
Sebulan setelah pernikahan, Melody dan Yudha tetap menjalani hari-hari mereka dengan baik, seperti biasanya tidak ada yang nampak istimewa. Sangat sederhana. Mereka juga sudah mulai memasuki kuliah. Melody meminta Yudha untuk memohon pada kakek Wijaya agar mengizinkannya berangkat kuliah.
Melody merasa jika ia sudah bosan berada di rumah tanpa ada kegiatan belajar di kampus. Rindu teman sekelasnya menjadi alasan utama ia ngotot ingin berangkat kuliah.
Kuliah juga tidak ada perubahan seperti keseharian Melody maupun Yudha. Memang tak begitu banyak perubahan setelah mereka menikah, hanya saja mereka seakan belum menikah meskipun sudah menjadi sepasang suami-istri yang sah. Melody tidak pernah mempermasalahkan itu, lagian ia dan Yudha sudah pernah membahasnya.
Yudha berkata kepadanya jika Yudha belum siap menjalin hubungan suami-istri yang layak dengannya. Terutama untuk memenuhi permintaan ibu Mikan. Melody dengan santai menerima keputusan Yudha, toh memang ia juga merasakan hal yang sama dengan Yudha.
Mereka berdua sebenarnya bukan tipe orang yang menyetujui pernikahan dini, apalagi karena perjodohan yang tanpa didasari cinta. Hanya membayangkannya saja sudah sangat berat, tapi nyatanya mereka mampu menjalani selama satu bulan ini.
Mereka tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, mungkin seminggu kemudian, sebulan kemudian, atau bahkan setahun kemudian. Mereka tidak tahu sampai manakah mereka sanggup bertahan.
Terjebak dalam ikatan yang tak diinginkan bukankah itu merepotkan?
.
.
.
Sudah sebulan menjadi istri Yudha, itu artinya juga Melody tidak pernah lepas dari sisi Yudha. Ia selalu ada di samping Yudha. Ikut kemanapun Yudha pergi. Sudah seperti anak bebek yang selalu mengikuti induknya.
Baru Melody sadari jika hidup Yudha tidak sebahagia yang ia duga. Terbukti beberapa kali ia harus menemani Yudha bertemu para klien-klien perusahaan kakeknya. Sebagai ahli waris Emperor Group sudah pasti memiliki tanggung jawab yang besar terhadap eksistensi perusahaan.
Melody bisa melihat itu dari kegigihan Yudha yang di usianya yang masih sangat muda harus bekerja keras demi perusahaan.
Dalam hatinya ia khawatir, ia memang tidak begitu paham akan dunia Yudha, tapi ia tahu jika Yudha sebenarnya tertekan dan sangat lelah. Kadang ia berpikir, jika kehadirannya di dalam hidup Yudha itu sebagai penambah beban atau peringan beban.
Meringankan beban Yudha tentu yang terbaik. Tapi jika mengingat bagaimana Yudha awalnya menolak perjodohan mereka membuat Melody berpikir keras.
Bisakah ia meringankan beban Yudha?
Setidaknya, jika Yudha tidak menganggapnya sebagai seorang istri, sebagai temanpun Melody tidak mempermasalahkan hal itu. Toh memang dalam hati mereka saat ini belum ada cinta.
Bukankah saat ini berteman adalah hal yang lebih baik?
"Otsukare Melody." Kata Yudha sesaat setelah selesai berdansa.
"Arigato Yudha. Ini melelahkan."
"Ya seperti itulah kehidupan Kazehaya. Kau tahu, aku kira kau akan menginjak kakiku saat berdansa tadi."
"Aku sudah sering latihan dengan Shizune-san, aku tidak akan melakukan kesalahan, apa lagi untuk membuat Tuan Muda Kazehaya seperti dirimu malu di depan umum. Jika itu terjadi aku tak bisa memaafkan diriku sendiri."
__ADS_1
"Ho, jadi kau akan menyalahkan dirimu?"
"Hm, tentu saja. Keluargamu itu sangat berjasa kepada keluargaku, aku juga harus balas budi dengan benar, Yudha."
"Akhir-akhir ini kau jarang membantahku."
"Ada kalanya aku juga akan membantahmu, Tuan. Buat apa aku membantah jika kau tidak berbuat salah."
"Aku jadi tidak bisa mengajakmu berdebat."
"Ayolah Yudha, hari ini aku sangat lelah, jangan aneh-aneh deh!"
"Bukannya yang aneh itu kau, Melody? Kau sering menggeleng-gelengkan kepalamu seperti orang gila. Sebenarnya apa yang kau bayangkan sampai-sampai kau seperti itu?"
Empat sudut siku muncul di kening Melody. "Bukan urusanmu!"
"Aku serius bertanya, Melody."
Melody menghirup nafasnya banyak-banyak. "Yudha-sama, Anda itu cerdas, bahkan jenius, tapi tingkat kejeniusan Anda yang berlebihan justru membuat Anda sering melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak penting sama sekali."
"Kau hanya perlu memahami bagaimana orang jenius itu merasa penasaran, Melody."
"Iya, tapi untuk hal yang tidak jelas seperti ini, aku menolak! Lagian, otak pas-pasan seperti milikku ini juga tidak akan mampu menangkap maksud kata-kata penasaranmu itu!"
"Hah, pulang? Katanya kau ingin berdebat denganku? Aku sudah memulainya, kenapa malah kau ingin pulang?"
"Urusan bisnis sudah selesai, besok ada kuliah pagi, lagian aku sudah tidak ingin berdebat lagi."
"Yudha! Kau, iihh nyebelin deh!" Geram Melody.
Sementara Yudha hanya bisa tertawa dalam persembunyian emosinya. Ah, Yudha, sepertinya ia merasa jika harinya semakin menarik saja.
Karena Melody?
Bisa jadi.
Semenjak ia menikahi Melody sebulan yang lalu, hidupnya menjadi sangat berwarna. Biasanya kesehariannya ia habiskan dengan kuliah, membaca, ke kantor, sekarang ia menjadi memiliki pengalaman baru untuk menggoda Melody. Ia menjadi menyisakan waktu hanya untuk sekedar merecoki Melody yang belajar memasak di dapur. Ia menyisakan waktu untuk mengacak-acak rambut Melody yang sudah ditata rapi oleh Ayane.
Yudha menyisakan waktu yang sebenarnya sama sekali tidak penting untuk dilakukan. Ayolah, ia terkesan menjadi perusuh dalam kedamaian hidup Melody. Hanya saja, meski itu tidak penting dilakukan, tapi rasa yang ditimbulkan setelah mengganggu Melody itu unik.
Unik bagaimana?
Ya unik, Yudha sendiri kesulitan membuat kata-kata untuk menjelaskannya. Intinya, yang pasti ia merasa senang setelah bisa mengganggu Melody.
__ADS_1
Gara-gara Melody hidupnya menjadi sangat berwarna. Ia menjadi tahu bagaimana harus tersenyum dan tertawa setelahnya.
Itu sangat mengasyikkan. Tidak monoton dan membosankan seperti sebelum-sebelumnya.
Haruskah ia bersyukur kepada Tuhan?
Meski tak mencintai Melody, tapi Melody bisa menjadi teman yang baik. Melody adalah sosok yang cukup mengerti akan dirinya. Untuk itu, Yudha akan mencoba menghormati pernikahan antara dirinya dengan Melody.
Ia akan menjalani sebaik yang ia bisa lakukan.
Melody tidak terkekang akan status menantu keluarga Kazehaya. Sangakar burung yang ia takutkan justru bisa Melody lawan. Melody nampak bebas dan tak terkekang dengan status yang disandangnya saat ini. Rasanya ia ingin tertawa bangga. Melody memang berbeda.
.
.
.
Di dalam mobil...
"Sebelum kita pulang ke rumah, kau ingin makan sesuatu?" Tanya Yudha.
"Hm, aku ingin ice cream yang dijual di taman bermain." Jawab Melody.
"Bilang saja kau hanya ingin ke taman bemain!" Kata Yudha.
Melody nyengir. Itu memang benar adanya. "Tidak boleh ya?"
"Hm, bagaimana ya?" Gumam Yudha sok berpikir keras.
"..." Melody cemberut. Rada sedih karena sepertinya keinginan sederhananya itu sulit terkabul.
Yudha menahan senyumannya. Menggoda Melody memang bisa mengubah rasa lelahnya menjadi semangat.
"Shuhei, jadwal!" Kata Yudha.
Shuhei yang duduk di kursi depan melirik sekilas dua 'majikannya' itu. "Tidak ada jadwal penting hari ini, Tuan Muda." Jawabnya.
"Kau dengar itu?" Tanya Yudha.
Melody menoleh ke arah Yudha. Ia lalu tersenyum bersemangat. "Boleh?"
"Iya boleh." Jawab Yudha.
__ADS_1
Entahlah, Melody tiba-tiba memeluknya dengan sangat singkat. Terlalu senang atau terlalu bahagia sampai lupa? Entah juga. Yang jelas, gara-gara Melody Yudha menjadi lebih bisa sering tersenyum.