
Kyoto, malam hari, kediaman utama Tuan Han.
"Tsubaki-san, rute yang Anda kirim sudah kami terima." Kata salah satu orang kepercayaan dari Azumane. Lewat panggilan telepon.
"Ano, bisa tolong siapkan dua ambulan?" Tanya dr. Aoi.
"Untuk siapa satunya?"
"Ada seorang pemuda terkena luka tembak di bahu. Dia masih hidup. Saya tidak tahu siapa dia, tapi sepertinya dia juga tawanan dan mungkin saja juga berteman dengan Tuan Kazehaya Yudha... Pemuda itu dirawat di ruangan yang saya beri tanda silang di denah yang saya kirim kepada Anda." Jawab dr. Aoi.
"Apa mungkin dia adalah Neil-sama? Putra Inspektur Tachibana Shota?"
"Bisa jadi. Saya mengenal Inspektur Tachibana Shota, ketika saya mengobati dia, wajahnya sedikit mitip dengannya."
"Baiklah, kami akan siapkan dua ambulan. Kau pastikan tidak ada yang mencurigaimu! Sampai jumpa nanti!"
"Baik. Saya mengerti, Tuan. Sampai jumpa nanti."
dr. Aoi menutup ponsel miliknya.
.
.
.
Kazehaya Yudha merasakan kesadarannya kembali, kepalanya masih terasa berdenyut dan pusing. Sayup-sayup ia mendengar seorang wanita sedang bercakap-cakap entah dengan siapa.
Yudha menoleh dan menyipitkan matanya, terlihat seorang wanita mengenakan pakaian putih, jas dokter lebih tepatnya, sedang berdiri di pojok kamar miliknya dengan ponsel pada telinga kanannya.
dr. Aoi menutup telepon dan langsung beranjak dari tempat ia berdiri menuju ranjang, tempat Yudha berbaring. dr Cantik ini melihat laki-laki tampan, pasiennya itu sudah siuman.
"Anda sudah sadar?" dr. Aoi membantu Yudha duduk lalu memberikan segelas air mineral. "Anda pingsan cukup lama. Minumlah..."
Yudha teringat terakhir kali ia melihat wajah dr. Aoi tadi siang ketika sakit kepala hebat menderanya, sebelum semua menjadi gelap.
__ADS_1
"A-apa yang terjadi?" Tanya Yudha.
"Saya terpaksa membuat Anda tak sadar dengan menyuntikkan obat tidur. Anda terus saja mengerang kesakitan tadi siang." Dokter muda ini mengakui apa yang sudah ia lakukan dengan pasiennya. "Saya harus melakukannya agar mengurangi rasa sakit Anda." Tambahnya.
Dalam obat tidur itu mengandung paracetamol atau pengurang rasa sakit dan penenang.
Siang Yudha tiba-tiba merasakan sakit kepala hebat usai mendapatkan sebuah mimpi buruk tentang Melody. Batinnya sang terbuhung dengan Melody itu membuatnya memikirkan Melody dan ingin berjumpa dengan sang istri untuk memastikan bagaimana keadaannya.
Jika sesuai jadwal, harusnya malam ini Melody dan Tuan Han akan bertemu untuk prosesi penyerahan akta pindah kepemilikan saham miliknya sebesar 10% kepada Tuan Han.
Melody hanya datang berdua dengan Ayane saat menemui Tuan Han karena menuruti permintaan dari Tuan Han. Hal inilah yang membuat Yudha kepikiran. Ia tak mau Melody kenapa-kenapa saat berada di dekat orang semengerikan Tuan Han. Belum lagi jika Tuan Han membawa pasukkan dan berniat untuk membunuh Melody? Gilaaa! Kepalanya berasa ingin pecah! Yudha tak mau memikirkannya!
Di kamar rawatnya, Yudha sampai ingin berteriak 'ban9sat' pada tali nasibnya saat ini. Ia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa karena keadaan tubuhnya yang banyak cidera.
"Kazehaya-san, Anda harus minum dulu dan tenangkan pikiran Anda!" Kata dr. Aoi yang merasa jika Yudha tak kunjung meminum minuman darinya.
Yudha pun meminum air mineral itu, ia mengembalikan gelasnya kepada dr. Aoi. Lalu, dr. Aoi meletakkan gelasnya di meja samping tempat tidur. dr. Aoi melihat Yudha yang sedang berusaha menenangkan diri.
"Saya sudah membereskan barang-barang dan keperluan Anda, Kazehaya-san." Kata dr. Aoi.
"Nanti, sebentar lagi lebih tepatnya, kita akan keluar dari kediaman ini." dr. Aoi berkata sambil memeriksa infus Yudha. Sudah setengah habis, mendekati seperempat sisanya. Ia pun menggantinya dengan yang baru, infus yang masih penuh cairannya.
"Keluar kemana? Apa saya akan dipindahkan? Kemana Tuan Han akan memindahkan saya?" Tanya Yudha.
dr. Aoi menggelengkan kepala. "Bukan seperti itu. Bukan dipindahkan ke tempat lain seperti dugaan Anda. Kita akan kabur untuk melarikan diri."
"Melarikan diri? Bagaimana bisa? Tempat ini sangat berbahaya. Sulit ditembus pertahanannya." Yudha tak begitu yakin dengan penuturan ide dari dr. Aoi.
"Anda benar, bodyguard dan ahli pedang samurai serta snipper handal mengumpul di kediaman ini. Namun, kita tidak melarikan diri sendiri. Ada pihak yang akan menyelamatkan kita." Jelas dr. Aoi.
"Siapa dia?" Tanya Yudha penasaran. Sulit dipercaya jika teman-temannya yang akan menolongnya.
"Tuan Azumane." Jawab dr. Aoi.
Yudha melebarkan kedua matanya. "Azumane-san?"
__ADS_1
"Ya, beliau meminta saya untuk menjadi mata-mata dan bertugas mengawasi gerak gerik Tuan Han. Saya sendiri memiliki basik kedokteran jadi sangat pas diberi ilmu kedokteran untuk merawat Anda dan seorang laki-laki di sebelah. Sepertinya itu adalah teman Anda. Saya bertanya pada bawahannya Tuan Azumane, dia menjawab jika itu kemungkinan Tachibaba Neil." Ujar dr. Aoi.
Mendengar nama Neil disebut, tenggorokan Yudha terasa tercekik. Bagaimana bisa si Neil iti tertangkap? Apa yang sudah Neil lakukan memamgnya sih? Dan lagi, sumpah, Yudha tak menyangka jika dokter yang merawatnya ini adalah seorang mata-matanya Azumane, ayah tirinya Alvin.
Bagaimana bisa?
Bukankah harusnya Azumane berpihak pada Alvin?
Kenapa malah mau menyelamatkan dirinya?
Wakaranai!
Tidak mengerti! Yudha sama sekali tidak mengerti. Banyak hal terlewatkan ketika terhebak di ruangan sempit ini. Ruangan 5 x 5 meter ini memenjarakan dirinya.
.
.
.
dr. Aoi sudah selesai mengganti infus Yudha.
"Saya akan menambahkan vitamin di infus Anda." dr. Aoi menyuntikan vitamin tambahan untuk menyukup kebutuhan vitamin harian Yudha.
"Hn. Terima kasih." Kata Yudha.
"Ya, sama-sama."
"Ano.."
"Ya?"
"Bagaimana keadaan teman saya? Tachibana Neil?"
"Sudah siuman, tapi tidak banyak bicara. Yang saya lihat, dia sangat berhati-hati pada orang lain. Tetmasuk pada saya dan asisten perawat saya. Saya pun juga belum yý diri saya pada dia karena takut saya salah ambil langkah. Masihn ada kemungkinan juga jika laki-laki di sebelah itu bukan teman Anda." Jelas dr. Aoi.
__ADS_1