
Sesuai dengan ajakkan dari Yudha, merekapun membuat jejak-jejak salju seperti yang Melody impikan. Membuat jejak-jejak pertama sebelum orang lain melakukannya.
Meski menurut Yudha itu seperti anak kecil, nyatanya memang cukup menyenangkan ketika mengikuti di belakang Melody yang sedang membuat jejak di atas salju.
Yudha melangkah di jejak yang Melody buat. Ia menimpa jejak kaki Melody dengan jejak kakinya.
Melody tersenyum ria sambi merentangkan kedua tangannya untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Serunya, ia bahkan bersenandung kecil meski ia tahu suaranya sangat cempreng. Meski sudah tak ada bintang, tapi lagu Bintang Kecil masih menjadi andalannya.
Yudha tersenyum senang melihat Melody yang bahagia. Akhirnya setelah sekian lama, wujud rindu dengan sang ayah di bawah salju terealisasi. Sambil memasukkan tangan ke dalam sakunya, ia berjalan dengan penuh perasaan.
"Kau benar-benar menyukai membuat jejak pertama ya? Karena sudah terwujud, apa kau senang?" Tanya Yudha yang masih berjalan mengekor di belakang Melody.
"Senang sekali, meski sudah bukan dengan ayah lagi, setidaknya ada kau di sini. Itu sudah lebih dari cukup." Jawab Melody.
"Aku senang mendengarnya.."
"Tentu saja kau harus senang! Sudah banyak hal manis yang terjadi di bawah salju. Kau sudah tahu jika anak yang aku kandung itu kembar, kita saling cinta, dan yang lebih penting lagi, kini kita mulai terbuka. Meski perkembangan progres kita lambat dan mungkin juga membosankan."
"..."
Melody balik badan dan menatap Yudha. Ia lalu mengulurkan tangan kanannya. "Untuk ke depan mohon kerja samanya! Kumohon, jangan ada rahasia lagi!"
Berjabat tangan?
Ah, ini juga pernah mereka lakukan sebelumnya usai menikah dulu. Dulu mereka melakukannya sebagai tanda dimulainya kehidupan pernikahan. Lalu saat ini, mereka ingin memulai lembar baru kehidupan pernikahan ke tahap yang lebih tinggi.
Yudha mengeluarkan tangannya dari dalam saku celana, kemudian menyambut tangan Melody. "Hn, mohon kerja samanya juga. Mari kita komunikasikan baik-baik jika ada sesuatu yang mengganjal kelak di kemudian hari!"
Tersenyum bersama dengan penuh keyakinan untuk menyambut hari esok yang masih misteri. Meski tidak tahu dengan apa yang terjadi di masa depan, tapi memutuskan untuk saling terbuka dan tetap saling percaya. Mereka akan menggunakan pondasi ini untuk dasar pernikahan mereka.
Jika terbuka dan saling percaya adalah pondasi, maka kerja sama antara Melody dan Yudha adalah tiangnya dan cinta kasih adalah atapnya. Itulah rumah tangga ideal yang coba Melody dan Yudha bangung. Walau paham jika ke depan masih akan muncul banyak masalah, tapi mencoba untuk tidak egois adalah pilihan terbaik.
Yudha melepaskan jabat tangannya dengan Melody. Ia lalu meraih tangan kiri Melody dan merubahnya menjadi gandengan tangan. Ia memasukkan tangannya dan tangan Melody ke dalam saku mantelnya yang besar.
Akan selalu ada kehangatan di bawah salju.
Mereka melanjutkan perjalanan untuk membuat jejak-jejak salju itu. Bukan hanya jejak yang tertimpa seperti tadi, tapi jejak bersama, saling beriringan.
.
.
.
__ADS_1
Dan di sinilah mereka. Di sebuah bukit kecil dimana pemandangan kota Miyagi itu nampak dari ketinggian. Kota kecil yang tertutup salju itu sangat indah, memanjakan mata, dan memaksa untuk selalu bersyukur.
Melody menyandarkan kepalanya di lengan kanan Yudha sambil menikmati pemandangan di depannya.
Sangat nyaman. Lengan Yudha memang sangat nyaman. Ia tak ingin semua ini cepat berlalu.
"Miyagi tak seperti Tokyo dengan gedung tinggi menjulang yang saling berlomba. Di sini masih banyak bukit. Tak menyesal aku memilih PKL di sini." Ucap Melody.
"Aku akan kesepian karena Miyagi cukup jauh dari Tokyo. Di sini tak ada landasan pesawat, aku jadi tak bisa ke sini dengan helikopter." Kata Yudha kecewa.
Helikopter itu sangat berlebihan.
Melody mendelik pada Yudha. "Awas saja jika kau sampai berani melakukannya, aku tak akan memberimu jatah!" Ancam Melody.
Jika sampai Yudha datang dengan helikopternya, maka sudah dipastikan akan ada kehebohan terutama di tempat PKL-nya. Ia tak mau itu terjadi. Ia hanya ingin dipandang sama dengan orang biasa, bukan karena status menantu keluarga Kazehaya.
"Bisa tidak jangan mengancamku dengan pengurangan jatah?" Kesal Yudha. Bagaimana bisa Melody melakukan ini padanya? Setelah semua hubungan yang membaik ini?
"Tapi aku serius tak ingin terlalu mencolok, Yudh! Jika aku tak mengancammu seperti ini, jangan dikira aku tak tahu jika kau berniat membuat landasan heli di sini! Kumohon hentikan pemikiranmu yang seperti itu!" Kata Melody serius.
Memang benar sih, nyatanya ide ingin membuat landasan helikopter sudah antri untuk diwujudkan. Namun sayangnya sang istri bersi kerasa tidak menginginkannya.
"Jika kau mengurangi jatahku, aku kan bisa memperkosamu!" Jawab Yudha asal.
"Yang waktu itu sakitnya gila! Bagaimana kau bisa melakukannya sih? Sumpah aku tak mengerti kenapa kau tega melakukannya padahal kita masih marahan waktu itu." Kata Melody.
Jika ingat waktu itu, rasanya ia sangat kesal. Diperkosa Yudha yang jelas-jelas suaminya sendiri itu mengerikan! Padahal waktu itu bukanlah saat yang tepat. Tapi Yudha nisa sangat bernafsu padanya dan tega menyentuhnya dengan cukup kasar.
"Ya karena aku sedang ingin bercinta denganmu. Kau tidak mau, ya sudah aku paksa saja." Jawab Yudha.
"Cih, padahal sedang bertengkar tapi kau masih memiliki nafsu itu. Aku tak mengeri, Yudh.."
"Aku laki-laki normal, Mel. Kita sudah pernah melakukannya sebelumnya, cukup lama tak melakukannya lagi, aku tak sanggup menahannya. Aku kan tak mungkin melakukan dengan wanita lain selain kau. Lagipula kau sibuk dengan laki-laki lain, ya aku kesallah. Kau kan istriku, milikku, ya kau harus melayani aku, bukan malah seneng-seneng dengan dia!" Kata Yudha.
Yudha bukan laki-laki brengsek yang akan meniduri banyak wanita. Melody tahu itu.
"Ini dia sisi egois suamiku yang melegenda itu! Hei, bilang saja kau cemburu dengan kakakmu sendiri! Lagian, kau itu terlalu sibuk dengan si ulat genit itu, aku tak maulah dipegang-pegang oleh tanganmu yang bekas menyentuh ulat." Balas Melody.
Kesal jika mengingatnya.
Kejadian pemerkosaan itu terangkat juga. Cemburu ala Yudha itu mengerikan, Yudha bisa sangat gila padanya.
"Ya aku cemburu! Aku tidak suka kau dekat-dekat dengan orang lain, meski itu cewek sekalipun!"
__ADS_1
Berpikir tentang ulat sebenarnya Yudha ingin tertawa, tapi ia mgurungkan niatnya, ia ingin menghormati Yura sebagai sehabatnya.
"Hah? Kau juga cemburu meski itu adalah Mia? Sahabatku sendiri?" Tamya Melody.
"Jangankan Mia, sama ibuku sendiri aku juga iri kok. Ibu bisa dengan mudahnya memelukmu, menyentuh perutmu. Padahal yang menghamilimu kan aku, kenapa aku dipersulit?"
Melody tak paham. Kecemburuan Yudha itu tak masuk akal. Apa dirinya harus jadi dompet agar hanya Yudha yang bisa pegang?
Lagian sampai sang ibu segala dicemburui. Oh Tuhan, pola pikir orang jenius memang beda ya? Mengimbanginya dengan normal ternyata sulit. Melody memang harus berpikir di luar akal sehat.
"Bukan dipersulit, dirimu sendiri yang membuatnya sulit! Coba saja kita bicara lebih awal dulu, tidak perlu selama ini kan kita baikkanny"
"Iya aku salah, maaf.." Yudha memilih menyudahinya. Padahal tak ingin bertengkar lagi, tapi bisa seperti ini lagi.
Manusia memang tak tahu apa yang terjadi ke depannya.
"Sudah aku maafkan kok, lagian bagus juga untuk memberi pelajaran pada si ulat genit itu. Aku kan bisa pamer bekas-bekas kiss mark-mu padanya. Hehe." Cengir Melody.
Melody bahkan membuat tanda peace dengan dua jarinya.
"Kau ini.." Yudha mengacak-acak rambut melody. "Jika aku tahu kehamilanmu waktu itu, aku tidak akan melakukannya dengan kasar."
"Sudah tak apa Yudh, anak-anak kita sangat kuat kok. Lagian juga sudah berlalu."
"Hei Mel.."
"Hm?"
Yudha menyingkirkan syal yang melilingkar di leher Melody, ia lalu mendaratkan ciuman di sana. Menyesap dalam dan meninggalkan bekas kemerahan. Membuat Melody meringis menahan perih. Ya, sebuah kiss mark mencolok terlihat di leher putihnya.
Melody memegangi bekas kiss mark yang Yudha buat. Panas dan perih. Ia lalu menatap Yudha penuh penjelasan.
Bagaimana Yudha bisa melakukannya tanpa ia duga, apa lagi di tempat terbuka seperti ini?
"Kazehaya Melody adalah milikku!" Teriak Yudha dengan kerasnya.
________________________________________
Astaga, aku baru ngerti yen aku bisa semesum ini 😱😱😱.
Arck Kisah di Bawah Salju berakhir. Next mari kita nikmati masalah baru untuk sinetron gaje ini.
Oh iya, aku bukan penulis yang banyak adegan dialog. Jadi ya banyak kata-kata memang. Bagi yang tak biasa baca kek gini, mungkin akan bikin pusing. 😂😂 Soalnya perlu dibaca bener-bener agar bisa menghayati isinya.
__ADS_1
Like, komen, mbi share, opo mane vote darimu tak tunggu loh.. 😘