
Usai melepaskan segala gairah cinta yang membara, Melody dan Yudha menjadi semakin sulit untuk memisahkan diri antara satu dengan yang lainnya. Ketika Yudha ingin beranjak, Melody tidak mau ditinggalkan, bahkan merajuk manja. Yudah tak bisa berbuat apa-apa selain tetap tinggal untuk menyenangkan hati Melody.
Nyatanya ia juga menyukai sifat Melody yang seperti ini. Baginya Melody nampak begitu manis dan menggemaskan. Ia tak akan pernah bosan jika harus berlama-lama dengan istrinya itu.
Begitupun dengan Melody, Yudha mau menemaninya selama yang ia minta juga bisa membuatnya sangat bahagia. Ia hanya tersenyum senang ketika ia berusaha meninggalkan Yudha hanya sekedar untuk mengambil ponsel, Yudha sudah seperti kucing yang kesepian. Jadi tak tega rasanya.
Apakah ini sebenarnya? Apakah koneksi orang jatuh cinta bisa berlebihan seperti ini?
Tidak paham, yang bisa Melody dan Yudha pahami jika perasaan tak ingin ditinggalkan, perasaan ingin selalu bersama adalah rasa baru dalam kehidapan mereka. Ini adalah yang pertama kalinya dan rasanya begitu unik, menggelitik hati, membuat senyum-senyum sendiri.
Apaan coba? Ingin menjadi pengabdi cinta?
Yudha memainkan helaian rambut Melody yang tengah berbaring di sampingnya. Ya, di sinilah mereka berdua, masih di tempat yang sama sejak semalam, belum beranjak kemana-mana. Masih sangat betah menghabisakan moment berdua. Sudah seperti getah nangka yang nempel di baju saja, enggan lepas.
Adakah yang protes? Bukankah biasanya akan menyembut dengan mirip perangko? Sayang sekali, bagi Melody dan Yudha, getah nangka jauh lebih kuat kemampuan melekatnya dibandingkan dengan perangko.
Sujujur ingin tepok jidat karena pengandaian absurd ini, bagitu tidak jelas dan benar-benar aneh. Sudahlah, lagian pasangan ini memang tercipta atas sifat dasar masing-masing dengan segala keunikannya.
"Kau tidak lapar?" Tanya Yudha yang masih setia memainkan helaian rambut Melody.
Halus dan lembut. Ia sangat menyukai bau shampoo yang Melody pakai. Bau yang membuat nyaman. Sama dengan bau tubuh Melody yang sangat membuat candu.
"Lapar sih, tapi aku masih ingin seperti ini bersamamu." Jawab Melody.
"Tapi kau harus makan, tidak kasihan sama anak-anak kita?"
"Baiklah, ayo kita makan!" Suara Melody sedikit agak kecewa.
Yudha menyadarinya. "Sebahis makan pagi, kau ingin bermain salju di depan kedai ramen? Badai sudah usai, ada matahari teduh pagi ini."
"Benarkah? Kau mengizinkannya?" Tanya Melody tak percaya.
Yudha mengangguk. "Aku sering melihatmu menatap kosong salju dari dalam jendela kamar kita saat kau aku kurung. Kupikir kau sangat menyukai salju."
Ternyata Yudha selama ini memperhatikannya. Meski kecil, tapi rasanya membuat hati sangat senang. "Iya, aku sangat menyukai salju. Ayo cepat! Kita harus segera makan dan bermain salju setelahnya!"
Melody mencoba bangun dari tidurannya, seperti terburu-buru. Karena kehamilannya yang sudah cukup besar, Yudhapun membantu Melody.
"Pelan-pelan! Kehamilanmu itu membatasi gerakmu." Kata Yudha.
__ADS_1
Melody nyengir. Memang benar sih, ia juga mulai merasakan sulit bergerak saat sedang tiduran. Tidak bisa gerak cepat untuk miring sana-sini. Perlu usaha ekstra dan sangat hati-hati tentunya.
"Hehe, maaf." Ucap Melody.
Ketika Melody bisa bangun ia duduk sebentar, Yudha memijat punggungnya. Rasa pegal itu membaik. Sepertinya Yudha memang ahli pijat deh. Itu yang Melody pikirkan. Dari awal Yudha memijatnya, semua rasa pegal, lelah, kesleo membaik. Yudha memang ahlinya.
Namun, jika ia mengatai Yudha sebagai ahli pijat, Yudha akan kesal. Lebih baik diam soal ini, ia tak mau merusak suasana yang sangat bagus ini.
.
.
.
Sehabis makan pagi, Melody dan Yudha berjalan-jalan di sekitar kedai ramen dan penginapan itu.
Melody merentangkan kedua tangannta ketika berjalan.
"Lihatlah, Yudh! Di depan sana saljunya masih rapi hasil alam, belum ada yang menapakinya!" Kata Melody.
Yudha melihat ke arah yang Melody tunjuk. Benar, tempat itu belum ada orang yang mrnapaki. Masih sangat rapi dan alami.
Melody ingin segera ke sana, tapi Yudha menahan tangannya.
"Pakai ini!" Yudha melilitkan sebuah syal warna coklat di leher Melody. "Aku tak mau kau sakit lagi habis ini!" Kata Yudha.
Mulai dari badai salju kemarin, bibir Melody menjadi mudah sekali menarik senyuman senang, ikhlas, dan tulus. Yudha memang sangat mudah membuatnya luluh.
Tidak peduli kata orang yang akan mengatainya bodoh atau bagaimana, tapi ia hanya sangat mencintai Yudha. Mencintai suaminya yang menikahinya sepuluh bulan yang lalu. Mencintai suaminya yang awalnya hanyalah hasil sebuah pernikahan tanpa ada rasa cinta. Sudah ada anak-anak suci di dalam rahimnya, sangat kejam jika ia mencoba menjauhkan dari ayahnya.
"Arigato, Yudha." Kata Melody.
"Tidak ditambahi -kun lagi? Padahal aku sudaha menunggunya loh.." Tanya Yudha. Ada ekspresi sok kecewa di sana.
"Cih, apaan sih?" Melody memalingkan wajahnya.
"Malu ya?"
"Hah?"
__ADS_1
"Kau malu rupanya."
"Aku tidak malu, Yudha-kun!" Akhirnya Melody menambahi sufix -kun juga di belakang nama kecil Yudha.
Kini giliran Yudha yang malu. Dipanggil Melody dengan imbuhan seperti itu membuat mukanya memerah. Bukan berati ia tidak senang, ia hanya belum terbiasa. Belum terbiasa menerima background pink dan bunga-bunga di sekelilingnya.
"Sial, hanya dengan panggilan seperti itu darinya, aku jadi merasa jika aura sekitarku berubah menjadi pink! Sejak kapan salju berubah menjadi pink? Sejak kapan ada bunga di musim dingin seperti ini?" Batin Yudha.
"Kenapa diam saja? Tidak suka ya?" Tanya Melody.
"Suka kok, hanya terasa indah di telinga." Jawab Yudha.
"Kau ini mulai senang menggombal ya.."
"Hanya padamu!"
"Iya, wajib itu! Lalukanlah hanya padaku! Jangan pernah lakukan pada wanita lain, terutama Amamiya-san!"
Jika membahas Amamiya Yura membuat suasana menjadi berbeda, aura kesal itu begitu merusak.
"Aku tidak akan melakukannya!" Kata Yudha mantap.
Melody mengangkat tangan kanan Yudha dan meletakkannya di atas kepalanya. "Berjanjilah padaku, Yudh! Kau tidak akan pernah melalukannya!"
Melody bahkan memintanya untuk bersumpah. Ia hanya bisa tersenyum maklum. Ia harus membuat ibu dari anak-anaknya ini bahagia. Jika Melody bahagia, harinya juga membaik.
"Aku berjanji padamu! Aku tidak akan melakukan kesalahan lagi! Meski sebenarnya, dari awal aku tak melakukan seperti yang kau pikirkan."
Melody menatap Yudha penuh tanya. Apa maksudnya? Tidak melakukan seperti yang dirinya tuduhkan?
Apakah itu termasuk pemikirannya tentang perselingkuhan Yudha dan Yura? Yudha yang lebih perhatian pada Yura? Yudha yang selalu mengabaikan dirinya? Yudha yang lupa akan janji-janjinya?
Apa yang tidak ia mengerti? Apa yang sudah ia lewatkan?
Apakah Yudha memiliki rahasia lain yang tak ia ketahui?
"Yudha, apa kau tak berniat menceritakannya padaku setelah semua ini terjadi?" Tanya Melody.
"Aku ingin menceritakannya, haruskah kita menambah kisah di bawah salju lagi?" Yudha berbalik bertanya.
__ADS_1
"Ya. Ada yang belum usai. Ayo kita selesaikan sampai tuntas!"
"Hn."