
"Sesebenarnya kalau tidur aku sedikit berbeda." Kata Melody.
"Berbeda bagaimana?"
Tanya Yudha. Ia menaikan sebelah alisnya. Apaan coba maksud dari Melody itu?
Bukankah tidur itu hanya memejamkan mata? Yudha kurang paham dengan apa yang dikatakan oleh Melody.
"Emm, sedikit agresif jika aku terlalu lelah." Kata Melody malu.
Oh seperti itu. Paling hanya bergerak atau lebih parah lagi, bisa mengorok. Itu yang Yudha pikirkan. Bukankah itu normal? Ia juga pernah seperti itu jika melebihi batas lelahnya.
"Tidak apa-apa, setiap orang memiliki gaya tidur masing-masing." Kata Yudha.
Melody tersenyum senang mendengar kata-kata Yudha. "Benarkah?"
"Hn."
"Janji tidak akan marah?"
"Iya, janji."
Melody tersenyum manis pada Yudha. Yudha hanya ikut tersenyum tipis tanpa ada beban apapun.
Mereka berdua mulai tidur bersama.
Yudha di ujung sisi sebelah kanan, sedangkan Melody di ujung sisi sebelah kiri. Terlalu dekat dengan sisi ranjang sehinggan menyisakan ruang cukup lebar di tengah mereka berdua. Ditambah lagi, mereka tidur saling membelakangi.
Mereka berdua tidak benar-benar tertidur.
Yudha masih berkutik dengan fikirannya. Melody justru meringkuk sambil memegangi jantungnya yang berdetak sangat kencang.
Suasana malam itu cukup sunyi. Melody bisa dengan jelas mendengar degub jantungnya.
"Ne, Yudha?" Panggil lirih Melody akhirnya.
"Hm?"
Mereka masih saling membelakangi.
"Ka-kau belum tidur?"
"Aku hampir tidur jika kau tidak memanggilku."
"Ah, go-gomen."
Gomen/gomenasai: Maaf.
"Ada apa? Jangan bilang kau ingin ke kamar kecil tapi tidak berani?"
"Ti-tidak, tidak ada apa-apa kok, Yudh. O-oyasumi." Melody menarik selimutnya sampai menutupi seluruh badannya.
Oyasumi/oyasumiminasai: Selamat tidur.
"Hn."
Mereka berdua melanjutkan acara tidur mereka. Badan terasa sangan lelah setelah menghabiskan waktu yang cukup panjang seharian.
__ADS_1
.
.
.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua malam.
Sepertinya Melody sangat menikmati tidurnya. Ia tertidur sangat pulas. Jauh berbeda dengan Yudha. Setiap kali Yudha memejamkan mata selalu saja mendapat gangguan. Gangguan itu datang dari Melody sehingga membuat Yudha kesulitan tidur.
Melody tertidur seperti orang yang sedang bermain sepak bola. Malah lebih mirip dengan orang yang sedang bermain gulat.
Tangan Melody bergerak mengenai muka Yudha, tak jauh berbeda dengan kakinya.
Yudha mencoba menyingkirkan tangan Melody, tapi tangan Melody kembali lagi memukul mukanya dengan keras. Setiap kali Yudha mencoba menyingkirkan kaki Melody dari badannya, selalu saja akan kembali seperti itu.
Melody bahkan bergerak seperti jam dinding, kaki memakai bantal sementara kepala tidak menggunakan bantal sama sekali. Acap kali Yudha membantu mengembalikan posisi tidur Melody.
Benar-benar merepotkan.
"Apa ini yang dimaksud dengan tidur dengan sedikit agresif? Sedikit agresif bagaimana? Ini sungguh keterlaluan! Aishh, mimpi apa aku bisa menikah dengan cewek aneh ini." Gumam Yudha setelah membantu mengembalikan posisi tidur Melody.
Baru saja Yudha selesai membantu mengembalikan posisi tidur Melody, tangan Melody tiba-tiba bergerak dan memukul pipi mulusnya.
Batas kesabaran Yudha hampir habis. Emosinya mulai naik ke level paling atas dan bisa meledak kapan saja.
Ingin rasanya Yudha menendang Melody agar menjauh darinya, tapi sayangnya ia tak setega itu. Ia sudah berjanji pada Melody untuk tidak marah pada Melody.
Poor Yudha! Badan sudah sangat lelah, kakinya pegal-pegal, harusnya ia bisa tidur dengan sangat nyenyak, tapi malah ia tidak bisa tidur sama sekali.
Ngenes sekali nasib Yudha.
.
.
.
Pagi harinya..
"Hoaammzzz." Melody menguap lebar. "O-ohayou, Yudha. Kau sudah bangun?" Tanya Melody yang masih sangat mengantuk.
Ia melihat Yudha sudah bangun. Laki-laki tampan sang pangeran kampus ini berada satu kamar dengannya.
Ohayou/Ohayou gozaimasu: Selamat pagi.
"Hn." Jawab Yudha pelan. Yudha mengusap-usap rambutnya dengan handuk.
"Rambutmu basah, apa kau sudah mandi? Cepat sekali. Ini bahkan masih terlalu pagi. Lagipula hari ini juga sedang tidak ada kuliah."
Melody merasa cukup heran. Menurutnya, ini masihlah terlalu pagi untuk madi. Ia sempat melirik ke arah jam dinding, ia juga tak telat bangun. Hari ini seperti keajaiban saja. Dimana ia super kelelahan tapi bisa bangun lebih awal.
Pijatan kaki Yudha semalam sangat menolongnya.
"Mandi pagi dapat membuat segar badan. Menghilangkan rasa kantuk dan malas." Kata Yudha.
"Apa kau sedang menyindirku? Aku tahu aku tidak bisa bangun cepat. Aku juga sering malas mandi. Terlalu sering mandi juga tidak bagus untuk kulit, nanti bisa membuat kulit kering! Aku yang malas mandi saja kulitnya sudah sangat kering, apalagi jika aku rajin mandi? Aku pasti akan menghabiskan banyak lotion." Melody mencoba membela diri.
__ADS_1
"Oh apa kau sedang membuat pengakuan?" Simpul Yudha.
"Arghh, Yudha kau berisik sekali sih! Huh." 😤
Apa tidak ada yang lain selalin berkata pedas seperti itu? Bukankah ini masih terlalu pagi?
"Jangan meneriakiku, KAZEHAYA MELODY!"
"Kazehaya Melody? Ah, benar juga. Aku sudah menjadi istri Yudha ya? Margakupun mengikutinya. Seperti mimpi saja. He, uso, uso, bohong, kan? Tidak mungkin! Ini pasti mimpi?" bantin Melody sambil menampar-nampar mukanya dengan kedua tangannya. Hal ini membuat Yudha mengernyit keherananan.
"Apa itu gayamu saat bangun tidur?" Tanya Yudha dengan polosnya.
Selalu saja membuat kesal.
"YUDHA NO BAKA!"
Uso: bohong.
Baka: bodoh.
Yudha melempar handuk yang ia pakai untuk mengeringkan rambutnya pada Melody.
Melody kesal mendapatkan perlakuan itu dari Yudha.
"Keringkan rambutku! Itu tugas pertamamu sebagai seorang istri!" Perintah Yudha.
Melody menyambar handuk itu dan bangun dari ranjang. Ia mendekati Yudha yang sudah duduk di sisi ranjang. Dengan handuk itu, Melodypun membantu mengeringkan rambut Yudha.
Menggosoknya ke kanan dan kekiri.
"Pelan-pelan, Mel! Yang lembut sedikit bisa tidak?" Omel Yudha karena Melody asal-asalan saat menggosok rambutnya dengan handuk.
"Ya tidak kering-kering, Yudh! Mau aku ambilkan hair dryer? Di kamarku ada satu." Tawar Melody.
"Tidak usah, pakai handuk saja!"
"Baiklah.." Dan Melody melanjutkannya.
Yudha makin kesal. "Yang dikeringkan rambut, bukan mukaku!" Kata Yudha.
"Hehe, kali saja wajah tampanmu itu palsu, jadi aku ingin memastikannya!" Cengir Melody.
Yudha membalikkan badan, ia lalu mendorong tubuh Melody ke ranjang. Ia bahkan sampai harus mengunci tubuh Melody. Kedua tangan Melody ia tahan dengan kedua tangan kuatnya.
Melody kaget bukan main dengan perlakuan Yudha terhadapnya. Apalagi ketika Yudha menatapnya dengan sangat intens. Jantungnya berdegup tak karuan. Meletup-letup seperti popcorn.
"Kalau ingin memastikan aku tampan asli atau tidak itu seperti ini caranya!" Kata Yudha. Ia lalu menyentil jidat Melody.
"Aw.."
Sakit.
Sentilan barusan sangat sakit. Yudha memang rajanya membuat kesal.
.
.
__ADS_1
.
"Aku sudah menikahi Melody, sesuai perjanjianku dengan kakek. Aku tak sabar menunggu balasan dari apa yang sudah aku korbankan. Kakek adalah orang dengan segala pride dan harga dirinya yang super tinggi. Aku yakin, kakek tidak akan melupakan segala keinginanku."