MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Yudha vs Kakek Wijaya


__ADS_3

Kamar Melody, sepeninggal Yudha..


Melody baru saja menyimpan kado laknat dari Mia ke dalam almari pakaian. Ia menutupnya dengan sangat kasar setelah itu.


Sedari tadi ia mengucapkan mantra sumpah serapah untuk mengutuk Mia. Ia merasa sedang terkena jebakan batman, prank tidak jelas dari orang yang paling ia anggap sebagai sahabat terbaiknya di muka bumi ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa ini.


Tahu, maaf itu memang sangat berlebihan. Namun ide gila Mia juga memang sangat berlebihan. Ia kesal bukan main. Malunya juga bukan main.


Melody lalu menjatuhkan tubuhnya yang super lelah itu ke atas ranjang. Ia kemudian menyentuh bekas ciuman Yudha di bibirnya.


"Sial, meski tadi itu kecelakaan, tapi namanya ciuman ya tetap ciuman. Bibirku sudah tak perawan lagi. Kenapa harus dengan cara seperti ini sih aku kehilangannya? Kecelakaan? Aku tahu Yudha tak sengaja melakukannya, tapi tetap saja. Ini kan yang pertama untukku. Aku selalu berharap jika ciuman pertamaku akan indah seperti drama Korea yang sering aku tonton, tapi kenapa dengan cara seperti ini sih? Huwaa.. Yudha brengsek! Eh, apa aku pantas mengutuknya? Aku tak bisa seperti ini, diapun juga merasa seperti diriku, kan? Satu pertanyaanku, apakah Yudha pernah melakukan ciuman dengan cewek lain sebelumnya? Apakah ini bukan yang pertama baginya? Jika iya, kenapa aku tiba-tiba merasa sedih? Dadaku terasa cukup sesak. Apa artinya aku ini sedang kecewa? Sial! Sial! Sial! Aku menjadi tak bisa mengendalikan emosiku... Melody, dengar, tadi itu kecelakaan, ciuman itu tidak sengaja! Itu juga bukan salah Yudha! Yudha suamimu, meski kau kecewa, tapi kau bisa apa? Semua sudah terjadi!" Batin Melody yang mencoba menyemangati dirinya sendiri.


Ia mencoba mengalihan pikirannya dari kejadian kecelakaan ciuman tak sengaja tadi. Iapun memilih untuk membuka kado dari Ayumi.


Kado yang sangat indah.


Melody bahkan sampai menangis saat mendengarnya.


Mendengarnya?


Ya, rupanya kado dari Ayumi itu adalah sebuah kotak musik berisi satu lagu yang familiar di telinganya. Lagu Bintang Kecil yang selalu ia nyanyikan di kala hatinya sedang gundah. Lagu pengingat mendiang sang ayah. Lagu kenangan dengan sang ayah.


"Aku tak sopan karena melupakanmu, tapi kau memberiku kado yang memiliki makna mendalam untukku. Aku tidak tahu kau bisa mengetahui mengenai kisah lagu Bintamg Kecil ini. Apa itu dari Nao? Entahlah, apapun itu, Ayumi-san, arigato gozaimasu. Ureshikata yo.."


Ureshikata yo: Aku senang atau aku bahagia.


.


.


.


Yudha berjalan menuju ruang keluarga kediaman Kazehaya. Pikirannya masih kacau balau. Wajah Melody yang memerah seperti kepiting rebus itu memenuhi otaknya.


Rasanya tiba-tiba jadi panas.


"Cih, sulit juga mengesampingkan apa yang tadi terjadi. Sial, wajah Melody manis sekali. Apa memang dia selalu semanis itu? Lalu apakah ciuman tadi yang pertama buatnya? Dia terlihat asing dengan hal itu, jika iya, aku rasa aku cukup bangga karena aku yang pertama mendapatkannya. Dan akupun tak menyesal sudah memberikan pengalaman pertamaku padanya juga. Ya walau caranya seperti ini sih. Tidak enak memang, tapi akan harus bersikap biasa agar nanti tidak menimbulkan kecanggungan."

__ADS_1


.


.


.


Ruang keluarga…


Kakek Wijaya terlihat sedang menikmati secangkir kopinya. Ia tersenyum tipis saat merasakan manis dan pahitnya kopi berpadu sempurna di lidah tuannya.


Mata senjanya sibuk mengamati beberapa berkas yang ia bawa pulang dari kantor.


Mengamati, membaca, melihat, memperhatikan dengan seksama, dan mempelajari baik-baik apa yang seharusnya menjadi solusi setelahnya. Kakek Wijaya tidak pernah bosan melakukan hal itu.


"Bukankah kakek selalu bilang jika rumah ini hanya untuk keluarga, bukan untuk bekerja layaknya di kantor?" Kata Yudha yang langsung duduk berhadapan dengan sang kakek.


Kakek Wijaya meletakkan berkas-berkas kerjaannya. "Hmm, Yudha? Urusan dengan istrimu sudah selesai ya? Ibumu terlihat senang sekali tadi. Sesuatu yang baik sepertinya baru saja terjadi. Kakek jadi ikutan senang." Kakek Wijaya tersenyum melihat cucunya.


Ada semburat tipis di pipi Yudha.


"Sudah selesai, Kek. Lagi pula itu hanya sebuah kesalah pahaman ibu saja. Aku tidak melakukan apa-apa dengannya." Kata Yudha.


Kakek Wijaya justru menjadi tertarik membahas hal seperti ini dengan cucu kesayangannya. Ia tahu betul bagaimana karakter Yudha yang sedari kecil ia besarkan.


Yudha itu sangat kaku mengenai hal-hal seperti ini. Sedari lahir tanpa ayah, membuat Yudha kehilangan figure sosok seorang ayah. Ia memang kakek kandung Yudha, tapi ia memiliki banyak tanggungan pekerjaan yang harus ia lakukan.


Kakek Wijaya sangat menyayangi Yudha lebih dari apapun. Namun ia tak bisa menyediakan waktu lebih untuk Yudha setiap saat. Ia menyayangi Yudha bukan berarti ia harus memanjakan cucunya itu. Ia justru harus mengajari cucunya bagaimana memiliki keinginan dan cara untuk mendapatkan.


Dalam hidup itu harus bertarung untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Yudha memang memiliki segala kekayaannya, tapi ia tidak akan membuat Yudha terlena dengan kemudahan untuk menggantikannya suatu saat nanti.


Hidup itu sulit dan ia sadar betul untuk membuat Yudha lebih kuat dan kuat lagi.


"Aku tidak tertarik dengan hal seperti itu."


Kata Yudha tegas.


"Tidak apa belum, Yudha?.. Kau akan semakin dewasa dan kau akan segera menyadari jika suatu saat kau membutuhkan hal seperti itu."

__ADS_1


"…"


"Kalau laki-laki normal pasti akan melakukannya."


"Aku normal, Kek."


"Ah begitu? Jika seperti itu rasanya Kakek tak perlu menghawatirkanmu."


"…"


"Nah Yudha, kau memutuskan untuk menikahinya, buatlah dia bahagia di duniamu! Tunjukkanlah martabat seorang Kazehaya. Jangan seperti ayahmu! Kakek tidak ingin gagal mendidik lagi."


"Aku akan melakukannya asal permintaanku Kakek penuhi."


"Masih terlalu awal kita memulai permainan ini, Yudha."


"Permain sudah dimulai semenjak aku memutuskan akan menikahinya, Kek."


"Kau ini tidak sabaran ya? Terlalu ambisius juga untuk hal-hal seperti ini."


"Aku hanya meniru karakter darimu, Kek."


"Benar juga, kau memang cucuku! Santailah sebentar, Yudha! Nikmati dulu pernikahanmu dengan Melody! Kakek tak hanya meminta kau menikahinya, tapi juga membahagiakannya dengan segala upayamu!"


"…"


"Jangan kira hanya dengan kau sudah menikahinya lalu Kakek menuruti permintaanmu, permainan kita selesai begitu saja! Permainan kita akan panjang, Yudha.. Kita bahkan belum memasukkan 'orang lain' yang menjadi tambahan pemain utama."


"Dia bukan orang lain, Kek!"


"Terserah kau saja. Tapi perlu kau ingat, jangan pernah coba-coba ikut permainan tanpa memikirkan resiko terburuknya! Ketahuilah, tak selamanya pengorbanan besar menghasilkan kemenangan yang membahagiakan!"


"Aku sudah memikirkannya!"


"Bocah nakal."


Kakek dan cucu itu tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"Aku tidak akan kalah!"


__ADS_2