
MELODY'S POV
Kata Yudha, aku tak boleh pergi dari sisinya. Maaf, bukannya aku tidak mau menepati janji. Tapi aku ingin minum Boba, mumpung ada kedai depan rumah sakit, aku jadi menyelinap untuk membelinya.
Yudha sedang tidur, pas aku kembali, aku yakin, dia masih tidur.
Suamiku, maafkan aku!
.
Berjalan menuju gerbang rumah sakit. Aku perlu menyeberang untuk sampai ke kedai Boba.
Semoga saja aku tidak dimarahi Ayane-nee karena nekat pergi sendirian. Aku pikir karena dekat jadi aku bisa melakukannya sendiri.
Bagaimana pun aku tak boleh sering merepotkan orang lain karena kondisiku yang sedang hamil besar. Walau jujur saja, rasanya sangat berat. Hamil kembar yang luar biasa!
.
Kenapa jalannya ramai sekali sih? Mana panas lagi. Ya ampun, harusnya aku tadi bawa payung. Yudha hidungnya sensitif, kalau aku bau matahari, dia pasti curiga. Orang itu mengerikan kalau marah.
Eh...
Di depan sana... ada Alvin-senpai?
Apa yang dia ucapkan?
Aku tidak mendengarnya.
Dia berlari ke arahku...
.
PIIIIMMMMMMMMMM....
Ah...
Eh?
.
A... Alvin... -Sen.. senpai?
END OF MELODY'S POV
.
.
.
Melody merasakan nyeri luar biasa di perutnya. Ia memeganginya sekuat tenaga. Namun, matanya fokus ke arah Alvin yang tergeletak di tengah jalan, bersimba darah, dan tak berdaya.
Ingin rasanya berteriak sekeras yang ia bisa, tapi tak kuasa. Rasanya ia tak bisa mendengar suara dari sekelilingnya. Yang terlihat hanya banyak orang mulai berkumpul di situ. Perawat dari UGD langsung datang dengan membawa ranjang dorong. Ia bahkan kini sudah dibopong oleh satpam yang sedang berjaga di gerbang rumah sakit.
Apa yang sebenarnya terjadi? Baru saja terlalu cepat dan Melody sendiri sama sekali tidak mengerti.
.
.
.
"Kenapa kau menabrak Alvin? Alvin itu anakku!" Teriak Kurenai.
"Maaf... aku tak tahu dia ada di situ. Sasaran kita harusnya Melody. Maaf, maaf karena aku menabrak anak kita." Kata Tuan Han.
__ADS_1
"Alvin bukan anakmu!" Akhirnya Kurenai membocorkan siapa identitas asli Alvin. Selama ini ia membohongi Tuan Han demi kepentingan dirinya.
"Apa kau bilang?" Kaget Tuan Han.
"Alvin adalah anaknya Yoga-san! Dia bukan anakmu! Semua kehamilanku darimu aku gugurkan!"
Plaakkkk... Tamparan keras terasa di pipi Kurenai. Sampai berdarah sudut bibir dan hidung Kurenai karena Tuan Han tak hanya menampar tapi juga memukul berkali-kali untuk melampiaskan kemarahannya kepada Kurenai.
Dibohongi adalah hal yang paling Tuan Han benci. Ini seperti dikhianati. Apa lagi soal anak. Sumpah, ia ingin membunuh Kurenai saat ini juga.
"Lepaskan aku! Aku harus melihat anakku!" Kata Kurenai yang tak peduli jika dirinya saat ini sedang babak belur.
"Tidak, jika kau ketangkap, maka aku akan ketangkap juga." Kata Tuan Han.
"AKU HARUS MELIHAT ALVIN! Dia terluka... darahnya sangat banyak... Biarkan aku bersamanya!"
"KITA HARUS KABUR SEBELUM POLISI MENGEJAR KITA!"
Kurenai terus memaksa keluar meski tuan Han melarangnya. Mereka berdua rebutan stir mobil saat mobil itu melaju kencang. Alhasil, seperti Dejavu saja dimana bayangan dan ingatan masa lalu terulang.
Di dalam mobil, rebutan stir mobil, bertengkar, dan... braaaakkkk... mobil kehilangan kendali, banting stir, dan menabrak pembatas jalan sebelum akhirnya terguling-guling beberapa kali.
"Al... Alvin..."
Dua orang ini pun tak sadarkan diri.
.
.
.
Rumah sakit...
"Yu..Yudha.... Akhhh, sakit sekali, Yudh! Sakit... hiks.. sakit sekali..." Tangis Melody. Ia mencengkram erat jemari Yudha untuk mencari pekuat.
"Apa yang terjadi pada istri saya, dr. Aizawa?" Tanya Yudha. Perasaannya kalut karena tiba-tiba saja Shuhei membangunkannya dan bilang Melody kecelakaan.
"Nona Melody mengalami pecah ketuban dini akibat kecelakaan. Terpaksa bayi harus dilahirkan secara prematur karena masih berusia kurang dari sembilan bulan. Jika Anda menandatangi prosedur untuk melakukan induksi, maka hari ini juga Nona Melody harus melahirkan." Jawab dr. Aizawa. Dokter yang sedari awal memang menangani kehamilan Melody.
Yudha mikir berat. Sebelumnya ia pernah membaca soal apapun yang berhubungan dengan kehamilan termasuk induksi. Induksi ini artinya seperti dipacu agar cepat lahir. Biasanya untuk ibu hamil yang melewati masa perkiraan lahir. Namun tak menutup kemungkinan juga pada kasus sebelum hari perkiraan lahir. Seperti yang Melody alami saat ini.
Belum lagi, Melody merengek kesakitan membuatnya tidak tahan.
"Nona Melody juga sudah pendarahan. Tolong segera putuskan, Tuan Yudha! Saya dan tim akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan anak-anak Anda dan istri Anda." dr. Aizawa sudah paham dengan segala resikonya dan ia yakin jika dirinya mampu meminimalisir kemungkinan itu.
"Hikss... Yudha sakit... tolong aku! Sakit sekali! Yudha..." Erang Melody.
Yudha membelai kening Melody. Ia mengecupnya sekilas. Ia mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Kemudian ia menandatangi prosedur induksi untuk kelahiran dini.
Kebanyakan wanita membutuhkan waktu kira-kira 6-12 jam untuk memulai persalinan setelah mendapatkan induksi oksitosin (pitocin). Jenis persalinan yang satu ini efektif melebarkan serviks Anda setidaknya 1 sentimeter (cm) per jam.
"Aku akan selalu menemanimu. Jangan khawatir. Teriak saja jika sakit, jangan ditahan!" Kata Yudha.
Melody mengangguk. "Yudha.. bagaimana dengan Alvin-senpai?" Tanya Melody hati-hati. Yudha suka kesal jika membahas Alvin.
"..."
"Yudh..."
"Dia masuk ruang oprasi, sudah sejam tapi belom ada hasil. Tidak tahu bagaimana. Nenek yang menunggu dia dengan Shuhei."
"Dia yang menyelamatkan diriku." Melody ingat, jika Alvin tak mendorongnya kebelakang, mungkin saja dirinya dan anak-anak dalam kandungannya sudah pindah alam.
"..." Kerja otak Yudha sangat keras saat ini.
__ADS_1
"Kau khawatir dengan dia, kan?" Melody tahu apa yang saat ini ada di pikiran Yudha.
"..." Egonya Yudha masih ada.
Betapa sulitnya Melody mempertahankan diri saat ini. Rasa sakitnya menjalar kemana-mana. Ia ingin Yudha pergi melihat Alvin, tapi saat ini ia ingin terus bersama Yudha. Menjaganya dan menemaninya sampai lahiran nanti. Meski dengan induksi, tapi harapan lahiran normalnya akan segera terwujud nanti.
"Alvin sudah ada yang menjaga. Aku akan tetap bersamamu." Tutur Yudha.
Tak lama setelah itu, ibunya Melody dan ibunya Yudha datang. Mereka heboh sendiri karena menangis tersedu-sedu melihat kondisi Melody.
Kenapa masalah tak kunjung selesai juga sih? Semua seperti antrian yang panjang dan tak berujung.
Tsuchiya dan Mikan saling bergantian untuk memeluk dan menenangkan Melody. Melody berulang kali meminta maaf kepada sang ibu karena sudah sering kurang ajar. Egois dan berbicara kasar.
Menjadi seorang ibu itu sangat berat prosesnya. Ia harus bisa lebih menghargai jasa seorang ibu dengan segala pengorbanannya.
.
.
.
Pukul 8 malam, Melody masuk ke ruang bersalin. Tentu saja ditemani oleh Yudha.
"Alvin bagaimana?" Tanya Melody. Harusnya Alvin sudah keluar dari ruang operasi 2 jam yang lalu, tapi ketika ia bertanya, Yudha ogah menjawabnya. Yudha hanya menyuruhnya fokus lahiran saja.
"Mel, pikirkan dirimu dan anak-anak kita dulu ya..." Kata Yudha lembut.
Tak bisa berbuat lebih karena memang kontraksi rahimnya sudah sangat menggila. Mulas dan sangat sakit.
Ia merasakan seperti ada dorongan untuk mengeluarkan sesuatu dari tubuh. Melody mengatur pernapasan agar rasa nyeri berkurang.
Setelah kontraksi yang muncul terasa semakin hebat, kini saatnya menerapkan teknik pernapasan ringan untuk membuat tubuh lebih nyaman saat melahirkan dengan cara normal.
Melody mengikuti semua instruksi dari dr. Aizawa.
Ini adalah persalinan yang pertama bagi Melody. Tentulah ia banyak melakukan kesalahan dan hebohnya lagi ia juga mengeluarkan banyak kata-kata yang tidak jelas.
"Yudha brengsek, ini gara-gara kau aku jadi gini."
"Coba kau memakai pengaman, pasti tidak seperti ini jadinya."
"Kenapa kau menghamiliku sih?"
Atau...
"Kenapa tak kau saja yang hamil? Yudha gantiin posisiku! Sekarang!"
"Yudha no baka.. baka.. baka!"
Belum lagi... memukul Yudha, menjambak rambut Yudha, menggigit tangan Yudha, dan kekerasan lain sudah Melody lakukan untuk mengurangi betapa sakitnya ketika bayinya mulai keluar.
Melody berteriak dan mengejan di saat yang tepat. Satu bayi akhirnya berhasil keluar dengan selamat.
Bayi laki-laki.
Belum usai rona leganya, kini sakit kembali menjalar karena bayi ke dua. Tetap mengikuti instruksi dr. Zia, dan mengejan setelah dapat aba-aba.
Selisih lima menit, bayi ke dua lahir. Laki-laki juga.
.
.
.
__ADS_1
Ngebut tamat, soalnya aku sibuk di tetangga sebelah 😁😁😁