
Time skip...
Acara Pesta Ulang Tahun Amamiya Yura.
Melody tampil dengan dandanan simple tapi anggun. Rambut sebahunya ia urai, dengan make up tipisnya, Melody nampak cantik natural.
Ayane ingin mendandani Melody jauh lebih ‘tebal’ lagi karena Ayane ingin Melody menang ‘melawan’ Yura. Efek berita online.
Namun Ayane urungkan, nyatanya, Ojou-sama-nya (Tuan Putri) ini sudah cantik natural dan apa adanya. Dengan sedikit polesan saja, Melody sudah terlihat berbeda.
Jadi ingat waktu Melody menikah dulu, Melody menjadi pusat perhatian banyak tamu undangan.
Padahal dandanan Melody lumayan tipis untuk seukuran resepsi pernikahan.
Cantik natural memang beda.
Di dalam mobil..
"Nona, biarkan saya menambahkan lip tint sedikit saja!" Kata Ayane.
"Tapi aku tidak nyaman dengan dandanan di bibir. Rasanya bibirku menjadi sangat tebal seperti Donald Bebek!" Enggan Melody.
"Tidak akan, Nona. Ini agar Nona tidak terlihat pucat saja. Nona kan sedang kurang sehat, ini membantu menutupinya."
Melody memikirkannya. Ia memang tidak boleh terlihat lemah. Apa lagi di depan Yura. Akhirnya ia bersedia dipakaikan lip tint oleh Ayane.
"Nona Melody adalah seorang wanita Kazehaya! Nona sangatlah cantik! Berbangga dan percaya dirilah dengan fakta itu, Nona! Tuhan mencurahkan kasih sayang yang begitu besar lada Nona." Puji Ayane usai mengoles lip tint di bibir Melody.
Melody tersenyum. "Arigato, Ayane-nee.."
"Fighting!"
"Fighting!"
Ayane menunggu di dalam mobil yang terparkir tak jauh dari rumah Yura. Melody berjalan sendirian memasuki halaman rumah Yura yang lumayan luas itu-meski luas, tapi Melody sudah terbiasa dengan ‘luasnya’ rumah dan halaman mansion Kazehaya.
"Tenangkan dirimu, Mel! Fighting! Gambarimasho! Kamu bisa! Kamu kuat! Melody hebat!" Melody menyemangati dirinya sendiri.
.
__ADS_1
.
.
Dengan heels 12 cm, Melody berjalan cukup cepat sambil menenteng kado dengan bungkus warna ungu berpita putih. Sudah biasa pakai heels, resiko kepleset atau kaki bengkak sudah bisa diminimalisir.
Ketika Melody memasuki tempat acara pesta, semua mata tertuju padanya. Mengagumi segala yang ada di diri Melody. Cantik natural memang beda. Dengan senyuman tipisnya saja, sudah bisa membuat para tamu undangan terpesona. Andai Melody belum menikah, sudah dipastikan banyak yang mengantri untuk berkenalan.
Bukankah saat ini meminta berkenalan juga tak masalah?
Itu justru masalah besar! Cari mati namanya. Siapa sih yang mau berurusan dengan keluarga Kazehaya yang sangat terkenal itu?
Sepertinya mengagumi dalam diam adalah cara yang bijak dan lebih baik.
“Otanjoubi omedetto, Amamiya-san.” Kata Melody.
Otanjoubi omedetto: Selamat ulang tahun.
Melody memberikan kado yang ia bawa. Sebuah jepit rambut mewah harga puluhan juta ada di dalam kotak kado itu. Tentu saja ia mendapatkan uang dari Yudha yang selalu mentransfer uang ‘nafkah’ untukknya tiap bulan.
Jangan tanya soal harga, tidak mungkin kan istri salah satu konglongmerat Jepang memberikan kado ‘murahan’?
Mau ditaruh dimana martabat keluarga Kazehaya yang disandangnya itu?
Yura menerima kado dari Melody. Ia meletakkannya di pangkuannya. Yura yang memakai dress cantik terlihat duduk di kursi rodanya.
Melody menatap sinis kaki Yura. Ia ingat bagaimana Yura bisa menggunakan kakinya untuk berjalan. Sayang, yang lain tidak ada yang percaya.
Melody lalu menunjukkan undangannya. “Aku hanya menghormati undangan ‘teman masa kecil’ suamiku.”
Yura tersenyum, meski dalam hati terasa getir. “Ku kira kau penasaran dengan kejutanku.”
“Tenang saja, aku sangat menantikannya.”
“Oh iya Melody-san, Yudha-kun tidak menjemputmu ya, maaf ya, aku tadi memintanya datang menemuiku. Aku butuh bantuan untuk mendorong kursi rodaku.”
Melody ingin tertawa, bukankah dia memang yang tidak ingin dijemput oleh Yudha. “Hm, dia memang harus tanggung jawab sih dari apa yang sudah dia lakukan. Jadi, apa kejutannya Nona Amamiya-san?”
“Sabar, kejutan itu aku hadirkan khusus untuk menyambut kedatanganmu, jadi baiknya di akhir acara."
__ADS_1
"Hm, begitukah?"
"Ngomong-ngomong, kau memakai dress one piece ¾, tapi kau menyembunyikan bahumu dengan scraff. Sayang sekali, wanita itu akan terlihat mempesona dengan bahu indahnya.”
Model pro vs amatir.
Rupanya dugaan Ayane benar jika pembicaraan akan mengarah saling kritik untuk menjatuhan lawan. Melody harus berterima kasih pada Ayane setelah ini. Jika bukan karena Ayane yang memberi banyak wejangan, nasihat, mungkin kali ini ia akan mati kutu di hadapan Yura.
“Udara musim gugur terasa semakin dingin di malam hari, akan sangat disayangkan jika aku membeku di antaranya.” Tak hanya menutupi bahu, tapi Melody melilitkan scraffnya sampai leher.
“Kau benar, tapi lihatlah aku! Aku tidak akan mati di tengah kedinginan malam yang mendera!”
Yura memakai gaun soft blue dengan bahu terbuka. Indah dan mulus. Melody tak akan menyangkalnya.
“Pesta yang sungguh-sungguh direncanakan dengan matang, bahkan dinginnya alam bisa diakali dengan penghangat ruangan. Keluarga Amamiya memang mengrajakan tamunya ya?” Melody mencoba sebisa mungkin melawan setiap perkataan yang Yura lontarkan terhadapnya.
Melody mengamati ruangan luas yang digunakan untuk acara pesta. Lampu-lampu hias bertebaran, tumpukkan gelas indah dengan minuman warna warni, kue-kue kecil, buah-buahan, dan berbagai macam sajian tersedia. Ada kolam renang indor di tengah-tengah ruangan.
“Apa ruangan ini masih terlalu dingin bagimu, Melody-san? Kau terlihat betah dengan scraffmu itu.”
Sinis Yura.
Melody membalas dengan senyuman. Ia lalu memegang ujung scraffnya. “Bahu indah ataupun kulit mulus memang kebanggaan wanita, tapi bagi wanita yang sudah menikah, ada kalanya jika tempat seperti itu perlu disembunyikan. Kau paham apa maksudnya, kan?”
“...” Yura terdiam.
Melody lalu menunduk dan mendekatkan bibirnya di telinga Yura. “Ya, sisa semalam masih membekas.” Melody kembali tersenyum setan.
Yura terhenyak. Ia sekilas melebarkan matanya. Ia tak menyangka, di saat ia merasa jika Yudha mulai memilihnya kembali, tapi nyatanya Yudha masih bisa meniduri Melody. Ia tak mengerti dengan apa yang terjadi. Semua di luar kendali.
Yura mengeratkan genggaman tangannya pada dressnya. Ia kesulitan menelan ludah dan mengatur emosinya.
Bagaimana bisa, orang yang dulu selalu ada untuknya bisa meninggalkannya begitu saja?
“Jadi, apa kau ingin melihat bukti jejak-jejak petualangan Yudha di leher dan bahuku, Amamiya-san? Ah tidak, bahkan hampir di seluruh tubuhku. Aku tidak keberatan menunjukkannya padamu.” Melody masih menyerang meski ia tahu jika Yura sudah kehabisan kata-kata.
Yura meremas tangannya sendiri. Berani juga Melody melawannya. Ia benar-benar mati kutu dibuatnya.
"Sampai nanti, Amamiya-san.. Tersenyumlah yang manis karena ini adalah hari ulang tahunmu!" 😈 Melody menepuk pelan pundak Yura. "Oh iya, jangan sampai make up-mu luntur!"
__ADS_1
Melody berjalan menjauhi Yura.
Yura semakin kesal. Hatinya tidak tenang. "Brengseek!"