
Pukul satu malam, sang kepala keluarga Kazehaya belumlah tidur. Ia duduk di sofa ruang keluarga. Sang istri, Kazehaya Chiyo duduk menemaninya.
Mikan dan Tsuchiya ikut bergabung di ruang keluarga mewah itu. Design gaya timur tengah yang di dominasi warna coklat dan emas, serta hordeng kain besar dan tebal. Ada permadani kulit sebagai alas dari sofa yang nampak mahal itu.
"Kalian terlihat sangat bahagia?" Tanya nenek Chiyo.
"Kami mendapatkan foto romantis Melody dan Yudha, Bu." Jawab Mikan.
"Sungguh? Bukankah mereka adu argumen terus seharian?" Tanya Chiyo tidak yakin.
Mikan mendekat dan memperlihatkan foto-foto romantis anaknya dengan Melody.
Nenek Chiyo langsung ikut bahagia karenanya. Ia lalu menunjukkan foto-foto itu pada kakek Wijaya, suaminya.
"Ah, aku ingin tahu apa yang mereka lakukan di malam pertamanya." Gumam Tsuchiya.
Semua orang yang ada di ruang keluarga itu reflek langsung menoleh kepada Tsuchiya.
Ingin mengetahui apa yang dilakukan Melody dan Yudha di malam pertama? Ide ini sangat menarik untuk ditelusuri.
"Apa yang kira-kira dilakukan anak dingin dan tidak pekaan seperti Yudha?" Gumam Mikan.
"Apa yang akan dilakukan putriku yang sangat polos dan minim pengetahuan asmara itu?" Kata Tsuchiya.
Penasaran.
Banyak pertanyaan yang ingin mereka ketahui jawabannya. Semuanya menjadi sangat penasaran.
"Ya jika ingin tahu tinggal pergi melihat saja." Celetuk Nenek Chiyo.
"Pe-pergi melihat?" Gumam Tsuchiya.
"Ahh, ide bagus itu. Ayo kita pergi melihatnya!" Ajak Mikan bersemangat.
"Ayo!" Setuju nenek Chiyo.
Mereka bertiga bangkit dari duduknya. Merasa ada yang kurang, nenek Chiyo menoleh ke arah belakang.
"Sayang, kau tidak ikut?" Tanya Nenek Chiyo
Ya, ia sedang bertanya pada suaminya, kakek Wijaya.
"Itu tidak sopan." Jawab Kakek Wijaya.
Benar, itu tidak sopan. Mikan dan Tsuchiya menundukkan kepalanya.
"Memang kau tak penasaran dengan apa yang bisa dilakukan oleh cucu kesayanganmu itu?" Tanya Nenek Chiyo.
"Mereka sudah besar." Jawab Kakek Wijaya.
"Kau yakin tidak ingin melihatnya?"
__ADS_1
"..."
"Ini moment yang sangat bersejarah loh untuk cucu kita."
"..."
"Tidak mengintip, hanya menguping saja."
"..."
"Jika menguping itu bukan perbuatan yang kurang sopan. Ini hanya wujud kepeduluan orang tua pada keturunannya. Apa kau tidak ingin memastikan apakah Yudha bersiap memberimu cicit atau tidak?
Ship.
Kakek Wijaya menyukai ide ini. Seorang kakek-kakek seperti dirinya itu memang sangat menginginkan penerus keluarga. Cicit. Kakek mana yang tak menginginkan hal itu? Ia bahkan harus memaksa Yudha untuk menikah awalnya.
Pertahanannya runtuh.
"Baiklah, ayo kita pergi melihatnya!" Kata Kakek Wijaya. Suaranya bahkan menunjukkan rasa semangat.
Nenek Chiyo tersenyum menyeringai. Suaminya itu sulit menolak godaan darinya.
Mikan dan Tsuchiya menjadi bertambah bersemangat. Rasa penasaran itu akan segera terbayar. Akhirnya mereka semuapun pergi menuju kamar Yudha dan Melody untuk melihat, mendengarkan apa yang dilakukan pasangan pengantin baru ini di malam pertamanya.
.
.
.
"Sudah tertutup. Sudah aku duga sih, lagian siapa yang tidak akan mengunci kamar jika sudah malam seperti ini?" Gumam Mikan. Ia tidak ingin hanya menguping, tapi melihat langsung. Ia bahkan membawa kameranya. Ia ingin merekam saat-saat itu sebagai kenang-kenangan.
Sayang sekali seperti kata Mikan, pintu kamar pengantin itu sudah tertutup, mereka hanya bisa mendengarkan dari balik pintu kamar Melody dan Yudha.
"Jangan dorong-dorong!"
"Haduh, aku tidak bisa mendengar apapun."
"Stt, jangan berisik! Nanti ketahuan!"
Keempat orang tua itu berjejalan di depan kamar Yudha dan Melody. Ingin curi dengar apa yang pengantin baru itu lakukan.
"AAAKKHHH!"
Teriak Melody.
Kakek Wijaya, nenek Chiyo, ibu Yudha, dan ibu Melody kaget karena mendengar teriakan Melody yang cukup keras terdengar. Mereka semua serempak menjauhkan telinga dari pintu kamar pengantin Yudha dan Melody.
"A-apa yang mereka lakukan?" Tanya Ibu Yudha gugup sendiri. Mikan.
"Kau ini, seperti tidak pernah menikah saja. Tentu saja mereka sedang melakukan itu!!." Kata Kakek Wijaya yang disetujui oleh nenek Chiyo dan ibu Melody.
__ADS_1
"AAAKKHHH!" Melody kembali berteriak.
Ini jauh lebih keras lagi dari teriakan Melody yang pertama. Membuat para orang tua itu memekik senang, meski ibunya Melody, Tsuchiya terlihat cukup khawatir karena Yudha membuat anak semata wayangnya teriak-teriak kesakitan.
Sebagai seorang ibu, tentu saja Tsuchiya wajar merasakan hal seperti itu. Bagaimanapun, seorang ibu tidak ingin anaknya terluka.
"Jangan berteriak, ini sudah malam!" Kata Yudha.
"Bagaimana aku tidak berteriak, itu sakit sekali. Jangan terlalu kasar, bodoh! AAKHH…"
"Ini tidak kasar, aku sudah sangat lembut."
"AAAKKHH, lembut apanya, hah? Pelan-pelan membukanya, Yudha no Baka!"
No Baka: No\= fungsi seperti tobe dalam bahasa inggris atau bisa diartikan sebagai penghubung. Baka: Bodoh.
"Iya, ini juga sudah pelan-pelan membukanya! Jangan menyebutku Baka! Kanapa kau tidak membuka gaunmu saja sih? Itu menggangguku… Jika kau membukanya, itu akan mempermudahku." Kata Yudha.
Keempat orang tua itu hanya bisa bermaklum ria menanggapi kelakuan Yudha dengan Melody di kamar pengantinnya. Toh mereka sudah menikah dan malam ini adalah malam pertama mereka.
Malam pertama identik dengan gairah yang membuncah. Pasti pengantin baru itu juga di masa yang sama. Masih muda dan berapi-api. Masih bergairah dan menggebu-gebu.
"Ck, ck, anak muda jaman sekarang. Selalu tidak sabaran. Katanya tidak saling mencintai, tapi kenapa semangat malam pertamanya berapi-api?" Kata Ibu Yudha.
Dalam hati, Mikan sangat bangga pada putranya itu. "Yudha, ganbatte! Ibu mendukungmu!" Batinnya.
Ganbatte: Semangat.
"Mereka masih muda, masih semangat-semangatnya." Timpal Ibu Melody.
"Ibu harap kau besok tidak kenapa-kenapa, sayang. Ibu harap hal baik akan selalu menyertaimu di dalam kehidupan pernikahanmu. Jadilah istri yang baik dan patuh pada suamimu ya. Yudha adalah laki-laki yang baik. Dia bahkan memohon restu pada ibu sebelum mempersuntingmu." Batin Tsuchiya.
"Sepertinya aku akan segera mendapatkan cicit. Hahahha. Aku akan dipanggil uyut nanti." Kata Nenek Chiyo senang.
Impian seorang nenek dengan mata teduhnya adalah memiliki cicit dari Yudha.
"Sudahlah, lebih baik kita tinggalkan pengantin baru kita. Mereka sudah cukup umur. Sudah tidak perlu mengkhawatirkan mereka." Ajak Kakek Wijaya.
Kakek Wijaya, nenek Chiyo, ibu Yudha, dan ibu Melody meninggalkan kamar pengantin Yudha dan Melody dengan kesan aneh-aneh di benak mereka.
Mereka menduga Yudha dan Melody tengah melakukan sesuatu. Memang benar mereka tengah melakukan sesuatu.
Melakukan sesuatu.
Hanya berdua.
Di kamar pengantin.
?
Sesuatu memang telah terjadi.
__ADS_1