MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Nasihat Ibu


__ADS_3

Melody berjalan meninggalkan kampus. Berjalan melewati trotoal. Siang hari di musim gugur yang mulai miskin sinar matahari. Udarapun semakin mendingin.


Kurang dari dua minggu lagi Yudha wisuda, jika seperti ini terus maka ia akan kesulitan untuk mengucapkan selamat kepada Yudha. Padahal hanya mengucapkan 'selamat' itu apa sulitnya? Sisi hati Melody bertanya seperti itu, tapi, jika suasana tak mendukung, maka kata-kata sederhana seperti itu akan sangat sulit untuk diucapkan.


"Kenapa aku selalu mempersulit hal yang sesederhana ini? Kenapa aku tidak bisa seperti dulu yang bisa melalui banyak hal tanpa beban? Kenapa saat ini rasanya seperti ada jerat rantai yang menghalangiku? Merantai kakiku dan membuatku sulit bergerak bebas. Membuatku seperti terpenjara dalam ruang yang sempit."


Melody berjalan jauh tanpa tujuan. Entah bagaimana, langkah kakinya mengantarnya sampai ke halaman rumahnya yang memang tak begitu jauh dari kampus.


Tapi jika sampai jalan kaki, itu sebenarnya sangat jauh sekali loh.


Pikirannya yang tak jelas rupanya tak membuatnya sadar apalagi kelelahan. Tahu-tahu ia sudah sampai di rumahnya sendiri.


Rumah sederhana itu sudah banyak berubah. Sudah direnovasi sana-sini. Ingat, itu uang dari pernikahan bisnisnya dengan Yudha. Jika bukan karena itu, mungkin rumah itu sudah dijual untuk melunasi hutang-hutang keluarganya.


Keinginanya untuk menyelamatkan rumah peninggalan ayahnya itu membutuhkan pengorbanan besar. Ia mulai sadar, menikah bisnis saja tak cukup, lara hati dan makan perasaanpun mulai datang mendera.


.


.


.


Melody memasukki rumahnya. Ia disambut oleh sang ibu. Sang ibu terlihat sangat pucat. Ini memang musim gugur yang terasa sangat dingin, tapi ibunya terlihat begitu tebal menggunakan mantel berlapis. Ini tak seperti biasanya.


Sejak saat itu ia sadar, ibunya sedang sakit.


Melody memarahi ibunya karena tidak bisa menjaga diri. Hidup sendiri pastilah tidak mudah.


"Ibu, maaf harusnya aku bisa menjaga ibu lebih baik lagi. Maaf tidak bisa terus bersama ibu."

__ADS_1


Salahnya juga, ia tidak menanyakan kabar ibunya beberapa hari terakhir ini. Ia banyak pikiran sampai melupakan ibunya sendiri.


Melody merasa jika saat ini dirinya sudah berlaku sangat jahat. Meski sudah menikah dan tinggal terpisah, tapi ibu kandungnya tetaplah sosok terpenting dalam hidupnya. Ibunya berjuang sendirian membiayai hidupnya. Jika saja ia lebih peka, mungkin ibunya tidak akan sakit seperti ini.


"Minumlah, Bu!" Melody memberikan obat pada ibunya yang ia beli di apotek tak jauh dari rumahnya.


Sang ibu meminumnya. Setelah itu ibunya membaringkan tubuhnya, Melody menyelimutinya dengan selimut yang tebal. Mengingat saat ini ibunya tinggal sendirian, fakta itu membuatnya miris. Ia menahan tangisannya.


"Pulanglah, Nak! Ibu akan membaik." Kata Tsuchiya, ibunya.


"Aku akan menginap. Aku sudah bilang pada Ayane-nee. Ibu jangan khawatir. Aku akan menjaga ibu sampai sembuh." Melody tersenyum.


"Kau wanita yang sudah menikah, kau harus izin pada suamimu. Jika suamimu tak memberikan izin, maka kau tidak boleh membantahnya!"


Melody diam saja. Ia memang tak memberitahu pada Yudha. Jangankan minta izin, berbicara seperti biasa saja dengan Yudha rasanya menjadi sangat sulit. Apalagi saat ini, rasanya ia ingin menjauh sejauh-jauhnya dari Yudha.


"Eh. Ya?"


"Kau sudah berbicara pada Yudha?"


"Ayane-nee akan memberitahu dia nanti, Ibu. Saat ini dia sedang ada di kantor, tidak bisa sembarangan menelponnya. Dia sangat sibuk, Bu."


Yudha memang sibuk di kantor, dia tak berbohong. Tapi sebenarnya ia diperbolehkan menelpon Yudha, hanya saja ia tak mau melakukannya.


"Begitukah? Ne, Melody..."


"Ya?"


"Ibu sudah mendengar rumor rumah tangga kalian. Tetangga kita juga banyak yang menanyakannya. Kalian sudah membahasnya?"

__ADS_1


"Jadi ibu sakit karena memikirkan rumah tanggaku dengan Yudha? Ibu kumohon, aku hanya memiliki ibu. Jangan sakit! Masalahku dengan Yudha pasti memiliki penyelesaian. Untuk saat ini aku hanya ingin melihatnya dulu."


Jujur saja, ia bahkan tidak tahu harus bagaimana.


Lagi, hubungannya itu sangat rumit.


"Ibu sakit karena memang ibu sudah tua, lagipula cuacanya memang sedang sangat dingin. Mengertilah Melody. Jangan hanya melihatnya, semakin lama kau melihat, semakin susah juga kau menentukan arah. Jangan terlalu lama seperti ini! Mulailah untuk membuat langkah, beranikan dirimu! Berkomunikasi mungkin jalan yang baik. Kau ke sini sendirian, Ibu yakin. Kau menghindari nak Yudha, kan?"


Binggo.


Ibunya adalah malaikat yang selalu mengerti dirinya. Melody bersyukur memiliki sosok ibu seperti Tsuchiya. Meski cerewet, tapi sangat hangat. Ibunya memang yang terbaik.


"Ibu dan ayahmu dulu juga sering bertengkar, sering saling diam. Tapi, salah satu dari kami pasti ada yang mengalah untuk berbicara duluan, makanya kami akan cepat baikkan. Ada kalanya kau harus menurunkan egomu, Melody. Itu baik. Selamanya mempertahankan ego tinggi itu hanya akan membawamu dalam kehancuran. Jangan terlalu lama saling diamnya, jika terlalu lama, bisa-bisa kau akan merasa asing dengannya."


Merasa asing dengan Yudha? Hampir tujuh bulan yang lalu ia juga merasa asing dengan Yudha. Sehari pertunangan, seminggu kemudian ia dan Yudha menikah. Dalam kurun waktu yang singkat itu, ia bisa menjalain 'pertemanan' dengan Yudha. Ia ingat, Yudha yang memulai duluan. Apa artinya Yudha menurunkan egonya untuk memuli pembicaraan dengannya?


Haruskah saat ini ia melaukannya? Bukankah ini adalah gilirannya?


"Ibu istirahat saja. Aku akan menemani ibu. Ibu tak usah khawatir denganku dan Yudha atau bahkan rumor itu. Aku dan Yudha pasti akan membahasnya. Kami tinggal seatap, sekamar, seranjang juga, Ibu. Lambat laun, kami pasti akan saling membuka mulut untuk membahas rumor itu. Aku hanya perlu mempersiapkan hatiku sebentar saja. Yudha pasti juga seperti itu. Yudha juga kesulitan sama seperti diriku."


"Ibu percaya pada kalian. Ibu juga percaya pada pernikahan kalian. Ibu selalu berdoa untuk kebaikan kalian."


Melody ingat betul. Kata-kata dari ibunya itu kata-kata yang sama persis seperti yang diucapkan kakek Wijaya, Ibu Mikan, dan juga nenek Chiyo. Mereka semua menasihatinya dengan kata-kata itu setelah skandal Yudha dan Yura diberitakan media.


Hampir tiap hari sang ibu mertua menelponnya dari Jerman untuk menanyai kabarnya. Melody selalu bilang jika semua akan membaik untuk membuat ibunya berhenti khawatir. Ia juga pernah mendapatkan kuliah dua jam dari sang kakek soal bab pernikahan dan pentingnya suatu pernikahan.


Melody tak begitu mengerti mengapa keluarganya dan keluarga Kazehaya begitu menjaga pernikahannya dengan Yudha. Jika menelisik sejarah keluarga, Melody yakin jika ia bukanlah siapa-siapa di hadapan keluarga Kazehaya, ia hanyalah pendonor darah yang tak seberapa untuk kakek Wijaya.


Maksudnya, jika keluarga Kazehaya mendepaknya kan memang bisa saja terjadi. Toh ia juga tak bisa berbuat banyak. Ia bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.

__ADS_1


__ADS_2