MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Flashback Versi Kurenai 3


__ADS_3

FLASHBACK ON


Kurenai dan Tuan Han duduk bersama di dalam bar. Mereka duduk di ruangan khusus yang bersifat privat.


Untuk jaga-jaga, Kurenai sama sekali tidak cerita jika Heaven Bar adalah bar yang ia bangun dengan temannya, Hito. Tuan Han bukanlah orang yang sederhana. Orang ini gila dan memiliki kelainan mental terutama soal sex.


"A-apa ini?" Tanya Kurenai ketika sebuah bungkusan kecil disodorkan oleh Tuan Han kepadanya.


"Obat perangsang." Jawab Tuan Han.


"Ini untuk apa?" Kurenai tak mengerti apa maksudnya ini. Apakah ini untuk dirinya demi melayani Tuan Han?


"Berikan itu pada Kazehaya Yoga dan tidurlah dengannya! Miliki keturunan darinya juga!" Kata Tuan Han.


Kurenai terkejut bukan main. Okelah ia sangat mencintai Yoga, tapi bukan dengan cara seperti ini juga, kan? Dirinya sendiri bahkan tidak pernah berpikir akan tidur dengan Yoga meski berstatus sebagai wanita penghibur.


"Saya menolak!" Tolak Kurenai tegas.


Tuan Han menatapa tajam Kurenai. "Ho, kau bisa berkata keras juga rupanya? Ah, kau dulu pun sangat liar."


"Tolong hentikan! Jangan membahas masa lalu!" Pinta Kurenai. Ia bahkan harus menutup kedua telinganya. Masa lalunya yang mengerikan masih sangat membekas di dalam hatinya. Sangat sulit untuk dilupakan. Itu seperti trauma dan mimpi buruk yang menghantui setiap malamnya.


Tuan Han menyeringai. "Turuti perintahku atau video sex seperti binatang kita akan aku kirimkan ke Kazehaya Yoga!" Ancam Tuan Han. "Ah, memusnakan bar ini dalam semalam pun mudah aku lakukan." Tambahnya.


Tubuh Kurenai gemetar hebat. "To-tolong jangan lakukan ini! Tu-Tuan Han, saya mohon ampuni saya.."


"Turuti perintahku, maka semua akan aman!"


"..." Bagaimana ini?


"Membunuh Yoga pun aku tak akan segan-segan." Tambah Tuan Han.


Tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Yoga, Kurenai pun memilih untuk menuruti permintaan dari Tuan Han.


Masa lalu terungkap, Yoga pasti akan biasa saja karena ia sudah menceritakan kisah menyedihkan ini pada Yoga.


Jika Heaven Bar lenyap, tak mengapa. Dulu ia dan Hito bisa membangun kembali bar, maka ia dan Hito pasti akan bisa melakukannya kembali.


Namun...


Jika ini menyangkut nyawa Yoga, maka tentula ia tak akan bisa. Perasaannya pada Yoga itu luar biasa dalam. Ia sangat menyayangi dan mencintai Yoga. Tak mungkin baginya membiarkan Yoga dibunuh karena dirinya. Ia tak akan bisa. Ia tak akan rela!


Apapun akan ia lakukan untuk menyelamatkan Yoga! Meski harus dengan cara kotor seperti ini sekalipun.


"Kurenai, aku hanya ingin mendengarkan jawabanmu!" Kata Tuan Han.


"Ba-baik, akan saya lakukan semua perintah Anda. Tapi tolong berjanjilah pada saya, jangan pernah menyentuh sedikitpun Yoga-san!" Kata Kurenai.


Tuan Han kembali menyeringai. Ia sudah tahu jika Kurenai akan menjawab seperti ini. Usahanya mencari Kurenai tak sia-sia.


"Budakku yang paling cantik di antara semuanya. Kau memang selalu bisa memuaskanku." Kata Tuan Han.


Tuan Han lalu membelai pipi Kurenai. Mengusapnya perlahan lalu mencium bibir ranum itu.


"Mari kita habiskan malam ini untuk membayar rindu karena sudah lama tak bertemu!"


.


.


.


Kamar Kurenai...

__ADS_1


Keesokan harinya.


Kurenai membasuh tubuh indahnya dengan air berulang kali. Menggosok kasar dengan puff dan sabun mandi hingga kulitnya memerah. Perih, ia tidak peduli akan hal itu. Yang penting semua noda dari Tuan Han yang menempel pada setiap lekuk tubuhnya menghilang.


Harus bersih!


Harus hilang!


Harus lenyap!


Sampai tak tersisa.


Namun... semua terngiang di dalam kepala. Meski ia tak sekolah SMA, namun, otaknya sangat cerdas. Ia mampu mengingat banyak hal. Kenangan demi kenangan sangat melekat di memori otaknya.


Trauma masa lalu muncul lagi.


Kisah ketika ia menjadi budak sex Tuan Han selama hampir dua tahun kembali menghantuinya. Dan setelah setahun lebih terbebas dari nerakanya Tuan Han, kini ia kembali harus merasakan siksaan yang sama.


Tuan Han sudah kembali.


Tuan Han kembali memiliki jiwa dan raganya.


"Tuhan, jika kau sungguh ada di atas sana, kenapa Kau memberikanku takdir yang menyedihkan seperti ini? Karma apa yang sudah aku lakukan di masa lalu sehingga aku harus melewati dan menjalani kisah seberat ini? ... Apa manusia hina dan kotor sepertiku tak pantas berdoa kepada-Mu? Apa kau hanya menyukai mereka yang bersih dan suci sehingga doaku sama sekali tidak pernah Kau kabulkan? ... Tuhan, aku hanya ingin hidup tenang dengan orang yang aku sayangi, terlalu sulitkan bagi-Mu untuk mewujudkan keinginan sederhanaku ini?"


Usai mandi, Kurenai lalu memakai pakaiannya. Ia duduk termenung di kamarnya. Merenungi kisahnya yang seperti tidak memiliki ujung. Yang ada hanya luka dan derita. Di saat ia menemukan secerca cahaya harapan dari Yoga, namun harus kembali kandas karena munculnya Tuan Han.


Ia mengambil sebungkus obat perangsang yang Tuan Han berikan kepadanya semalam.


"Yoga-san, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku tak ingin menyakitimu. Namun, jika aku tak menurutinya, kau bisa terluka, bahkan juga mati. Aku tak bisa membiarkanmu mati di tangan iblis itu. Maaf kan aku yang seenaknya saja. Maafkan aku yang menyeretmu terlibat dengan masalahku."


.


.


.


"Masih masalah soal calon istrimu?" Tanya Kurenai.


"Hn. Pernikahanku dengannya dipercepat. Entah apa maksudnya, ayah menginginkan aku cepat menikahinya." Jawab Yoga.


Jika Yoga menikah, apa Yoga akan menemuinya lagi? Itu yang terlintas di benak Kurenai. Asa ketakutan di sana, ada ketidak relaan di sana.


Tiba-tiba rasanya menjadi sangat sedih.


"Maafkan aku sudah membuatmu terluka." Kata Yoga.


Kurenai menggeleng. "Aku tak memiliki hak untuk itu. Aku sudah sadar diri sejak awal."


"Maaf..."


"Jika ada keajaiban yang bisa membuat kita bersama lagi, maka mungkin Tuhan akan membuka kan jalan yang terbaik untuk kita. Berhentilah merasa bersalah! Cinta kita itu tam bisa dipaksakan."


Ringan. Kurenai menyadari jika apa yang baru saja ia katakan sangat ringan. Lancar keluar dari otaknya. Lancar terucap dari bibir tipisnya.


Padahal itu bohong meski ada kebenaran juga di antaranya. Kisah yang ia tambahi menjadi sangat manis untuk didengar.


Lalu dalam hitungan detik, Yoga mulai gelisah tak nyaman. Tubuhnya terasa memanas. Kepalanya juga pusing. Ketika ia membuka mata, ia melihat sosok wanita yang selalu saja ia tempatkan di posisi yang salah.


"Mi-Mikan..."


Kurenai membatu. Ia menangis ketika Yoga mencium bibirnya dan salah menyebut namanya. Malam ini, meski rencana membuat Yoga tidur dengannya berhasil, namun rasanya sangat menyakitkan.


"Yoga-san maaf, meski Tuan Han terlibat, namun aku ingin egois terhadapmu. Aku ingin memilikimu!"

__ADS_1


.


.


.


Pagi harinya Kurenai memulai drama yang sudah ia rencanakan. Ia harus mendapatkan hati Yoga. Ia tahu Yoga itu orang kaya, mungkin saja Yoga akan bisa melindunginya dari Tuan Han di masa depan.


Kurenai sangat mendramatisi, ia mendalami permainannya dengan baik. Ia menangis untuk membuat Yoga merasa bersalah.


Yoga yang baik itu nampak tak berdaya dengan air matanya. Berulang kali mengucapkan kata maaf terhadapnya.


"Aku akan bertanggung jawab jika terjadi apa-apa padamu!" Kata Yoga.


Berhasil.


Kazehaya Yoga berhasil terjerat olehnya. Dalam hati Kurenai menyeringai, ia memeluk Yoga dan mempersiapkan banyak agenda setelah ini.


Dan benar saja, sebulan kemudian ia memeriksakan diri ke dokter dan mendapat hasil periksa jika dirinya kini tengah mengandung.


"Yoga-san, aku hamil..." Kata Kurenai.


"Ha-hamil?" Kaget Yoga.


Kurenai menatap Yoga. "Ya. Namun tak mengapa. Kau boleh menduga jika ini bukan anakmu mengingat aku ini mantan PSK. Aku tak bisa mengelaknya atau membuat pembelaan apapun pada kehamilanku. Maaf sudah menempatkan dirimu di tempat yang kurang nyaman. Tak apa, aku bisa membesarkan anak ini sendirian. Beberapa hari lagi kau juga akan menikah dengan Mikan-san. Semoga kau bisa bahagia dengannya!" Kata Kurenai.


Yoga menarik Kurenai ke dalam pelukkannya. "Aku akan bertanggung jawab! Jangan bicara seperti itu lagi!"


Kurenai menangis dan mengangguk. "Kau sungguh orang yang sangat baik, Yoga-san. Aku memang sangat mencintaimu, namun baiknya hatimu membuatku ingin memanfaatkanmu." Batin Kurenai.


.


.


.


Tuan Han datang menemui Kurenai untuk menanyakan apakah misi yang sudah ia berikan kepada Kurenai.


Kurenai mengatakan jika ia sudah tidur dengan Yoga dan saat ini sedang menangadung anak dari Yoga.


Tuhan Han tertawa bahagia mendengar kabar akan hal itu.


"Kerja bagus, Kurenai! Kerja bagus! Akhirnya aku memiliki alat untuk balas dendam!" Kata Tuan Han.


Balas dendam? Yang mana?


"A-Apa tujuan Anda, Master?" Tanya Kurenai.


"Membalas dendam pada mereka yang sudah menghancurkanku dan yakuza Red Dragon." Jawab Tuan Han.


END OF FLASHBACK


.


.


.


Kurenai meminum teh usucha yang dibuatnya, rasanya masih sama, tidak senikmat dulu. Ada ketegangan di otot lehernya ketika harus mempertahankan tangan di posisi yang sama tanpa haru melempar hinga pecah seperti sebelumnya yang sudah ia lakukan.


"Apa hubungannya Tuan Besar Wijaya-sama dengan yakuza Red Dragon dan Tuan Han? Mereka beda usia jauh, layaknya jarak antara ayah dengan anaknya. Namun Tuan Han bilang jika ia ingin balas dendam. Apa Tuan Besar yang menghancurkan yakuza Red Dragon di masa lalu? Ataukah ada orang lain yang melakukannya dan orang itu berhubungan erat dengan Tuan Besar? ... Hmm, ini masuk akal karena aku ingat, orang yang menolongku dari ruangan neraka mansion Tuan Han adalah orang lain. Bukan Tuan Besar."


Kisah masa lalu yang rumit, membawa masalah masa sekarang yang juga sangat rumit.

__ADS_1


"Aku tidak terlalu peduli, asal mereka saling bunuh, maka aku akan berada di pihak yang beruntung. Aku harus membuat Alvin memiliki Emperor Group sepenuhnya! Tak hanya CEO, tapi juga pemilik! Surat wasiat itu harus segera aku dapatkan! Aku yakin, nama Alvin-lah yang tertera di surat wasiat itu! ... Namun jika isi suratnya berbeda, maka tinggal dirubah saja! Cara kuno ala sinetron memang, namun aku akam menghalalkannya asal aku dan Alvin bisa menguasai semuanya."


__ADS_2