
Yura duduk meringkuk di kamar hotelnya. membayangkan kisah masa lalu yang sangat berharga untuknya. Kisah dimana ia, Yudha, dan Sai membina suatu hubungan panjang yang terhubung sampai saat ini.
.
.
.
FLASH BACK ON...
Seorang laki-laki sedang duduk bersama dengan seragamnya terdapat nama bertuliskan Kazehaya Yudha dan Miura Sai. Mereka berdua sedang membicarakan pelajaran yang baru saja mereka dapatkan di kelas. Tipe-tipe jenius memang sudah terlihat di tingkah laku mereka yang tak menunjukkan jika mereka sebenarnya masih kelas 5 SD.
Selang beberapa lama seorang gadis manis berambut pirang berjalan mendekat, gadis kecil itu duduk di ayunan yang tak jauh dari tempat Yudha dan Sai duduk.
Gadis itu terlihat murung dan hanya duduk saja tanpa menggerakkan ayunannya. Hal itu membuat Yudha dan Sai saling bertatapan.
"Bukankah dia Amamiya? Anak yang baru pindah tadi pagi?" Tanya Sai.
"Ya, sepertinya." Jawab Yudha.
"Tempo hari aku mengikuti acara pemakaman teman ayahku, sepertinya itu adalah pemakaman ibunya dia."
"Benarkah?"
"Ya, aku melihatnya menangis tersedu-sedu saat itu di makam ibunya. Dia terlihat sangat buruk.. Aku sempat memberikannya sapu tangan, kurasa dia melupakanku. Nyatanya dia tak menyapaku padahal kita sekelas."
“Kurasa dia melupakanmu.”
“Kau..”
“Belum tentu dia sadar kau ada di sana.”
“Benar juga sih..”
Mereka berdua kembali memandangi Yura yang terlihat sedang bersedih itu hingga akhirnya sopir pribadi Sai datang menjemput.
"Sepertinya dia cewek yang baik, kau bisa mengajaknya berkenalan Yudha. Dia terlihat kesepian. Aku jadi merasa iba." Kata Sai.
Yudha mendengarkan baik-baik apa yang dikatakan Sai, sahabatnya. Mencernanya hingga membuatnya berani melangkahkan kaki untuk menghampiri Yura yang sedang menangis sendirian. Cukup kaget ternyata tak hanya sedang kesepian, rupanya Yura juga sedang menangis. Hal ini membuat Yudha ingin melindungi gadis kecil ini.
"Jika kau menangis, maka orang yang kau sayangi akan bersedih." Kata Yudha.
Bahasa anak kecil? Ingat, itu Yudha! Yudha yang dibahas dalam kisah ini, si maha jenius dengan kemampuan otak tak masuk akal!
Yura menoleh ke arah Yudha. Ada angin lembut membelai wajah ayunya. Yudha memandangnya dengan teduh, membuat hati Yura menghangat.
"Dimana mobil jemputanmu?” Tanya Yudha.
Yura menghapus air matanya dengan tangan mungilnya. “Be-belum datang..”
Melihat Yura yang kesulitan menghapus air matanya, Yudha lalu mengambil sapu tangan miliknya dan memberikannya pada Yura. Yura menerimanya dan mengucpkan terima kasih pada Yudha. Ia kembali menghapus air matanya dengan sapu tangan pinjaman dari Yudha.
“A-aku akan mengembalikannya setelah aku membersihkannya.” Kata Yura. Ia tak enak hati karena sudah membuat sapu tangan milik Yudha menjadi ‘kotor’ karena air matanya.
“Jangan terlalu memikirkannya.”
“A-Arigatou gozaimasu.”
“Hn.”
“Aku.. Amamiya Yura. Bolehkah mengetahui namamu?”
“Yudha, Kazehaya Yudha..”
“Yudha-kun. Salama kenal ya.” Yura memamerkan senyuman tulusnya.
Untuk sejenak Yudha merasa harinya lebih indah dari biasanya.“Hn, salam kenal, Yura.”
__ADS_1
Dan semenjak saat itu mereka bersahabat. Mereka bahkan seolah mengikat janji, janji dimana Yudha akan selalu menjaga Yura dan akan selalu ada untuk Yura jika Yura membutuhkannya. Yudha akan selalu mengikuti Yura! Itu janjinya pada Yura.
Mereka selalu bersama.
Mereka tertawa dan tumbuh bersama.
Yura merasa sangat nyaman dan terlindungi dengan adanya Yudha di sisihnya. bukan hanya itu, ia juga dekat dengan Sai semenjak ia menyadari jika Sai adalah sosok anak kecil yang memberinya tisu sewaktu ia menangis di makam ibunya.
Sosok yang selama ini ia carai-cari.. sosok lain yang ia idam-idamkan, sangat nyaman selain dari sosok Yudha.
Sai adalah orang pertama yang membantu menghapus air matanya.
Yudha adalah orang ke dua yang juga membantu menghapus air matanya.
Namun, sosok Sai memiliki tempat tersendiri di hati Yura semenjak saat pertama kali bertemu di pemakaman ibunya dulu.
Yura mengagumi Sai, tapi Sai bersikap dewasa terhadapnya. Sangat berbeda dengan Yudha yang terkesan protektif terhadap dirinya. Kontribusi Yudha di dalam hidupnya memang sangat banyak, tapi ia sudah menjatuhkan hatinya pada seorang Sai.
Perasaan it terus tumbuh sampai mereka dewasa. Bahkan saat Sai memutuskan pindah ke luar negeripun, perasaan itu masih terus berkembang.
Yura akan membuat alasan liburan untuk menemui Sai di luar negeri. Tentu saja Yudha juga mengikutinya. Yudha sudah berjanji akan menjaganya. Beruntung, keluarga mereka bersahabat karena bisnis juga.
Ternyata ikatan lingkar takdirpun menjerat mereka bertiga.
.
.
.
"Yudha-kun, apa Sai-kun akan menyukai ini?"
"Dia menyukai benda unik."
.
"Yudha-kun, apa menurutmu ini cocok untuk Sai-kun?"
.
"Yudha-kun, apa yang dilakukan Sai-kun sekarang ya? Dia tidak memberiku kabar apapun hari ini. Apa dia baik-baik saja.?"
Yudha mengambil HP dan menelpon Sai. "Ini bicaralah dengannya!"
.
"Yudha-kun, apa aku terlihat bagus memakai gaun ini? Sai membelikannya untukku."
Yudha hanya mengangguk, padahal ia juga memberikan gaun pada Yura.
Namun Yura tidak memakai gaun yang ia berikan, setidaknya mencobanya. Yura tidak melakukan hal itu.
.
.
"Yudha-kun, apa Sai-kun..."
Sai dan Sai. Itu yang selama ini Yura tanyakan jika sedang bersama Yudha.
Dan puncaknya. "Yudha-kun, Sai bilang sedang melukis seorang model terkenal, aku juga ingin menjadi seorang model terkenal agar suatu saat Sai-kun bersedia melukisku."
Kali ini Yudha tak menjawab meski begitu Yura tetap melakukannya. Yura debut menjadi seorang model hanya karena Sai ingin melukis seorang model terkenal. Model memang impiannya juga sih, tapi Sai memiliki kontribusi yang sangat besar dalam keberaniannya mengambil langkah.
Sebagai seorang sahabat, Yudha hanya bisa mendukung keputusan yang Yura ambil. Ia tidak bisa egois untuk menghalangi impian seseorang, apalagi impian sahabatnya sendiri. Yudha tidak sejahat itu.
.
__ADS_1
.
.
Yudha sangat perhatian dengan Yura. Yudha sangat tahu apa yang disukai dan apa yang tidak disukai Yura. Ia benar-benar memahami bagaimana Yura itu.
Bisa dibilang Yudha juga menaruh rasa pada Yura.
Gadis kecil murung yang ditemui di taman sekolah berubah menjadi gadis cantik yang menggugah hatinya. Meski Yudha menunjukkan kepeduliannya pada Yura, tapi rupanya Yura hanya melihat sosok Sai di matanya.
Yura tak pernah sekalipun membicarakan kisah romantis pada Yudha. Yudha juga tak mempermasalahkannya. Ia membiarkan semuanya berjalan seiringan dengan waktu. Toh waktu masih panjang.
.
.
.
Memori kenangan itu sangat panjang. Tak cukup hanya dengan kata flashback saja. Butuh kapasitas lebih untuk menuangkannya ke dalam tulisan.
Momen dimana Yudha menaruh rasa pada Yura, tapi Yura menyukai Sai, dan Sai? Entahlah, laki-laki berkulit pucat itu sangat sulit diprediksi meski seorang Yudhapun yang mencoba mengartikannya. Sai terlalu misterius karena memiliki banyak laci yang sulit untuk diterka apa isinya.
.
FLASH BACK OFF.
.
.
Yura mengusap air matanya. Ia menangis.. Baru ia sadari jika apa yang ia lakukan selama ini menyakiti perasaan Yudha. Rupanya ia sangat egois dengan hanya memikirkan Sai saja padahal sudah jelas jika Yudha selalu ada untuk dirinya.
Yudha selalu menjaganya, sesuai janji waktu dulu.
Yura juga sadar jika Yudha memiliki perasaan padanya, tapi ia tak begitu memikirkannya karena baginya Sai itu yang paling penting. Bukan berarti Yudha tidak penting.. Yudha juga penting, hanya saja, Yura sudah jatuh hati pada Sai.
Salahkah ia menyukai Sai?
.
.
.
Yura yang selalu mengabaikan Yudha mulai merasa lain saat Yudha mengajaknya menikah tapi ia menolaknya.. Tidak ia sangka jika Yudha yang dulu selalu ada untuknya bisa seolah menghilang seperti ini.
Yura menjadi merasa kehilangan figure seorang Yudha.
"Yudha mengajakku menikah, aku tak melihat jika itu hanyalah candaan garingnya. Aku yakin karena laki-laki itu tak menyukai bercanda konyol. Dia selalu serius. Menikah muda dengan Yudha memang terlihat mapan jika dilihat dari background keluarga kami. Tapi, aku tidak mau membohongi perasaan ini. Lagipula, ambisiku menjadi model terkenal masih belum benar-benar tercapai. Awalnya kurasa menolak Yudha adalah keputusan tepat dan berlogika. Yudhapun menikah dengan gadis yang tak dikenal.. Gadis biasa saja dan terlihat sering membantah Yudha. Lama-lama, adu argument mereka menjadi terlihat berbeda, itu seperti mengubah sosok Yudha. Yudha bahkan tak pernah mengabariku setelah menikah. Yudha menatapku dingin seperti ia menatap orang lain. Itu menyakitkan. Aku merasakan dadaku sesak dan nafasku menyempit. Aku tahu itu semua salahku, tapi aku tidak terima kenapa dengan mudahnya Yudha melakukan hal itu terhadapku. Semua itu gara-gara wanita itu. Aku harus merebut posisiku kembali!"
.
.
.
Sai mendatangi kamar Yura. Sai sebenarnya mengamati Yura sedari di pantai saat Yura berbicara berdua dengan Yudha. Melihat Yura yang berlari sambil menangis membuat dirinya merasa khawatir. Ia mengikuti Yura dan sampailah di hotel.
Yura mempersilahkan dirinya masuk. Sai melihat Yura kurang baik. Meski Sai tahu, tapi ia tak berniat menanyakannya lebih lanjut. Ia berfikir jika tindakkannya belumlah tepat untuk saat ini. Yura belum begitu menunjukkan keinginnan memberontaknya.
"Sai-kun."
Biasanya Yura akan sumringah jika melihat dirinya tapi kali ini jauh lebih buruk dari sebelum-sebelumnya.
"Ini!" Sai menyodorkan sebotol minuman dingin pada Yura. "Bisa untuk mendinginkan hatimu." Kata Sai.
Yura menerimanya. "Thanks."
__ADS_1
"Seorang model tidak baik menunjukkan wajah sembabnya."
Yura menghambur dan memeluk Sai. Iapun menangis. Sai hanya mengelus-elus punggung Yura di pelukannya dan berharap jika semua akan baik-baik saja. Sai juga berharap agar Yura tak salah mengambil langkah ke depannya.