
The next day.
Di depan kamar inap Melody dan Yudha..
"Maaf, kau harus menemaniku padahal kau belum baik-baik saja." Kata Yudha. Ia ingat, semalam Melody muntah-muntah sampai memucat karena terlalu banyak makan makanan laut.
Sebenarnya ia tidak ingin membawa Melody ikut serta, tapi ini adalah pertemuan bisnis yang sangat penting. Koleganya ingin berkenalan dengan Melody sebagai istri dari Kazehaya Yudha.
"Aku baik-baik saja kok, Yudh. Semua makanan laut itu sudah aku muntahkan semuanya! Perutku saat ini sudah sangat baik!" Kata Melody semangat.
"Kau yakin?" Yudha menatapnya khawatir.
"Iya. Sepuluh milyar persen yakin!"
"Baiklah, tapi kalau kau merasa tidak baik, katakan padaku! Jangan memendamnya! Aku tidak mau menggendongmu saat kau tiba-tiba pingsan! Kau kan berat. Tenagaku tidak sekuat itu."
"Huft, baru saja kau berkata manis. Aku jadi ingin memukul wajah tengilmu itu!"
"Pukul saja kalau berani?" Yudha menantang Melody.
Tiba-tiba. "Akhhh.." Melody memengangi perutnya.
Yudha refleks mendekati Melody dan ikut memegangi perut Melody. "Masih sakit? Kau ingin meminum jahe hangat lagi?" Tanya Yudha dengan nada suara yang jauh lebih khawatir dari sebelumnya.
Melody terkekeh senang.
Sadar Melody hanya berpura-pura membuat Yudha kesal.
Melody malah tertawa ngakak setelahnya.
"Yudha yang jenius mudah dibodohi juga rupanya." Cengir Melody.
Perempatan muncul di kening Yudha. "Kau mengatai suamimu ini bodoh? Untuk orang dengan nilai C di mata kuliah Akuntansi sepertimu?"
Melody mendengus. Akuntantasi lagi. "Kemarin aku sudah dapat niali B!"
"Siapa yang bantu, heh?"
"Iya..Iya.. Itu kau! Puas?"
Yudha mengacak-acak rambut Melody. "Puas."
"Tatanan rambutku rusak, Yudh! Kau suka sekali sih mengacak-acak rambutku? Atau jangan-jangan kau menggunakan rambutku untul lap tangan ya?"
"Itu kau tahu. Haha." Yudha tertawa badai.
"Yudha!"
.
.
.
Nao yang berdiri tak jauh dari tempat dimana Melody dan Yudha mengobrol hanya bisa menyunggingkan senyumannya. Mereka berdua terlihat seperti pasangan pada umumnya.
Apa ini pertanda baik?
Sejujurnya, semalaman suntuk ia hampir tak bisa tidur. Ia memikirkan banyak hal. Ia bahkan juga membuat teman-teman laki-lakinya melakukan hal yang sama. Sai dan Shuhei. Meski Suhei kurang paham-pamat amat sih. Nao terlalu banyak berbicara menggunakan kode.
Isi pesan Kakek Wijaya yang tak main-main itu membuat tulangnya terasa melunak. Nafasnya bahkan sangat sesak seperti tercekik tambang kuda yang kuat.
"Sial, aku harus berhasil dalam proyek ini! Kakek sialan itu benar-benar merepotkan!"
.
__ADS_1
.
.
Proyek resort...
Yudha membantu Melody memakaikan helm khusus untuk meninjau proyek pembangunan resort. Helm bewarna kuning itu terlihat cukup kebesaran di kepala Melody. Jujur saja, Melody sedikit agak pusing karenanya.
"Kau seperti jamur yang belum mekar!" Kata Yudha menahan tawa.
"Tertawa yang lebar sana! Biar nyamuk masuk ke dalam mulutmu dan membuatmu tersedak kesakitan!" Sungut Melody.
"Ho, apa kau sedang curhat pengalaman pribadimu?"
"Iiihh, Yudha nyebelin banget deh. Berhenti menggodaku!"
"Iya, iya, dasar Minion!"
Melody makin kesal. Tadi jamur, sekarang minion. Yudha maunya apa sih?
"Aku kan tinggi, tidak mini!"
"Tapi kau lebih pendek dari penglihatanku!"
"Pengilatanmu saja yang salah! Tuan, aku bersedia kok menemanimu ke dokter mata! Aku yakin matamu itu tidak beres."
Yudha membekap mulut Melody. Melody kesulitan nafas. "Diam jangan membantah terus kenapa sih? Apa perlu kubungkam mulut kau dengan mulutku agar mulutmu itu diam?"
Tunggu.
Membungkam mulut dengan mulut?
Ciuman?
Melody langsung bergidik ngeri. Ia bahkan merinding dibuatnya. Ia langsung menciut dan memutuskan untuk menjadi kucing penurut pada Yudha.
.
.
.
Oke, pagi yang cerah kali ini Melody hanya mengekori Yudha meninjau pembangunan resort di distrik A Okinawa bersama Nao, Shuhei, Arsitek, dan juga pemimpin kontruksi serta beberapa asistan.
Sejujurnya Melody enggan ikut, tapi mau bagaimana lagi, tadi sudah terlanjur ingin ikut, dan Yudha mengharapkan kehadirannya.
Coba saja Yudha tidak membuatnya kesal, moodnya pasti akan lebih baik. Hah.
Meski moodnya kurang baik, tapi Melody sadar tujuannya ke Okinawa itu apa. Ia ke Okinawa bukan hanya sekedar untuk liburan, tapi menemani Yudha meninjau proyek kerjasamanya dengan Nao.
Hal ini juga merupakan kesempatan untuk Melody agar lebih dikenal oleh para pekerja lain bahwa ia adalah menantu Kazehaya, istri dari Kazehaya Yudha. Walau tidak mengerti apa-apa, ya sudah, ia jalani saja.
Mengekor kemanapun rombongan peninjau itu berjalan.
"Bukankah sudah sangat bagus? Di taman sudah ada kolam ikan yang besar, gasebo, bunga-bunga juga sangat banyak. Pepohonan juga sudah cukup pas dengan view depan hotel. Tapi Yudha bilang masih belum puas? Yaelah, yang memuaskan di matanya itu seperti apa sih?" Batin Melody yang sedikit demi sedikit tertarik dengan pembicaraan Yudha dengan mitra kerjanya.
Melody kembali memandangi pemandangan buatan di depannya itu.
"Memang benar, ada yang kurang. Kolamnya luas. Tapi agak sedikit kosong. bukankah ini pemandangan di depan Hotel? Bukankah sedikit agak berwarna dan ramai itu lebih bagus?"
Lanjut batinnya.
"Kau memiliki ide, Melody?" Tanya Yudha tiba-tiba.
"E..eh?"
__ADS_1
"Ada yang kurang."
Yudha menunggu jawaban dari Melody.
"Ah.. ba-bagaimana jika di tengah kolam besar itu ada air mancur besar? Seperti halnya delta mini di tengah danau. Ada air mancurnya, bunga, atau mungkin bisa di tambah patung hewan. Bangau? Flamingo?" Melody sendiri tak mengerti kenapa ia berbicara spontan seperti itu.
Semua mitra Yudha mengangguk-angguk akan saran Melody termasuk Yudha dan Nao. Yudha terlihat mempertimbangkannya.
"Saran dari Nyonya Muda Kazehaya terdengar sangat bagus, saya rasa kolam itu memang butuh aksen pemanis, Tuan Yudha." Kata Reizuki, kepala kotruksi.
"Ide Melody sangat bagus. Aku menyetujuinya.. Jika memungkinkan, kita bisa menanam bunga teratai di kolamnya. Toh kolam itu tidak terlalu dalam." Tambah Nao.
Nao bisa keren juga kalau serius.
"Ikan mas cukup cocok dengan kondisi alam Okinawa, Tuan Muda." Shuhei menambahi.
"Baiklah. Aku menyetujuinya." Kata Yudha.
Acara peninjauan proyek resort sudah usai. Acara ditutup dengan jamuan makan siang bersama.
Sangat melelahkan, bagi Melody yang baru pertama kali terjun ke lapangan langsung sudah pasti menguras banyak tenaga. Ditambah lagi kondosi tubuhnya yang belum benar-benar fit. Ia harus berjalan ke sana kemari, memakai helm ala tukang bangunan yang membebani kepalanya.
Yudha cukup perhatian dengan menyuruhnya beberapa kali untuk istirahat di bawah pohon yang teduh. Yudha bahkan menawarinya minuman dingin. Walau ia dan Yudha banyak berdebat, tapi Melody merasa bisa berteman baik dengan Yudha.
Pernikahan tanpa cinta membuatnya mengambil langkah untuk menjadi teman Yudha. Sesungguhnya Melody mencoba memahami bagaimana posisi Yudha saat ini.
Yudha tidak mencintainya. Jelas, Melody tahu jika wanita yang dilihat Yudha itu adalah Amamiya Yura. Jika Yura adalah cinta pertama Yudha, Melody meyakini jika itu akan sulit dilupakan meski Melody tahu jika Yudha beberapa kali mencoba menghindari Yura.
Diam-diam Melody mengamati tingkah Yudha. Bukan apa-apa, tapi Melody merasa jika kehadirannya di hidup Yudha membuat Yudha berubah begitu banyak.
Dipungkiri atau tidak, yang jelas itu adalah salahnya. Saat ini ia memang belum bisa berbuat banyak pada Yudha, jika Yudha serius akan pernikahan yang dijalani, maka Melody hanya akan berusaha mengimbangi Yudha.
Apa itu artinya termasuk menyerahkan hatinya pada Yudha?
Mencintai Yudha?
Atau membiarkan dirinya dicintai oleh Yudha?
Point terakhir sepertinya membuat ragu Melody. Ingat, ia adalah orang baru di kehidupan Yudha. Bukankah itu sangat sulit untuk mendapatkan tempat sementara dimana Melody tahu jika Yudha memiliki sosok yang telah lama bersemayam di hati?
Bagaimana Melody tahu jika Yudha begitu men-cin-ttai Yura?
Tentu saja! Tatapan itu, tatapan Yudha pada Yura sangat berbeda. Entah kenapa jika ia memikirkannya lebih dalam, ia merasa sangat kesal dan rasanya sungguh menyesakkan.
Apakah itu masuk point pertama dan kedua? Menyerahkan hatinya pada Yudha? Mencintai Yudha?
Jika itu yang mulai ia rasakan, ia hanya tidak tahu harus bagaimana. Ia tak mau menjadi egois dan orang jahat dengan merebut kebahagiaan orang lain. Baginya, keluarga Kazehaya adalah penyelamat hidupnya dan Yudha, laki-laki itu adalah kuncinya.
Dengan menikah dengan Yudha, ia mendapatkan harta yang sangat banyak. Lebih untuk sekedar melunasi hutang-hutang keluarganya. Awalnya, ia kira pernikahan yang ia jalani murni uang, nyatanya setelah berbulan-bulan berlalu, ia terjebak jauh di dalamnya.
Melody memikirkan ibunya.
Melody memikirkan kakek Wijaya dan keluarga besar Kazehaya.
Mereka semua menaruh harapan besar padanya.
Namun..
Ia juga memikirkan Yudha.
Laki-laki kaku dan banyak menyebalkannya itu begitu baik padanya.. Yudha memiliki cara sendiri untuk memperlakukannya dengan baik.
Bukan suatu hal yang sepele jika ia memikirkan kebahagiaan Yudha.
Apapun itu, Melody harus pandai dalam mengambil segala keputusan.. ia harus pandai mengambil langkah.
__ADS_1
Termasuk jika Yudha berniat menceraikannya suatu saat nanti.