MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Bingung Judulnya Apa


__ADS_3

“Bagaimana laporanmu, Aron?” Tanya Kakek Wijaya lewat video call.


“Hasil investigasi polisi menduga jika ada sabotase rem mobil milik Tuan Muda yang menyebabkan nona Amamiya kecelakaan. Dugaan sementara jatuh pada Tuan Muda. Tuan Muda menjalani tahanan kota untuk sementara sampai investigasi selesai. Jika itu terbukti, maka Tuan Muda akan menjadi tersangka. Pergerakkan saham Kazehaya Group naik turun, akhir-akhir ini mengalami penurunan yang cukup signifikan. Banyak para pemegang saham kita yang mulai membicarakan Tuan Muda. Bukan masalah kualitas, tapi mereka mulai meragukan sikap Tuan Muda, Wijaya-sama.” Kata Aron.


“Kau tahu apa yang harus kau lakukan, kan Aron?”


“Iya, Wijaya-sama.”


“Aku percayakan padamu.”


“Saya mengerti, Wijaya-sama.”


Percakapanpun diakhiri. Di Canbera, kakek Wijaya mengamati papan caturnya. Ada beberapa pion di sana, ada kuda yang siap memangsa.


“Baiklah, siapa yang akan dikorbankan selanjutnya?” Kakek Wijaya lalu tersenyum penuh arti.


.


.


.


Melodi Cinta


.


.


.


Beberapa wartawan sedang meliput keadaan Yura- atas izin agensi tentunya. Yura menyapa penggemarnya dengan baik. Namun ada lontaran pertanyaan dari wartawan soal hubungannya dengan Yudha. Yura sbenarnya enggan menjawab, tapi karena di ruangan itu juga ada Yudha mungkin sebaiknya ia menjawabnya.


“Aku dan Yudha memang sangat dekat. Kami berteman baik sejak kecil.” Jawab Yura.


Saat wartawan ingin bertanya soal isu perselingkuhannya dengan Yudha, suster rumah sakit menghalangi karena waktu jenguk-waktu liputan wartawan sudah habis.


“Publik itu kejam ya Yudha-kun? Kemarin isu perselingkuhan, nambah lagi pembunuhan. Maunya apa sih?”


“Mereka hanya bekerja untuk hidup.”


“Selalu menganggap enteng, hati-hati loh!”


“Aku selalu berhati-hati.”


“Ne Yudha, kemarin, terima kasih sudah menemaniku berkeliling taman rumah sakit. Pemandangan malam memang indah.”


“Tidak masalah.”


“Benarkan, jika ada Yudha-kun di sampingku, maka aku cepat bahagia. Bahkan aku bisa melupakan rasa sakitku.”


“Jangan bercanda, cidera seperti itu tidak mudah sembuh. Butuh waktu.”


“Apa selama itu kau akan tetap menemaniku?”


“...”


“Yudha-kun..”


“Hn, karena aku sudah berjanji.”


“Arigato..” Yura memeluk Yudha.


“Hn. Sebaiknya kau berhati-hati dengan lenganmu yang patah.”


“Cuma memeluk sedikit saja juga.”


.

__ADS_1


.


.


Melodi Cinta


.


.


.


“Wartawan sialan, kenapa aku juga diburu? Mentang-mentang istri Yudha? Aku kan tidak tahu apa soal masalah Yudha. Dan lagi, kukira isu perselingkuhan itu bakal mereda, nyatanya, kenapa dibawa-bawa lagi? Wartawan itu maunya apa sih? Jika Yudha dituduh mau bunuh Amamiya-san, harusnya mereka mikir jika Yudha tidak ada hubungan gelap dengan Amamiya-san. Iya kali, punya hubungan gelap tapi mau dibunuh? Dunia memang sudah gila! Punya hubunganpun, apa urusan mereka sih? Punya hubungan? Aahhh, embuhlah. Sak karepe!” Gerutu Melody.


Embuhlah, sak karepe: Bodo, terserah deh.


“Tenangkan dirimu dengan sebotol air dingin! Kali aja panas di kepalamu bakal dingin.” Kata Mia.


“Thanks, Mia..”


"Sama-sama."


Melody membuka tutup botol minuman dingin dari Mia dan menenggaknya sampai habis. Glek. glek. glek glek..


“Akkhhhhh. Aku ingin minum sake!”


“Hush. Kau bukan tipe kuat alkohol! Lagipula itu tidak baik buatmu!”


“Gila saja, mereka bertanya apa aku ini mandul karena sudah delapan bulan menikah tapi belum juga terlihat mengandung. Mereka menjadikan hal itu sebagai alasan kenapa Yudha berselingkuh." Kesal Melody.


Ia ingat wartawan tadi mencercanya dengan pertanyaan seperti itu.


“Jika kau mau menghilangkan gosip perselingkuhan Yudha, maka suruh Yudha menghamilimu!”


“HAH? JA-JANGAN BERCANDA!”


“Mukamu memerah loh..”


“TIDAK!”


“Hee, masak? Seperti udang rebus malahan.”


“Susah donk! Mia, berhenti menggodaku! Dengarkan baik-baik, melakukan hal itu tuh rasanya sakit sekali! AKU TAK MAU MELAKUKANNYA LAGI!”


“Butuh obat perangsang lagi?”


“Ano ne, Mia Bebek Panggang kurang kecap. Melakukan hal seperti itu dengan obat perangsang, rasanya sangat jauh lebih menyakitkan!”


Ano ne: Begini ya..


“Haha, iya, iya. Gomen gomen, Nyonya Kazehaya..” Mia meminta maaf.


Mia hanya ingin menghibur temannya ini. Tak disangka, mereka malah terjebak wartawan yang merepotkan.


"Kau terus saja menggodaku!" Gerutu Melody.


“Aku tahu takaran sakitmu, Melody. Itu bukan sakit secara nyata, hatimu sangat terluka, kan? Setelah sekian lama akhirnya kau menemukan kebahagiaan, nyatanya, uang memang bukan segalanya. Bertahanlah Melody, cinta adalah luka yang indah. Ganbatte!”


Cinta adalah luka yang indah? Pemikiran yang tak Melody sukai. Baginya, cinta itu penuh keindahan, penuh kebahagiaan.


“Aku akan ke rumah sakit!” Kata Melody tiba-tiba.


“Menjenguk Amamiya?”


“Tidak, aku akan ke rumah sakit Kazehaya International. Amamiya dirawat di rumah sakit yang berbeda. Prime Hospital.”


“Bertemu Alvin-senpai?”

__ADS_1


“Bisa jadi, tapi aku rindu anak-anak.”


“Ahh, benar juga, kau kan sering bermain-main dengan mereka untuk menghilangkan kesepianmu. Makanya bikin anak agar di rumah tak kesepian lagi!”


“Miaaaa..”


“Gomeeen hahaha..”


.


.


.


Setelah menyelesaikan mata kuliah, mereka berdua menuju rumah sakit milik keluarga Kazehaya. Melody langsung berbaur dengan anak-anak yang sedang berobat di rumah sakit itu. Anak-anak yang ia sambangi beberapa bulan yang lalu sudah tidak ada lagi, pasien terus berganti. Meski begitu, Melody dan Mia dapat dengan mudah berbaur.


Pukul dua siang, Melody dan Mia mampir ke kantin rumah sakit untuk makan. Di sana mereka bertemu dengan Alvin dan akhirnya makan bersama.


“Senpai, kau cocok sekali dengan jas doktermu!” Kata Mia.


“Benarkah? Tapi aku masih belum dapat gelar itu.” Kata Alvin.


“Kalau aku sih percaya karena itu kau, Alvin-senpai.”


“Kau bisa saja, Mia.”


“Ne kalian..” Melody menyela.


“Ya?”


“Hm?”


Alvin dan Mia menoleh bersamaan.


“Apa kalian bersaudara? Muka kalian terlihat mirip.” Kata Melody.


Mia terbatuk. “Hah?”


“Pada dasarnya kita semua bersaudara, kan?” Kata Alvin.


Alvin adalah laki-laki yang percaya nenek moyang manusia adalah Adam dan Hawa.


Bukan monyet yang berevolusi.


“Iya juga sih. Hahaha..”


“Melody mah..”


“Oh iya Melody. Kau terlihat pucat akhir-akhir ini. Bagaimana dengan selera makanmu?” Tanya Alvin.


“Baik-baik saja?” Kata Melody. Rasanya ia makan dengan lancar.


“Kepalamu sakit?”


“Hmm, kadang sih. Tapi badanku baik-baik saja. Mungkin hanya kelelahan saja. Akhir-akhir ini aku memang sering cepat merasa kelelahan.”


Kata Melody.


Mia mengamati percakapan antara Melody dan Alvin. Ia tahu bagaimana hubungan mereka. Mereka itu sangat dekat. Mia saja sangat mendukung Melody bersatu dengan Alvin, tapi jika sekarang, ia juga pro Melody dengan Yudha. Mereka juga sudah menikah sih. Lagipula, sepertinya Melody bisa bahagia dengan Yudha. Dibandingkan dengan Alvin, sepertinya Melody jauh lebih bisa berekspresi saat bersama Yudha. Mungkin tresno jalaran soko kulino mengidap pada Melody.


Tresno jalaran soko kulino: Cinta karena terbiasa bersama.


Hubungan Melody dengan Alvin lebih terlihat dengan hubungan kakak-adik di mata Mia. Alvin sangat peduli pada Melody dan Melody mudah bergantung pada Alvin. Meski nyatanya sekarang mereka kakak-adik ipar, tapi Mia sedikit khawatir.


Jika Yudha terus saja seperti ini, maka Alvin akan kembali masuk ke dalam hati Melody. Jika membayangkan itu terjadi, rasanya sebagai sahabat, ia tak rela akan hal itu. Bukan karena apa-apa, bukankah Melody terlihat jauh lebih bahagia saat bersama Yudha? Ya walau banyak sakitnya sih.


Alvin itu sangat baik, perhatian, dan tampan. Banyak wanita yang menyukainya.

__ADS_1


Termasuk.. dirinya?


__ADS_2