tak ingin membuat Melody tak nyaman dengan pembicaraan seperti ini.
"Lain kali kau bisa membuktikannya padsku! Sekarang sebaiknya kita menemui ibumu, beliau akan pulang hari ini!" Kata Yudha.
"Ba-baiklah. Ayo menemu ibuku!" Kata Melody. "Lain kali bisa membuktikannya pada Yudha maksudnya Yudha akan menyentuh dadaku suatu hari nanti? Hii, tidak-tidak! Itu menakutkan!" Batinnya.
.
.
.
Setiap manusia ciptaan Tuhan tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada diri masing-masing di kelak kemudian hari.
Manusia memang bisa berencana. Ingin ini, ingin itu, banyak sekali. tidak akan mungkin terwujud dengan alat masa depan milik Doraemon. Harus seperti ini, harus seperti itu layaknya lagu milik Syahrini, manusia juga tak akan selamanya seperti itu.
Banyak impian, banyak keinginan, banyak cita-cita, banyak harapan, itulah manusia. Manusia memang seperti itu. Malah, mungkin hal itu merupakan suatu keharusan.
Tanpa adanya semua itu, manusia hidup tanpa arah dan tujuan. Bayangkan jika hidup seperti itu? Pasti akan membosankan. Lebih parah lagi jika tidak ada lagi apa artinya itu semangat hidup. Manusia hidup tapi tidak memiliki semangat hidup. Mayat hidup?
Terlepas dari itu semua, apapun rencana manusia, nanti bagaimana Tuhan yang akan menentukan.
Seperti kata Midorima Shintaro dari Kuroko no Basuke, 'manusia berencana, Tuhanlah yang menentukan.'
"Melody, ibu harus pulang ke rumah. Besok ibu akan kembali bekerja. Kau harus mengikuti apa yang dikatakan suamimu. Patuhi aturan di rumah ini! Jangan membuat masalah yang nantinya akan membuat repot orang-orang di sekitarmu! Apa kau mengerti, Melody?" Tanya Ibu Melody.
Melody mengangguk pelan. "Ya Ibu, aku mengerti."
Ibu Melody, Tsuchiya, tersenyum pada putri semata wayangnya itu. "Kau memang putri ibu yang baik, Melody. Ibu menyayangimu." Ibu Melody memeluk erat Melody.
__ADS_1
Pelukkan hangat seorang ibu bisa dengan jelas Melody rasakan. Kasih sayang tiada tara seolah sedang menerpa setiap inchi tubuh Melody.
"Ibu jangan khawatir! Aku akan baik-baik saja. Semua orang yang ada di rumah ini sangat baik pada diriku. Kakek Wijaya, nenek Chiyo, Ibu Mikan, Ayane-neesan, bahkan paman Aron dan Shuhei-san juga sama, mereka sangat baik padaku. Aku yakin, aku akan betah di sini, Bu." Kata Melody.
"Mikan-san, saya nitip anak saya." Kata Ibu Melody.
"Jangan khawatir, Tsuchiya-san! Kita sudah membahas hal ini berkali-kali tadi malam dengan kakek dan nenek Yudha. Jika Melody rindu padamu, aku akan dengan senang hati mengizinkan Melody menjengukmu. Kaupun boleh mengunjungi Melody sesuka hatimu. Rumah ini selalu terbuka untukmu, Tsuchiya-san. Bukankah kita ini sudah menjadi besan? Kita sudah menjadi keluarga besar." Kata Ibu Yudha, Mikan.
"Ah, arigato gozaimasu, Mikan-san, saya sangat senang mendengarnya. Sayapun juga merasa lega akan hal itu. Nah Yudha, jaga Melody ya! Ibu percaya, kau adalah laki-laki yang baik." Kata Ibu Melody.
"Iya, ibu mertua."
Ibu Melody lantas pulang ke rumahnya diantar oleh Shuhei, sopir pribadi Yudha. Melody melambaikan tangannya seiring kepergian mobil yang ditumpangi ibunya.
Entah kenapa, air matanya tiba-tiba jatuh perlahan membelah ke dua pipinya yang putih pucat. Melody menangis.
"Melody-chan, apa kau menangis? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Ibu Yudha khawatir.
Melody menggeleng cepat. "Tidak kok, Bu. Aku baik-baik saja." Ia lantas mengusap air matanya.
"Dasar cengeng!" Kata Yudha mengejek.
"Apa katamu, Yudha? Aku ini tidak cengeng! Huh!"
"Kau cengeng, Melody! Aku melihatnya. Kau mengusap air matamu itu."
"Sudah, sudah! Berhentilah berdebat! Kalian ini jangan bertengar terus! Kalian sudah menikah, bersikaplah romantis layaknya pengantin baru! Seperti semalam loh!" Lerai Ibu Yudha sambil menggoda ke dua anaknya itu, lalu bergegas pergi meninggalkan Melody dan Yudha dalam tanda tanya besar di kepalanya masing-masing.
Melody dan Yudha saling melempar tatapan.
"Seperti semalam? Apa yang dimaksud oleh Ibu, Yudha?" Tanya Melody.
"Entahlah.." Yudhapun juga tidak tahu apa maksud ibunya itu.
Memang semalam terjadi apa? Semalam itu maksudnya malam pengantin, kan?
Tentu saja tidur? Hal umum yang teradi di malam hari tentu saja tidur, kan? Itulah yang coba Melody dan Yudha pikirkan.
Lalu apanya yang romantis dari acara tidur di malam hari? Apa karena tidur sebagai pasangan pengantin baru? Sama saja, kan? Toh sama-sama tidur? Sama-sama di atas kasur, pakai bantal dan guling, dan juga pakai selimut.
__ADS_1
Aneh?
Melody dan Yudha malah menjadi bingung sendiri. Mereka berdua sama sekali tidak mengerti maksud dari ibu Mikan.