
Kini sudah diketahui jika Kurenai terlibat dalam salah satu penyebab kematian Kazehaya Yoga tujuh belas tahun yang lalu dimana saat itu Yudha dan Alvin masih berusia lima tahun.
Kurenai diketahui juga memiliki masa lalu sebagai seorang pelacurr dan berharap jika masa lalunya yang kelam bisa terhapus. Mikan tahu ini. Kini Yudha dan Melodypun juga menjadi tahu. Bagaimana dengan Yoga, kakek Wijaya, dan nenek Chiyo? Apakah mereka juga mengetahuinya? Tentu saja juga tahu. Namun tetap saja, mereka tak akan menjadikan hal ini untuk menjatuhkan lawannya. Setidaknya untuk saat ini.
Motif Yudha menyerahkan tahta Emperor pada Alvin adalah untuk mengalihkan fokus pihak-pihak yang mengincar dirinya dan keluarga utama Kazehaya. Meski ia sadar apa yang ia lakukan tidaklah benar, tapi ia tak memiliki pilihan lain. Ia harus melakukannya. Namun, faktanya ia tidak akan menyerah akan tahta itu demi sang ibu, Mikan. Setelah kondisi stabil dan membaik, tentu saja ia akan merebut tahta itu dari tangan Alvin. Tentunya dengan cara yang baik dan tidak licik. Yudha akan berjuang dengan kemampuannya.
Tuan Kang dan Tuan Park saling memanfaatkan agar semua tujuannya tercapai. Mereka memanfaatkan ibunya Alvin, Kurenai untuk mencapai sampai ke tahap ini dengan memanfaatkan kisah karma masa lalu. Namun diketahui fakta jika mereka berdua tak terlibat langsung upaya percobaan pembunuhan Yudha dan kakek Wijaya. Intinya, adw pihak lain yang merancang rencana besar.
Akankah terbuka dan terungkap dalam waktu yang dekat? Tentunya lembaran kisah akan masih dilanjutkan untuk ke depannya.
Begitulah ringkasan cerita yang super panjang dan membingungkan itu. Tidaklah sederhana yang bisa diterjemahkan ke dalam tulisan. Tak semudah untuk ditulis ulang menjadi sebuah karya kisah nyata yang bisa dipahami anak bau kencur yang baru saja belajar membaca.
Kisah Alvin yang berubah menjadi jahat masih akan terus berlanjut karena ia masih saja terikat dengan cintanya pada Melody yang amat besar. Ia merasa semua akan menjadi lebih mudah ketika ia menjari seorang raja dengan kekuasaan yang mutlak.
Aron masih belum ketemu. Namun ada titik terang ketika orang-orang Yudha mampu mencari tahu keberadaan jejak-jejak yang Aron tinggalkan. Apa Aron masih hidup setelah mengalami banyak sekali siksaan yang menderanya bertubi-tubi? Jawabannya, ya masih. Aron masih hidup meski baru saja ia disiksa dengan dicopotnya kuku-kukunya dengan menggunakan tang. Mengerikan bukan? Bagaimana penyiksaan yang lainnya? Tentunya jika hanya dicelupkan ke dalam air bak mandi sampai masuk lewat hidungnya, ia juga sudah melaluinya. Bentuk siksaan yang lain jangan ditanya lagi. Tak sanggup diri ini menulisankannya ke dalam bentuk tulisan. Maaf semua itu terlalu mengerikan.
Siapa dalang di balik penyiksaan Aron? Pertanyaan yang muncul di kepala Yudha ada banyak.
"Sungguhkan Alvin dan fraksi oposisi penentang kakek terlibat dalam penculikkan paman Aron"
"Mereka sudah mendapatkan tahta Emperor Group yang mereka inginkan, jika mereka sungguh mengincar paman Aron, kenapa sampai saat ini paman Aron masih saja menghilang? Kenapa paman Aron tak kunjung mereka lepaskan?
"Apakah ada orang lain yang memeliki kepentingannya sendiri? Di luar Alvin dan fraksi oposisi penentang kakek? Adakah sesuatu yang mereka incar? Ah, kembali ke teori awalku dengan Shuhei. Pasti ada sesuatu yang coba Aron lindungi, dan sesutau itu memang diincar oleh para penculik itu."
"Jika mereka mengincar Aron karena sesuatu, apakah sesuatu yang mereka incar? Wujudnya apa? Bentuknya apa? Gunanya untuk apa?"
"Sial, semakin aku memikirkannya semakin pusing terasa. Ayo otakku yang jenius! Berpikirlah! Berpikirlah! Berpikirlah! Ini sudah lewat beberapa hari, kenapa tak bisa terpecahkahkan dengan mudah?"
"Adakah sesuatu klu atau petunjuk? Hanya jam tangan paman Aron saja. Kumohon.. berpikirlah! Berpikirlah! Berpikirlah!"
"Mulai dari malam itu. Kenapa paman Aron meminjam ponsel milik penculik dan menelpon Melody malam-malam? Menyanyikan lagu Bintang Kecil untuk Melody? Memberi tanda keberadaannya? Hanya untuk itu saja?"
"Oke aku akan lebih tenang. Aku akan hanyut dalam konsentrasi. Aku harus mengingat sesuatu yang lain dari sekedar hanya untuk memberi tanda keberadaan."
"Lagu Bintang Kecil yang paman nyanyikan dengan sangat jeleknya. Lebih jelek dari suaraku dan Melody. Adakah klu selain itu?"
FLASH BACK ON
Waktu itu malam telah menjelang. Yudha menunggu Melody di tempat tidur. Melody sedang ke kamar mandi. Sudah waktunya untuk tidur. Namun suara dering ponsel milik Melody mengganggu telinga Yudha.
Yudha mengintip siapa yang memanggil Melody malam-malam larut seperti ini. Ada nomor baru, itu yang dapat Yudha simpulkan. Cukup penasaran dengan nomor telepon yang tak terdapat di kontak ponsel Melody, akhirnya Yudha mengangkatnya tanpa pikir panjang.
"Hallo.." Kata Yudha.
"Hallo, seseorang ingin berbicara dengan kekasihnya. Tolong berikan pada mbaknya!" Kata si penelpon. Bisa diartikan sebagai penculik Aron.
Yudha melotot karena penelpon itu menyuruhnya untuk memberikan ponselnya pada 'embaknya'. Maksudnya kepada Melody? Bukankah ponsel yang dipakai untuk telponan itu milik Melody?
Lalu maksudnya apa ini? Kekasihnya ingin berbicara? Berbucara pada Melody?
Seketika itu Yudha langsung emosi. Berani-beraninya ada orang yang mengaku sebagai kekasih Melody atau berani-beraninya Melody selingkuh?
Yudha harus membuat perhitungan!
Yudha memutuskan untuk menerima panggilan itu. Ia ingin tahu tipe seperti apa yang mengganggu moodnya malam ini. Malam yang ia tunggu untuk berdua dengan Melody.
"Aku, kekasihmu." Kata Aron di seberang sana lewat telepon.
"Aku tidak megenalmu!" Kata Yudha.
"Dengarkan lagu yang ingin aku nyanyikan untukmu!" Kata Aron.
"Hah? Apa-apaan kau ini? Kau sedang tidak waras ya?" Kata Yudha.
"Bintang kecil, di langit yang biru. Amat banyak menghias angkasa. Aku ingin terbang dan menari. Jauh tinggi ke tempat kau berada." Aron menyanyikan sebuah lagu bintang kecil kepada Yudha.
"Dasar orang gila! Aneh! Tidak waras! Suaramu sangat jelek. Kau tersedak ban motor satu ton ya?" Omel Yudha.
Sangat Yudha. Itu memang dirinya. Suka marah-marah dan mengumpat kasar.
"Aku merindukanmu, maaf tidak bisa menemuimu lagi di bawah pohon akasia." Kata Aron.
"Jangan mengganggu lagi!" Dan klik. Tut. Tut. Tut. Telepon dimatikan sepihak oleh Yudha.
Yudha hampir membanting kasar ponsel milik Melody sebelum Melody menghentikannya. Mereka malah bertengkar setelahnya. Yudha menduga jika Melody sedang selingkuh.
FLASH BACK OFF
.
.
.
__ADS_1
Usai mengingat-ingat kejadian malam-malam itu, Yudha berpikir jika ada sesuatu hal yang sedikit mengganjal.
"Aku merindukanmu, maaf tidak bisa menemuimu lagi di bawah pohon akasia." Yudha mencoba mengingat-ingat.
Pohon akasia?
Tidak bisa menemuimu lagi di bawah pohon akasia?
"Apa itu sebuah klu yang sedang paman coba sampaikan?" Gumam Yudha dan lagi, ia kembali berpikir keras mengenai pohon akasia itu.
Kemampuan loading data otak Yudha itu luar biasa. Ia bahkan dengan cepat mencari tahu pohon akasia apakah itu di internet.
Dengan sangat serius, Yufha membaca tiap detai informasi mengenai pohon akasia.
Akasia adalah tumbuhan pohon jenis semak-semak yang berasal dari Afrika. Pohon akasia pertama kali diidentifikasi oleh seorang ahli botani bernama Carl Linnaeus dari Swedia pada tahun 1773.
Acacia manguium adalah pohon besar berbunga yang tumbuh mencapai ketinggain 30 meter. Pohon ini memiliki batang bebas cabang lurus yang panjangnya mencapai lebih dari setengah total tinggi pohon.
Pohon yang dijuluki pohon duri ini tersebar di hutan tropis Australia bagian timur, Papua Nugini, Kepulauan Maluku, serta berbagai wilayah lain di Indonesia. Akasia juga berhasil diperkenalkan ke Sabah, Malaysia pada tahun 1960 dan negara lain, seperti Bangladesh, Cina, Thailand, India, Filipina, Srilanka dan India.
Hingga tahun 2005, diperkirakan sekitar 1.300 spesies akasia tersebar di seluruh dunia. Dari total tersebut, sekitar 960 spesies merupakan flora asli Australia.
Yudha kembali termenung. Tidak mendapatkan informasi yang ia inginkan. Bacaan dari situs botani seperti itu hanya menambah wawasan pengetahuannya.
"Yudha.." Panggil Melody.
Melody datang sambil membawa secangkir kopi hitam kesukaan Yudha.
"Oh kau Mel, ada apa?" Tanya Yudha.
"Kok kusut begitu? Ada yang membuat frustasi?" Melody malah balik bertanya.
"Cuma memikirkan keberadaan paman Aron." Jawab Yudha.
Melody menyerahkan secangkir kopi itu pada Yudha. Yudhapun meminumnya perlahan.
"Hmm, belum ketemu juga paman Aron rupanya." Gumam Melody ikutan sedih. Ini sudah berjalan hampir sebulan. Namun belum ada titik terang. Setahunya seperti itu, tapi suaminya itu kurang terbuka soal informasi mengenai Aron.
Yudha meraih tangan Melody dan meminta Melody untuk duduk di sampingnya. Melody lalu duduk di samping Yudha.
Yudha mengusap-usap perut Melody yang membesar itu. Sudah akhir bulan Februari, sudah masuk bulan ke enam.
"Apa mereka suka menendang-nendang?" Tanya Yudha.
Melody menimpa tangan Yudha yang mengusap perut membesarnya. "Iya, semakin aktif mereka di dalam sana. Badanku juga terasa sangat berat untuk melakukan aktivitas." Jawab Melody.
"Yaelah, sudah berapa kali aku bilang? Tidak masalah, Yudh. Aku menikmatinya kok. Lagipula aku ini mamanya anak-anak. Aku tidak masalah dengan segala kodrat yang harus ditanggung."
Yudha mencium kening Melody. "Arigato."
"Hn."
Melody memberikan sebuah jepit kuku atau alat pemotong kuku pada Yudha.
Yuha menaikkan sebelah alisnya karena tiba'tiba saja Melody memberinya jepit kuku.
"Untuk apa, Mel?" Tanya Yudha.
"Karena perutku yang besar, aku yak bisa lagi memotong kuku kakiku sendiri. Kukunya sudah panjang-panjang. Kau mau tidalk membantuku?" Tanya Melody.
"Tentu saja! Perlihatkan kakimu!" Pinta Yudha.
Melody menggeser duduknya ke tepi sofa. Ia lalu mengangkat kakinya sampai di pangkuan Yudha. Yudha lalu memotong kuku kaki Melofy menggunakan jepit kuku itu.
Melody merasa sangat senang karena Yudha mau melakukan hal merepotkan ini padanya. Mood Yudha sedang tidak menentu, tapi Yudha masih bisa mengendalikan diri di hadapan Melody.
"Sudah selesai!" Kata Yudha.
Melody memeriksa kakinya. "Terima kasih, suamiku!"
"Iya sama-sama, istriku."
"Minta pijit!"
"..."
"Yudh..."
"Hah. Iya-iya, aku pijitin."
"Arigato.."
"Hn."
__ADS_1
Yudha mulai memijat kaki Melody. Melody merasa jika akhir-akhir ini kakinya sering bengkak. Saat Yudha memijat kakinya, rasanya jauh lebih baik.
Acara pijat memijat itupun berlanjut. Yudha beralih memijat punggung dan pinggang Melody. Sedikit gerakan ringan di leher dan pundak Melody.
Yudha tahu jika Melody mengalami masa-masa berat akan kehamilannya. Namun Melody tak banyak mengeluh. Melody justru terlihat sangat menikmati detik per detik masa kehamilannya.
Sebagai suami, Yudha memanglah memiliki banyak pekerjaan. Tak banyak yang bisa ia lakukan untuk mendukung kehamilan istrinya. Ia hanya bisa melakukan hal ringan seperti ini dengan Melody. Rasanya unik. Ada sensasi berbesa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Sulit dijelaskan. Yang pastinya, ia merasa sangat senang. Sangat bahagia dan tak sabar melihat buah hatinya dengan Melody lahir ke dunia ini.
"Yudha!" Melody mengeplak cukup keras tangan Yudha yang mencoba meraba-raba daerah dadanya dari arah belakang.
"Kenapa sih? Aku hanya sedang mencoba memijatnya. Kali saja bagian itu juga pegal." Kata Yudha asal.
Jelas sekali itu hanyalah modus.
"Aku tidak mau ngeflek merah lagi karena terlalu berlebihan melakukan itu, Yudh!"
"Kan ini tidak sampai ke sana, Mel. Hanya pijat saja."
"Kau yakin bisa menahannya? Kau gagal terus, Yudh! Sudah berapa kali coba? Jika kita tidak bisa mengendalikan diri, kita akan menyakiti anak-anak." Terang Melody.
"Iya-iya, aku minta maaf sering berlebihan."
Terakhir mereka melakukannya berakhir dengan Melody yang mengalami flek merah darah. Tak banyak, hanya sedikit. Beruntung kata dokter tidak masalah.
"Hei Yudh, aku tadi pas sedang menjenguk kakek. Aku bertemu dengan orang seusia paman Aron. Dia lalu memperkenalkan diri sebagai pamanmu." Kata Melody. "Paman Kazehaya Orion." Lanjutnya.
Yudha melebarkan pandangannya. "Paman Orion ke sini? Kau melihatnya?" Tanya Yudha seolah tak percaya.
"Iya. Kenapa?"
"Kenapa tidak bilang sih? Aku kan sangat merindukan paman juga. Bagaimana penampilannya saat ini? Apakah dia bertambah tua?" Tanya Yudha antusias.
"Dia mirip hot daddy, Yudh. Sangat sexy dan tampan. Dia memiliki selera fashion yang bagus. Tadi saja dia datang memakai setelan jas putih dan memaki topi putih juga. Berasa melihat Michael Jackson deh." Melody terkekeh jika mengingatnya.
Dan sudah pasti Yudha akan kesal jika Melody terlalu memuji orang lain, apalagi sosok yang Melody puji adalah seorang laki-laki. Rasa cemburunyapun mencuat ke permukaan.
"Puji saja terus sampai menembus langit ke tujuh sekalian!" Kesal Yudha.
"Tadi siapa yang tanya soal bagaimana penampilan paman Orion saat ini? Lalu setelah dijelaskan malah marah-marah cemburu tidak jelas. Lagian apa untungnya juga cemburu pada pamannya sendiri?" Melody jadi ikutan kesal jika sudah seperti ini.
"Dia sangat tampan, Mel! Dia memiliki banyak simpanan."
"Tampan kan bisa banyak orang yang punya di dunia ini. Namun tampan yang aku cinta kan hanya satu di dunia ini. Kazehaya Yudha." Kata Melody.
Dalam hati hoek banget ucapin seperti ini. Sangat berlebihan dan tak logis. Namun lagi, demi mempertahankan mood Yudha yang seperti roller coster, maka ia harus membuat Yudha senang.
"Awas saja jika kau berani jatuh cinta sama laki-laki lain, aku akan mengurungmu di kamar!" Ancam Yudha.
"Ancamanmu berlebihan!"
"Hukumannya enak kok, Mel! Kita bisa bersenang-senang setiap hari."
"Yang waras Yudh, kalau bicara!"
"Aku sudah lebih dari waras, Mel."
"Mesum."
"Aku tahu aku mesum. Memang kenapa? Mau aku mesumi?"
"Tidak, terima kasih! Tidak butuh, tuh?"
"Masak? Aku masukkin sekali pasti ketagihan nanti."
"Apaan sih, tidak lucu deh?"
"Siapa bilang ini akan lucu? Ini kan manis, Mel."
"Berhenti menggoda! Urusi saja proyek-proyekmu sana! Kau bilang, Alvin memberimu banyak proyek, kan?"
Yudha mengingatnya. Kok kesal ya?
Bayangkan saja, baru seminggu menjabat sebagai CEO Emperor Group, Alvin sudah menugasinya banyak proyek kerja sama di luar kota yang artinya ia harus meninggalkan Melody bersama kekuarganya.
Apakah ini adalah awal mula rencana Alvin untuk memulai usaha untuk memisahkan dirinya dengan Melody?
Mirisnya, sebagai orang dengan jabatan di bawah Alvin, ia sama sekali tidak bisa menolak.
"Cih, boleh tidak sih aku memukul wajahnya yang sedikit mirip denganku itu?" Geram Yudha.
"Hush! Sabar!" Pinta Melody.
"Kalau nyuruh sabar, ciumlah!" Kata Yudha.
__ADS_1
Melody mendecih kesal, tapi tetap mencium Yudha. "Penyemangat buatmu, calon papa!"
Yudha tersenyum senang. "Terima kasih banyak, calon mama!"