
Yudha memasuki kamar, ia melihat Melody sedang menata tempat tidur mereka.
Kedatangannya sepertinya tidak disadari oleh Melody, ia berdiri di depan pintu kamar.
Mengamati bagaimana istrinya itu menata rapi ranjang mereka. Sangat ikhlas tanpa beban. Yudha tahu, jika Melody memang selalu seperti itu. Tidak mudah mengeluh dan selalu melakukan pekerjaannya dengan baik. Meski awalnya sulit, maka Melody akan terus dan terus berusaha agar Melody bisa melakukannya.
Melody mengikat kuda rambut panjangnya, menampilkan leher indah dan mulusnya. Pakaian tidur warna merah muda terlihat sangat cocok di tubuh Melody.
Yudha sadar jika istrinya itu memang cantik dan juga—mempesona. Yakin, sungguh, Yudha mengakui itu. Sering kali ia mendapati istrinya tampil apa adanya, tanpa make up, membuatnya menyadari jika Melody cantik secara natural.
Rasanya tidak menyesal juga, tiap pagi ia disuguhi pemandangan indah di sampingnya.
Note: Yudha selalu bangun lebih awal dari Melody. XD.
"Oh, Yudha, kau sudah pulang?" Tanya Melody begitu melihat Yudha berada di depan pintu kamar mereka.
"Jika aku berada di sini, haruskah kau menanyakan hal itu?" Tanya balik Yudha.
Baru pulang tapi sudah ngeselin. Memang Yudha itu tidak bisa menyenangkan harinya yang lelah ya?
Hari ini ia sangat lelah, ini Yudha malah membuat emosinya ingin segera meluap.
"Cih, ketus sekali. Aku hanya menyapa, jika tidak mau jawab ya sudah, tidak perlu sewot begitu!" Kesal Melody.
"Buatlah sapaan yang kiranya tak ada jawabannya!" Pinta Yudha.
Nah loh, sisi jenius Yudha itu selalu saja membuat Melody tepok jidat. Jika Yudha menunjukkannya, maka ia harus berpikir ekatra untuk mengimbangi gaya bicara Yudha.
"Tak ada jawabannya? Hah, jika aku bertanya yang tak ada jawabannya, kenapa juga aku harus bertanya?" Tanya Melody.
Melody tidak paham bagaimana maksud dari perkataan Yudha. Bagaimana ia harus memahami? Adakah pertanyaan yang dimaksud oleh Yudha? Pasti ada! Tapi ia terlalu pusing untuk memikirkannya.
"Aku malas menjelaskannya padamu." Jawab Yudha.
Maksud Yudha tuh jika memang sudah pasti kenapa harus dipertanyakan. Misal, sudah mendengar ada suara ban meletus, tapi masih penasaran mengeceknya, lalu bilang, 'wah bannya kempes'. Tak perlu dicekpun sudah kelihatan jika bannya kempes.
"Dasar aneh.."
"Aku mendengarnya, Melody."
Yudha kesal. Melody tahu. Lihatlah wajah ketusnya! Itu menggemaskan!
__ADS_1
"Haha, iya maaf. Hmm, apa kau haus? Aku akan mengambilkan minuman untukmu." Tawar Melody.
"Boleh, buatkan aku jus tomat, lebihi es-nya." Pinta Yudha.
"Iya, aku akan membuatkan untukmu. Kau mandilah, badanmu bau sekali. Hehe.."
"Badanku tidak bau, Melody!"
Telat, rupanya Melody sudah melenggang pergi meninggalkannya. Sepeninggal Melody, Yudha lantas mencoba mengendus badannya.
"Rupanya agak bau asem juga.."
😑
Yudha lantas pergi mandi untuk menghilangkan segala kepenatan yang melandanya, termasuk bau asem. Enak saja, Melody mengatainya seperti itu. Ya, memang sih, agak bau, tapi bisa-bisanya Melody mengendus dalam jarak sekitar dua meter itu. Hidung Melody itu terbuat dari apa memangnya?
Lagi, Yudha memiliki praduga yang aneh-aneh hari ini.
Hari ini Yudha memang dipusingkan dengan banyak hal. Semua itu terus saja berputar-putar di kepalanya. Membuat otaknya yang siper jenius itu kewalahan. Bayangkan, seorang jenius seperti dirinya bisa kewalahan? Astaga, ia benar-benar harus segera lepas dari belenggu itu!
Yudha sudah menyusun banyak rencana untuk ke depannya. Untuk game yang ia mainkan dengan sang kakek dan juga hadirnya Melody dalam permainannya. Namun, ia sadar betul jika semua rencana yang sudah ia susun itu belum tentu semulus seperti keinginannya. Nyatanya, Melody itu bisa berpikir juga, jika suatu saat Melody memainkan perannya sendiri secara independen, maka ia kembali harus menyusun ulang semua rencananya.
Yudha memikirkan kemungkinan ini.
Ataukah Melody nantinya akan menjadi JOKER?
Sungguh, Yudha rasa itu tidak mungkin mengingat Melody itu siapa. Melody bahkan hanyalah pemulus syarat dari sang kakek untuk mengabulkan permintaan egoisnya.
Tapi, dalam permaian kartu bridge, bukankah Joker itu sangatlah kuat?
Yudha kembali berpikir, akankah ada Joker di tengah-tengah permainannya dengan sang kakek?
.
.
.
Usai mandi, jus tomat ekstra es batu sudah ada di meja dekat ranjang. Yudha duduk lalu meminumnya. Sementara Melody hanya mengamati setiap jus tomat yang masuk ke dalam mulut Yudha.
"Kau sehaus itu?" Tanya Melody.
__ADS_1
Yudha meletakkan gelas jus tomatnya. "Hn, aku haus sekali."
"Minuman itu cukup dingin, Yudh. Harusnya kau tak meneguknya langsung habis seperti itu. Apa lagi kau baru saja mandi, itu berbahaya!" Oceh Melody.
"Iya tahu, tapi aku tak apa, kan?"
"Cih, jangan meremehkan!"
"Iya."
Melody tiba-tiba bangkit dan mengambil tisu yang ada di dekat gelas jus tomat. Ia kemudian mendekati Yudha.
Yudha hanya diam saja ketika Melody menyentuh dagunya dan mengelap bibirnya dengan lembut.
"Sudah besar tapi minum sampai belepotan seperti ini. Kalau di tempat umum, akan jadi heboh. Fangirlsmu pasti pada menggila." Kata Melody.
"Aku tidak minum jus tomat di tempat umum. Aku hanya minum kopi." Jawab Yudha.
Melody terkekeh. Yudha bisa lucu juga. Ya bisa sih, banyak kisah yang sudah terjadi dalam waktu yang masih singkat ini.
Melody terdiam ketika Yudha tiba-tiba memeluk tubuhnya. Karna ia sedang berdiri dan Yudha sedang duduk, maka Yudha terlihat sedang memeluk perutnya.
Anehnya, Melody tidak menolak akan tingkah Yudha yang tiba-tiba itu. Biasanya ia akan sangat kesal, tapi mengingat wajah lelah Yudha, ia menjadi tidak tega.
"Ada apa? Kau pusing?" Tanya Melody. Ia justru khawatir. Ia merasa suhu badan Yudha itu cukup panas untuk ukuran suhu normal orang sehat.
Yudha menggeleng. "Hanya sedikit dingin." Jawab Yudha sekenanya. Ia sendiri juga tak paham kepana bisa seperti ini. Tiba-tiba memeluk Melody.
"Aku akan membantu mengeringkan rambutmu, setelah itu kau tidur bagaimana?" Tawar Melody.
Yudha mengangguk. Ia lalu melepaskan pelukkannya pada Melody.
Melody mengambil handuk dan menggunakannya untyk mengeringkan rambut Yudha yang masih sangat basah itu. Ini bukanlah yang pertama ia melakukannya, sudah beberapa kali. Tapi ia ikhlas melakukannya. Meski Yudha banyak ngeselinnya, tapi Yudha itu sangat baik padanya.
Yudha mencukupi kebutuhan materinya. Yudha bahkan bersedia menjadi guru les privatnya untuk mata kuliah akuntansi. Melody tahu, Yudha itu mahasiswa terbaik di fakultas ekonomi. Jadi, menjadikan Yudha sebagai guru les adalah keputusan yang benar.
Yudha mau berepot-repot untuknya itu luar biasa. Apakah Yudha memang seperti itu?
Yudha bisa melakukan banyak hal. Yudha bisa melakukan ini itu yang tak bisa ia lakukan. Yudha bisa mewujudkannya dengan sekilas. Meski harus debat dulu, tapi Yudha akan bercanda dan tertawa dengan tengilnya.
Seperti joker yang serba bisa.
__ADS_1