
"Paman apa harus seperti ini?" Tanya Yudha.
"Istrimu dan dirimu akan segera ulang tahun pernikahan, Yudh. Paman ingin merayakannya bersama di hotel Imperium milik Emperor Group." Jawab Orion.
"Melody tidak menyukai pesta-pesta, dia bilang hanya ingin menghabiskan hari berdua saja denganku." Yudha semalam sudah membicarakan hal ini dengan Melody.
"Padahal paman sudah terlanjur memesan tempat dan mempersiapkan semuanya loh, Yudh. Termasuk tamu undangan dan sahabat-sahabatmu yang ada di luar negeri."
"Paman, waktunya belumlah tepat. Kakek sendiri belum sadar."
Ketahuilah, kondisi kakek Wijaya yang saat ini sedang lumpuh sangat dirahasiakan. Yudha meminimalisir orang-orang yang tahu akan kebenaran ini. Meski Orion bagian dari Kazehaya, tapi Yudha tetap merahasiakannya. Alvin dan ibunya bahkan juga tidak tahu.
"Aku mengerti kegelisahanmu, Yudh. Namun, jika kau lama tak muncul ke pemermukaan, kau akan semakin disisihkan oleh dominasi Alvin di Emperor Group. Kau harus keluar sarang, kau harus tunjukkan pada dunia jika kau baik-baik saja! Kau harus membangun relasi lagi dari awal dan momen ulang tahun Melody dan ulang tahun pernikahanmu adalah yang paling tepat! Ingat Yudh, kau pasti sudah tahu kan bagaimana pergerakan saham akhir-akhir ini? Selain penuruna yang sangat drastis, tapi juga ada pembelian saham besar-besaran oleh beberapa orang saja. Paman tidak rela, keponakan paman tertindas di perusahaannya sendiri." Orion kembali menjelaskan keinginannya.
Yudha sejenak berpikir. "Paman, aku tidak tertarik dengan tahta dan kekuasaan. Aku hanya ingin hidup damai dengan keluarga kecilku saja. Lagipula, Alvin cukup mahir mengurusi Emperor Group."
Dari awal Yudha memang tak tertarik akan tahta dan kekuasaan. Ia hanya ingin hidup tenang dengan Melody dan keluarganya. Hal ini diperkuat dengan keinginan Melody yang berharap jika ia akan terus hidup dengan Melody. Bukankah jika ia berkecimpung di Emperor Group hanya akan membahayakan nyawanya dan juga Melody?
"Yudha, apa kau pikir setelah keluar dari Emperor Group kau dan istrimu akan tetap selamat? Lihatlah apa yang kau alami dengan Melody akhir-akhir ini! Mereka masih mengincarmu! Mereka masih ingin menghabisi nyawamu!" Orion meyakinkan Yudha.
Yudha tahu masalah yang ia alami memanglah tidak sederhana. Semua begitu rumit, tak hanya membuat pusing, tapi hampir meregang nyawa beberapa kali.
Haruskah ia menuruti saran sang paman?
Keluar kandang?
Keluar zona yang menurutnya nyaman?
Yakinkah ia jika selama ini dirinya sudah aman?
"Baiklah, aku akan menyetujui pesta ulang tahun pernikahanku." Kata Yudha mantap. Ia memiliki rencananya sendiri.
"Urusan keamanan, biar paman yang tangani."
"Arigato, Paman Orion."
"Sama-sama, Yudh."
.
.
.
"Happy birthday, Mel.." Ucap Yudha. Ia memberikan kue kecil pada Melody.
"Tidak ada lilinnya?" Tanya Melody ketika pertama kali melihat kue yang diberikan oleh Yudha.
__ADS_1
Yudha hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Melody. Ia lalu mengambil sesuatu dari saku celananya. Sebuah korek api. Kemudian ia menyalakan korek api itu dan menunjukkannya pada Melody.
Melody paham apa maksud Yudha itu. Ia terkekeh sebentar lalu memejamkan mata. Ia memohon pada Tuhan untuk hidupnya dan kebahagiaan keluarganya. Selang beberapa saat, ia meniup nyala api di korek api itu.
"Maaf, tidak ada nyanyian ulang tahu." Kata Yudha.
"Kita berdua tidak ada yang bisa menyanyi, Yudh. Daripada suara kita mengganggu penghuni alam gaib kamar ini, lebih baik tidak usah bernyanyi saja." Cengir Melody.
Yudha tersenyum lagi. Ia mencolek sedikit krim kue itu dan 'melukis' indah pipi Melody dengan krim kue itu.
"Kirei desu ne..." Kata Yudha.
Kirei desu ne: Cantik ya..
"Yudha! Wajahku bisa dirubung semut, baka!" Kesal Melody.
"Hei, aku yang design bangunan ini lengkap dengan pemasangan alat anti semut!" Sanggah Yudha.
Penting tidak sebenarnya sih? Melody menghela nafas. "Setidaknya biarkan mencicipinya dulu." Kata Melody.
"Bukannya kau tadi sudah makan kue dengan Mia?"
"Iya sih, tapi ini kan kue darimu, Yudh. Ini penting dan sangat berharga dimana ini ulang tahun pertamaku dengan suamiku."
"Aku senang. Sangat senang. Terima kasih sudah menganggap ulang tahun sederhana ini sebagai hal yang berharga di hidupmu, Mel."
"Sama-sama, Yudh."
Melody mengangguk dan memotong kue berwarna ungu itu. Ia lalu menikmatinya dengan lahap. Pada dasarnya, Melody sangat menyukai makanan manis, maka ketika kue itu masuk ke dalam mulutnya, semua terasa begitu lezat. Moodnya membaik dan ia merasa lebih bahagia.
"Yudha, kau mau?" Tanya Melody.
Yudha menggeleng. "Kau sudah tahu kan aku tak menyukai yang manis-manis?"
Melody mendecih. "Nikmati makanan manis sedikit saja Yudh, biar tahu betapa manisnya dunia ini!"
"Ya sudah, suapi tapi.."
Melody mengambil sepotong kue dan menyuapinya ke mulut Yudha. Yudha menggigit sedikit kue itu dan terlihat sangat kesusahan saat ingin menelannya.
"Sebegitu bencinya dirimu akan makanan manis, Yudh?"
"Bukan benci, Mel. Hanya tidak biasa."
"Meski tak biasa, tapi karena hari ini adalah hari ulang tahunku, maka kau bersedia memakannya. Terima kasih.."
"Dari tadi kata-kata terima kasih berseliweran. Meski sederhana, tapi berasa beda."
"Karena dengan kata terima kasih, merasa usaha kita jadi dihargai."
__ADS_1
"Kau benar.." Yudha lalu memberikan sebuah kado pada Melody. "Kado untukmu."
Melody membuka paperbag kado dari Yudha. Ia cukup terkejut dengan isinya. Sebuah gaun yang indah berwarna soft keunguan.
"Jadi ide perayaan ulang tahun pernikahan kita itu benar adanya, Yudh?" Tanya Melody.
"Kau tidak bersedia ya?" Yudha balik tanya.
"Jika ada kesempatan menolak, aku akan menolaknya. Aku hanya khawatir, Yudh. Kau tahu sendirikan, masalah kita saat ini sangat besar? Kita tidak tahu siapa saja yang ingin menyingkirkan kita."
"..." Yudha terdiam.
Melody menghela nafas panjang. "Undangan sudah tersebar, tempat, dan acara sudah tersusun sedemikian rupa, aku memang sepertinya tidak bisa menolaknya. Karena itu akan berlangsung sebentar lagi, tolong lindungi dirimu dan diriku ya!" Kata Melody akhirnya.
"Aku akan memastikan tidak ada hal-hal buruk yang akan menimpa kita."
"Suamiku sangat percaya diri, ya sudah, aku hanya akan mempercayaimu, Yudh."
"Arigato, Mel.."
"Haha, muncul lagi kata ini.. Sama-sama, Yudha."
"Hei, Mel.."
"Ya?"
Yudha mencium Melody. Melody hanya bisa melebarkan kedua matanya karena kaget atas ciuman tiba-tiba dari Yudha.
"Ulang tahun itu identik dengan ciuman. Otanjoubi omedeto, Melody." Kata Yudha usai melepaskan ciuman mereka.
Melody tersenyum bahagia. "Arigato gozaimasu, Yudha-kun. Kau tahu, meski ini bukan ciuman yang pertama di antara kita, tapi aku tak bosan melakukannya denganmu. Semua begitu membuat hatiku senang."
"Jika kau sedang tak hamil, aku ingin sekali bergulat denganmu di ranjang tujuh hari tujuh malam." Kata Yudha asal.
"Jangan gila deh, Yudh! Tujuh hari tujuh malam, kau tak akan kuat."
"Aku kuat, Mel. Aku ini masih sangat muda, kau paling yang tidak kuat. Baru main tiga kali saja sudah tepar. Besoknya gak bisa jalan. Apa-apaan itu? Aku kan jadi kasihan kalau minta lagi. Aku harus menundanya sampai tubuhmu membaik."
"Yudha.."
"Hn?"
"Sudah bercandanya?"
"Hehe, sudah.. Kau tahu, aku memang sangat candu akan tubuhmu, tapi aku sangat mencintaimu, aku masih memegang akal sehatku. Jangan khawatir!"
"Aku tidak khawatir, aku mempeecayaimu, kan?"
"Namun, jujur saja, aku ingin menikmati hari-hari itu setelah kau lahiran. Kau tahu kan jika kita tak banyak memiliki kenangan manis berdua, maksudku di awal-awal kita bersama. Sebelum kau hamil, itu... aku..." Yudha tak tahu harus berkata apa lagi.
__ADS_1
"Sudah Yudh, aku paham arah pembicaraanmu. Setelah aku lahiran, ayo kita perbanyak berkencan!"