MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Baikkan


__ADS_3

Malam hari.. pukul 08.00 malam.


"Yudha!" Panggil Mikan.


"Ibu? Ada apa?" Yudha melonggarkan acak dasinya yang begitu mencekik leher.


"Melody melewatkan makan siang dan makan malam."


Jawab Mikan.


Yudha manaikan sebelah alisnya. "Kenapa?"


"Dia bilang sedang tak nafsu makan. Ibu sudah berusaha membujukknya, tapi dia tetap tidak mau. Wajahnya pucat sekali, matanya sembab. Sepertinya ia menangis seharian ini. Ketika ibu bertanya, katanya tidak ada yang terjadi. Kalian tidak bertengkar, kan?" Mikan terlihat sangat khawatir.


"Tidak. Kami tidak bertengkar."


"Benarkah?"


Yudha mengangguk. "Ibu, aku akan ke kamar menemuinya."


"Bicara baik-baik dengannya, Yudha!"


"Hn."


Yudha menuju kamar dengan membawa sepiring makanan untuk Melody. Ia mengetuk pintu pelan, tidak ada jawaban dari Melody, karena tidak di kunci, ia langsung masuk saja.


Yudha melihat Melody duduk dengan menekuk lututnya. Menyembunyikan wajahnya di lutut itu. Ia menghela nafas panjang, ia kembali berjalan mendekati Melody. Ia meletakkan makanan yang ia bawa di meja dekat tempat tidur.


Melody menyadari kedatangan Yudha, perlahan ia mengangkat kepalanya. Sosok yang ingin sekali ia temui hari ini datang menghadapnya. Sosok yang ingin ia ajak bicara itu sedang duduk di sampingnya.


"Yudha, kau datang?" Katanya pelan.


"Hn."


"Kukira kau tak akan pernah menemuiku lagi. Hiks."


Melody menangis. 😢


Yudha tak menyangka jika Melody akan menangis seperti ini. Tidak akan menemui Melody lagi? Kenapa Melody bisa memiliki pemikiran seperti itu? Harusnya ia yang melontarkan kata-kata itu pada Melody, setelah ia melakukan hal yang membuat Melody kesulitan. Melody harusnya yang tak ingin berbicara dengannya atau lebih jauh lagi jika Melody membencinya.


Tidak tahu apa, saat ini ia hanya bisa memeluk Melody yang menangis. Menenangkan istrinya itu dalam pelukkannya.


Membiarkan pelukkan itu sebagai bahasa tubuh untuk menenangkan perasaan masing-masing.


Yudha melepas pelukkannya. "Jangan bicara yang tidak-tidak, Melody! Maaf membuatmu seperti ini."


Yudha membantu mengusap air mata Melody. Ia tak ingin membuat seorang wanita menangis, namun nyatanya ia melakukannya dengan mudahnya.


Untuk pertama kalinya, ia membuat seorang wanita menangis sampai sesegukkan seperti ini. Ia juga bisa merasakan tubuh Melody yang menghangat. Ia yakin, Melody pasti mikir berat.


"Maaf Yudha. Maaf soal semalam. Aku.. aku.."


Melody terbata. Banyak hal yang ingin ia keluarkan dari mulutnya, tapi tertahan. Ia tak tahu harus memulainya dari mana.


"Yang harusnya meminta maaf itu aku, Melody.. Gomen, membuatmu merasakan semua itu. Mungkin kau menginginkan malam pertamamu dengan indah, maaf aku justru membuatnya seperti mimpi buruk padamu."


Kata Yudha tulus.


Yudha memikirkan perasaannya?


Yudha bahkan sampai mengucapkan maaf karena kejadian semalam yang membuat beban pikiran dan sakit yang tak tertahankan.


Melody merasa seperti ada terpaan angin yang sejuk menyapa hatinya.


"Aku tidak yakin akan ada tidaknya kisah romantis dalam hubungan kita, yang aku tahu, kita sama-sama terluka." Melody meyakini jika hati Yudha itu milik Yura.

__ADS_1


Melakukan hubungan intim hanya karena nafsu bukan atas dasar cinta. Itu menyakitkan.


"Aku tidak ingin menciptakan kecanggungan di antara kita, Melody. Jadi, meski ini akan sulit, cobalah untuk menerima apa yang sudah terjadi. Jujur saja, tidak mungkin bagiku mengembalikannya seperti semula."


Melody mengangguk. Benar, semua sudah terjadi dan tak mungkin bisa kembali. Tidak mungkin ia kembali 'perawan' lagi, kan?


"Kupikir, aku tidak akan bisa berbicara seperti ini lagi denganmu, Yudh."


"Sudah aku bilang tidak apa-apa.. Satu hal yang perlu kau tahu, Melody. Aku tidak pernah bermain-main dengan sebuah pernikahan. Katakan saja apa yang ingin kau katakkan!"


Yudha menatap teduh Melody.


Melody menyukai tatapan Yudha yang seperti itu padanya. Membuatnya nyaman dan damai.


"Benarkah aku boleh mengatakan apa yang ingin aku katakan?"


Tanya Melody.


"Hn."


"Jawab yang jelas, Yudha!"


"Iya, boleh."


"..." Melody berusaha menyampaikan sesuatu.


Yudha manatap Melody. Biasanya ia akan kesal jika Melody bertele-tele akan keinginannya, tapi kali ini ia akan sabar. Demi mengembalikan mood Melody tentunya.


"Katakan apa yang ingin kau katakan, Melody.."


Kata Yudha halus.


"Ne Yudha. Etto.."


Yudha menunggu Melody. "..."


"?"


"Itu."


"Hm?"


"Itu.."


"Itu?"


"Aku.."


"Katakan saja, Melody!"


"Apa tidak apa-apa?"


"Iya. Katakan apa yang ingin kau katakan. Aku akan mendengarkanmu!"


"..." Melody kembali ingi memastikannya. Ia memberanikan diri menatap Yudha.


Yudha menghela nafasnya. "Iya. Katakan yang keras jika kau tak percaya!"


Yudha sungguh mengijinkannya.


Melody mengambil oksigen banyak-banyak. "YUDHA, SELANGKANGKU SAKIT SEKALI!" Kata Melody dengan sangat kerasnya.


Seperti memakai toak.


"HA? HAAHH?" Yudha menutup mulut Melody dengan tangannya. "Kecilkan suaramu, bodoh! Bagaimana kalau ada yang mendengarnya?"

__ADS_1


"Bwaahhh." Melody menyingkirkan tangan Yudha dari mulutnya. "Kau ingin membunuhku ya? Kau yang menyuruh berkata dengan keras!"


"Tapi juga tidak perlu sekeras itu, Melody!"


"Tapi selangkangku rasanya memang sangat sakit, lebih sakit dari kesleoku! Buat jalan sakit, buat bergerak juga sakit! Badanku juga sakit semua, ngilu. Lihat!" Melody menunjukkan lehernya lalu sedikit membuka bahunya.


Yudha melihat apa yang coba Melody tunjukkan padanya.


"Merah-merah semua! Kau apakan semalam, Yudha? Sampai bisa seperti ini? Rasanya perih bekasnya! Mana sangat banyak lagi. Belum lagi di bagian tubuh lain. Kau mengerikan, Yudha!"


Yudha ingin tertawa. Melody sangat polos untuk masalah seperti ini. Tapi ia senang, berarti ia adalah laki-laki pertama yang memiliki Melody.


"Aku tidak harus menjelaskannya, kan? Kau bahkan menikmatinya. Kau sampai mengeluarkan suara aneh."


Goda Yudha.


Melody memerah. "Suaraku tidak aneh!"


"Suaramu juga terdengar menyeramkan, Melody."


"Kau yang membuatku mengeluarkan suara seperti itu!" Melody memukul-mukul Yudha.


Yudha terkikik. Meski saat ini arah pembicaraannya lebih dewasa, tapi setidaknya tidak ada kecanggungan antara ia dan Melody.


Melody terus memukul-mukulnya, ia menghindar dan tak sengaja Melody memukul punggungnya agak keras.


"Akh, sakit, Melody! Jangan di situ!"


Melody terlihat khawatir dan mengecek apa yang terjadi pada punggung Yudha. Ia menyuruh Yudha membelakanginya. Ia lalu menyibakkan kemeja kerja Yudha. Di sana ia lihat ada luka memerah panjang cukup banyak.


"I-ini luka cakar?" Gumamnya.


"Semalam kau mencakarku."


"Sa-sampai seperti ini?"


"Seperti yang kau lihat."


"Gomen."


"Tidak apa-apa. Masih lebih baik dari sakitmu, kan? Anggap saja kita imbang."


"Aku akan mengobatimu setelah kau mandi."


"Baiklah, kau makanlah, aku sudah membawakanmu makanan!"


Melody mengangguk. Saat Yudha ingin beranjak mandi, Melody menahan tangan Yudha. "Yudha, tunggu!"


"Ada apa lagi? Kau perlu sesuatu?"


"Ano.. maaf soal itu."


"Soal apa?"


"Maaf sudah mengatai itu..." Melody menunduk malu. "....'mammoth'"


"Hn." Kata Yudha singkat.


Sungguh Yudha ingin meloncat saat ia kembali mendengar kata itu. Tapi ia kembali mengcoolkan diri agar tak tercipta kecanggungan lagi. Ia memang pandai menguasai dirinya. Tapi mammoth itu sungguh, ahhh, kenapa harus mammoth? Terlalu.


.


.


.

__ADS_1


"Oh, jadi karena itu? Syukurlah bukan masalah serius. Aku sempat menolak rencana ayah mertua. Masalah seperti itu adalah urusan masing-masing dari mereka. Bukan urusan orang tua untuk ikut campur terlalu dalam. Tapi, mereka sudah tidak apa-apa, aku lega. Kerja bagus Yudha, Melody. Ibu selalu mendoakan yang terbaik utnuk kalian berdua." Batin Mikan mencuri dengar dari depan kamar Melody dan Yudha.


__ADS_2