MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Status Baru


__ADS_3

Hari baru, status baru.


Melody sadar akan hal itu. Setelah menjalani begitu banyak 'kegiatan' yang sudah terjadi dalam lika-liku hidupnya, mulai dari pertemuannya dengan kakek Wijaya, pemecatan kerja dirinya, hutang renternir, perjodohan dengan Yudha, bahkan dalam waktu kurang dari dua minggu ia sudah mendapatkan status baru.


Dirinya yang dahulu hanyalah seorang wanita biasa, mahasiswa biasa saja jurusan manajemen, wanita pas-pasan dari kalangan masyarakat ekonomi menengah ke bawah, sekarang sudah menyandang gelar Kazehaya sebagai maraga barunya.


Marga yang sangat dihormati di kalangan penduduk Jepang. Marga yang menguasai saham dunia. Marga yang serba 'sempurna'.


Bukan hal yang mudah bagi Melody untuk memutuskan menikah muda. Menikah dengan seorang Kazehaya Yudha, calon ahli waris keluarga Kazehaya. Apa lagi tanpa cinta seperti ini.


Itu berat. Sangat berat. Tak seperti kisah sinetron atau novel yang ia baca.


.


.


.


Tak jauh bedanya dengan Yudha. Yudhapun juga berkorban banyak akan hal itu. Tak hanya mengorbankan perasaannya, tapi juga hidupnya.


Yudha memasang taruhan yang besar untuk 'game' yang ia mainkan. Berharap ia akan memenangkan permainan yang ia buat.


Tujuannya untuk menang, menang itu mutlak!


Memang sedikit memaksa, tapi jika ia tidak menang maka semua yang ia korbankan akan sia-sia.


Jujur saja, Yudhapun juga tidak tahu apakah dirinya itu akan menang atau justru akan kalah dalam permainan yang ia buat sendiri.


Kalah tentu saja akan membekas.


Luka?


Ia sudah terlalu banyak mendapat kesenangan. Sepertinya mendapat luka ada baiknya juga. Itu yang Yudha angankan.


Yudha tidak tahu apa yang akan dihadapinya setelah ini.


Luka itu ada level sakitnya loh, Yudha.


Ringan, sedang, atau sangat menyakitkan.


Yudha juga tidak tahu, luka mana yang akan segera menyapanya. Tentunya, luka ringan yang ia harapkan.

__ADS_1


"Ayane-nee, apa aku harus mengambil libur kuliah lagi? Sampai kapan?" Tanya Melody.


Sufix -nee: mbak atau kakak yang ditujukan untuk cewek. -nii: kakak untuk laki-laki.


Ayane berhenti menyisir rambut Melody. "Tuan Besar bilang sampai batas yang Tuan Besar inginkan." Jawab Ayane.


Kekuasan Tuan Besar keluarga Kazehaya alias kakek Wijaya itu sebesar apa sih? Sebesar pulau Greenland? Seluas samudra Pasifik? Setinggi langit? Ok, itu berlebihan. Tentu saja tidak akan bisa dibandingkan dengan itu. Intinya itu hanya pengandaiannya saja.


"Haduh bagaimana ini, batas yang kakek inginkan itu berapa hari? Jika aku terlalu banyak mengambil libur kuliah, aku akan ketinggalan pelajaran. Aku tahu kapasitas otakku itu seperti apa. Huh." Melody merasa kesal sendiri.


"Anda sebaiknya menuruti permintaan Tuan Besar saja, Nona." Ayane tersenyum dan melanjutkan menata rambut Melody.


"Kakek itu ya suka seenaknya saja. Sama kayak si pantat ayam itu!"


Ayane hanya kembali tersenyum. Dalam hatinya sebenarnya ia berfikir keras. Baru kali ini ia mendengar kritikan pedas terhadap tuan mudanya, Yudha Kazehaya.


Pantat ayam? Ayolah, semua wanita normal pasti akan memuja ketampanan Yudha. Tak hanya remaja, ibu-ibu paruh baya, bahkan nenek-nenek sekalipun tidak menyangkal betapa tampannya wajah Yudha itu.


"Nona, sebaiknya jangan katakan itu pada Tuan Muda!" Saran Ayane.


"Tapi sepertinya akan seru jika dia mendengarnya. Haruskah aku mencobanya?" Seringai Melody.


"Nanti Nona bisa dimakan oleh Tuan Muda. Jika itu terjadi, bagaimana saya harus bekerja?"


"Tentu bukan itu maksud saya, Nona Melody. Tapi memakan Anda di ranjang seperti malam pertama Anda dan Tuan Muda!"


"Hah? Apaan coba? Yudha itu tak suka memakanku, aku terlalu kurus buatnya! Dia sukanya nyuruh-nyuruh tidak jelas saat berdua. Kadang aku tak paham apa maksudnya."


Ayane melebarkan bola matanya. "Nona Melody sungguh melakukan sesuatu dengan Tuan Muda?" Tanyanya penasaran.


"Iya, aku teriak-teriak kesakitan karena ulahnya." Jawab Melody polos.


Ayane sungguh tak menduga akan hal ini. Pertanyaanya dijawab oleh Nona Mudanya yang baru saja resmi mendapatkan status baru sebagai menantu keluarga Kazehaya.


"Lalu?" Tanya Ayane.


"Lalu aku tak bisa tidur karena gugup, tapi Yudha memberiku pijatan yang sangat nyaman. Bangunpun aku jadi tak apa-apa. Badanku juga cukup baik." Jawab Melody.


Ayane hanya tersenyum ria menanggapi ocehan dari Melody. Menurutnya itu langkah awal yang baik.


Padahal sesungguhnya, maksud Ayane ini, tapi Melody menjawabnya itu. Hebatnya, pembicaraan tanya-jawab itu nyambung. Bisa dipahami menjadi sebuah pembicaraan.

__ADS_1


Memang sebaiknya jika berbicara itu yang jelas agar tak menimbulkan kesalahpahaman.


"Sudah?" Tanya Melody.


"Ya. Sudah selesai, Nona."


Melody memalingkan kanan dan ke kiri kepalanya untuk melihat hasil tatanan rambut yang Ayane lakukan untuknya.


"Perfect. Arigato, Ayane-nee. Aku menyukainya."


"Sama-sama, Nona Melody."


"Apa Ayane-nee tahu dimana Yudha? Setelah aku selesai mandi, aku tidak tahu dia dimana."


"Tuan Muda biasanya jika tidak masuk kuliah, dia ada di taman belakang dekat kolam renang untuk menikmati kopi."


"Manusia robot jadi-jadian itu apa tidak suka minum minuman yang lain? Kopi? Pasti kopi hitam tanpa gula yang rasanya seperti jamu dari rumput itu kan? Apa enaknya?"


Tadi pantat ayam sekarang manusia robot jadi-jadian. Nona Mudanya ini kelewat berani.


"Tuan Yudha dari dahulu memang sudah menyukai kopi pahit, Nona. Setahu saya, Tuan Muda memang tidak menyukai makanan atau minuman yang terlalu manis."


Melody terheran-heran. "Bukannya makanan manis itu sangat lezat. Kue, coklat? Oh Tuhan, aku tidak tahan hanya dengan membayangkannya. Aku jadi ingin memakannya. Lalu, apa Nee-san tahu makanan apa yang paling disukai Yudha?"


Ayane berfikir. "Sepertinya buah tomat. Setiap belanja harian maupun bulanan, para maid di rumah ini pasti tidak pernah melewatkan tomat untuk dibeli. Selain itu, hampir setiap hari Tuan Muda meminum jus tomat."


"Hm, hm, benar juga. Aku juga sering melihatnya meminum jus tomat saat makan bersama. Dasar manusia tomat."


"Mungkin sebaiknya Nona menemui Tuan Muda sambil membawa jus tomat. Mungkin Tuan Muda akan senang." Ayane menawari ide.


Tugas lain yang diberikan kakek Wijaya untuknya adalah untuk membuat hubungan Melody dan Yudha semakin dekat.


Melody menyetujuinya. Dengan segera ia meluncur ke dapur untuk membuat segelas jus tomat. Ia sempat saling berebut dengan Ayane dan beberapa Maid yang ada di dapur untuk membuat jus tomat.


Mereka melarang Melody melakukan hal itu, tapi Melody bersikeras melakukannya karena ia ingin menjadi istri yang baik untuk Yudha. Sempat merona wajahnya saat ia menyebut dirinya sebagai istri Yudha.


Malu, tentu saja, kan? Pengantin baru. Apa lagi?


"Itu Tuan Muda, Nona! Saya akan memberi privasi untuk Anda berduaan dengan Tuan Muda." Kata Ayane.


"Iya, arigato, Ayane-nee."

__ADS_1


Ayane pergi meninggalkan Melody setelah menunjukkan tempat keberadaan Yudha.


__ADS_2